alexametrics
22.8 C
Pontianak
Saturday, August 13, 2022

Kelurga Korban Menanti Kepastian

PONTIANAK – Hingga hari ke empat pasca jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ-182 dengan rute Jakarta-Pontianak, keluarga korban jatuhnya masih menanti kepastian. Pihak keluarga ingin mengetahui perkembangan proses pencarian korban. Salah satunya seperti yang disampaikan pihak keluarga korban rombongan Mulyadi.

“Kalaupun waktunya dibatasi, tetapi kita berharap ada yang kita bawa pulang untuk diperlakukan sebagaimana mestinya orang meninggal. Harapannya itu,” harap Winarno, keluarga dari Mulyadi.

Permohonan dan harapan ini disampaikan Winarno kepada petugas di Posko Crisis Center Supadio, menyusul informasi yang diterimanya perihal batasan waktu operasi percairan dari tim SAR gabungan.

Mulyadi merupakan mantan Ketum PB HMI yang menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat Jakarta-Pontianak itu. Dalam kecelakaan pada Sabtu (9/1/2021) siang ini, istri Mulyadi yang sedang mengandung anak pertama mereka, turut menjadi korban. Termasuk juga mertua Mulyadi dan adik angkatnya.

Ada sembilan keluarga inti dari empat korban ini yang dibawa ke Jakarta untuk membantu petugas dalam proses identifikasi setiap temuan.

Sembilan orang ini di antaranya, kakak adik Mulyadi yakni Budi dan Slamet Bowo Santoso. Serta keluarga dari istri Mulyadi. “Sudah (dapat kabar perkembangan). Kita koordinasi terus setiap saat,” jelas Winarno.

Sementara itu, ibu dan ayah Mulyadi tadi siang didampingi Winarno mendatangi posko. Mereka mempertanyakan perkembangan di lapangan. “Bapak mau pulang ke Sintang. Kasihan di sini (Pontianak) lama-lama. Tadi juga kami tanya di posko,” tuturnya.

Diketahui, sejak mendapat kabar jatuhnya pesawat ini, Ponijan ayah Mulyadi beserta istri dan anaknya langsung ke Pontianak. Mereka harus menempuh waktu perjalanan darat selama 8 jam dari kampung halamannya di Kabupaten Sintang.

Ia dan keluarga di Sintang mengaku terkejut. Karena mereka tidak menyangka Mulyadi merubah jadwal keberangkatan. “Dia bilang di atas tanggal 15 (Januari) baru mau berangkat ke Jakarta. Makanya kami agak terkejut, kok sebelum tanggal 15 sudah berangkat. Makanya begitu dapat informasi ini, kira agak kurang percaya,” jelas Slamet Bowo Santoso, adik bungsu Mulyadi.

Selama ini, Mulyadi tinggal di Jakarta. Sementara istrinya berasal dari Jeruju, Pontianak Barat. Mereka belum lama ini menikah. Karena itu, Mulyadi menjemput istrinya dan ibu mertua serta keponakannya untuk dibawa ke Jakarta. Lagi pula, ada keperluan bisnis yang akan dijalani. “Abang pun sempat bilang ke keluarga kalau istrinya sedang mengandung dua bulan,” terang Bowo.

Selain keluarga Mulyadi, keluarga korban lainnya juga mendatangi Posko Crisis Center. Di antaranya Pita dan Akuang.

Mereka datang ke Crisis Center untuk menanyakan kejelasan nasib abangnya yang juga penumpang bernama Sriwijaya Air SJ 182 tujuan Jakarta-Pontianak atas nama Supianto.

Baca Juga :  Penghargaan Pramuka Garuda untuk Haafizh

Menurutnya, abangnya tersebut ke Jakarta untuk menjemput istri dan anaknya. Mereka direncanakan pulang ke Pontianak pada Sabtu, 9 Januari 2021 dengan menumpang pesawat Sriwijaya tersebut. “Dia dijadwalkan pulang hari Sabtu, 9 Januari kamarin,” kata Pita.

Penyerahan Jenazah

Kasubdit Biddokes Polda Kalbar AKBP Yoseph Ginting mengatakan, terkait penyerahan jenazah korban dilakukan setelah proses operasi pencarian korban dinyatakan selesai. Itu pun, lanjut Ginting, melalui proses yang cukup panjang. Yakni harus melalui beberapa fase, di antaranya, mencocokkan DNA ante mortem maupun post mortem serta data-data lainnya.

Saat ini, tim DVI Polda Kalbar telah mengirim 21 sampel DNA keluarga inti korban dari 26 orang keluarga korban yang telah diwawancara. “Untuk sampel DNA sudah tiba di Jakarta di Pusat Laboratorium DNA Mabes Polri,” jelasnya.

Distrik Manajer Sriwijaya Air Group Pontianak Faisal Rahman mengatakan, pihaknya kembali akan menerbangkan 13 orang keluarga inti korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ke Jakarta.

“Beradasarkan data yang sudah masuk, hari ini ada delapan orang yang sudah holding tiket. Delapan orang ini mewakili dua keluarga. Dan ada penambahan enam orang lagi yang juga sudah mendaftar. Jadi totalnya ada 14 orang yang akan diberangkatkan besok,” katanya, Selasa (12/1).

Empat belas orang keluarga korban ini rencananya akan diberangkatkan dengan dua kloter. Kloter pertama sebanyak delapan orang menggunakan pesawat Sriwijaya SJ 185, sedangkan kloter kedua sebanyak enam orang dengan penerbangan Sriwijaya SJ 183. “Berarti totalnya ada 27 orang,” sambungnya.

Tiga belas orang keluarga korban tersebut, rencananya akan diberangkatkan pada Rabu (13/1) dengan jadwal keberangkatan pukul 07.15.

Sementara itu, kata Faisal, keluarga korban yang sudah berada di hotel di Jakarta sebanyak 55 orang dari 20 penumpang.  “Hari ini (kemarin) mereka direncanakan akan bertemu dengan pihak KNKT,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Faisal juga mengimbau kepada para keluarga korban agar tidak mempercayai informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya. Menurutnya, saat ini banyak beredar informasi yang berkaitan dengan proses pencarian korban, proses identifikasi, maupun pelayanan.

“Kami sangat memahami beban yang bapak ibu rasakan. Namun, melihat kondisi seperti ini, mungkin akan banyak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Untuk itu harus dikonfirmasi kebenarannya. Dan kami siap dan terbuka untuk memberikan informasi,” jelasnya.

Menurut Faisal, saat ini proses pencarian korban sudah menunjukan progres yang cukup bagus. Dia berharap tidak memakan waktu yang cukup lama. Tapi sekali lagi, kata dia, belum ada kepastian waktu sampai kapan.

Baca Juga :  Lokasi Kotak Hitam Ditemukan

Hal senada juga diungkapkan Kepala Basarnas Pontianak Yopi Haryadi. Menurut dia, menginjak hari ke empat,  operasi pencarian dan penyelamatan korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 menunjukan progres yang signifikan.

Menurutnya, hingga pagi ini, setidaknya ada 78 kantong yang sudah berhasil ditemukan dan langsung diserahterimakan kepada pihak DVI. “Progres dari pelaksanaan operasi sudah banyak ditemukan beberapa body part dan property milik korban dan nanti akan dikumpulkan, baru akan dirilis jumlahnya secara pasti,” bebernya.

Dikatakan Yopi, berdasarkan informasi kotak hitam (Black Box) sudah ditemukan. Namun, kaya Yopi, bukan berarti pencarian korban dihentikan. “Memang Black Box sudah ditemukan. Tapi bukan berarti pencarian korban dihentikan,” kata dia.

Penemuan kotak hitam untuk membantu mencari kejelasan penyebab jatuhnya pesawat tersebut. “Fokus Basarnas tetap pada operasi kemanusiaan. Pencarian Korban,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Jasa Raharja Kalimantan Barat Regy S Wijaya mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih pengumpulan data keahliwarisan untuk segera dilakukan penyelesaian santunan dari pemerintah kepada ahliwaris korban pesawat SJ 182.

Dikatakan Regy, selain mendirikan posko di Crisis Center Sriwijaya SJ182 di Bandara Supadio Pontianak, Jasa Raharja juga mendirikan enam posko lainnya. Di antaranya  di Crisis Center SJ 182 terminal kedatangan 2D Soekarno-Hatta, Rumah Sakit Polri Said Sukanto, JICT Tanjung Priok, hotel Mercure Gatot Subroto, Hotel Ibis Cawang, dan kantor pusat Sriwijaya Air di Karawang, Banten.

Menurut Regy, data yang berhasil dihimpun hingga tanggal 12 Januari 2021, ada 62 keluarga korban, baik itu awak maupun penumpang.  Dari 62 kelurga korban, pihaknya telah mendeteksi 55 ahli waris, lima korban tanpa ahli waris dan  dua orang yang masih dalam tahap verifikasi, karena terjadi perbedaan identitas penumpang yang naik.

Sementara untuk di Kalimantan Barat, kata Regy, ada 20 orang ahli waris. Menurut Regy, sebelumnya terdata ada 24 orang. Namun, setelah dilakukan proses identifikasi, terjadi penyusutan menjadi 20 orang.

Dikatakan Regy, 20 orang ahli waris korban ini tersebar di beberapa daerah. Di antaranya, Kota Pontianak sebanyak 11 orang, Ketapang terdapat 2 orang, Ngabang ada 1 orang, Sambas ada 1 orang, Sintang ada 1 orang, Kubu Raya ada 2 orang, dan Mempawah ada 2 orang.

“Untuk di Kalbar, penyerahan santunan diserahkan oleh Jasa Raharja cabang Kalimantan Barat,” kata Regy. (arf)

PONTIANAK – Hingga hari ke empat pasca jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ-182 dengan rute Jakarta-Pontianak, keluarga korban jatuhnya masih menanti kepastian. Pihak keluarga ingin mengetahui perkembangan proses pencarian korban. Salah satunya seperti yang disampaikan pihak keluarga korban rombongan Mulyadi.

“Kalaupun waktunya dibatasi, tetapi kita berharap ada yang kita bawa pulang untuk diperlakukan sebagaimana mestinya orang meninggal. Harapannya itu,” harap Winarno, keluarga dari Mulyadi.

Permohonan dan harapan ini disampaikan Winarno kepada petugas di Posko Crisis Center Supadio, menyusul informasi yang diterimanya perihal batasan waktu operasi percairan dari tim SAR gabungan.

Mulyadi merupakan mantan Ketum PB HMI yang menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat Jakarta-Pontianak itu. Dalam kecelakaan pada Sabtu (9/1/2021) siang ini, istri Mulyadi yang sedang mengandung anak pertama mereka, turut menjadi korban. Termasuk juga mertua Mulyadi dan adik angkatnya.

Ada sembilan keluarga inti dari empat korban ini yang dibawa ke Jakarta untuk membantu petugas dalam proses identifikasi setiap temuan.

Sembilan orang ini di antaranya, kakak adik Mulyadi yakni Budi dan Slamet Bowo Santoso. Serta keluarga dari istri Mulyadi. “Sudah (dapat kabar perkembangan). Kita koordinasi terus setiap saat,” jelas Winarno.

Sementara itu, ibu dan ayah Mulyadi tadi siang didampingi Winarno mendatangi posko. Mereka mempertanyakan perkembangan di lapangan. “Bapak mau pulang ke Sintang. Kasihan di sini (Pontianak) lama-lama. Tadi juga kami tanya di posko,” tuturnya.

Diketahui, sejak mendapat kabar jatuhnya pesawat ini, Ponijan ayah Mulyadi beserta istri dan anaknya langsung ke Pontianak. Mereka harus menempuh waktu perjalanan darat selama 8 jam dari kampung halamannya di Kabupaten Sintang.

Ia dan keluarga di Sintang mengaku terkejut. Karena mereka tidak menyangka Mulyadi merubah jadwal keberangkatan. “Dia bilang di atas tanggal 15 (Januari) baru mau berangkat ke Jakarta. Makanya kami agak terkejut, kok sebelum tanggal 15 sudah berangkat. Makanya begitu dapat informasi ini, kira agak kurang percaya,” jelas Slamet Bowo Santoso, adik bungsu Mulyadi.

Selama ini, Mulyadi tinggal di Jakarta. Sementara istrinya berasal dari Jeruju, Pontianak Barat. Mereka belum lama ini menikah. Karena itu, Mulyadi menjemput istrinya dan ibu mertua serta keponakannya untuk dibawa ke Jakarta. Lagi pula, ada keperluan bisnis yang akan dijalani. “Abang pun sempat bilang ke keluarga kalau istrinya sedang mengandung dua bulan,” terang Bowo.

Selain keluarga Mulyadi, keluarga korban lainnya juga mendatangi Posko Crisis Center. Di antaranya Pita dan Akuang.

Mereka datang ke Crisis Center untuk menanyakan kejelasan nasib abangnya yang juga penumpang bernama Sriwijaya Air SJ 182 tujuan Jakarta-Pontianak atas nama Supianto.

Baca Juga :  Kenang Sosok Rizki yang Pintar dan Humble

Menurutnya, abangnya tersebut ke Jakarta untuk menjemput istri dan anaknya. Mereka direncanakan pulang ke Pontianak pada Sabtu, 9 Januari 2021 dengan menumpang pesawat Sriwijaya tersebut. “Dia dijadwalkan pulang hari Sabtu, 9 Januari kamarin,” kata Pita.

Penyerahan Jenazah

Kasubdit Biddokes Polda Kalbar AKBP Yoseph Ginting mengatakan, terkait penyerahan jenazah korban dilakukan setelah proses operasi pencarian korban dinyatakan selesai. Itu pun, lanjut Ginting, melalui proses yang cukup panjang. Yakni harus melalui beberapa fase, di antaranya, mencocokkan DNA ante mortem maupun post mortem serta data-data lainnya.

Saat ini, tim DVI Polda Kalbar telah mengirim 21 sampel DNA keluarga inti korban dari 26 orang keluarga korban yang telah diwawancara. “Untuk sampel DNA sudah tiba di Jakarta di Pusat Laboratorium DNA Mabes Polri,” jelasnya.

Distrik Manajer Sriwijaya Air Group Pontianak Faisal Rahman mengatakan, pihaknya kembali akan menerbangkan 13 orang keluarga inti korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ke Jakarta.

“Beradasarkan data yang sudah masuk, hari ini ada delapan orang yang sudah holding tiket. Delapan orang ini mewakili dua keluarga. Dan ada penambahan enam orang lagi yang juga sudah mendaftar. Jadi totalnya ada 14 orang yang akan diberangkatkan besok,” katanya, Selasa (12/1).

Empat belas orang keluarga korban ini rencananya akan diberangkatkan dengan dua kloter. Kloter pertama sebanyak delapan orang menggunakan pesawat Sriwijaya SJ 185, sedangkan kloter kedua sebanyak enam orang dengan penerbangan Sriwijaya SJ 183. “Berarti totalnya ada 27 orang,” sambungnya.

Tiga belas orang keluarga korban tersebut, rencananya akan diberangkatkan pada Rabu (13/1) dengan jadwal keberangkatan pukul 07.15.

Sementara itu, kata Faisal, keluarga korban yang sudah berada di hotel di Jakarta sebanyak 55 orang dari 20 penumpang.  “Hari ini (kemarin) mereka direncanakan akan bertemu dengan pihak KNKT,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Faisal juga mengimbau kepada para keluarga korban agar tidak mempercayai informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya. Menurutnya, saat ini banyak beredar informasi yang berkaitan dengan proses pencarian korban, proses identifikasi, maupun pelayanan.

“Kami sangat memahami beban yang bapak ibu rasakan. Namun, melihat kondisi seperti ini, mungkin akan banyak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Untuk itu harus dikonfirmasi kebenarannya. Dan kami siap dan terbuka untuk memberikan informasi,” jelasnya.

Menurut Faisal, saat ini proses pencarian korban sudah menunjukan progres yang cukup bagus. Dia berharap tidak memakan waktu yang cukup lama. Tapi sekali lagi, kata dia, belum ada kepastian waktu sampai kapan.

Baca Juga :  Kalimantan Krisis Pasokan Ayam

Hal senada juga diungkapkan Kepala Basarnas Pontianak Yopi Haryadi. Menurut dia, menginjak hari ke empat,  operasi pencarian dan penyelamatan korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 menunjukan progres yang signifikan.

Menurutnya, hingga pagi ini, setidaknya ada 78 kantong yang sudah berhasil ditemukan dan langsung diserahterimakan kepada pihak DVI. “Progres dari pelaksanaan operasi sudah banyak ditemukan beberapa body part dan property milik korban dan nanti akan dikumpulkan, baru akan dirilis jumlahnya secara pasti,” bebernya.

Dikatakan Yopi, berdasarkan informasi kotak hitam (Black Box) sudah ditemukan. Namun, kaya Yopi, bukan berarti pencarian korban dihentikan. “Memang Black Box sudah ditemukan. Tapi bukan berarti pencarian korban dihentikan,” kata dia.

Penemuan kotak hitam untuk membantu mencari kejelasan penyebab jatuhnya pesawat tersebut. “Fokus Basarnas tetap pada operasi kemanusiaan. Pencarian Korban,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Jasa Raharja Kalimantan Barat Regy S Wijaya mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih pengumpulan data keahliwarisan untuk segera dilakukan penyelesaian santunan dari pemerintah kepada ahliwaris korban pesawat SJ 182.

Dikatakan Regy, selain mendirikan posko di Crisis Center Sriwijaya SJ182 di Bandara Supadio Pontianak, Jasa Raharja juga mendirikan enam posko lainnya. Di antaranya  di Crisis Center SJ 182 terminal kedatangan 2D Soekarno-Hatta, Rumah Sakit Polri Said Sukanto, JICT Tanjung Priok, hotel Mercure Gatot Subroto, Hotel Ibis Cawang, dan kantor pusat Sriwijaya Air di Karawang, Banten.

Menurut Regy, data yang berhasil dihimpun hingga tanggal 12 Januari 2021, ada 62 keluarga korban, baik itu awak maupun penumpang.  Dari 62 kelurga korban, pihaknya telah mendeteksi 55 ahli waris, lima korban tanpa ahli waris dan  dua orang yang masih dalam tahap verifikasi, karena terjadi perbedaan identitas penumpang yang naik.

Sementara untuk di Kalimantan Barat, kata Regy, ada 20 orang ahli waris. Menurut Regy, sebelumnya terdata ada 24 orang. Namun, setelah dilakukan proses identifikasi, terjadi penyusutan menjadi 20 orang.

Dikatakan Regy, 20 orang ahli waris korban ini tersebar di beberapa daerah. Di antaranya, Kota Pontianak sebanyak 11 orang, Ketapang terdapat 2 orang, Ngabang ada 1 orang, Sambas ada 1 orang, Sintang ada 1 orang, Kubu Raya ada 2 orang, dan Mempawah ada 2 orang.

“Untuk di Kalbar, penyerahan santunan diserahkan oleh Jasa Raharja cabang Kalimantan Barat,” kata Regy. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/