alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Tiga Demonstran Positif Covid

Gedung Isolasi Soedarso Penuh

PONTIANAK – Tiga demonstran RUU Cipta Kerja di Pontianak dinyatakan positif Covid-19. Mereka diamankan saat unjuk rasa di Gedung DPRD Kalimantan Barat, Kamis (8/10) lalu. Hal ini diungkapkan Gubernur Kalbar, Sutarmidji, Sabtu (10/10).

“Ditemukan kasus dari lima orang pendemo di Kantor DPRD Kalbar, Kamis (8/10) yang hasil tes cepat (rapid test) reaktif, ternyata tiga di antaranya terkonfirmasi Covid-19,” kata Sutarmidji.

Sebelumnya, polisi menangkap puluhan orang yang diduga menjadi biang kericuhan demo. Mereka langsung di-rapid test di rumah sakit Bhayangkara Pontianak. Hasilnya, lima orang reaktif rapid test. Lima orang tersebut kemudian dites swab dan akhirnya diketahui tiga orang positif.

Sutarmidji menyebutkan, sampai saat ini seluruh pasien positif Covid-19 yang dirawat se-Kalbar ada sebanyak 122 orang. Jumlah pasien Covid-19 terbanyak ada di RSUD Soedarso.

“Semoga semua sembuh. Untuk pasien dan OTG, ayo semangat, insyallah semua bisa sembuh. Bersihkan pikiran, bertekad sembuh dan beribadah serta berdoa dengan khusyuk. Mohon kesembuhan pada Allah SWT. Ayo berjemur agar mendapatkan asupan vitamin D untuk lawan virus,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson mengungkapkan, terhadap tiga pendemo tersebut, langsung dilakukan isolasi mandiri dan dipantau oleh Dinas Kesehatan Pontianak.

Harisson juga mengungkapkan, saat ini terus terjadi peningkatan pasien konfirmasi (positif) Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit (RS). Bahkan di gedung isolasi terpadu RSUD Soedarso, Pontianak seluruh lantai mulai dari lantai satu sampai tiga sudah terisi penuh.

Seperti diketahui gedung isolasi tiga lantai itu memiliki kapasitas 108 tempat tidur. Selain itu ruangan isolasi yang memiliki fasilitas peralatan non invasive ventilator dan alat ventilator juga hampir penuh.

“Saat ini RSUD Soedarso sedang menyiapkan beberapa ruangan tambahan dan alat ventilator tambahan untuk merawat pasien Covid-19,” ujarnya, Sabtu (10/10).

Ia menegaskan bahwa sekarang ini terjadi kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 yang dirawat di RS. Kasus-kasus ini umumnya pasien dengan gejala sedang sampai berat di mana pasien memerlukan alat bantu pernafasan (non invasive ventilator maupun ventilator).

“Soedarso sudah menambah lima ventilator untuk merawat pasien Covid-19. Sedangkan untuk menjaga ketersediaan ruangan isolasi Covid-19 RSUD Soedarso akan menambah kapasitas ruangan untuk pasien yang dirawat dengan kasus Covid-19,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk segera sadar dan terus waspada bahwa saat ini telah terjadi peningkatan kasus Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat yang dirawat di RSUD Soedarso. Bahkan cenderung pasien-pasien tersebut bisa menjadi fatal atau menyebabkan kematian.

Kasus kasus berat dan bahkan fatal adalah kasus yang terjadi pada pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) seperti penyakit diabetes atau kencing manis, penyakit jantung, ginjal, hipertensi yang tidak terkontrol serta asma.

“Penyakit komorbid ini berisiko dan dapat menyebabkan kematian pada pasien yang tertular Covid-19. Bisa menjadi fatal dan dapat menyebabkan kematian,” tegasnya.

Ia mengatakan mungkin saja pada anak muda atau dewasa tanpa komorbid yang tertular Covid-19 tidak menunjukkan gejala (OTG) atau asimtomatik. Tetapi bila anak muda tersebut bertemu orang yang berusia tua, usia rentan, terlebih dengan orang yang memiliki komorbid maka apabila terjadi penularan, bisa berakibat fatal.

“Maka yang tertular ini akan menderita Covid-19 dengan kondisi penyakit yang berat sehingga butuh perawatan khusus di RS, butuh alat bantuan pernafasan,” tegasnya.

Baca Juga :  Kamtibmas Bersih dari Narkoba

Ia mengatakan bila masyarakat tidak kunjung sadar dan tidak terus berdisiplin, penularan akan terus berlangsung yang meyebabkan peningkatan kasus yang dirawat di RS.

“Percayalah nanti kalau masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan maka rumah sakit- rumah sakit kita akan penuh yang menyebabkan pelayanan perawatan terhadap pasien Covid-19 menjadi tidak optimal yang disebabkan oleh tidak seimbangnya antara pasien yang dirawat dengan jumlah dokter atau tenaga kesehatan yang merawat,” ujarnya.

Harisson menambahlan jika RS sudah penuh, maka akan ada pasien yang dirawat di koridor-koridor dan hal itu tentu tak diinginkan.

Kalbar Tambah 80 Kasus Positif

Harisson juga mengumumkan tambahan 80 kasus konfirmasi (positif) Covid-19 di provinsi ini, Sabtu (10/10). Sebanyak 12 orang di antaranya memiliki gejala dan harus dirawat di Rumah Sakit (RS). Dari 80 kasus baru tersebut, 36 orang merupakan warga Kota Pontianak, sembilan warga Sintang, 17 warga Kubu Raya, 10 warga Kayong Utara, dua warga Mempawah, empat warga Singkawang dan dua warga Bengkayang.

Selain tambahan kasus tersebut, ada juga sembilan orang yang telah dinyatakan sembuh. Lima orang di antaranya warga Pontianak, tiga warga Singkawang dan satu warga Kubu Raya. Dengan demikian, sampai 10 Oktober 2020, total kasus konfirmasi di Kalbar telah mencapai 1.216 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 917 orang atau 75,41 persen telah dinyatakan sembuh dan sembilan orang meninggal dunia.(bar)

Tiga Demonstran Positif Covid

*Gedung Isolasi Soedarso Penuh

PONTIANAK – Tiga demonstran RUU Cipta Kerja di Pontianak dinyatakan positif Covid-19. Mereka diamankan saat unjuk rasa di Gedung DPRD Kalimantan Barat, Kamis (8/10) lalu. Hal ini diungkapkan Gubernur Kalbar, Sutarmidji, Sabtu (10/10).

“Ditemukan kasus dari lima orang pendemo di Kantor DPRD Kalbar, Kamis (8/10) yang hasil tes cepat (rapid test) reaktif, ternyata tiga di antaranya terkonfirmasi Covid-19,” kata Sutarmidji.

Sebelumnya, polisi menangkap puluhan orang yang diduga menjadi biang kericuhan demo. Mereka langsung di-rapid test di rumah sakit Bhayangkara Pontianak. Hasilnya, lima orang reaktif rapid test. Lima orang tersebut kemudian dites swab dan akhirnya diketahui tiga orang positif.

Sutarmidji menyebutkan, sampai saat ini seluruh pasien positif Covid-19 yang dirawat se-Kalbar ada sebanyak 122 orang. Jumlah pasien Covid-19 terbanyak ada di RSUD Soedarso.

“Semoga semua sembuh. Untuk pasien dan OTG, ayo semangat, insyallah semua bisa sembuh. Bersihkan pikiran, bertekad sembuh dan beribadah serta berdoa dengan khusyuk. Mohon kesembuhan pada Allah SWT. Ayo berjemur agar mendapatkan asupan vitamin D untuk lawan virus,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson mengungkapkan, terhadap tiga pendemo tersebut, langsung dilakukan isolasi mandiri dan dipantau oleh Dinas Kesehatan Pontianak.

Harisson juga mengungkapkan, saat ini terus terjadi peningkatan pasien konfirmasi (positif) Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit (RS). Bahkan di gedung isolasi terpadu RSUD Soedarso, Pontianak seluruh lantai mulai dari lantai satu sampai tiga sudah terisi penuh.

Seperti diketahui gedung isolasi tiga lantai itu memiliki kapasitas 108 tempat tidur. Selain itu ruangan isolasi yang memiliki fasilitas peralatan non invasive ventilator dan alat ventilator juga hampir penuh.

Baca Juga :  Vaksinasi Dosis Kedua Landak Dimulai

“Saat ini RSUD Soedarso sedang menyiapkan beberapa ruangan tambahan dan alat ventilator tambahan untuk merawat pasien Covid-19,” ujarnya, Sabtu (10/10).

Ia menegaskan bahwa sekarang ini terjadi kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 yang dirawat di RS. Kasus-kasus ini umumnya pasien dengan gejala sedang sampai berat di mana pasien memerlukan alat bantu pernafasan (non invasive ventilator maupun ventilator).

“Soedarso sudah menambah lima ventilator untuk merawat pasien Covid-19. Sedangkan untuk menjaga ketersediaan ruangan isolasi Covid-19 RSUD Soedarso akan menambah kapasitas ruangan untuk pasien yang dirawat dengan kasus Covid-19,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk segera sadar dan terus waspada bahwa saat ini telah terjadi peningkatan kasus Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat yang dirawat di RSUD Soedarso. Bahkan cenderung pasien-pasien tersebut bisa menjadi fatal atau menyebabkan kematian.

Kasus kasus berat dan bahkan fatal adalah kasus yang terjadi pada pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) seperti penyakit diabetes atau kencing manis, penyakit jantung, ginjal, hipertensi yang tidak terkontrol serta asma.

“Penyakit komorbid ini berisiko dan dapat menyebabkan kematian pada pasien yang tertular Covid-19. Bisa menjadi fatal dan dapat menyebabkan kematian,” tegasnya.

Ia mengatakan mungkin saja pada anak muda atau dewasa tanpa komorbid yang tertular Covid-19 tidak menunjukkan gejala (OTG) atau asimtomatik. Tetapi bila anak muda tersebut bertemu orang yang berusia tua, usia rentan, terlebih dengan orang yang memiliki komorbid maka apabila terjadi penularan, bisa berakibat fatal.

“Maka yang tertular ini akan menderita Covid-19 dengan kondisi penyakit yang berat sehingga butuh perawatan khusus di RS, butuh alat bantuan pernafasan,” tegasnya.

Ia mengatakan bila masyarakat tidak kunjung sadar dan tidak terus berdisiplin, penularan akan terus berlangsung yang meyebabkan peningkatan kasus yang dirawat di RS.

“Percayalah nanti kalau masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan maka rumah sakit- rumah sakit kita akan penuh yang menyebabkan pelayanan perawatan terhadap pasien Covid-19 menjadi tidak optimal yang disebabkan oleh tidak seimbangnya antara pasien yang dirawat dengan jumlah dokter atau tenaga kesehatan yang merawat,” ujarnya.

Harisson menambahlan jika RS sudah penuh, maka akan ada pasien yang dirawat di koridor-koridor dan hal itu tentu tak diinginkan.

Kalbar Tambah 80 Kasus Positif

Harisson juga mengumumkan tambahan 80 kasus konfirmasi (positif) Covid-19 di provinsi ini, Sabtu (10/10). Sebanyak 12 orang di antaranya memiliki gejala dan harus dirawat di Rumah Sakit (RS). Dari 80 kasus baru tersebut, 36 orang merupakan warga Kota Pontianak, sembilan warga Sintang, 17 warga Kubu Raya, 10 warga Kayong Utara, dua warga Mempawah, empat warga Singkawang dan dua warga Bengkayang.

Selain tambahan kasus tersebut, ada juga sembilan orang yang telah dinyatakan sembuh. Lima orang di antaranya warga Pontianak, tiga warga Singkawang dan satu warga Kubu Raya. Dengan demikian, sampai 10 Oktober 2020, total kasus konfirmasi di Kalbar telah mencapai 1.216 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 917 orang atau 75,41 persen telah dinyatakan sembuh dan sembilan orang meninggal dunia.(bar)

Gedung Isolasi Soedarso Penuh

PONTIANAK – Tiga demonstran RUU Cipta Kerja di Pontianak dinyatakan positif Covid-19. Mereka diamankan saat unjuk rasa di Gedung DPRD Kalimantan Barat, Kamis (8/10) lalu. Hal ini diungkapkan Gubernur Kalbar, Sutarmidji, Sabtu (10/10).

“Ditemukan kasus dari lima orang pendemo di Kantor DPRD Kalbar, Kamis (8/10) yang hasil tes cepat (rapid test) reaktif, ternyata tiga di antaranya terkonfirmasi Covid-19,” kata Sutarmidji.

Sebelumnya, polisi menangkap puluhan orang yang diduga menjadi biang kericuhan demo. Mereka langsung di-rapid test di rumah sakit Bhayangkara Pontianak. Hasilnya, lima orang reaktif rapid test. Lima orang tersebut kemudian dites swab dan akhirnya diketahui tiga orang positif.

Sutarmidji menyebutkan, sampai saat ini seluruh pasien positif Covid-19 yang dirawat se-Kalbar ada sebanyak 122 orang. Jumlah pasien Covid-19 terbanyak ada di RSUD Soedarso.

“Semoga semua sembuh. Untuk pasien dan OTG, ayo semangat, insyallah semua bisa sembuh. Bersihkan pikiran, bertekad sembuh dan beribadah serta berdoa dengan khusyuk. Mohon kesembuhan pada Allah SWT. Ayo berjemur agar mendapatkan asupan vitamin D untuk lawan virus,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson mengungkapkan, terhadap tiga pendemo tersebut, langsung dilakukan isolasi mandiri dan dipantau oleh Dinas Kesehatan Pontianak.

Harisson juga mengungkapkan, saat ini terus terjadi peningkatan pasien konfirmasi (positif) Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit (RS). Bahkan di gedung isolasi terpadu RSUD Soedarso, Pontianak seluruh lantai mulai dari lantai satu sampai tiga sudah terisi penuh.

Seperti diketahui gedung isolasi tiga lantai itu memiliki kapasitas 108 tempat tidur. Selain itu ruangan isolasi yang memiliki fasilitas peralatan non invasive ventilator dan alat ventilator juga hampir penuh.

“Saat ini RSUD Soedarso sedang menyiapkan beberapa ruangan tambahan dan alat ventilator tambahan untuk merawat pasien Covid-19,” ujarnya, Sabtu (10/10).

Ia menegaskan bahwa sekarang ini terjadi kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 yang dirawat di RS. Kasus-kasus ini umumnya pasien dengan gejala sedang sampai berat di mana pasien memerlukan alat bantu pernafasan (non invasive ventilator maupun ventilator).

“Soedarso sudah menambah lima ventilator untuk merawat pasien Covid-19. Sedangkan untuk menjaga ketersediaan ruangan isolasi Covid-19 RSUD Soedarso akan menambah kapasitas ruangan untuk pasien yang dirawat dengan kasus Covid-19,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk segera sadar dan terus waspada bahwa saat ini telah terjadi peningkatan kasus Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat yang dirawat di RSUD Soedarso. Bahkan cenderung pasien-pasien tersebut bisa menjadi fatal atau menyebabkan kematian.

Kasus kasus berat dan bahkan fatal adalah kasus yang terjadi pada pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) seperti penyakit diabetes atau kencing manis, penyakit jantung, ginjal, hipertensi yang tidak terkontrol serta asma.

“Penyakit komorbid ini berisiko dan dapat menyebabkan kematian pada pasien yang tertular Covid-19. Bisa menjadi fatal dan dapat menyebabkan kematian,” tegasnya.

Ia mengatakan mungkin saja pada anak muda atau dewasa tanpa komorbid yang tertular Covid-19 tidak menunjukkan gejala (OTG) atau asimtomatik. Tetapi bila anak muda tersebut bertemu orang yang berusia tua, usia rentan, terlebih dengan orang yang memiliki komorbid maka apabila terjadi penularan, bisa berakibat fatal.

“Maka yang tertular ini akan menderita Covid-19 dengan kondisi penyakit yang berat sehingga butuh perawatan khusus di RS, butuh alat bantuan pernafasan,” tegasnya.

Baca Juga :  Jagung Ada, Stok Jualan Dibatasi Karena Covid-19.

Ia mengatakan bila masyarakat tidak kunjung sadar dan tidak terus berdisiplin, penularan akan terus berlangsung yang meyebabkan peningkatan kasus yang dirawat di RS.

“Percayalah nanti kalau masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan maka rumah sakit- rumah sakit kita akan penuh yang menyebabkan pelayanan perawatan terhadap pasien Covid-19 menjadi tidak optimal yang disebabkan oleh tidak seimbangnya antara pasien yang dirawat dengan jumlah dokter atau tenaga kesehatan yang merawat,” ujarnya.

Harisson menambahlan jika RS sudah penuh, maka akan ada pasien yang dirawat di koridor-koridor dan hal itu tentu tak diinginkan.

Kalbar Tambah 80 Kasus Positif

Harisson juga mengumumkan tambahan 80 kasus konfirmasi (positif) Covid-19 di provinsi ini, Sabtu (10/10). Sebanyak 12 orang di antaranya memiliki gejala dan harus dirawat di Rumah Sakit (RS). Dari 80 kasus baru tersebut, 36 orang merupakan warga Kota Pontianak, sembilan warga Sintang, 17 warga Kubu Raya, 10 warga Kayong Utara, dua warga Mempawah, empat warga Singkawang dan dua warga Bengkayang.

Selain tambahan kasus tersebut, ada juga sembilan orang yang telah dinyatakan sembuh. Lima orang di antaranya warga Pontianak, tiga warga Singkawang dan satu warga Kubu Raya. Dengan demikian, sampai 10 Oktober 2020, total kasus konfirmasi di Kalbar telah mencapai 1.216 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 917 orang atau 75,41 persen telah dinyatakan sembuh dan sembilan orang meninggal dunia.(bar)

Tiga Demonstran Positif Covid

*Gedung Isolasi Soedarso Penuh

PONTIANAK – Tiga demonstran RUU Cipta Kerja di Pontianak dinyatakan positif Covid-19. Mereka diamankan saat unjuk rasa di Gedung DPRD Kalimantan Barat, Kamis (8/10) lalu. Hal ini diungkapkan Gubernur Kalbar, Sutarmidji, Sabtu (10/10).

“Ditemukan kasus dari lima orang pendemo di Kantor DPRD Kalbar, Kamis (8/10) yang hasil tes cepat (rapid test) reaktif, ternyata tiga di antaranya terkonfirmasi Covid-19,” kata Sutarmidji.

Sebelumnya, polisi menangkap puluhan orang yang diduga menjadi biang kericuhan demo. Mereka langsung di-rapid test di rumah sakit Bhayangkara Pontianak. Hasilnya, lima orang reaktif rapid test. Lima orang tersebut kemudian dites swab dan akhirnya diketahui tiga orang positif.

Sutarmidji menyebutkan, sampai saat ini seluruh pasien positif Covid-19 yang dirawat se-Kalbar ada sebanyak 122 orang. Jumlah pasien Covid-19 terbanyak ada di RSUD Soedarso.

“Semoga semua sembuh. Untuk pasien dan OTG, ayo semangat, insyallah semua bisa sembuh. Bersihkan pikiran, bertekad sembuh dan beribadah serta berdoa dengan khusyuk. Mohon kesembuhan pada Allah SWT. Ayo berjemur agar mendapatkan asupan vitamin D untuk lawan virus,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson mengungkapkan, terhadap tiga pendemo tersebut, langsung dilakukan isolasi mandiri dan dipantau oleh Dinas Kesehatan Pontianak.

Harisson juga mengungkapkan, saat ini terus terjadi peningkatan pasien konfirmasi (positif) Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit (RS). Bahkan di gedung isolasi terpadu RSUD Soedarso, Pontianak seluruh lantai mulai dari lantai satu sampai tiga sudah terisi penuh.

Seperti diketahui gedung isolasi tiga lantai itu memiliki kapasitas 108 tempat tidur. Selain itu ruangan isolasi yang memiliki fasilitas peralatan non invasive ventilator dan alat ventilator juga hampir penuh.

Baca Juga :  Tim Tanggap Corona Dibentuk

“Saat ini RSUD Soedarso sedang menyiapkan beberapa ruangan tambahan dan alat ventilator tambahan untuk merawat pasien Covid-19,” ujarnya, Sabtu (10/10).

Ia menegaskan bahwa sekarang ini terjadi kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 yang dirawat di RS. Kasus-kasus ini umumnya pasien dengan gejala sedang sampai berat di mana pasien memerlukan alat bantu pernafasan (non invasive ventilator maupun ventilator).

“Soedarso sudah menambah lima ventilator untuk merawat pasien Covid-19. Sedangkan untuk menjaga ketersediaan ruangan isolasi Covid-19 RSUD Soedarso akan menambah kapasitas ruangan untuk pasien yang dirawat dengan kasus Covid-19,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk segera sadar dan terus waspada bahwa saat ini telah terjadi peningkatan kasus Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat yang dirawat di RSUD Soedarso. Bahkan cenderung pasien-pasien tersebut bisa menjadi fatal atau menyebabkan kematian.

Kasus kasus berat dan bahkan fatal adalah kasus yang terjadi pada pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) seperti penyakit diabetes atau kencing manis, penyakit jantung, ginjal, hipertensi yang tidak terkontrol serta asma.

“Penyakit komorbid ini berisiko dan dapat menyebabkan kematian pada pasien yang tertular Covid-19. Bisa menjadi fatal dan dapat menyebabkan kematian,” tegasnya.

Ia mengatakan mungkin saja pada anak muda atau dewasa tanpa komorbid yang tertular Covid-19 tidak menunjukkan gejala (OTG) atau asimtomatik. Tetapi bila anak muda tersebut bertemu orang yang berusia tua, usia rentan, terlebih dengan orang yang memiliki komorbid maka apabila terjadi penularan, bisa berakibat fatal.

“Maka yang tertular ini akan menderita Covid-19 dengan kondisi penyakit yang berat sehingga butuh perawatan khusus di RS, butuh alat bantuan pernafasan,” tegasnya.

Ia mengatakan bila masyarakat tidak kunjung sadar dan tidak terus berdisiplin, penularan akan terus berlangsung yang meyebabkan peningkatan kasus yang dirawat di RS.

“Percayalah nanti kalau masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan maka rumah sakit- rumah sakit kita akan penuh yang menyebabkan pelayanan perawatan terhadap pasien Covid-19 menjadi tidak optimal yang disebabkan oleh tidak seimbangnya antara pasien yang dirawat dengan jumlah dokter atau tenaga kesehatan yang merawat,” ujarnya.

Harisson menambahlan jika RS sudah penuh, maka akan ada pasien yang dirawat di koridor-koridor dan hal itu tentu tak diinginkan.

Kalbar Tambah 80 Kasus Positif

Harisson juga mengumumkan tambahan 80 kasus konfirmasi (positif) Covid-19 di provinsi ini, Sabtu (10/10). Sebanyak 12 orang di antaranya memiliki gejala dan harus dirawat di Rumah Sakit (RS). Dari 80 kasus baru tersebut, 36 orang merupakan warga Kota Pontianak, sembilan warga Sintang, 17 warga Kubu Raya, 10 warga Kayong Utara, dua warga Mempawah, empat warga Singkawang dan dua warga Bengkayang.

Selain tambahan kasus tersebut, ada juga sembilan orang yang telah dinyatakan sembuh. Lima orang di antaranya warga Pontianak, tiga warga Singkawang dan satu warga Kubu Raya. Dengan demikian, sampai 10 Oktober 2020, total kasus konfirmasi di Kalbar telah mencapai 1.216 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 917 orang atau 75,41 persen telah dinyatakan sembuh dan sembilan orang meninggal dunia.(bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/