alexametrics
32 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Merasa Difitnah, Bruder Steph Siapkan Upacara Hukum Adat ‘Capa Molot’

PONTIANAK – Tak terima dituding sebagai penyebab kekisruhan antara VN dengan Provinsialat Kapusin Pontianak terkait skandal hubungan gelap antara Pastor EG dan seorang jemaat, Penanggungjawab Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Bruder Stephanus Paiman OFM Cap akan melakukan proses upacara hukum adat Capa Molot kepada orang yang menyebarkan fitnah tersebut.

Ditemui di markas FRKP, Bruder Stephanus Paiman mengatakan, perkara Pastor EG dan Provinsial Kapusin Pontianak dengan VN yang kejadiannya di tahun 2019 itu sejatinya sudah dianggap selesai, yang berbuntut pemecatan EG sebagai pastor atau imam Kapusin.

Namun kasus itu kembali mencuat setelah tersiar kabar bahwa Provinsialat Kapusin Pontianak mengangkat kembali EG, sebagai pastor. Sehingga, VN dan keluarganya pun tak terima yang lantas mendatangi markas FRKP dan Provinsialat Kapusin Pontianak, Minggu, 9 Januari 2022.

Baca Juga :  Tiga RS Ditunjuk untuk Tangani Penderita Pneumonio dari Tiongkok

Pemberitaan itu pun viral di media massa maupun media sosial. Sehingga dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan kabar bohong di jejaring sosial, seperti WhatsApp Group.

“Atas pemberitaan itu, saya justru dianggap sebagai penyebab kemarahan VN ke Provinsialat Kapusin. Padahal saya di sini berperan sebagai mediator,” kata Steph.

Atas peristiwa itu, ia kemudian pun melacak sumber pembuat kabar bohong itu. Ternyata pelaku adalah RB, mantan Frater Kapusin. Bruder Stephanus mengaku sudah menghubungi orang tersebut dan mengklarifikasi. Di mana, kata Bruder Stephanus, yang bersangkutan telah mengakui perbuatannya dan sudah meminta maaf.

“Saya sudah memaafkan, tapi proses hukum harus tetap berlanjut. Saya akan minta pengurus adat untuk melakukan hukum adat Capa Molot, dilanjutkan dengan laporan polisi dengan pasal pencemaran nama baik serta perbuatan tak menyenangkan ditambah penyebaran berita hoaks sesuai dengan Undang-undang ITE, karena sudah merusak nama baik saya,” katanya.

Baca Juga :  Serahkan SK Wilayah Masyarakat Hukum Adat

Menurut Steph, apa yang dilakukannya itu sebagai pelajaran bagi semua pihak untuk bijak dalam menggunakan media sosial. Terlebih lagi menurut Steph, yang bersangkutan merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang seharusnya memberikan contoh.

“Saya juga berharap agar ini menjadi catatan bagi pimpinan institusi terkait terhadap bawahannya dalam pergaulan di masyarakat. Sekarang saya sudah mempersiapkan buah tangah kepada pengurus adat, sebagai pembuka jalan laporan saya,” kata dia.

“Semoga fakta ini juga dapat memberi pembelajaran kepada masyarakat, bahwa jangan cepat percaya akan berita via medsos, lebih baik dikroscek terlebih dulu, sehingga tidak menyudutkan orang lain dan mendatangkan fitnah,” tutupnya. (arf)

PONTIANAK – Tak terima dituding sebagai penyebab kekisruhan antara VN dengan Provinsialat Kapusin Pontianak terkait skandal hubungan gelap antara Pastor EG dan seorang jemaat, Penanggungjawab Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Bruder Stephanus Paiman OFM Cap akan melakukan proses upacara hukum adat Capa Molot kepada orang yang menyebarkan fitnah tersebut.

Ditemui di markas FRKP, Bruder Stephanus Paiman mengatakan, perkara Pastor EG dan Provinsial Kapusin Pontianak dengan VN yang kejadiannya di tahun 2019 itu sejatinya sudah dianggap selesai, yang berbuntut pemecatan EG sebagai pastor atau imam Kapusin.

Namun kasus itu kembali mencuat setelah tersiar kabar bahwa Provinsialat Kapusin Pontianak mengangkat kembali EG, sebagai pastor. Sehingga, VN dan keluarganya pun tak terima yang lantas mendatangi markas FRKP dan Provinsialat Kapusin Pontianak, Minggu, 9 Januari 2022.

Baca Juga :  AHY Resmikan Kantor Demokrat Kalbar

Pemberitaan itu pun viral di media massa maupun media sosial. Sehingga dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan kabar bohong di jejaring sosial, seperti WhatsApp Group.

“Atas pemberitaan itu, saya justru dianggap sebagai penyebab kemarahan VN ke Provinsialat Kapusin. Padahal saya di sini berperan sebagai mediator,” kata Steph.

Atas peristiwa itu, ia kemudian pun melacak sumber pembuat kabar bohong itu. Ternyata pelaku adalah RB, mantan Frater Kapusin. Bruder Stephanus mengaku sudah menghubungi orang tersebut dan mengklarifikasi. Di mana, kata Bruder Stephanus, yang bersangkutan telah mengakui perbuatannya dan sudah meminta maaf.

“Saya sudah memaafkan, tapi proses hukum harus tetap berlanjut. Saya akan minta pengurus adat untuk melakukan hukum adat Capa Molot, dilanjutkan dengan laporan polisi dengan pasal pencemaran nama baik serta perbuatan tak menyenangkan ditambah penyebaran berita hoaks sesuai dengan Undang-undang ITE, karena sudah merusak nama baik saya,” katanya.

Baca Juga :  Kalbar Dapat 400 Ribu Dosis Vaksin dalam Dua Hari Ini

Menurut Steph, apa yang dilakukannya itu sebagai pelajaran bagi semua pihak untuk bijak dalam menggunakan media sosial. Terlebih lagi menurut Steph, yang bersangkutan merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang seharusnya memberikan contoh.

“Saya juga berharap agar ini menjadi catatan bagi pimpinan institusi terkait terhadap bawahannya dalam pergaulan di masyarakat. Sekarang saya sudah mempersiapkan buah tangah kepada pengurus adat, sebagai pembuka jalan laporan saya,” kata dia.

“Semoga fakta ini juga dapat memberi pembelajaran kepada masyarakat, bahwa jangan cepat percaya akan berita via medsos, lebih baik dikroscek terlebih dulu, sehingga tidak menyudutkan orang lain dan mendatangkan fitnah,” tutupnya. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/