alexametrics
22.8 C
Pontianak
Wednesday, July 6, 2022

Masuk Kalbar Langsung ODP, Wajib Jalani Isolasi 28 Hari

PONTIANAK – Arus keluar masuk orang di wilayah Provinsi Kalimantan Barat akan diperketat. Mulai Senin (13/4), seluruh penumpang pesawat, kapal laut dan angkutan darat dari jurusan mana pun yang memasuki wilayah provinsi ini akan dijadikan Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19.

“Alamat semua (penumpang) akan dicatat dan saya minta masyarakat khususnya lurah dan ketua RT/RW mengawasi mereka,” ungkap Gubernur, Sutarmidji kepada Pontianak Post, Sabtu (11/4).

Menurutnya, kebijakan ini diambil melihat kasus-kasus reaktif rapid test yang umumnya terjadi pada orang-orang yang datang dari luar Kalbar dan pernah mengunjungi daerah terjangkit.

“Seperti dari Jakarta, Surabaya dan saat ini Pontianak masuk dalam zona merah dan sudah ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan yang ada. Keterjangkitan itu sudah antar penduduk kota sendiri (transmisi lokal),” paparnya.

Ia menyebutkan, beberapa orang yang baru pulang dari wilayah terjangkit seperti Jakarta dan Surabaya, ketika diperiksa dengan rapid test hasilnya reaktif. Termasuk keluarga terdekat seperti anak dan istri yang bersangkutan. “Padahal (anggota keluarga) tidak pernah ke mana-mana. Nah, ini menunjukkan bahwa orang bisa menjangkiti keluarganya, yang rentan itu keluarga,” ucapnya.

Maka dari itu, ia mengingatkan kepada kepala keluarga yang masih beraktivitas di luar rumah untuk berhati-hati. Ketika pulang ke rumah, gantilah pakaian, mandi, cuci tangan, memakai masker serta tetap menjaga jarak saat berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain.

“Saya minta ini diperhatikan kalau kita mau Kalbar ini tidak begitu banyak kasus dan bisa menyelamatkan mereka yang terpapar. Ayo kita tetap berada di rumah. Jentikan dulu aktivitas kita sementara ini, demi keselamatan diri, keluarga, tetangga dan masyarakat tempat kita berdiam khususnya Kalbar,” pungkasnya.

Baca Juga :  Kontribusi BUMD Belum Maksimal, Perdalam Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah

Dalam akun media sosial Bang Midji, gubernur juga mem-posting soal ini. Ia menjelaskan, bagi semua orang yang masuk ke Kalbar otomatis akan menjadi ODP. Mereka akan diberikan dua pilihan, yakni isolasi mandiri atau isolasi di tempat yang sudah disiapkan.

“Alamat akan kita catat sesuai eKTP dan kita minta RT, RW, kadusun, kades, lurah, camat untuk ikut ngawasi dia selama isolasi,” katanya. Namun ditegaskan bahwa pengetatan pintu masuk ini bukan berarti pelarangan warga Kalbar untuk ke luar daerah.

“Warga Kalbar yang mau ke luar Kalbar tak dilarang, tapi pulang diisolasi di tempat yang ditetapkan pemerintah selama 28 hari. Mulai Senin 13 April 2020,” ujarnya.

Supadio Batasi Operasional

Dalam upaya mendukung optimalisasi layanan dan turut mencegahan penyebaran Covid-19, PT Angkasa Pura II (Persero) melakukan penyesuaian jam operasional bandara. Ada 12 bandara yang melakukan penyesuaian tersebut, yakni Kertajati (Majalengka), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkalpinang), Fatmawati Soekarno (Bengkulu), Sultan Iskandar Muda (Aceh), Tjilik Riwut (Palangkaraya) dan Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Radin Inten II (Lampung), Supadio (Pontianak), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru) dan Banyuwangi,

Baca Juga :  Tenaga Medis Rentan Tertular

President Director PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin mengatakan di tengah pandemi Covid-19, bandara-bandara tersebut beroperasi dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan normal.

Kebijakan ini telah mendapat persetujuan dari regulator dengan diterbitkannya Notice to Airmen terkait jam operasional bagi masing-masing bandara.

Muhammad Awaluddin menambahkan, meski jam operasional dipersingkat namun bandara-bandara itu akan tetap siaga untuk mengantisipasi sejumlah penerbangan dalam kondisi khusus.

“PT Angkasa Pura II tetap siaga jika sewaktu-waktu ada pesawat yang mengalami kendala teknis dan operasional dan membutuhkan bandara untuk mendarat. Kami juga siaga jika ada penerbangan terkait medis dan penerbangan logistik khususnya yang mengangkut sampel infection substance Covid-19,” jelasnya.

Selain itu, bandara juga tetap dibuka jika ada pesawat yang terpaksa mendarat di luar jam operasional bandara karena misalnya ada keterlambatan keberangkatan di dan lain sebagainya.

General Manager Bandara Supadio, Eri Braliantoro menambahkan dipersingkatnya jam operasional dapat menjaga aspek kesehatan traveler dan personel bandara.

“Pada masa penuh tantangan akibat mewabahnya Covid-19 ini yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan traveler serta personel bandara. Kami sudah melakukan penyesuaian pola operasional dan penyesuian jam operasional sehingga memungkinkan diterapkannya konsep work from home dan physical distancing bagi personel operasional di bandara,” jelasnya.

Berikut jam operasional terbaru Bandara Supadio (Pontianak): jam operasional menjadi 06.00-18.30 WIB pada 10 April – 29 Mei 2020, dari sebelumnya 06.00-24.00 WIB.(bar/ash)

PONTIANAK – Arus keluar masuk orang di wilayah Provinsi Kalimantan Barat akan diperketat. Mulai Senin (13/4), seluruh penumpang pesawat, kapal laut dan angkutan darat dari jurusan mana pun yang memasuki wilayah provinsi ini akan dijadikan Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19.

“Alamat semua (penumpang) akan dicatat dan saya minta masyarakat khususnya lurah dan ketua RT/RW mengawasi mereka,” ungkap Gubernur, Sutarmidji kepada Pontianak Post, Sabtu (11/4).

Menurutnya, kebijakan ini diambil melihat kasus-kasus reaktif rapid test yang umumnya terjadi pada orang-orang yang datang dari luar Kalbar dan pernah mengunjungi daerah terjangkit.

“Seperti dari Jakarta, Surabaya dan saat ini Pontianak masuk dalam zona merah dan sudah ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan yang ada. Keterjangkitan itu sudah antar penduduk kota sendiri (transmisi lokal),” paparnya.

Ia menyebutkan, beberapa orang yang baru pulang dari wilayah terjangkit seperti Jakarta dan Surabaya, ketika diperiksa dengan rapid test hasilnya reaktif. Termasuk keluarga terdekat seperti anak dan istri yang bersangkutan. “Padahal (anggota keluarga) tidak pernah ke mana-mana. Nah, ini menunjukkan bahwa orang bisa menjangkiti keluarganya, yang rentan itu keluarga,” ucapnya.

Maka dari itu, ia mengingatkan kepada kepala keluarga yang masih beraktivitas di luar rumah untuk berhati-hati. Ketika pulang ke rumah, gantilah pakaian, mandi, cuci tangan, memakai masker serta tetap menjaga jarak saat berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain.

“Saya minta ini diperhatikan kalau kita mau Kalbar ini tidak begitu banyak kasus dan bisa menyelamatkan mereka yang terpapar. Ayo kita tetap berada di rumah. Jentikan dulu aktivitas kita sementara ini, demi keselamatan diri, keluarga, tetangga dan masyarakat tempat kita berdiam khususnya Kalbar,” pungkasnya.

Baca Juga :  Obat Tiongkok Manjur, 70 Persen Pasien Covid-19 di Malaysia Sembuh

Dalam akun media sosial Bang Midji, gubernur juga mem-posting soal ini. Ia menjelaskan, bagi semua orang yang masuk ke Kalbar otomatis akan menjadi ODP. Mereka akan diberikan dua pilihan, yakni isolasi mandiri atau isolasi di tempat yang sudah disiapkan.

“Alamat akan kita catat sesuai eKTP dan kita minta RT, RW, kadusun, kades, lurah, camat untuk ikut ngawasi dia selama isolasi,” katanya. Namun ditegaskan bahwa pengetatan pintu masuk ini bukan berarti pelarangan warga Kalbar untuk ke luar daerah.

“Warga Kalbar yang mau ke luar Kalbar tak dilarang, tapi pulang diisolasi di tempat yang ditetapkan pemerintah selama 28 hari. Mulai Senin 13 April 2020,” ujarnya.

Supadio Batasi Operasional

Dalam upaya mendukung optimalisasi layanan dan turut mencegahan penyebaran Covid-19, PT Angkasa Pura II (Persero) melakukan penyesuaian jam operasional bandara. Ada 12 bandara yang melakukan penyesuaian tersebut, yakni Kertajati (Majalengka), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkalpinang), Fatmawati Soekarno (Bengkulu), Sultan Iskandar Muda (Aceh), Tjilik Riwut (Palangkaraya) dan Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Radin Inten II (Lampung), Supadio (Pontianak), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru) dan Banyuwangi,

Baca Juga :  Jamin Hak Pilih Pasien Positif Covid-19

President Director PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin mengatakan di tengah pandemi Covid-19, bandara-bandara tersebut beroperasi dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan normal.

Kebijakan ini telah mendapat persetujuan dari regulator dengan diterbitkannya Notice to Airmen terkait jam operasional bagi masing-masing bandara.

Muhammad Awaluddin menambahkan, meski jam operasional dipersingkat namun bandara-bandara itu akan tetap siaga untuk mengantisipasi sejumlah penerbangan dalam kondisi khusus.

“PT Angkasa Pura II tetap siaga jika sewaktu-waktu ada pesawat yang mengalami kendala teknis dan operasional dan membutuhkan bandara untuk mendarat. Kami juga siaga jika ada penerbangan terkait medis dan penerbangan logistik khususnya yang mengangkut sampel infection substance Covid-19,” jelasnya.

Selain itu, bandara juga tetap dibuka jika ada pesawat yang terpaksa mendarat di luar jam operasional bandara karena misalnya ada keterlambatan keberangkatan di dan lain sebagainya.

General Manager Bandara Supadio, Eri Braliantoro menambahkan dipersingkatnya jam operasional dapat menjaga aspek kesehatan traveler dan personel bandara.

“Pada masa penuh tantangan akibat mewabahnya Covid-19 ini yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan traveler serta personel bandara. Kami sudah melakukan penyesuaian pola operasional dan penyesuian jam operasional sehingga memungkinkan diterapkannya konsep work from home dan physical distancing bagi personel operasional di bandara,” jelasnya.

Berikut jam operasional terbaru Bandara Supadio (Pontianak): jam operasional menjadi 06.00-18.30 WIB pada 10 April – 29 Mei 2020, dari sebelumnya 06.00-24.00 WIB.(bar/ash)

Most Read

Artikel Terbaru

/