alexametrics
31.7 C
Pontianak
Wednesday, May 18, 2022

Merawat Keberagaman melalui Muatan Lokal dan Multikultur

Forum Diskusi Berkelompok Aliansi Perdamaian dan Transformasi

Paham radikal dan fundamental yang berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan, terus menjadi perbincangan dan perhatian banyak kalangan. Demi mencari solusinya, Aliansi Perdamaian dan Transformasi (ANPRI) Kalbar pun menggelar Focus Group Discussion (FGD), Kamis (10/9) lalu di Ruang Jurung Dayakologi.

RAMSES TOBING, Pontianak

DIREKTUR Eksekutif Institut Dayakologi Krissusandi Gunui mengungkapkan salah satu langkah yang relevan dalam upaya melawan paham radikal-fundamental tersebut. Menurut dia, pencegahannya adalah dengan membumikan budaya perdamaian dan anti kekerasan. Dia sendiri mengungkapkan kekhawatirannya lantaran anak-anak sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme.

“Pendidikan adalah solusi yang tepat dan strategis. Pendidikan mesti diperkenalkan dengan materi atau bahan ajar berbasis muatan lokal dan multikultur karena kreativitas, ajaran toleransi dan nilai solidaritas kemanusiaan yang beradab dari para peserta didik dapat digali dengan pendekatan seni, musik dan budaya lokal serta apresiasi terhadap budaya lain,” kata Krissusandi dalam kegiatan tersebut.

Diskusi tersebut dihadiri 20 peserta, di mana 20 lainnya hadir secara virtual. Peserta dari utusan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, pendamping dan guru muatan lokal dari Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang; SMP/sederajat di Pontianak, Kubu Raya, Landak, dan aktivis lokal dari komunitas, tokoh pemuda dan tokoh perempuan, serta aktivis yang mewakili lembaga-lembaga mitra ANPRI Kalbar.

Ia menambahkan bahwa Kalbar sebagai provinsi yang berpenduduk heterogen, posisi geografisnya sebagai kawasan strategis perbatasan dengan Sarawak-Malaysia, mudah dipengaruhi budaya luar. Hal ini semakin diperlukan terlebih di era globalisasi ini sehingga kecakapan dalam komunikasi, kerja sama, kapasitas, dan wawasan kritis, serta kemampuan memecahkan masalah patut dikuasai peserta didik.

“Tentu saja, hal tersebut mesti didukung tenaga pendidik (guru) lebih kreatif, inovatif dan komunikatif dalam memberikan pembelajaran termasuk di situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini,” jelas Krissusandi.

Peneliti dan dosen dari IKIP PGRI Pontianak, Dr. Saiful Bahri mengatakan bahwa metode etnopedagogik relevan diterapkan dalam proses pembelajaran materi pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur di Kalbar. Dia mencontohkan, nilai kearifan lokal dalam praktik perladangan gilir balik pada masyarakat Dayak Kanayatn di Lingga, dapat disampaikan kepada peserta didik dengan mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain di sekolah.

Baca Juga :  Momen Pertegas Keberagaman

“Nilai kearifan lokal dalam perladangan gilir balik masyarakat Dayak Kanayatn di Lingga bisa dijadikan bahan ajar pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur di sekolah,” terangnya.

Saiful juga menambahkan bahwa buku bahan ajar pendidikan muatan lokal multikultur di Kalbar yang pernah diterbitkan oleh ANPRI dan Institut Dayakologi untuk kelas VII, VIII, dan IX itu, bisa dimutakhirkan kembali.

Pengawas pendidikan dan pengajaran mulok budaya tingkat SD/sederajat di Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Paimin mengatakan bahwa pendidikan mulok budaya itu penting untuk memperkuat hubungan peserta didik dengan lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Untuk memperkenalkan kearifan lokal, menurut dia, peribahasa setempat dapat menjadi bahan ajar pengajaran mulok budaya yang menarik bagi para peserta didik.

“Pendidikan mulok budaya khususnya Sapta Basa yang merupakan hasil refleksi nilai kearifan budaya Dayak yang sering digunakan untuk bahan ajar di SDN 05 Tae dan SDN 25 Padang dan beberapa SDN di lingkar Tiong Kandang, sangat cocok diterapkan, peserta didik pun mudah memahaminya,” terang Paimin.

Pegiat Yayasan SAKA, Sri Hartati menyatakan bahwa pihak kini terus mengembangkan pendidikan alternatif sebagai model pembelajaran muatan lokal dan multikultur. “Di sekolah kami, anak-anak yang beragam latar belakang sosial budayanya, diajarkan untuk mengenal dirinya, lingkungan terdekatnya, hingga lingkungan sosial budaya lain sehingga anak-anak mengenal dan menghormati perbedaan serta nilai-nilai toleransi sejak dini,” terang Hartati.

Tokoh muda Madura Kalbar dan Pengurus Mitra Sekolah Masyarakat (Misem), Subro, mengatakan bahwa pengalaman Misem berkolaborasi bersama ANPRI dan Institut Dayakologi, juga telah didiseminasikan dalam Kongres Kebudayaan Madura di Sumenep, beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa sambutan para tokoh intelektual Madura yang berprofesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi di Jawa memberikan apresiasi yang sangat positif karena di dalam buku bahan ajar Pendidikan Mulok Budaya dan Multikultur di Kalimantan Barat, yang selama itu menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah SMP/sederajat mitra ANPRI di Kalbar terdapat materi tentang kebudayaan Madura.

Baca Juga :  Koramil Pontianak Selatan Sosialisasikan Bahaya dan Pencegahan Penyebaran Covid-19

Pengalaman tersebut, menurut dia, menjadi bahan diskusi di antara para tokoh Madura itu. “Satu pelajaran yang saya petik adalah bahwa saat mereka berdiskusi dan berdebat dalam Kongres Kebudayaan Madura itu, kami di Kalbar sudah jauh lebih dulu menerapkan pendidikan mulok budaya multikultur, terlepas dari apakah di dalam prosesnya masih ada keterbatasan-keterbatasannya,” ujar Subro.

Narasumber dari SMP St. Fransiskus Asisi Pontianak, Priyono Pasti, membagikan pengalaman sekolahnya menerapkan pendidikan mulok budaya multikultur. Dalam praktiknya di sekolah, peserta didik diajarkan mereka akan nilai-nilai toleransi, menjaga perdamaian, dan menghormati perbedaan. “Di SMP Asisi, sudah biasa jika dalam kepanitiaan di acara hari besar agama, juga dilibatkan peserta didik dari agama lain. Di sini mereka punya kesempatan langsung bekerja sama, mengenal perbedaan dan sikap toleransi satu sama lain,” kata pria yang juga Kepala SMP St. Fransiskus Asisi itu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat, Suhardi menyatakan bahwa pihaknya senantiasa siap mendukung pendidikan multikultur di Kalbar, karena sesuai karakteristik daerah ini yang beragam. “Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar selalu siap mendukung pendidikan multikultur untuk daerah ini. Apalagi rencana kerja sama seperti ini dengan pihak Institut Dayakologi dan ANPRI telah beberapa kali dibicarakan dengan kami pada tahun lalu yang kemudian sempat terhalang oleh pandemi Covid-19 ini,” imbuhnya.

Anggota DPRD Kalbar, Yohanes RJ, sebagai pemantik diskusi menyampaikan bahwa usulan kerja sama dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar dapat disampaikan ke Komisi V DPRD Kalbar. Ia juga meminta agar pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tidak sekadar dalam posisi mendukung, tapi justru harus yang menjadi leading sector dan yang terdepan.

“Saya malah meminta agar teman-teman dari tidak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat harus menjadi pihak yang menjadi leading dan terdepan untuk urusan pendidikan multikultur di Bumi Khatulistiwa ini, dan jangan hanya di posisi sekadar mendukung. Untuk urusan pendidikan dan kebudayaan seperti ini, silahkan ajukan dukungan kepada Komisi V DPRD Provinsi Kalimantan Barat,” gugah Yohanes. (*)

Forum Diskusi Berkelompok Aliansi Perdamaian dan Transformasi

Paham radikal dan fundamental yang berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan, terus menjadi perbincangan dan perhatian banyak kalangan. Demi mencari solusinya, Aliansi Perdamaian dan Transformasi (ANPRI) Kalbar pun menggelar Focus Group Discussion (FGD), Kamis (10/9) lalu di Ruang Jurung Dayakologi.

RAMSES TOBING, Pontianak

DIREKTUR Eksekutif Institut Dayakologi Krissusandi Gunui mengungkapkan salah satu langkah yang relevan dalam upaya melawan paham radikal-fundamental tersebut. Menurut dia, pencegahannya adalah dengan membumikan budaya perdamaian dan anti kekerasan. Dia sendiri mengungkapkan kekhawatirannya lantaran anak-anak sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme.

“Pendidikan adalah solusi yang tepat dan strategis. Pendidikan mesti diperkenalkan dengan materi atau bahan ajar berbasis muatan lokal dan multikultur karena kreativitas, ajaran toleransi dan nilai solidaritas kemanusiaan yang beradab dari para peserta didik dapat digali dengan pendekatan seni, musik dan budaya lokal serta apresiasi terhadap budaya lain,” kata Krissusandi dalam kegiatan tersebut.

Diskusi tersebut dihadiri 20 peserta, di mana 20 lainnya hadir secara virtual. Peserta dari utusan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, pendamping dan guru muatan lokal dari Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang; SMP/sederajat di Pontianak, Kubu Raya, Landak, dan aktivis lokal dari komunitas, tokoh pemuda dan tokoh perempuan, serta aktivis yang mewakili lembaga-lembaga mitra ANPRI Kalbar.

Ia menambahkan bahwa Kalbar sebagai provinsi yang berpenduduk heterogen, posisi geografisnya sebagai kawasan strategis perbatasan dengan Sarawak-Malaysia, mudah dipengaruhi budaya luar. Hal ini semakin diperlukan terlebih di era globalisasi ini sehingga kecakapan dalam komunikasi, kerja sama, kapasitas, dan wawasan kritis, serta kemampuan memecahkan masalah patut dikuasai peserta didik.

“Tentu saja, hal tersebut mesti didukung tenaga pendidik (guru) lebih kreatif, inovatif dan komunikatif dalam memberikan pembelajaran termasuk di situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini,” jelas Krissusandi.

Peneliti dan dosen dari IKIP PGRI Pontianak, Dr. Saiful Bahri mengatakan bahwa metode etnopedagogik relevan diterapkan dalam proses pembelajaran materi pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur di Kalbar. Dia mencontohkan, nilai kearifan lokal dalam praktik perladangan gilir balik pada masyarakat Dayak Kanayatn di Lingga, dapat disampaikan kepada peserta didik dengan mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain di sekolah.

Baca Juga :  Lahirkan Buku di Tengah Pandemi

“Nilai kearifan lokal dalam perladangan gilir balik masyarakat Dayak Kanayatn di Lingga bisa dijadikan bahan ajar pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur di sekolah,” terangnya.

Saiful juga menambahkan bahwa buku bahan ajar pendidikan muatan lokal multikultur di Kalbar yang pernah diterbitkan oleh ANPRI dan Institut Dayakologi untuk kelas VII, VIII, dan IX itu, bisa dimutakhirkan kembali.

Pengawas pendidikan dan pengajaran mulok budaya tingkat SD/sederajat di Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Paimin mengatakan bahwa pendidikan mulok budaya itu penting untuk memperkuat hubungan peserta didik dengan lingkungan sosial dan alam sekitarnya. Untuk memperkenalkan kearifan lokal, menurut dia, peribahasa setempat dapat menjadi bahan ajar pengajaran mulok budaya yang menarik bagi para peserta didik.

“Pendidikan mulok budaya khususnya Sapta Basa yang merupakan hasil refleksi nilai kearifan budaya Dayak yang sering digunakan untuk bahan ajar di SDN 05 Tae dan SDN 25 Padang dan beberapa SDN di lingkar Tiong Kandang, sangat cocok diterapkan, peserta didik pun mudah memahaminya,” terang Paimin.

Pegiat Yayasan SAKA, Sri Hartati menyatakan bahwa pihak kini terus mengembangkan pendidikan alternatif sebagai model pembelajaran muatan lokal dan multikultur. “Di sekolah kami, anak-anak yang beragam latar belakang sosial budayanya, diajarkan untuk mengenal dirinya, lingkungan terdekatnya, hingga lingkungan sosial budaya lain sehingga anak-anak mengenal dan menghormati perbedaan serta nilai-nilai toleransi sejak dini,” terang Hartati.

Tokoh muda Madura Kalbar dan Pengurus Mitra Sekolah Masyarakat (Misem), Subro, mengatakan bahwa pengalaman Misem berkolaborasi bersama ANPRI dan Institut Dayakologi, juga telah didiseminasikan dalam Kongres Kebudayaan Madura di Sumenep, beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa sambutan para tokoh intelektual Madura yang berprofesi sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi di Jawa memberikan apresiasi yang sangat positif karena di dalam buku bahan ajar Pendidikan Mulok Budaya dan Multikultur di Kalimantan Barat, yang selama itu menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah SMP/sederajat mitra ANPRI di Kalbar terdapat materi tentang kebudayaan Madura.

Baca Juga :  Vaksinasi Bakal Sasar Pelajar

Pengalaman tersebut, menurut dia, menjadi bahan diskusi di antara para tokoh Madura itu. “Satu pelajaran yang saya petik adalah bahwa saat mereka berdiskusi dan berdebat dalam Kongres Kebudayaan Madura itu, kami di Kalbar sudah jauh lebih dulu menerapkan pendidikan mulok budaya multikultur, terlepas dari apakah di dalam prosesnya masih ada keterbatasan-keterbatasannya,” ujar Subro.

Narasumber dari SMP St. Fransiskus Asisi Pontianak, Priyono Pasti, membagikan pengalaman sekolahnya menerapkan pendidikan mulok budaya multikultur. Dalam praktiknya di sekolah, peserta didik diajarkan mereka akan nilai-nilai toleransi, menjaga perdamaian, dan menghormati perbedaan. “Di SMP Asisi, sudah biasa jika dalam kepanitiaan di acara hari besar agama, juga dilibatkan peserta didik dari agama lain. Di sini mereka punya kesempatan langsung bekerja sama, mengenal perbedaan dan sikap toleransi satu sama lain,” kata pria yang juga Kepala SMP St. Fransiskus Asisi itu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat, Suhardi menyatakan bahwa pihaknya senantiasa siap mendukung pendidikan multikultur di Kalbar, karena sesuai karakteristik daerah ini yang beragam. “Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar selalu siap mendukung pendidikan multikultur untuk daerah ini. Apalagi rencana kerja sama seperti ini dengan pihak Institut Dayakologi dan ANPRI telah beberapa kali dibicarakan dengan kami pada tahun lalu yang kemudian sempat terhalang oleh pandemi Covid-19 ini,” imbuhnya.

Anggota DPRD Kalbar, Yohanes RJ, sebagai pemantik diskusi menyampaikan bahwa usulan kerja sama dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar dapat disampaikan ke Komisi V DPRD Kalbar. Ia juga meminta agar pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tidak sekadar dalam posisi mendukung, tapi justru harus yang menjadi leading sector dan yang terdepan.

“Saya malah meminta agar teman-teman dari tidak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat harus menjadi pihak yang menjadi leading dan terdepan untuk urusan pendidikan multikultur di Bumi Khatulistiwa ini, dan jangan hanya di posisi sekadar mendukung. Untuk urusan pendidikan dan kebudayaan seperti ini, silahkan ajukan dukungan kepada Komisi V DPRD Provinsi Kalimantan Barat,” gugah Yohanes. (*)

Most Read

Kumpul Sepupu Selalu Seru

Motor Kelotok Masih Andalan

Artikel Terbaru

/