alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Utamakan Kualitas Bangunan, Proyek Soedarso Ditender Ulang

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengungkapkan penyebab lambannya pengerjaan proyek lanjutan pembangunan gedung baru di RSUD Soedarso, Pontianak. Tender untuk pengerjaan tahun anggaran 2020 sempat diulang dan dalam waktu dekat baru akan ditentukan pemenangnya.

“Bangun Rumah Sakit (Soedarso) tender bertele-tele karena pelaksana takut. Saya bilang jangan menangkan,” ungkapnya, Jumat (12/6).

Namun demikian, kata Midji, pelaksanaan tender yang diulang sudah berlangsung. Ia ingin pengerjaan gedung baru RSUD kebanggan masyarakat Kalbar itu cepat dilaksanakan. Apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan yang memadai cukup mendesak.

“Sudah (tander ulang), tinggal penentuan pemenang. Harus selesai (sesuai target), apalagi selama Covid ini sepertinya perlu mempersiapkan untuk memisahkan ruang pelayanan penyakit menular dan yang tidak menular, serta butuh lab yang aman dan standar,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kalbar itu lantas membeberkan penyebab tender yang harus diulang. Permasalahan utamanya soal harga penawaran lelang oleh perusahaan konstruksi yang jauh di bawah pagu. Misalnya ia mencontohkan, proyek pembangunan gedung RSUD Soedarso dengan pagu Rp99 miliar ditawar hanya menjadi Rp82 miliar. Atau ‘membuang’ sekitar 20 persen.

“Misalnya tender Rp99 miliar, ada yang nawar Rp82 miliar, roboh gedung itu. Jadi jangan asal menang saja. Sekarang kalau Rp82 miliar berarti buang 20 persen, pajak 10 persen, berarti tinggal 70 persen. Gedung RS hanya 70 persen bisa ambruk,” kesalnya.

Baca Juga :  Mulai 24 April, Begini Aturan Polisi Soal Warga Tak Bisa Keluar atau Masuk Jabodetabek

Karena tidak ingin hal itu terjadi ia meminta proyek ditender ulang. Midji tak mau main-main soal kualitas kontruksi bangunan. Karena itu perlu kehati-hatian. Dalam membangun gedung ia mengatakan risikonya cukup tinggi. Jika ada struktur yang rusak, walaupun hanya sedikit, otomatis harus dibongkar habis. “Jangan sampai seperti itu, makanya kami tidak mau. Saya bilang biar tender ulang cari (perusahaan) yang betul-betul,” tegasnya.

Midji memastikan tak punya kepentingan apapun. Jika ada pihak yang menuding dirinya bermain dalam menentukan pemenang proyek, ia pun tak mau ambil pusing.

“Yang penting saya tidak terima apapun, terserah orang mau ngomong apa, kalau saya begitu saja. Jangan pikir saya mau kolusi sama perusahaan, saya tidak ada urusan itu. Saya tidak mengerti, cari saja satu perusahaan nama saya, cari saja perusahaan yang berkaitan dengan keluarga saya,” ujarnya.

Midji mengaku sudah hafal betul para ‘pemain’ proyek, apa saja perusahaannya dan bagaimana cara kerjanya. Banyak kasus terjadi perusahaan yang menang tender justru ‘menjual’ lagi ke perusahaan lain untuk mengerjakannya.

Namun di tengah jalan ketika ada masalah seperti pengerjaan yang tidak dibayar, justru pemerintah yang ditagih oleh perusahaan yang mengerjakan. Padahal pemerintah sudah membayar lunas ke perusahaan pemenang.

Baca Juga :  Edukasi Pencegahan Karhutla pada Anak

“Saya sudah beberapa kasus itu. Misal yang menang perusahaan ini, yang kerja perusahaan lain, duit kan kita bayar ke perusahaan yang menang. Perusahaan yang kerja tak dibayar, ada yang sampai sita-sitaan, sita toko, sita tanah. Rupanya (perusahaan) yang menang ini beli tanah, beli toko,” ceritanya.

Bahkan yang lebih lucu lanjut dia, ada perusahaan BUMN yang mau mengerjakan namun menawar sampai 20 persen. Padahal BUMN ini ketika mengerjakan proyek di suatu perusahaan besar sempat dihentikan alias bermasalah. “Nah kerja di suatu perusahaan besar saja BUMN ini dihentikan, nah mau buat masalah di sini lagi. Saya jadi gubernur tak mau buat masalah,” ucapnya.

Midji memastikan pemenang tender untuk pengerjaan proyek pemerintah benar-benar perusahaan yang bisa bekerja dengan baik. Dengan demikian hasilnya tentu bisa maksimal.

“Ada yang bilang, oh mengapa pemenang (tender) selama wali kota, sekarang gubernur, Sutarmidji kan (perusahaan) itu saja, nah tanya sama orang Pontianak ini kontraktor yang bagus siapa, kalau orang pontianak bilang yang menang tak bagus berarti saya salah. Tapi kalau misalnya bagus, saya (benar) ini,” pungkasnya. (bar)

 

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji mengungkapkan penyebab lambannya pengerjaan proyek lanjutan pembangunan gedung baru di RSUD Soedarso, Pontianak. Tender untuk pengerjaan tahun anggaran 2020 sempat diulang dan dalam waktu dekat baru akan ditentukan pemenangnya.

“Bangun Rumah Sakit (Soedarso) tender bertele-tele karena pelaksana takut. Saya bilang jangan menangkan,” ungkapnya, Jumat (12/6).

Namun demikian, kata Midji, pelaksanaan tender yang diulang sudah berlangsung. Ia ingin pengerjaan gedung baru RSUD kebanggan masyarakat Kalbar itu cepat dilaksanakan. Apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan yang memadai cukup mendesak.

“Sudah (tander ulang), tinggal penentuan pemenang. Harus selesai (sesuai target), apalagi selama Covid ini sepertinya perlu mempersiapkan untuk memisahkan ruang pelayanan penyakit menular dan yang tidak menular, serta butuh lab yang aman dan standar,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kalbar itu lantas membeberkan penyebab tender yang harus diulang. Permasalahan utamanya soal harga penawaran lelang oleh perusahaan konstruksi yang jauh di bawah pagu. Misalnya ia mencontohkan, proyek pembangunan gedung RSUD Soedarso dengan pagu Rp99 miliar ditawar hanya menjadi Rp82 miliar. Atau ‘membuang’ sekitar 20 persen.

“Misalnya tender Rp99 miliar, ada yang nawar Rp82 miliar, roboh gedung itu. Jadi jangan asal menang saja. Sekarang kalau Rp82 miliar berarti buang 20 persen, pajak 10 persen, berarti tinggal 70 persen. Gedung RS hanya 70 persen bisa ambruk,” kesalnya.

Baca Juga :  PPDB 2022 Tidak Dipungut Biaya, Sutarmidji Ingatkan Sekolah Negeri

Karena tidak ingin hal itu terjadi ia meminta proyek ditender ulang. Midji tak mau main-main soal kualitas kontruksi bangunan. Karena itu perlu kehati-hatian. Dalam membangun gedung ia mengatakan risikonya cukup tinggi. Jika ada struktur yang rusak, walaupun hanya sedikit, otomatis harus dibongkar habis. “Jangan sampai seperti itu, makanya kami tidak mau. Saya bilang biar tender ulang cari (perusahaan) yang betul-betul,” tegasnya.

Midji memastikan tak punya kepentingan apapun. Jika ada pihak yang menuding dirinya bermain dalam menentukan pemenang proyek, ia pun tak mau ambil pusing.

“Yang penting saya tidak terima apapun, terserah orang mau ngomong apa, kalau saya begitu saja. Jangan pikir saya mau kolusi sama perusahaan, saya tidak ada urusan itu. Saya tidak mengerti, cari saja satu perusahaan nama saya, cari saja perusahaan yang berkaitan dengan keluarga saya,” ujarnya.

Midji mengaku sudah hafal betul para ‘pemain’ proyek, apa saja perusahaannya dan bagaimana cara kerjanya. Banyak kasus terjadi perusahaan yang menang tender justru ‘menjual’ lagi ke perusahaan lain untuk mengerjakannya.

Namun di tengah jalan ketika ada masalah seperti pengerjaan yang tidak dibayar, justru pemerintah yang ditagih oleh perusahaan yang mengerjakan. Padahal pemerintah sudah membayar lunas ke perusahaan pemenang.

Baca Juga :  Dinas PUPR Pontianak Normalisasi Parit

“Saya sudah beberapa kasus itu. Misal yang menang perusahaan ini, yang kerja perusahaan lain, duit kan kita bayar ke perusahaan yang menang. Perusahaan yang kerja tak dibayar, ada yang sampai sita-sitaan, sita toko, sita tanah. Rupanya (perusahaan) yang menang ini beli tanah, beli toko,” ceritanya.

Bahkan yang lebih lucu lanjut dia, ada perusahaan BUMN yang mau mengerjakan namun menawar sampai 20 persen. Padahal BUMN ini ketika mengerjakan proyek di suatu perusahaan besar sempat dihentikan alias bermasalah. “Nah kerja di suatu perusahaan besar saja BUMN ini dihentikan, nah mau buat masalah di sini lagi. Saya jadi gubernur tak mau buat masalah,” ucapnya.

Midji memastikan pemenang tender untuk pengerjaan proyek pemerintah benar-benar perusahaan yang bisa bekerja dengan baik. Dengan demikian hasilnya tentu bisa maksimal.

“Ada yang bilang, oh mengapa pemenang (tender) selama wali kota, sekarang gubernur, Sutarmidji kan (perusahaan) itu saja, nah tanya sama orang Pontianak ini kontraktor yang bagus siapa, kalau orang pontianak bilang yang menang tak bagus berarti saya salah. Tapi kalau misalnya bagus, saya (benar) ini,” pungkasnya. (bar)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/