alexametrics
26.7 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Kapal Vietnam Curi Cumi-cumi Indonesia, KKP Kejar Kapal Induk

PONTIANAK – Kapal Pengawas Perikanan Ditjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Keluatan dan Perikanan (Ditjen PSDKP-KKP) menangkap lima kapal asing berbendera Vietnam di ZEEI perairan Laut Natuna Utara, Jumat (9/4).

Kapal ikan asing dengan masing-masing nomor lambung KM. BD 93277 (28,6 GT), KM. BD 30925 TS (27 GT), KM. BD 30135 TS (23 GT), KM. BV 99689 TS (27 GT), dan KM. BV 78409 (27 GT) itu dan 28 anak buah kapal dibawa ke Stasiun PSDKP Pontianak.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Antam Novambar mengatakan, kelima kapal ikan asing tersebut ditangkap saat mencuri cumi di perairan Laut Natuna Utara. “Lima kapal ini khusus menangkap cumi-cumi,” ujarnya di Pontianak, Senin (12/4).

Dikatakan Antam, saat ini di laut Indonesia, khususnya Laut Natuna memang sedang musim cumi-cumi. Menurutnya, sudah banyak cumi dari laut Indonesia yang sudah dicuri oleh kapal-kapal ikan asing tersebut.

“Jika dilihat barang bukti yang diamankan, mereka sudah banyak menangkap cumi kita. Ada yang sebagian sudah dikeringkan. Karena yang kering jauh lebih mahal,” terangnya.

Selain itu, kapal asing tersebut juga sudah menyiapkan stok es untuk persediaan selama kurang lebih dua bulan. “Dilihat dari stok es, mereka akan beroperasi di laut kita sekira dua bulan. Jadi rencana mereka ini menangkap cumi kita di laut selama dua bulan. Setelah penuh semua, mereka pulang,” kata Antam.

Baca Juga :  BKIPM Pontianak Luncurkan Bulan Mutu Karantina

Meski berhasil menangkap lima kapal nelayan Vietnam ini, kata Antam, pihaknya memiliki pekerjaan rumah (PR) untuk menangkap kapal induk atau kapal besar yang menampung maupun menyuplai logistik ke kapal nelayan tersebut.

“Ini PR bagi kami, utang kami, janji kami. Karena mereka pasti ada kapal besar atau penampungnya. Kapal inilah yang menyediakan logistik, baik makanan maupun alat tangkapnya. Juga menampung hasil tangkapan,” ujarnya.

Antam mengaku khawatir, jika kapal logistik atau kapal induk nelayan Vietnam ini berada di negara mereka. Dengan demikian, KPP tidak bisa masuk untuk melakukan penangkapan.

Perlawanan dari Kapal Vietnam

Dalam proses penangkapan, kata Antam, sempat terjadi perlawanan dari kapal Vietnam kepada  kapal pengawas, dengan cara menambrak sehingga kapal pengawas mengalami sedikit kerusakan.

“Mereka berusaha melawan, dengan menbrak dan membentangkan jaring untuk merusak propeller kita. Dengan harapan tersangkut sehingga tidak dapat mengejar,” tuturnya.

Menurut Antam, hal itu biasa. Petugas di lapangan sering mendapat perlawanan dari nelayan asing. Apalagi, nelayan asing saat ini sudah menerapkan modus baru. Yakni menangkap hasil laut Indonesia dengan berpencar.

“Biasanya mereka ini menangkap hasil laut kita dengan berkumpul. Sekarang menyebar. Jadi, mereka berharap ketika kapal kita mengejar yang satu, satunya lari. Sekarang mereka berpecah-pecah,” katanya.

Baca Juga :  KPP Pratama Pontianak Barat Buka Pojok Pajak di Pasar Tengah

Hal ini, kata Antam, dapat menguras tenaga personel di lapangan dalam melakukan penangkapan. Karena harus mengejar dengan jarak jauh kapal-kapal lainnya. Meski demikian, upaya dan modus dari lawan tidak menyurutkan petugas untuk menjaga kedaulatan negara di laut.

Buktinya, tahun ini saja, Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap 72 kapal, 12 diantaranya merupakan kapal ikan asing.

Modus Baru

Terpisah, Direktur Pemantauan dan Operasi Armada, Pung Nugroho Saksono menyampaikan, alat tangkap yang digunakan kelima kapal tersebut berupa jaring cumi. Hal ini berbeda dengan yang biasa digunakan oleh kapal Vietnam sebelumnya, yakni trawl yang menarget ikan-ikan dasar (demersal). “Ini modus yang relatif baru, mereka mengincar komoditas cumi di perairan kita,” terang Ipunk.

Ipunk menegaskan, pengungkapan modus baru ini menunjukkan bahwa para pencuri ikan di laut Indonesia memang mengincar sumber daya ikan Indonesia. Oleh sebab itu, pihaknya akan semakin memperketat pengawasan di wilayah-wilayah perbatasan. “Kami perkuat pengawasan di Laut Natuna, Selat Malaka dan Utara Laut Sulawesi,” tegas Ipunk.

Penangkapan lima kapal ikan asing ilegal ini memperpanjang catatan penangkapan pelaku pencurian ikan di laut Indonesia. Pada tahun 2021, KKP telah melakukan proses hukum terhadap 72 kapal yang terdiri dari 7 kapal berbendera Vietnam, 5 kapal berbendera Malaysia, dan 60 kapal berbendera Indonesia. (arf)

PONTIANAK – Kapal Pengawas Perikanan Ditjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Keluatan dan Perikanan (Ditjen PSDKP-KKP) menangkap lima kapal asing berbendera Vietnam di ZEEI perairan Laut Natuna Utara, Jumat (9/4).

Kapal ikan asing dengan masing-masing nomor lambung KM. BD 93277 (28,6 GT), KM. BD 30925 TS (27 GT), KM. BD 30135 TS (23 GT), KM. BV 99689 TS (27 GT), dan KM. BV 78409 (27 GT) itu dan 28 anak buah kapal dibawa ke Stasiun PSDKP Pontianak.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Antam Novambar mengatakan, kelima kapal ikan asing tersebut ditangkap saat mencuri cumi di perairan Laut Natuna Utara. “Lima kapal ini khusus menangkap cumi-cumi,” ujarnya di Pontianak, Senin (12/4).

Dikatakan Antam, saat ini di laut Indonesia, khususnya Laut Natuna memang sedang musim cumi-cumi. Menurutnya, sudah banyak cumi dari laut Indonesia yang sudah dicuri oleh kapal-kapal ikan asing tersebut.

“Jika dilihat barang bukti yang diamankan, mereka sudah banyak menangkap cumi kita. Ada yang sebagian sudah dikeringkan. Karena yang kering jauh lebih mahal,” terangnya.

Selain itu, kapal asing tersebut juga sudah menyiapkan stok es untuk persediaan selama kurang lebih dua bulan. “Dilihat dari stok es, mereka akan beroperasi di laut kita sekira dua bulan. Jadi rencana mereka ini menangkap cumi kita di laut selama dua bulan. Setelah penuh semua, mereka pulang,” kata Antam.

Baca Juga :  Kisah Ubay, Driver Ojol Pahlawan Pasien Covid-19

Meski berhasil menangkap lima kapal nelayan Vietnam ini, kata Antam, pihaknya memiliki pekerjaan rumah (PR) untuk menangkap kapal induk atau kapal besar yang menampung maupun menyuplai logistik ke kapal nelayan tersebut.

“Ini PR bagi kami, utang kami, janji kami. Karena mereka pasti ada kapal besar atau penampungnya. Kapal inilah yang menyediakan logistik, baik makanan maupun alat tangkapnya. Juga menampung hasil tangkapan,” ujarnya.

Antam mengaku khawatir, jika kapal logistik atau kapal induk nelayan Vietnam ini berada di negara mereka. Dengan demikian, KPP tidak bisa masuk untuk melakukan penangkapan.

Perlawanan dari Kapal Vietnam

Dalam proses penangkapan, kata Antam, sempat terjadi perlawanan dari kapal Vietnam kepada  kapal pengawas, dengan cara menambrak sehingga kapal pengawas mengalami sedikit kerusakan.

“Mereka berusaha melawan, dengan menbrak dan membentangkan jaring untuk merusak propeller kita. Dengan harapan tersangkut sehingga tidak dapat mengejar,” tuturnya.

Menurut Antam, hal itu biasa. Petugas di lapangan sering mendapat perlawanan dari nelayan asing. Apalagi, nelayan asing saat ini sudah menerapkan modus baru. Yakni menangkap hasil laut Indonesia dengan berpencar.

“Biasanya mereka ini menangkap hasil laut kita dengan berkumpul. Sekarang menyebar. Jadi, mereka berharap ketika kapal kita mengejar yang satu, satunya lari. Sekarang mereka berpecah-pecah,” katanya.

Baca Juga :  Kapal Vietnam Tabrak Kapal Pengawas, Dua ABK Terpaksa Ditembak

Hal ini, kata Antam, dapat menguras tenaga personel di lapangan dalam melakukan penangkapan. Karena harus mengejar dengan jarak jauh kapal-kapal lainnya. Meski demikian, upaya dan modus dari lawan tidak menyurutkan petugas untuk menjaga kedaulatan negara di laut.

Buktinya, tahun ini saja, Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap 72 kapal, 12 diantaranya merupakan kapal ikan asing.

Modus Baru

Terpisah, Direktur Pemantauan dan Operasi Armada, Pung Nugroho Saksono menyampaikan, alat tangkap yang digunakan kelima kapal tersebut berupa jaring cumi. Hal ini berbeda dengan yang biasa digunakan oleh kapal Vietnam sebelumnya, yakni trawl yang menarget ikan-ikan dasar (demersal). “Ini modus yang relatif baru, mereka mengincar komoditas cumi di perairan kita,” terang Ipunk.

Ipunk menegaskan, pengungkapan modus baru ini menunjukkan bahwa para pencuri ikan di laut Indonesia memang mengincar sumber daya ikan Indonesia. Oleh sebab itu, pihaknya akan semakin memperketat pengawasan di wilayah-wilayah perbatasan. “Kami perkuat pengawasan di Laut Natuna, Selat Malaka dan Utara Laut Sulawesi,” tegas Ipunk.

Penangkapan lima kapal ikan asing ilegal ini memperpanjang catatan penangkapan pelaku pencurian ikan di laut Indonesia. Pada tahun 2021, KKP telah melakukan proses hukum terhadap 72 kapal yang terdiri dari 7 kapal berbendera Vietnam, 5 kapal berbendera Malaysia, dan 60 kapal berbendera Indonesia. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/