alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Kisah Pedagang Baju di Pasar Asahan Saat Covid-19

Omzet Menurun Drastis, Berharap Pandemi Segera Berakhir

Sektor usaha kecil mengalami dampak serius akibat pandemi Covid-19. Beberapa di antaranya terpaksa menutup dagangan, lainnya mencoba bertahan untuk melanjutkan kehidupan. Hal ini dialami oleh Emi. Pedagang baju seragam di Pasar Asahan, Pontianak ini mengalami penurunan omzet. Bagaimana kisahnya?

BUDI MIANK, Pontianak

EMI menata dagangan di lapak kecilnya. Perempuan berusia 22 tahun itu sudah sejak lama berjualan di Jalan Asahan, Pontianak. Jalan Asahan menjadi lokasi bagi para pedagang kecil untuk mencari nafkah. Saat libur sekolah dan menjelang mulai sekolah, lokasi ini kerap menjadi target para orangtua untuk berbelanja seragam sekolah.

Masa-masa seperti itulah yang dinanti oleh Emi dan pedagang lainnya. Masa yang disebutnya paling sibuk namun menyenangkan karena lelah melayani calon pembeli terbayarkan dengan omzet yang tinggi. Akan tetapi, sejak Maret 2020, ketika pandemi global Covid-19 mulai melanda, lokasi ini mulai tidak menggeliat. Jumlah calon pembeli yang berkunjung di pasar tersebut semakin menurun.

Baca Juga :  Midji Dorong Inovasi Hadapi Pandemi

“Kadang satu hari, tak ada pembeli. Kami benar-benar kena dampak akibat pandemi ini,” kata Emi.

Di lapak itu, Emi berjualan baju seragam sekolah. Bukan hanya lapak Emi yang berjualan seragam. Beberapa lapak lain juga menjual produk serupa. Sebelum Covid-19 melanda, omzet per hari cukup tinggi. Walau banyak lapak yang berjualan produk yang sama. Semua berubah ketika pandemi melanda. Semua melesu.

“Kami hanya bertahan saja. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk menghidupi keluarga. Kami berharap semuanya kembali normal. Semoga pandemi ini segera berakhir,” kata Emi.

Omzet makin menurun ketika diberlakukan sekolah dalam jaringan (online). Ini dampak yang sangat memukul usaha kecil dan menengah, termasuk para penjual seragam sekolah. “Pendapatan sangat menurun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Waspada Persoalan Sosial di Masa Pandemi Akibat Perubahan Interaksi dari Fisik ke Daring

Emi kemudian membuat terobosan. Selain menjual seragam sekolah, ia juga memajang baju yang lain, yang bukan seragam sekolah. Ini dilakukan agar menarik calon pembeli sehingga bisa menutupi kebutuhannya. Karena itu, di lapak dagangannya, terdapat bermacam jenis pakaian.

Ia berharap pada tahun ajaran baru mendatang, ketika sekolah akan dimulai, Covid sudah berakhir. Sehingga, kata dia, aktivitas berjualan baju seragam bisa semeriah dan sesibuk tahun-tahun sebelumnya. “Walau ada sekolah yang sudah menyediakan baju sekolah, biasanya ada orang tua yang membeli baju seragam cadangan untuk anaknya,” kata Emi.

Tak hanya Emi yang berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Semua anak bangsa berharap hal yang sama. Karena itu, pemerintah meminta masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dengan disiplin memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan. (*)

Omzet Menurun Drastis, Berharap Pandemi Segera Berakhir

Sektor usaha kecil mengalami dampak serius akibat pandemi Covid-19. Beberapa di antaranya terpaksa menutup dagangan, lainnya mencoba bertahan untuk melanjutkan kehidupan. Hal ini dialami oleh Emi. Pedagang baju seragam di Pasar Asahan, Pontianak ini mengalami penurunan omzet. Bagaimana kisahnya?

BUDI MIANK, Pontianak

EMI menata dagangan di lapak kecilnya. Perempuan berusia 22 tahun itu sudah sejak lama berjualan di Jalan Asahan, Pontianak. Jalan Asahan menjadi lokasi bagi para pedagang kecil untuk mencari nafkah. Saat libur sekolah dan menjelang mulai sekolah, lokasi ini kerap menjadi target para orangtua untuk berbelanja seragam sekolah.

Masa-masa seperti itulah yang dinanti oleh Emi dan pedagang lainnya. Masa yang disebutnya paling sibuk namun menyenangkan karena lelah melayani calon pembeli terbayarkan dengan omzet yang tinggi. Akan tetapi, sejak Maret 2020, ketika pandemi global Covid-19 mulai melanda, lokasi ini mulai tidak menggeliat. Jumlah calon pembeli yang berkunjung di pasar tersebut semakin menurun.

Baca Juga :  Kisah Suka Duka Penghulu di Masa Pandemi

“Kadang satu hari, tak ada pembeli. Kami benar-benar kena dampak akibat pandemi ini,” kata Emi.

Di lapak itu, Emi berjualan baju seragam sekolah. Bukan hanya lapak Emi yang berjualan seragam. Beberapa lapak lain juga menjual produk serupa. Sebelum Covid-19 melanda, omzet per hari cukup tinggi. Walau banyak lapak yang berjualan produk yang sama. Semua berubah ketika pandemi melanda. Semua melesu.

“Kami hanya bertahan saja. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk menghidupi keluarga. Kami berharap semuanya kembali normal. Semoga pandemi ini segera berakhir,” kata Emi.

Omzet makin menurun ketika diberlakukan sekolah dalam jaringan (online). Ini dampak yang sangat memukul usaha kecil dan menengah, termasuk para penjual seragam sekolah. “Pendapatan sangat menurun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Siap-siap, DPRD Mempawah dan Bupati Melawi Tak Digaji Enam Bulan

Emi kemudian membuat terobosan. Selain menjual seragam sekolah, ia juga memajang baju yang lain, yang bukan seragam sekolah. Ini dilakukan agar menarik calon pembeli sehingga bisa menutupi kebutuhannya. Karena itu, di lapak dagangannya, terdapat bermacam jenis pakaian.

Ia berharap pada tahun ajaran baru mendatang, ketika sekolah akan dimulai, Covid sudah berakhir. Sehingga, kata dia, aktivitas berjualan baju seragam bisa semeriah dan sesibuk tahun-tahun sebelumnya. “Walau ada sekolah yang sudah menyediakan baju sekolah, biasanya ada orang tua yang membeli baju seragam cadangan untuk anaknya,” kata Emi.

Tak hanya Emi yang berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Semua anak bangsa berharap hal yang sama. Karena itu, pemerintah meminta masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dengan disiplin memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/