alexametrics
24.8 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Hampir  Seribu Orang Reaktif

Kasus Positif Covid-19 Kalbar Tembus 120

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengumumkan perkembangan penanganan Covid-19 di provinsi ini. Dari pemeriksaan tes cepat (rapid test) se-Kalbar disebutkan telah tercatat sebanyak 841 orang yang hasilnya reaktif dan ada penambahan dua kasus konfirmasi (positif) Covid-19, Minggu (10/5).

Dengan demikian total kasus positif melalui pemeriksaan Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di provinsi ini telah mencapai 120 kasus. Selain itu, Sutarmidji yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalbar mengingatkan tingginya angka hasil rapid test yang reaktif.

Angkanya kini hampir mencapai seribu orang dari total 18.120 alat rapid test yang disebar di seluruh kabupaten/kota se-Kalbar. “Saat ini di Kalbar hasil rapid test yang reaktif sudah mencapai 842 orang. Mereka ini menunggu hasil swab laboratorium (RT-PCR),” ungkap Midji, sapaan akrabnya, Minggu (10/5) malam.

Seperti diketahui, hasil rapid test reaktif belum bisa dipastikan seseorang positif Covid-19. Midji menjelaskan rapid test bukan diagnostik, tetapi sebagai screening atau seleksi dan memilah antara yang berpotensi atau yang tidak berpotensi terinfeksi karena ada keluhan klinis, resiko terpapar dan seterusnya. “Walau bukan diagnostik, pemeriksaan ini sangat membantu dalam memutus mata rantai penularan,” jelasnya.

Hasil reaktif pada rapid test mesti diikuti dengan pemeriksaan RT-PCR. Hal itu penting untuk menghindari stigmatisasi di tengah masyarakat kepada yang rapid test reaktif. Sementara hasil nonreaktif pada rapid test juga bukan berarti seseorang bebas Covid-19. Tes harus diulang kembali setelah 10 hari. Bila hasilnya tetap nonreaktif maka dinyatakan bebas dari Covid-19 dan bila reaktif tetap harus diikuti dengan pemeriksaan RT-PCR.

Rapid test itu untuk mengetahui antibodi seseorang. Kalau antibodinya bagus, virus bisa lemah. Rawannya kalau ada penyakit bawaan yang membuat antibodi tidak mampu melawan virus dan ini yang menyebabkan seseorang masuk kategori PDP (pasien dalam pengawasan),” terangnya.

Sementara jika dari awal seseorang sudah diketahui reaktif, antibodinya bisa diperkuat dengan asupan makanan dan vitamin. Dengan demikian,  virus yang ada bakal melemah atau kalah dengan antibodi yang ada di tubuh seseorang.

Baca Juga :  Sikapi Lockdown Malaysia, Bupati Pantau Persiapan PLBN

“Dan orang yang rapid test-nya reaktif harus diisolasi agar tidak menyebarkan virus ke orang lain. Rata-rata mereka yang PDP dan meninggal karena ada penyakit bawaan sehingga antibodinya tak mampu melawan virus,” katanya.

Pada intinya, baik yang reaktif maupun nonreaktif tetap harus melalui prosedur isolasi atau karantina diri, karena yang diperiksa adalah hanya mereka yang secara surveilans dianggap ada keterkaitan dengan Covid-19.

Maka dari itu, pemeriksaan rapid test secara masif penting untuk pemetaan dan sebagai langkah antisipasi pencegahan penularan Covid-19 lebih luas. Untuk daerah yang hasil rapid test reaktifnya sedikit, menurutnya bukan berarti kasus di daerah tersebut sedikit melainkan karena dinas kesehatan setempat belum maksimal melaksanakan rapid test di masyarakat.

Hal tersebut terlihat dari jumlah ketersediaan alat rapid test di daerah bersangkutan yang masih cukup banyak. Midji mengatakan, daerah yang hasil rapid rest reaktif tinggi seperti Kota Pontianak, Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu memang benar-benar memanfaatkan tes cepat tersebut secara maksimal.

Kota Pontianak dengan total 10.100 pcs alat rapid test yang didistribusikan telah digunakan hampir sembilan ribu dengan sisa sekitar 1.728 pcs. Hasil yang reaktif mencapai 284 orang. Lalu untuk Kabupaten Sintang, dari 1.180 pcs alat rapid rest yang didistribusikan, telah digunakan seluruhnya dan hasil yang reaktif mencapai 184 orang.

Sementara Kabupaten Kapuas Hulu dari 420 pcs juga telah digunakan seluruhnya dan hasil yang reaktif mencapai 158 orang. “Mereka (Pontianak, Sintang, Kapuas Hulu) bisa duluan menurunkan kasus, karena bisa mengawasi orang yang sudah terjangkit atau belum,” ungkapnya.

Midji juga menambahkan, jika ada kasus Orang Tanpa Gejala (OTG) dan yang bersangkutan tidak melakukan rapid test, akibatnya akan terjadi penularan yang tak terkontrol. “Kalau dia OTG dan tidak rapid test, lalu dia ketemu keluarga, teman dan lain-lain, di saat itulah kami akan kewalahan karena yang bersangkutan menyebarkan virus. Semua tergantung Anda (masyarakat). Gugus tugas sudah maksimal,” ujarnya.

Terus Bertambah

Baca Juga :  Pemprov Kalbar Terima Hasil Pengawasan BPKP

Sementara itu, peningkatan jumlah kasus positif secara nasional masih terus bergerak naik meskipun pemerintah berharap pandemi bisa terkontrol di akhir Mei 2020. Kemarin, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 kembali mencatat jumlah peningkatan kasus pada periode 9 hingga 10 Mei 2020 sebanyak 387 kasus baru dengan total jumlah kasus 14.032. Sementara kasus sembuh menjadi 2.698 setelah ada bertambah sebanyak 91 orang.

Sedangkan jumlah kasus meninggal yang disebabkan COVID-19 bertambah menjadi 973 setelah ada penambagan sebanyak 14 orang. Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto mengungkapkan bahwa dalam seminggu terakhir ada fluktuasi data di beberapa daerah. Ada beberapa daerah yang terlihat konsisten dengan angka peningkatan kasus per hari yang semakin sedikit.

“Tapi ada juga daerah yang tidak konsisten. Beberapa hari sebelumnya tingkat pertambahan kasusnya makin sedikit. Namun di hari-hari belakangan malah bertambah banyak,” katanya kemarin (10/5)

Di daerah-daerah ini kata Yuri belum terbentuk pola grafis yang konsisten. Sehingga pemerintah semakin susah menebak kecenderungannya. “Tapi dari data ini bisa kita lihat, bahwa proses penularan masih terus terjadi,” katanya.

Dari  sebaran kasus sembuh dari 34 Provinsi di Tanah Air, DKI Jakarta menjadi wilayah dengan sebaran pasien sembuh terbanyak yakni 803, disusul Sulawesi Selatan 265, Jawa Timur sebanyak 230, Bali 204, Jawa Barat 202, dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 2.698 orang.

Yuri menambahkan bahwa data tersebut sekaligus menjadi ukuran seberapa masyarakat dapat mematuhi aturan pemerintah dan anjuran protokol kesehatan sebagai langkah untuk memutus rantai penularan COVID-19. “Gambaran ini menjadi poin seberapa disiplin kita untuk mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, tidak mudik dan menjalankan aturan pemerintah,” kata Yuri. (bar/tau)

Kasus Positif Covid-19 Kalbar Tembus 120

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengumumkan perkembangan penanganan Covid-19 di provinsi ini. Dari pemeriksaan tes cepat (rapid test) se-Kalbar disebutkan telah tercatat sebanyak 841 orang yang hasilnya reaktif dan ada penambahan dua kasus konfirmasi (positif) Covid-19, Minggu (10/5).

Dengan demikian total kasus positif melalui pemeriksaan Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) di provinsi ini telah mencapai 120 kasus. Selain itu, Sutarmidji yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalbar mengingatkan tingginya angka hasil rapid test yang reaktif.

Angkanya kini hampir mencapai seribu orang dari total 18.120 alat rapid test yang disebar di seluruh kabupaten/kota se-Kalbar. “Saat ini di Kalbar hasil rapid test yang reaktif sudah mencapai 842 orang. Mereka ini menunggu hasil swab laboratorium (RT-PCR),” ungkap Midji, sapaan akrabnya, Minggu (10/5) malam.

Seperti diketahui, hasil rapid test reaktif belum bisa dipastikan seseorang positif Covid-19. Midji menjelaskan rapid test bukan diagnostik, tetapi sebagai screening atau seleksi dan memilah antara yang berpotensi atau yang tidak berpotensi terinfeksi karena ada keluhan klinis, resiko terpapar dan seterusnya. “Walau bukan diagnostik, pemeriksaan ini sangat membantu dalam memutus mata rantai penularan,” jelasnya.

Hasil reaktif pada rapid test mesti diikuti dengan pemeriksaan RT-PCR. Hal itu penting untuk menghindari stigmatisasi di tengah masyarakat kepada yang rapid test reaktif. Sementara hasil nonreaktif pada rapid test juga bukan berarti seseorang bebas Covid-19. Tes harus diulang kembali setelah 10 hari. Bila hasilnya tetap nonreaktif maka dinyatakan bebas dari Covid-19 dan bila reaktif tetap harus diikuti dengan pemeriksaan RT-PCR.

Rapid test itu untuk mengetahui antibodi seseorang. Kalau antibodinya bagus, virus bisa lemah. Rawannya kalau ada penyakit bawaan yang membuat antibodi tidak mampu melawan virus dan ini yang menyebabkan seseorang masuk kategori PDP (pasien dalam pengawasan),” terangnya.

Sementara jika dari awal seseorang sudah diketahui reaktif, antibodinya bisa diperkuat dengan asupan makanan dan vitamin. Dengan demikian,  virus yang ada bakal melemah atau kalah dengan antibodi yang ada di tubuh seseorang.

Baca Juga :  Persiapan Vaksinasi Covid-19 di Kalbar, Sasaran Warga tak Berkomorbid

“Dan orang yang rapid test-nya reaktif harus diisolasi agar tidak menyebarkan virus ke orang lain. Rata-rata mereka yang PDP dan meninggal karena ada penyakit bawaan sehingga antibodinya tak mampu melawan virus,” katanya.

Pada intinya, baik yang reaktif maupun nonreaktif tetap harus melalui prosedur isolasi atau karantina diri, karena yang diperiksa adalah hanya mereka yang secara surveilans dianggap ada keterkaitan dengan Covid-19.

Maka dari itu, pemeriksaan rapid test secara masif penting untuk pemetaan dan sebagai langkah antisipasi pencegahan penularan Covid-19 lebih luas. Untuk daerah yang hasil rapid test reaktifnya sedikit, menurutnya bukan berarti kasus di daerah tersebut sedikit melainkan karena dinas kesehatan setempat belum maksimal melaksanakan rapid test di masyarakat.

Hal tersebut terlihat dari jumlah ketersediaan alat rapid test di daerah bersangkutan yang masih cukup banyak. Midji mengatakan, daerah yang hasil rapid rest reaktif tinggi seperti Kota Pontianak, Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu memang benar-benar memanfaatkan tes cepat tersebut secara maksimal.

Kota Pontianak dengan total 10.100 pcs alat rapid test yang didistribusikan telah digunakan hampir sembilan ribu dengan sisa sekitar 1.728 pcs. Hasil yang reaktif mencapai 284 orang. Lalu untuk Kabupaten Sintang, dari 1.180 pcs alat rapid rest yang didistribusikan, telah digunakan seluruhnya dan hasil yang reaktif mencapai 184 orang.

Sementara Kabupaten Kapuas Hulu dari 420 pcs juga telah digunakan seluruhnya dan hasil yang reaktif mencapai 158 orang. “Mereka (Pontianak, Sintang, Kapuas Hulu) bisa duluan menurunkan kasus, karena bisa mengawasi orang yang sudah terjangkit atau belum,” ungkapnya.

Midji juga menambahkan, jika ada kasus Orang Tanpa Gejala (OTG) dan yang bersangkutan tidak melakukan rapid test, akibatnya akan terjadi penularan yang tak terkontrol. “Kalau dia OTG dan tidak rapid test, lalu dia ketemu keluarga, teman dan lain-lain, di saat itulah kami akan kewalahan karena yang bersangkutan menyebarkan virus. Semua tergantung Anda (masyarakat). Gugus tugas sudah maksimal,” ujarnya.

Terus Bertambah

Baca Juga :  Usulkan Temajuk Bagian dari PLBN Aruk

Sementara itu, peningkatan jumlah kasus positif secara nasional masih terus bergerak naik meskipun pemerintah berharap pandemi bisa terkontrol di akhir Mei 2020. Kemarin, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 kembali mencatat jumlah peningkatan kasus pada periode 9 hingga 10 Mei 2020 sebanyak 387 kasus baru dengan total jumlah kasus 14.032. Sementara kasus sembuh menjadi 2.698 setelah ada bertambah sebanyak 91 orang.

Sedangkan jumlah kasus meninggal yang disebabkan COVID-19 bertambah menjadi 973 setelah ada penambagan sebanyak 14 orang. Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto mengungkapkan bahwa dalam seminggu terakhir ada fluktuasi data di beberapa daerah. Ada beberapa daerah yang terlihat konsisten dengan angka peningkatan kasus per hari yang semakin sedikit.

“Tapi ada juga daerah yang tidak konsisten. Beberapa hari sebelumnya tingkat pertambahan kasusnya makin sedikit. Namun di hari-hari belakangan malah bertambah banyak,” katanya kemarin (10/5)

Di daerah-daerah ini kata Yuri belum terbentuk pola grafis yang konsisten. Sehingga pemerintah semakin susah menebak kecenderungannya. “Tapi dari data ini bisa kita lihat, bahwa proses penularan masih terus terjadi,” katanya.

Dari  sebaran kasus sembuh dari 34 Provinsi di Tanah Air, DKI Jakarta menjadi wilayah dengan sebaran pasien sembuh terbanyak yakni 803, disusul Sulawesi Selatan 265, Jawa Timur sebanyak 230, Bali 204, Jawa Barat 202, dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 2.698 orang.

Yuri menambahkan bahwa data tersebut sekaligus menjadi ukuran seberapa masyarakat dapat mematuhi aturan pemerintah dan anjuran protokol kesehatan sebagai langkah untuk memutus rantai penularan COVID-19. “Gambaran ini menjadi poin seberapa disiplin kita untuk mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, tidak mudik dan menjalankan aturan pemerintah,” kata Yuri. (bar/tau)

Most Read

Artikel Terbaru

/