alexametrics
25 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Dua Puluh Tahun Menderita, Kini Hanya Bisa Terbaring

Safariah (43), warga Gang Asoka, RT 04/RW 03, Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya. Ibu empat anak ini tampak menahan sakit dengan benjolan sebesar bola basket di dada kanannya. 

WAHYU ISMIR, Sungai Pinyuh

Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut ini mengaku sudah 20 tahun menderita penyakit pembengkakan kelenjar.

Pontianak Post berkesempatan menyambangi kediamannya akhir pekan lalu. Walau menahan sakit, Safariah tetap berusaha tegar. Dengan nafas berat, dia menyapa dan berbincang dengan Pontianak Post.

“Sejak menderita penyakit ini, sudah tiga kali saya merasakan sakit. Ketika hamil anak ke-2, lalu setelah melahirkan anak ke-4, dan sebulan terakhir ini sakitnya sangat luar biasa hingga menyebabkan saya tak bisa bergerak,” kata Safariah.

Safariah mengaku tak ada gejala spesifik yang dirasakannya saat pertama kali menderita pembengkakan kelenjar itu. Bahkan, awalnya tidak ada benjolan yang muncul pada dada kanannya.

“Tidak ada gejala, tiba-tiba saja kalau sedang duduk terasa sakit di dada dan tangan kanan. Saat pertama-tama tidak ada benjolan atau apapun. Semuanya tampak normal-normal saja,” kenangnya.

Baca Juga :  Polres Mempawah Salurkan Bansos Covid-19

Hingga anak pertamanya lahir, Safariah mengaku belum tampak tanda-tanda pembengkakan kelenjar itu menyerang tubuhnya. Hanya saja, dia merasakan ada gejala sakit pada dada dan tangan.

“Nah, ketika anak kedua lahir barulah timbul rasa sakit dan kondisi fisik (dada kanan) mulai tumbuh benjolan. Bahkan, saat hamil anak kedua sempat membengkak besar dan saya kira hampir mati. Sebab, kalau banyak bergerak timbul rasa sakitnya,” tutur dia.

Namun, sambung dia, saat itu dirinya mengkonsumsi bermacam jenis obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit pada dada dan tangannya. Beruntung rasa sakit itu berangsur hilang. Bahkan pembengkakan pada dadanya mulai mengecil.

“Setelah sekian lama tidak mengkonsumsi obat, kembali muncul rasa sakit tetapi tidak terlalu lama hanya sekitar 2 mingguan. Dan kondisinya tidak sampai membuat badan saya lemah dan tidak bisa beraktivitas,” ujarnya.

Lalu, lanjut Safariah, hingga kelahiran anak ke-4 dirinya mengkonsumsi pil kb. Sejak itulah pembengkakan kelenjar di dada kanannya mulai membesar kembali. Sampai saat ini, anak ke-4 nya berusia 8 tahun sakit tersebut terus dirasakannya.

Baca Juga :  Angin Kencang Terjang Sejumlah Wilayah

“Biasanya ketika membengkak, yang dirasakan itu panas dan benjolan menjadi keras tapi tidak menimbulkan sakit. Sehingga saya tetap masih bisa beraktivitas,” katanya.

Namun, lanjut dia, sebulan belakangan ini kondisi fisiknya semakin memburuk. Pembengkakan kelenjar pada dada kanannya semakin membesar hingga menyerupai bola basket.

“Satu bulan belakangan ini benar-benar terasa sakit bahkan menyebabkan badan tidak bisa bergerak seperti lumpuh. Bejalan susah dan nafas pun berat. Aktivitas di tempat tidur saja. Kalau mau ke WC dibantu oleh orang lain,” ucapnya.

Dirinya mengaku sudah kerap kali berobat ke berbagai tempat. Baik itu pengobatan secara medis maupun alternatif. Namun, sejak itu pula belum ada perubahan yang signifikan terhadap kesembuhan penyakitnya.

“Saya sangat berharap bisa sembuh dari penyakit ini. Karena masih ada 4 anak yang harus dijaga dan dirawat. Anak paling tua umur 21 tahun dan paling kecil 8 tahun. Namun, saya terbentur biaya untuk berobat,” lirihnya mengakhiri.(*)

Safariah (43), warga Gang Asoka, RT 04/RW 03, Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya. Ibu empat anak ini tampak menahan sakit dengan benjolan sebesar bola basket di dada kanannya. 

WAHYU ISMIR, Sungai Pinyuh

Perempuan yang berprofesi sebagai tukang urut ini mengaku sudah 20 tahun menderita penyakit pembengkakan kelenjar.

Pontianak Post berkesempatan menyambangi kediamannya akhir pekan lalu. Walau menahan sakit, Safariah tetap berusaha tegar. Dengan nafas berat, dia menyapa dan berbincang dengan Pontianak Post.

“Sejak menderita penyakit ini, sudah tiga kali saya merasakan sakit. Ketika hamil anak ke-2, lalu setelah melahirkan anak ke-4, dan sebulan terakhir ini sakitnya sangat luar biasa hingga menyebabkan saya tak bisa bergerak,” kata Safariah.

Safariah mengaku tak ada gejala spesifik yang dirasakannya saat pertama kali menderita pembengkakan kelenjar itu. Bahkan, awalnya tidak ada benjolan yang muncul pada dada kanannya.

“Tidak ada gejala, tiba-tiba saja kalau sedang duduk terasa sakit di dada dan tangan kanan. Saat pertama-tama tidak ada benjolan atau apapun. Semuanya tampak normal-normal saja,” kenangnya.

Baca Juga :  Terima SAKIP Award Predikat B

Hingga anak pertamanya lahir, Safariah mengaku belum tampak tanda-tanda pembengkakan kelenjar itu menyerang tubuhnya. Hanya saja, dia merasakan ada gejala sakit pada dada dan tangan.

“Nah, ketika anak kedua lahir barulah timbul rasa sakit dan kondisi fisik (dada kanan) mulai tumbuh benjolan. Bahkan, saat hamil anak kedua sempat membengkak besar dan saya kira hampir mati. Sebab, kalau banyak bergerak timbul rasa sakitnya,” tutur dia.

Namun, sambung dia, saat itu dirinya mengkonsumsi bermacam jenis obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit pada dada dan tangannya. Beruntung rasa sakit itu berangsur hilang. Bahkan pembengkakan pada dadanya mulai mengecil.

“Setelah sekian lama tidak mengkonsumsi obat, kembali muncul rasa sakit tetapi tidak terlalu lama hanya sekitar 2 mingguan. Dan kondisinya tidak sampai membuat badan saya lemah dan tidak bisa beraktivitas,” ujarnya.

Lalu, lanjut Safariah, hingga kelahiran anak ke-4 dirinya mengkonsumsi pil kb. Sejak itulah pembengkakan kelenjar di dada kanannya mulai membesar kembali. Sampai saat ini, anak ke-4 nya berusia 8 tahun sakit tersebut terus dirasakannya.

Baca Juga :  FIF Mempawah Salurkan 250 Paket Sembako

“Biasanya ketika membengkak, yang dirasakan itu panas dan benjolan menjadi keras tapi tidak menimbulkan sakit. Sehingga saya tetap masih bisa beraktivitas,” katanya.

Namun, lanjut dia, sebulan belakangan ini kondisi fisiknya semakin memburuk. Pembengkakan kelenjar pada dada kanannya semakin membesar hingga menyerupai bola basket.

“Satu bulan belakangan ini benar-benar terasa sakit bahkan menyebabkan badan tidak bisa bergerak seperti lumpuh. Bejalan susah dan nafas pun berat. Aktivitas di tempat tidur saja. Kalau mau ke WC dibantu oleh orang lain,” ucapnya.

Dirinya mengaku sudah kerap kali berobat ke berbagai tempat. Baik itu pengobatan secara medis maupun alternatif. Namun, sejak itu pula belum ada perubahan yang signifikan terhadap kesembuhan penyakitnya.

“Saya sangat berharap bisa sembuh dari penyakit ini. Karena masih ada 4 anak yang harus dijaga dan dirawat. Anak paling tua umur 21 tahun dan paling kecil 8 tahun. Namun, saya terbentur biaya untuk berobat,” lirihnya mengakhiri.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/