alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Setia Menjaga Semangat Spiritualitas di Era Modern

Peringatan 175 Tahun Kongregasi SFIC Berkarya di Dunia

Pada 1844, Suster Teresia van Miert memulai karya cinta kasih dan penghormatan satu sama lain di Veghel, Belanda. Kini, pada 2019, sudah 175 tahun Kongregasi Suster Fransiskus dari Perkandungan tak Bernoda Bunda Suci Allah tersebut berkarya di dunia. Bagaimana para suster, Demi Cinta Allah, ini merayakan tahun berkarya itu dalam dunia modern ini?

BUDI MIANK, Pontianak

HALAMAN Persekolahan Suster Pontianak pada Kamis, 10 Oktober 2019, riuh. Para suster dari Kongregasi Sorroum Fransiscalium ab Immaculata Conceptione a Matre Dei (SFIC) berkumpul. Mereka datang dari berbagai negara, seperti Belanda, Philipina, Thailand, dan Kenya. Negara-negara tempat Kongregasi SFIC berkarya di dunia.

Perempuan-perempuan berbusana serbaputih dan berkerudung putih itu sedang merayakan 175 tahun kongregasi berkarya di dunia. Tahun ini, perayaan dipusatkan di Pontianak. Selama tiga hari ini, para biarawati ini akan bersukacita dalam iman sambil mengenang perjalanan panjang sejarah karya cinta kasih SFIC di dunia.

Di selasar yang menjadi pembatas halaman SMP dan SD dipasang pita, yang kemudian digunting oleh Pemimpin General SFIC, Suster Adriana Tony. Begitu pita dipotong, beberapa suster yang diberi kalung bunga melati. Aroma khas melati menyeruak di antara larik cahaya matahari yang menyinari peringatan pagi itu. Para suster kemudian memasuki aula besar untuk mengikuti ibadat sabda. Saat memasuki aula, para suster disambut dengan tarian massal yang dipersembahkan 65 pelajar persekolahan suster Pontianak, baik tingkat SD maupun SMP.

Baca Juga :  Dewan Naik Sampan Menuju Balai Pertemuan

Ibadat dipimpin RD Aleksius Alek Pr, pastor Kepala Paroki Katedral St. Yosep, Pontianak. Alek mengungkapkan, masih banyak orang yang tergerak hati untuk mau menjadi orang-orang yang berguna dan melayani banyak orang.

“Allah masih bersama dengan kita. Allah masih menghendaki kita. Itu sungguh terjadi,” katanya, kemarin dalam homili singkatnya.

Di panggung diletakkan foto pendiri SFIC, Sr Teresia van Miert. Di bawah foto itu terdapat sepuluh kata dasar spiritualitas SFIC yang dilambangkan dengan 10 warna lilin. “Itu mengungkapkan semangat kami dalam melayani. Kami sering ungkapkan dengan Demi Cinta Allah. Semua kami lakukan karena cinta akan Allah,” kata Provinsial SFIC Provinsi Indonesia, Sr Yulita Imelda SFIC di Pontianak, kemarin.
Ia menambahkan, sebagai orang yang terpanggil mengabdi kepada Allah seperti semboyan kongregasi.

Pengabdian itu berasal dari pendiri SFIC yang melihat banyak orang yang sangat membutuhkan uluran cinta kasih.

Baca Juga :  Midji Pastikan Salat Idulfitri di Mujahidin Ditiadakan

Namun, pihaknya menyadari minimnya panggilan karena perubahan zaman dengan kemajuan teknologi informasi. “Inilah yang memengaruhi kaum muda, yang tidak memilih cara hidup seperti kami. Mereka kadang memilih kehidupan yang lebih semarak, yang tidak terikat. Ini menjadi tantangan bagi kami,” ujarnya.

Pemimpin General SFIC, Sr Adriana Tony SFIC mengatakan bahwa sejarah perjalanan panjang SFIC yang sudah 175 tahun berkarya bisa menjadi inspirasi bagi kami sekarang ini. “Sungguh karya agung kasih Allah. Memang ajaib yang tidak bisa diduga,” ujarnya.

Peristiwa hari ini, kata Adriana, sangat diingatkan kembali atas perjalanan panjang dan dukungan umat sehingga benar-benar menjadi SFIC. “Tetap menjaga semangat spiritualitasnya,” katanya.

Pihaknya menyadari dan merefleksikan kemajuan teknologi. “Kami merasakan dan hal ini memengaruhi hidup para suster. Kami mengalami bagaimana hidup berkarya dan berdoa, Kami ditantang diingatkan untuk kembali ke akar identitas sebagai seorang SFIC,” katanya.

Ketua Panitia Perayaan Syukur 175 Tahun Karya SFIC, Heronimus mengatakan, kegiatan digelar selama tiga hari sejak Kamis (10/10) hingga Sabtu (12/10). Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan, antaranya, bazar, fashion show, juga perlombaan paduan suara. (*)

Peringatan 175 Tahun Kongregasi SFIC Berkarya di Dunia

Pada 1844, Suster Teresia van Miert memulai karya cinta kasih dan penghormatan satu sama lain di Veghel, Belanda. Kini, pada 2019, sudah 175 tahun Kongregasi Suster Fransiskus dari Perkandungan tak Bernoda Bunda Suci Allah tersebut berkarya di dunia. Bagaimana para suster, Demi Cinta Allah, ini merayakan tahun berkarya itu dalam dunia modern ini?

BUDI MIANK, Pontianak

HALAMAN Persekolahan Suster Pontianak pada Kamis, 10 Oktober 2019, riuh. Para suster dari Kongregasi Sorroum Fransiscalium ab Immaculata Conceptione a Matre Dei (SFIC) berkumpul. Mereka datang dari berbagai negara, seperti Belanda, Philipina, Thailand, dan Kenya. Negara-negara tempat Kongregasi SFIC berkarya di dunia.

Perempuan-perempuan berbusana serbaputih dan berkerudung putih itu sedang merayakan 175 tahun kongregasi berkarya di dunia. Tahun ini, perayaan dipusatkan di Pontianak. Selama tiga hari ini, para biarawati ini akan bersukacita dalam iman sambil mengenang perjalanan panjang sejarah karya cinta kasih SFIC di dunia.

Di selasar yang menjadi pembatas halaman SMP dan SD dipasang pita, yang kemudian digunting oleh Pemimpin General SFIC, Suster Adriana Tony. Begitu pita dipotong, beberapa suster yang diberi kalung bunga melati. Aroma khas melati menyeruak di antara larik cahaya matahari yang menyinari peringatan pagi itu. Para suster kemudian memasuki aula besar untuk mengikuti ibadat sabda. Saat memasuki aula, para suster disambut dengan tarian massal yang dipersembahkan 65 pelajar persekolahan suster Pontianak, baik tingkat SD maupun SMP.

Baca Juga :  Sukseskan Program Vaksinasi Pemerintah, AMPI Kalbar Gelar Vaksinasi Milenial

Ibadat dipimpin RD Aleksius Alek Pr, pastor Kepala Paroki Katedral St. Yosep, Pontianak. Alek mengungkapkan, masih banyak orang yang tergerak hati untuk mau menjadi orang-orang yang berguna dan melayani banyak orang.

“Allah masih bersama dengan kita. Allah masih menghendaki kita. Itu sungguh terjadi,” katanya, kemarin dalam homili singkatnya.

Di panggung diletakkan foto pendiri SFIC, Sr Teresia van Miert. Di bawah foto itu terdapat sepuluh kata dasar spiritualitas SFIC yang dilambangkan dengan 10 warna lilin. “Itu mengungkapkan semangat kami dalam melayani. Kami sering ungkapkan dengan Demi Cinta Allah. Semua kami lakukan karena cinta akan Allah,” kata Provinsial SFIC Provinsi Indonesia, Sr Yulita Imelda SFIC di Pontianak, kemarin.
Ia menambahkan, sebagai orang yang terpanggil mengabdi kepada Allah seperti semboyan kongregasi.

Pengabdian itu berasal dari pendiri SFIC yang melihat banyak orang yang sangat membutuhkan uluran cinta kasih.

Baca Juga :  Warga Diimbau Tak Terprovokasi Kasus Keributan di Pontianak Utara

Namun, pihaknya menyadari minimnya panggilan karena perubahan zaman dengan kemajuan teknologi informasi. “Inilah yang memengaruhi kaum muda, yang tidak memilih cara hidup seperti kami. Mereka kadang memilih kehidupan yang lebih semarak, yang tidak terikat. Ini menjadi tantangan bagi kami,” ujarnya.

Pemimpin General SFIC, Sr Adriana Tony SFIC mengatakan bahwa sejarah perjalanan panjang SFIC yang sudah 175 tahun berkarya bisa menjadi inspirasi bagi kami sekarang ini. “Sungguh karya agung kasih Allah. Memang ajaib yang tidak bisa diduga,” ujarnya.

Peristiwa hari ini, kata Adriana, sangat diingatkan kembali atas perjalanan panjang dan dukungan umat sehingga benar-benar menjadi SFIC. “Tetap menjaga semangat spiritualitasnya,” katanya.

Pihaknya menyadari dan merefleksikan kemajuan teknologi. “Kami merasakan dan hal ini memengaruhi hidup para suster. Kami mengalami bagaimana hidup berkarya dan berdoa, Kami ditantang diingatkan untuk kembali ke akar identitas sebagai seorang SFIC,” katanya.

Ketua Panitia Perayaan Syukur 175 Tahun Karya SFIC, Heronimus mengatakan, kegiatan digelar selama tiga hari sejak Kamis (10/10) hingga Sabtu (12/10). Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan, antaranya, bazar, fashion show, juga perlombaan paduan suara. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

IPM Kalbar Masih Peringkat 30

Harga Hewan Kurban Melonjak

Usut Tuntas Promo Miras Holywings

/