alexametrics
25.6 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

Kain Songket Perajut Toleransi

Di tengah keterpurukan, Kurniati (45) perempuan eks pengungsi Sambas berupaya bangkit menjadi pribadi yang lebih mandiri. Berbekal keahlian menenun Songket Sambas, ibu tiga anak ini gigih merajut pesan toleransi di tengah keberagaman warga.

ASHRI ISNAINI, Pontianak

Kendati tak sungkan menceritakan kisahnya mulai menekuni kerajinan tenun di tempat tinggalnya kini, namun dari raut wajahnya, Kurniati tampaknya enggan mengenang kembali kisah kelam yang dia alami bersama keluarga, 21 tahun silam itu. Saat itu, Kurniati terpaksa mengungsi ke Pontianak pasca kerusuhan Sambas. Meski sudah lama berlalu, tragedi itu masih terekam jelas di memorinya. Ibu tiga anak ini berharap kejadian itu tak terulang lagi.

Sebelum hijrah ke Pontianak, pada 1990, Kurniati bersama keluarganya sempat membuka galeri tenun di Sambas. Usaha menenun keluarga ini terhenti pada 1999. Kala itu terjadi kerusuhan di Kabupaten Sambas. Untuk menyelamatkan diri, Kurniati bersama ayah, ibu dan beberapa saudaranya memutuskan mengungsi ke daerah yang lebih aman yakni Kota Pontianak.

Saat tiba di Pontianak, Kurniati dan keluarga tinggal di pengungsian. Namun dengan pertimbangan ingin memulai hidup baru yang mandiri, berbekal uang seadanya, dia bersama keluarganya memutuskan mengontrak rumah milik warga.

Di rumah kontrakan inilah keluarga besar ini menjalani kehidupan yang pelik. Suami Kurniati, kala itu, belum mendapatkan pekerjaan. Sisa uang yang dibawa dari kampung halaman akhirnya habis untuk kebutuhan makan setiap hari dan membayar kontrakan.

Melihat kondisi  tersebut, Masudi, salah satu kerabatnya dari Sambas mendatangi rumah kontrakan Kurniati di Gang Sambas Jaya, Kelurahan Batu Layang. Di rumah itu, Masudi membawa satu set alat tenun songket tradisional dari bahan kayu dan beberapa gelondongan benang sebagai bahan tenun. Dari sinilah keluarga ini kembali menekuni kerajinan tenun Sambas.

Aktivitas menenun dinilai sangat membantu ekonomi keluarga. Kebanyakan warga di Gang Sambas Jaya yang sebagian merupakan eks pengungsi Sambas memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Penghasilan para suami sebagian besar buruh bangunan, bertani dan beternak sapi. Karena itu para perempuan juga harus bekerja untuk menambah penghasilan. “Kalau mengharapkan suami saja tidak cukup,” ujarnya.

Di Kabupaten Sambas, seni memintal dan merajut benang ini sudah dilakukan warga sejak ratusan tahun silam. Kain ini biasa dipakai untuk seserahan mas kawin bagi perkawinan, atau menghadiri sebuah prosesi adat ketika seorang lelaki melamar gadisnya. Pada 2012 tenun songket Sambas telah diakui oleh UNESCO.

Baca Juga :  Menggerakkan Tubuh dengan Olahraga, Menggerakkan Hati dengan Donasi

Seiring berjalannya waktu, tradisi menenun ini mulai berkurang dipraktikkan bagi masyarakat Sambas. Pada 70-80-an, perajin songket Sambas bisa dijumpai hampir seluruh kecamatan. Kini jejak perajin songket hanya ada di Desa Semberang, Kecamatan Sambas atau berada 10 kilometer dari  ibu kota Sambas.

Ketika tradisi tua ini mulai tergerus di tempat asalnya, Kurniati bersama beberapa rekannya mencoba melestarikan tradisi tua ini dengan cara memproduksi tenun ini di kota Pontianak. Tepatnya di Gang Sambas Jaya, Kelurahan Batu Layang. Dari usaha inilah, ibu rumah tangga di gang ini ikut menopang ekonomi keluarga. Bahkan dari hasil menenun, beberapa di antara mereka sudah bisa membiayai anaknya bersekolah hingga melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Dibantu sang kakak dan ibunya, Kurniati pun  mengajarkan kerajinan menenun bagi warga sekitar tempat tinggalnya. “Jika dijumlahkan, saat ini ada sekitar 18 penenun kain Sambas yang aktif di gang ini, semuanya rata-rata memang eks pengungsi kerusuhan Sambas dan beberapa di antaranya ada juga warga asli Pontianak yang memang tinggal tak jauh dari kediaman kami,” jelasnya.

Pantauan di lapangan, para eks pengungsi Sambas yang saat ini berdomisili di Kampung Tenun  tersebut tampak mampu beradaptasi dan berbaur bersama masyarakat lainnya di tempat tinggal baru, yakni di Kota Pontianak yang memiliki masyarakat dengan beragam budaya. Tak hanya itu, meraka pun masih menjalankan tradisi makan secara saprahan, cekatan dalam membuat makanan khas Sambas seperti bubur padas dan sejumlah budaya lain dari Sambas untuk terus diterapkan dan dilestarikan di tempat tinggal yang baru.

Penenun kain songket Sambas lainnya, Julia (27) bersyukur, menenun tak hanya mampu menambah penghasilan keluarga, namun juga menjadi sarana baginya menyuarakan pesan toleransi keberagaman. Di  Kampung Tenun itu, kain Songket Sambas khas Melayu ini justru dikerjakan perempuan-perempuan etnis Madura yang sebelumnya memang merupakan eks pengungsi sambas.

Beberapa dari pengrajin tenun tersebut memang telah memiliki keahlian menenun, namun sebagian besarnya mulai belajar dan menekuni tenun saat telah berdomisili di Kota Pontianak. “Jadi selain memang berupaya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, rekan-rekan penenun di sini juga berharap bisa menyuarakan pesan toleransi di tengah keberagaman, dan beberapa warga lokal asli Pontianak juga ada yang sempat ikut belajar menenun walaupun pada akhirnya tidak dijadikan mata pencaharian utama,”  kata Kurniati.

Baca Juga :  Kampung Tenun Beri Penghidupan Masyarakat Setempat

Sama seperti Kurniati, dengan keahlian yang dimiliki, Julia pun bersedia mengajari siapapun yang ingin belajar menenun. “Bagi saya siapa pun bisa menenun asal  mau belajar,” ucapnya. Untuk memasarkan kain songket yang telah ditenun, para parajin tenun sambas sepakat difasilitasi satu pengepul yang tak lain adalah warga Sambas untuk memasarkan dan menjual semua kain tenun yang telah dibuat. Tujuannya selain mempererat kebersamaan sesama perajin juga menghindari persaingan pasar.

“Selain beberapa ada yang langsung dijual ke konsumen di Kota Pontianak dan sekitarnya. Sebagian hasil tenun lainnya, nanti kami kumpulkan sama-sama untuk dipasarkan oleh satu orang. Kain tenun yang kami produksi ini dipasarkan lagi ke Sambas hingga sejumlah agen di luar negeri seperti di Singapura, Brunai Darussalam, dan Malaysia,” jelasnya.

Tak sekadar mengajar dan memberikan pendampingan bagi para pengrajin tenun Sambas, beberapa penenun yang kini aktif di sejumlah organisasi pemberdayaan perempuan dan sering mengikuti pameran kerajinan tangan mulai dari tingkat lokal hingga nasional ini mengaku juga turut memasarkan hasil kerajinan yang dimiliki masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

Tak jauh dari Gang Sambas Jaya, kata dia, juga terdapat pengrajin lainnya, misalnya kerajinan merajut, kerajinan mengolah barang bekas menjadi pohon bonsai buatan, kerajinan manik-manik dan beberapa kerajinan tangan lain.

“Walaupun berbeda jenis kerajinannya dan dibuat dari warga yang beragam latar belakangannya kami saling support untuk saling memasarkan produk masing-masing,” paparnya.

Di sela-sela  kesibukannya menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga dan penenun kain songket sambas, baik Kurniati maupun Julia pernah bercita-cita ingin berkolaborasi dengan para penenun asli di Sambas. Namun sayangnya karena belum menemukan perantara atau fasiltator yang tepat membuat cita-cita tersebut belum sempat terealisasi.

“Semoga saja, kapan-kapan rencana kami ingin berkolaborasi dengan penenun asli di Sambas misalnya untuk saling belajar untuk membuat motif baru dan sejenisnya bisa terealisasi,” harapnya. (*)

 

Di tengah keterpurukan, Kurniati (45) perempuan eks pengungsi Sambas berupaya bangkit menjadi pribadi yang lebih mandiri. Berbekal keahlian menenun Songket Sambas, ibu tiga anak ini gigih merajut pesan toleransi di tengah keberagaman warga.

ASHRI ISNAINI, Pontianak

Kendati tak sungkan menceritakan kisahnya mulai menekuni kerajinan tenun di tempat tinggalnya kini, namun dari raut wajahnya, Kurniati tampaknya enggan mengenang kembali kisah kelam yang dia alami bersama keluarga, 21 tahun silam itu. Saat itu, Kurniati terpaksa mengungsi ke Pontianak pasca kerusuhan Sambas. Meski sudah lama berlalu, tragedi itu masih terekam jelas di memorinya. Ibu tiga anak ini berharap kejadian itu tak terulang lagi.

Sebelum hijrah ke Pontianak, pada 1990, Kurniati bersama keluarganya sempat membuka galeri tenun di Sambas. Usaha menenun keluarga ini terhenti pada 1999. Kala itu terjadi kerusuhan di Kabupaten Sambas. Untuk menyelamatkan diri, Kurniati bersama ayah, ibu dan beberapa saudaranya memutuskan mengungsi ke daerah yang lebih aman yakni Kota Pontianak.

Saat tiba di Pontianak, Kurniati dan keluarga tinggal di pengungsian. Namun dengan pertimbangan ingin memulai hidup baru yang mandiri, berbekal uang seadanya, dia bersama keluarganya memutuskan mengontrak rumah milik warga.

Di rumah kontrakan inilah keluarga besar ini menjalani kehidupan yang pelik. Suami Kurniati, kala itu, belum mendapatkan pekerjaan. Sisa uang yang dibawa dari kampung halaman akhirnya habis untuk kebutuhan makan setiap hari dan membayar kontrakan.

Melihat kondisi  tersebut, Masudi, salah satu kerabatnya dari Sambas mendatangi rumah kontrakan Kurniati di Gang Sambas Jaya, Kelurahan Batu Layang. Di rumah itu, Masudi membawa satu set alat tenun songket tradisional dari bahan kayu dan beberapa gelondongan benang sebagai bahan tenun. Dari sinilah keluarga ini kembali menekuni kerajinan tenun Sambas.

Aktivitas menenun dinilai sangat membantu ekonomi keluarga. Kebanyakan warga di Gang Sambas Jaya yang sebagian merupakan eks pengungsi Sambas memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Penghasilan para suami sebagian besar buruh bangunan, bertani dan beternak sapi. Karena itu para perempuan juga harus bekerja untuk menambah penghasilan. “Kalau mengharapkan suami saja tidak cukup,” ujarnya.

Di Kabupaten Sambas, seni memintal dan merajut benang ini sudah dilakukan warga sejak ratusan tahun silam. Kain ini biasa dipakai untuk seserahan mas kawin bagi perkawinan, atau menghadiri sebuah prosesi adat ketika seorang lelaki melamar gadisnya. Pada 2012 tenun songket Sambas telah diakui oleh UNESCO.

Baca Juga :  AHY Tiba di Pontianak Lusa, Resmikan Kantor Baru DPD Partai Demokrat Kalbar

Seiring berjalannya waktu, tradisi menenun ini mulai berkurang dipraktikkan bagi masyarakat Sambas. Pada 70-80-an, perajin songket Sambas bisa dijumpai hampir seluruh kecamatan. Kini jejak perajin songket hanya ada di Desa Semberang, Kecamatan Sambas atau berada 10 kilometer dari  ibu kota Sambas.

Ketika tradisi tua ini mulai tergerus di tempat asalnya, Kurniati bersama beberapa rekannya mencoba melestarikan tradisi tua ini dengan cara memproduksi tenun ini di kota Pontianak. Tepatnya di Gang Sambas Jaya, Kelurahan Batu Layang. Dari usaha inilah, ibu rumah tangga di gang ini ikut menopang ekonomi keluarga. Bahkan dari hasil menenun, beberapa di antara mereka sudah bisa membiayai anaknya bersekolah hingga melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Dibantu sang kakak dan ibunya, Kurniati pun  mengajarkan kerajinan menenun bagi warga sekitar tempat tinggalnya. “Jika dijumlahkan, saat ini ada sekitar 18 penenun kain Sambas yang aktif di gang ini, semuanya rata-rata memang eks pengungsi kerusuhan Sambas dan beberapa di antaranya ada juga warga asli Pontianak yang memang tinggal tak jauh dari kediaman kami,” jelasnya.

Pantauan di lapangan, para eks pengungsi Sambas yang saat ini berdomisili di Kampung Tenun  tersebut tampak mampu beradaptasi dan berbaur bersama masyarakat lainnya di tempat tinggal baru, yakni di Kota Pontianak yang memiliki masyarakat dengan beragam budaya. Tak hanya itu, meraka pun masih menjalankan tradisi makan secara saprahan, cekatan dalam membuat makanan khas Sambas seperti bubur padas dan sejumlah budaya lain dari Sambas untuk terus diterapkan dan dilestarikan di tempat tinggal yang baru.

Penenun kain songket Sambas lainnya, Julia (27) bersyukur, menenun tak hanya mampu menambah penghasilan keluarga, namun juga menjadi sarana baginya menyuarakan pesan toleransi keberagaman. Di  Kampung Tenun itu, kain Songket Sambas khas Melayu ini justru dikerjakan perempuan-perempuan etnis Madura yang sebelumnya memang merupakan eks pengungsi sambas.

Beberapa dari pengrajin tenun tersebut memang telah memiliki keahlian menenun, namun sebagian besarnya mulai belajar dan menekuni tenun saat telah berdomisili di Kota Pontianak. “Jadi selain memang berupaya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, rekan-rekan penenun di sini juga berharap bisa menyuarakan pesan toleransi di tengah keberagaman, dan beberapa warga lokal asli Pontianak juga ada yang sempat ikut belajar menenun walaupun pada akhirnya tidak dijadikan mata pencaharian utama,”  kata Kurniati.

Baca Juga :  Tenun Kalbar Kian Variatif

Sama seperti Kurniati, dengan keahlian yang dimiliki, Julia pun bersedia mengajari siapapun yang ingin belajar menenun. “Bagi saya siapa pun bisa menenun asal  mau belajar,” ucapnya. Untuk memasarkan kain songket yang telah ditenun, para parajin tenun sambas sepakat difasilitasi satu pengepul yang tak lain adalah warga Sambas untuk memasarkan dan menjual semua kain tenun yang telah dibuat. Tujuannya selain mempererat kebersamaan sesama perajin juga menghindari persaingan pasar.

“Selain beberapa ada yang langsung dijual ke konsumen di Kota Pontianak dan sekitarnya. Sebagian hasil tenun lainnya, nanti kami kumpulkan sama-sama untuk dipasarkan oleh satu orang. Kain tenun yang kami produksi ini dipasarkan lagi ke Sambas hingga sejumlah agen di luar negeri seperti di Singapura, Brunai Darussalam, dan Malaysia,” jelasnya.

Tak sekadar mengajar dan memberikan pendampingan bagi para pengrajin tenun Sambas, beberapa penenun yang kini aktif di sejumlah organisasi pemberdayaan perempuan dan sering mengikuti pameran kerajinan tangan mulai dari tingkat lokal hingga nasional ini mengaku juga turut memasarkan hasil kerajinan yang dimiliki masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

Tak jauh dari Gang Sambas Jaya, kata dia, juga terdapat pengrajin lainnya, misalnya kerajinan merajut, kerajinan mengolah barang bekas menjadi pohon bonsai buatan, kerajinan manik-manik dan beberapa kerajinan tangan lain.

“Walaupun berbeda jenis kerajinannya dan dibuat dari warga yang beragam latar belakangannya kami saling support untuk saling memasarkan produk masing-masing,” paparnya.

Di sela-sela  kesibukannya menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga dan penenun kain songket sambas, baik Kurniati maupun Julia pernah bercita-cita ingin berkolaborasi dengan para penenun asli di Sambas. Namun sayangnya karena belum menemukan perantara atau fasiltator yang tepat membuat cita-cita tersebut belum sempat terealisasi.

“Semoga saja, kapan-kapan rencana kami ingin berkolaborasi dengan penenun asli di Sambas misalnya untuk saling belajar untuk membuat motif baru dan sejenisnya bisa terealisasi,” harapnya. (*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/