alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 9, 2022

Selamat Hari Farmasi Indonesia

KEMARIN, 13 Februari diperingati sebagai Hari Farmasi Indonesia atau Hari Persatuan Farmasi Indonesia. Menurut situs www.iai.id, sejarah tersebut dimulai dengan terbentuknya Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) pada 13 Februari 1946. Diceritakan ketika itu, para tenaga ahli farmasi berhimpun di Hotel Merdeka Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut mereka membentuk organisasi ini dan mengangkat Zainal Abidin sebagai Ketua PAFI.

Dari situs pari.or.id, dijelaskan bahwa PAFI merupakan organisasi profesi tertua di Indonesia. Profesi asisten apoteker sendiri lebih dahulu terbentuk daripada profesi apoteker. Hal ini terjadi karena pada masa pemerintahan kolonial Belanda hanya pendidikan asisten apoteker yang mampu dijalankan. Bahkan rintisannya harus dididik langsung dari negeri kincir Belanda.

Saat ini, dengan adanya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan (Nakes), anggota PAFI yang semula berisi gabungan lulusan sekolah farmasi setingkat SMA seperti Sekolah Asisten Apoteker (SAA), Sekolah Menengah Farmasi (SMF), Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi (SMKF), dan Lulusan Diploma Farmasi seperti D3 Farmasi, D3 Akademi Farmasi, D3 Anafarna, berdasarkan UU Nakes tersebut status lulusan setingkat SMA bukan lagi menjadi Nakes Farmasi, namun bergeser menjadi Asisten Tenaga Teknis Kefarmasian (ATTK). Dengan pergeseran status tersebut melalui Munaslub PAFI lulusan ATTK dan seluruh jenjang Diploma tetap bergabung kedalam anggota PAFI dengan visi Bersama Kita Bisa.

Baca Juga :  Cacat Logika RUU Omnimbus Law, Buruh Lebih Ditekan Andai RUU Terwujud

PAFI memiliki misi turut bersama memerangi obat ilegal, mencegah terjadinya penyalahgunaan obat dan penggunaan obat yang salah, dengan menggalang kerja sama, koordinasi, dan kooperasi bersama Organisiasi Profesi Kesehatan lain, agar diperoleh derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, melalui standar profesi, standar praktik, standar prosedur operasional yang berlaku serta menjunjung tinggi moral dan kode etik.

Minggupedia kali ini akan menitikberatkan pada Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Berdasarkan situs gudangilmu.farmasetika.com, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah merilis buku pedoman Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit edisi tahun 2019. Petunjuk teknis ini membahas rincian pelayanan kefarmasian, mencakup pengelolaan obat dan pelayanan farmasi klinik yang meliputi tujuan, manfaat, pihak yang terlibat, sarana dan prasarana yang dibutuhkan, tahapan pelaksanaan serta evaluasi dalam pelayanan kefarmasian, termasuk di dalamnya pemenuhan persyaratan akreditasi rumah sakit. Di Kalimantan Barat sendiri, rumah sakit-rumah sakit umum milik daerah telah tersebar di seluruh kabupaten/kota di provinsi ini. Terakhir, dengan diresmikannya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kubu Raya pada 6 Januari 2020 lalu oleh Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji. Rumah sakit yang terletak di Jalan Sudirman, Desa Rasau Jaya Satu, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya ini bertipe D. Dibangun dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus Kementerian Kesehatan sebesar Rp38,6 miliar dan didukung dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kubu Raya Tahun 2018 sebesar Rp650 juta dan Tahun 2019 sekitar Rp1,8 miliar. (berbagai sumber)

KEMARIN, 13 Februari diperingati sebagai Hari Farmasi Indonesia atau Hari Persatuan Farmasi Indonesia. Menurut situs www.iai.id, sejarah tersebut dimulai dengan terbentuknya Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) pada 13 Februari 1946. Diceritakan ketika itu, para tenaga ahli farmasi berhimpun di Hotel Merdeka Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut mereka membentuk organisasi ini dan mengangkat Zainal Abidin sebagai Ketua PAFI.

Dari situs pari.or.id, dijelaskan bahwa PAFI merupakan organisasi profesi tertua di Indonesia. Profesi asisten apoteker sendiri lebih dahulu terbentuk daripada profesi apoteker. Hal ini terjadi karena pada masa pemerintahan kolonial Belanda hanya pendidikan asisten apoteker yang mampu dijalankan. Bahkan rintisannya harus dididik langsung dari negeri kincir Belanda.

Saat ini, dengan adanya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan (Nakes), anggota PAFI yang semula berisi gabungan lulusan sekolah farmasi setingkat SMA seperti Sekolah Asisten Apoteker (SAA), Sekolah Menengah Farmasi (SMF), Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi (SMKF), dan Lulusan Diploma Farmasi seperti D3 Farmasi, D3 Akademi Farmasi, D3 Anafarna, berdasarkan UU Nakes tersebut status lulusan setingkat SMA bukan lagi menjadi Nakes Farmasi, namun bergeser menjadi Asisten Tenaga Teknis Kefarmasian (ATTK). Dengan pergeseran status tersebut melalui Munaslub PAFI lulusan ATTK dan seluruh jenjang Diploma tetap bergabung kedalam anggota PAFI dengan visi Bersama Kita Bisa.

Baca Juga :  Tak Lazim, 57 Tukik Menetas di Kardus

PAFI memiliki misi turut bersama memerangi obat ilegal, mencegah terjadinya penyalahgunaan obat dan penggunaan obat yang salah, dengan menggalang kerja sama, koordinasi, dan kooperasi bersama Organisiasi Profesi Kesehatan lain, agar diperoleh derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, melalui standar profesi, standar praktik, standar prosedur operasional yang berlaku serta menjunjung tinggi moral dan kode etik.

Minggupedia kali ini akan menitikberatkan pada Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Berdasarkan situs gudangilmu.farmasetika.com, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah merilis buku pedoman Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit edisi tahun 2019. Petunjuk teknis ini membahas rincian pelayanan kefarmasian, mencakup pengelolaan obat dan pelayanan farmasi klinik yang meliputi tujuan, manfaat, pihak yang terlibat, sarana dan prasarana yang dibutuhkan, tahapan pelaksanaan serta evaluasi dalam pelayanan kefarmasian, termasuk di dalamnya pemenuhan persyaratan akreditasi rumah sakit. Di Kalimantan Barat sendiri, rumah sakit-rumah sakit umum milik daerah telah tersebar di seluruh kabupaten/kota di provinsi ini. Terakhir, dengan diresmikannya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kubu Raya pada 6 Januari 2020 lalu oleh Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji. Rumah sakit yang terletak di Jalan Sudirman, Desa Rasau Jaya Satu, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya ini bertipe D. Dibangun dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus Kementerian Kesehatan sebesar Rp38,6 miliar dan didukung dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kubu Raya Tahun 2018 sebesar Rp650 juta dan Tahun 2019 sekitar Rp1,8 miliar. (berbagai sumber)

Most Read

Artikel Terbaru

/