alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Pengembangan Kedelai Perlu Kepastian Pasar

PONTIANAK – Pengembangan komoditas kedelai di Kalimantan Barat (Kalbar) masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya soal kepastian pasar komoditas yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe itu.

“Perlu menjamin kepastian pemasaran hasil terutama pada daerah sentra baru. Disamping itu pemerintah perlu membangun subsistem hulu, dan perlu juga menata subsistem hilir,” ungkap Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Kalbar, Dony Saiful Bahri, kepada Pontianak Post belum lama ini.

Kepastian pemasaran ini, menurutnya perlu juga dilakukan dengan membuat regulasi dalam menetapkan harga kedelai biji kering, sehingga petani tidak menjual hasil dalam bentuk panen muda (kacang bulu). Selama ini, petani kedelai cenderung menjual dalam bentuk kacang bulu karena pendapatannya relatif sama dengan menjual biji kering namun waktu panen menjadi lebih cepat.

“Bahkan petani lebih diuntungkan karena umur panen yang singkat sekitar 55 hari, sementara untuk panen biji kering butuh waktu sekitar 100 hari,” tutur dia.

Baca Juga :  Pengrajin Tempe Siasati Kenaikan Kedelai

Selain itu lanjutnya, guna mengoptimalkan produksi kedelai, maka penting untuk menerapkan teknologi inovatif usaha tani kedelai teruama pada areal penumbuhan baru agar budidaya dilaksanakan sesuai standar. Apalagi saat ini produktivitas kedelai di Kalbar masih cukup rendah, lantaran minimnya penggunaan inovasi dalam usaha tani. Alhasil, keuntungan yang didapat oleh petani masih cukup rendah.

Dia menyebut, rata-rata biaya menanam, mulai dari tenaga kerja, benih, dan saprodi, untuk usaha tani kedelai Rp 6.211.000 per hektare. Dengan produktivitas per hektare sebesar 768 kg dan harga biji kering Rp 10.000 per kg, maka diperoleh harga penjuaian sebesar Rp7.680.000. “Petani hanya memperoleh keuntungan Rp1.469.000 dalam waktu sekitar 3,5 bulan atau Rp 419.714 per bulan, dengan BC Ratio hanya 1,23. Usaha tani masih menguntungkan, tapi relatif sangat kecil,” tutur dia.

Baca Juga :  Harga Kedelai Tinggi, Produsen Kurangi Ukuran Tempe

Di sisi lain, potensi pengembangan kedelai untuk wilayah Kalbar masih terbuka lebar mengingat masih ada potensi lahan pertanian yang belum dioptimalkan. Menurutnya, provinsi ini sangat perlu daerah penumbuhan baru karena masih terdapat sekitar 600.000 hektare lahan kering berupa tegalan yang belum dimanfaatkan.

“Sampai kau sentra utama kedelai di Kalbar masih Kabupaten Sambas Kecamatan Tangaran, Jawai, Jawai Selatan, dan Teluk Keramat. Sedangkan daerah penumbuhan baru hanya Kabupaten Sintang kecamatan Sepauk,” sebut dia.

Dony menambahkan, saat ini kegiatan Pengembangan Petani Produsen Benih Kedelai (P3BK) tahun 2020 dilaksanakan oleh kelompok tani Gotongan Kelurahan Pangmilang Kecamatan Singkawang Selatan Kota Singkawang. Varietas yang ditanam adalah Anjasmoro Label Putih yang diperoleh dari Balitkabi Malang, Jawa Timur. Kegiatan ini sudah panen pada Desember 2020 dengan rata-rata produktivitas 1,5 ton per hektare, dan yang lolos sertifikasi jadi benih sekitar 1 ton per hektare. (sti)

PONTIANAK – Pengembangan komoditas kedelai di Kalimantan Barat (Kalbar) masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya soal kepastian pasar komoditas yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe itu.

“Perlu menjamin kepastian pemasaran hasil terutama pada daerah sentra baru. Disamping itu pemerintah perlu membangun subsistem hulu, dan perlu juga menata subsistem hilir,” ungkap Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Kalbar, Dony Saiful Bahri, kepada Pontianak Post belum lama ini.

Kepastian pemasaran ini, menurutnya perlu juga dilakukan dengan membuat regulasi dalam menetapkan harga kedelai biji kering, sehingga petani tidak menjual hasil dalam bentuk panen muda (kacang bulu). Selama ini, petani kedelai cenderung menjual dalam bentuk kacang bulu karena pendapatannya relatif sama dengan menjual biji kering namun waktu panen menjadi lebih cepat.

“Bahkan petani lebih diuntungkan karena umur panen yang singkat sekitar 55 hari, sementara untuk panen biji kering butuh waktu sekitar 100 hari,” tutur dia.

Baca Juga :  Mengenal Betet Ekor Panjang

Selain itu lanjutnya, guna mengoptimalkan produksi kedelai, maka penting untuk menerapkan teknologi inovatif usaha tani kedelai teruama pada areal penumbuhan baru agar budidaya dilaksanakan sesuai standar. Apalagi saat ini produktivitas kedelai di Kalbar masih cukup rendah, lantaran minimnya penggunaan inovasi dalam usaha tani. Alhasil, keuntungan yang didapat oleh petani masih cukup rendah.

Dia menyebut, rata-rata biaya menanam, mulai dari tenaga kerja, benih, dan saprodi, untuk usaha tani kedelai Rp 6.211.000 per hektare. Dengan produktivitas per hektare sebesar 768 kg dan harga biji kering Rp 10.000 per kg, maka diperoleh harga penjuaian sebesar Rp7.680.000. “Petani hanya memperoleh keuntungan Rp1.469.000 dalam waktu sekitar 3,5 bulan atau Rp 419.714 per bulan, dengan BC Ratio hanya 1,23. Usaha tani masih menguntungkan, tapi relatif sangat kecil,” tutur dia.

Baca Juga :  Tangis Keluarga Penuhi Bandara

Di sisi lain, potensi pengembangan kedelai untuk wilayah Kalbar masih terbuka lebar mengingat masih ada potensi lahan pertanian yang belum dioptimalkan. Menurutnya, provinsi ini sangat perlu daerah penumbuhan baru karena masih terdapat sekitar 600.000 hektare lahan kering berupa tegalan yang belum dimanfaatkan.

“Sampai kau sentra utama kedelai di Kalbar masih Kabupaten Sambas Kecamatan Tangaran, Jawai, Jawai Selatan, dan Teluk Keramat. Sedangkan daerah penumbuhan baru hanya Kabupaten Sintang kecamatan Sepauk,” sebut dia.

Dony menambahkan, saat ini kegiatan Pengembangan Petani Produsen Benih Kedelai (P3BK) tahun 2020 dilaksanakan oleh kelompok tani Gotongan Kelurahan Pangmilang Kecamatan Singkawang Selatan Kota Singkawang. Varietas yang ditanam adalah Anjasmoro Label Putih yang diperoleh dari Balitkabi Malang, Jawa Timur. Kegiatan ini sudah panen pada Desember 2020 dengan rata-rata produktivitas 1,5 ton per hektare, dan yang lolos sertifikasi jadi benih sekitar 1 ton per hektare. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/