alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

TNI AL Amankan Kapal Bawa Satwa Lindung

PONTIANAK – Jajaran TNI AL dari Lantamal XII Pontianak melakukan pengamanan terhadap satu unit kapal dengan nama KM Bahari 11 yang diduga hendak melakukan penyelundupan satwa dilindungi, pada Rabu (15/1) sekitar pukul 09.55 WIB.

Penangkapan ini dilakukan setelah adanya laporan dari satuan pelaksana tim intelejen Lantamal XII Pontianak dan juga masyarakat, tentang adanya aktivitas kapal bermuatan hewan lindung tersebut saat melintasi alur Sungai Kapuas.

Area tersebut masih berada di wilayah hukum perairan Lantamal XII Pontianak.

“Mendapat laporan tersebut, Lantamal XII Pontianak melalui Asops Danlantamal XII dibantu oleh Dansatrol Lantamal XII serta satuan fleet one quick response (F1QR), langsung bergerak menggunakan Kapal Angkatan Laut (KAL) Lemukutan Lantamal XII, dan langsung menghentikan perjalan kapal dengan nama KM Bahari 11 tersebut untuk dilakukan pemeriksaan,” kata Danlantamal XII Pontianak, Laksma TNI Agus Hariadi.

Baca Juga :  Beri Pelatihan Warga Terdampak Covid-19

Dia membeberkan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihaknya, ditemukan adanya puluhan satwa yang sebagian besar diantaranya merupakan hewan yang dilindungi dan hendak diselundupkan dari Jakarta menuju Pontianak.

Atas temuan tersebut, seluruh satwa lindung beserta anak buah kapal (ABK) yang berjumlah 14 orang langsung di bawa ke Dermaga Lantamal XII untuk dilakukan pemeriksaan lanjut.

“Satwa yang dimaksud meliputi burung kakaktua jambul kuning berjumlah 7 ekor, burung kakak tua jambul merah 4 ekor, burung nuri hijau 1 ekor, burung nuri hitam kecil 4 ekor, kanguru papua 1 ekor, ular sanca kuning 11 ekor, ular bewarna biru 8 ekor, kadal lidah hijau 27 ekor, anak kura-kura 13 ekor, serta anjing jenis cihuahua dan husky masing-masing 1 ekor,” paparnya.

Baca Juga :  Bakal Terus  Kawal Omnibus Law

Dia mengungkapkan perbuatan ini dinilai melanggar ketentuan hukum sesuai dengan Pasal 21 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.

Demikian pula, sambungnya, hal ini juga melanggar Undang-undang Nomor 21 tahun 2019 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan.

“Penangkapan ini masih akan kita dalami dan kemudian akan diserahkan kepada penyidik yang berwenang didalam menangani maslaah ini. Khususnya dari Dinas Karantina Hewan dan tumbuhan, atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),” pungkasnya. (sig)

PONTIANAK – Jajaran TNI AL dari Lantamal XII Pontianak melakukan pengamanan terhadap satu unit kapal dengan nama KM Bahari 11 yang diduga hendak melakukan penyelundupan satwa dilindungi, pada Rabu (15/1) sekitar pukul 09.55 WIB.

Penangkapan ini dilakukan setelah adanya laporan dari satuan pelaksana tim intelejen Lantamal XII Pontianak dan juga masyarakat, tentang adanya aktivitas kapal bermuatan hewan lindung tersebut saat melintasi alur Sungai Kapuas.

Area tersebut masih berada di wilayah hukum perairan Lantamal XII Pontianak.

“Mendapat laporan tersebut, Lantamal XII Pontianak melalui Asops Danlantamal XII dibantu oleh Dansatrol Lantamal XII serta satuan fleet one quick response (F1QR), langsung bergerak menggunakan Kapal Angkatan Laut (KAL) Lemukutan Lantamal XII, dan langsung menghentikan perjalan kapal dengan nama KM Bahari 11 tersebut untuk dilakukan pemeriksaan,” kata Danlantamal XII Pontianak, Laksma TNI Agus Hariadi.

Baca Juga :  Gubernur Kalbar Apresiasi Vaksinasi yang Dilaksanakan YBS

Dia membeberkan dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihaknya, ditemukan adanya puluhan satwa yang sebagian besar diantaranya merupakan hewan yang dilindungi dan hendak diselundupkan dari Jakarta menuju Pontianak.

Atas temuan tersebut, seluruh satwa lindung beserta anak buah kapal (ABK) yang berjumlah 14 orang langsung di bawa ke Dermaga Lantamal XII untuk dilakukan pemeriksaan lanjut.

“Satwa yang dimaksud meliputi burung kakaktua jambul kuning berjumlah 7 ekor, burung kakak tua jambul merah 4 ekor, burung nuri hijau 1 ekor, burung nuri hitam kecil 4 ekor, kanguru papua 1 ekor, ular sanca kuning 11 ekor, ular bewarna biru 8 ekor, kadal lidah hijau 27 ekor, anak kura-kura 13 ekor, serta anjing jenis cihuahua dan husky masing-masing 1 ekor,” paparnya.

Baca Juga :  Midji Sebut Masuk Sintang Harus Gunakan Syarat Negatif Rapid Test Antigen

Dia mengungkapkan perbuatan ini dinilai melanggar ketentuan hukum sesuai dengan Pasal 21 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.

Demikian pula, sambungnya, hal ini juga melanggar Undang-undang Nomor 21 tahun 2019 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan.

“Penangkapan ini masih akan kita dalami dan kemudian akan diserahkan kepada penyidik yang berwenang didalam menangani maslaah ini. Khususnya dari Dinas Karantina Hewan dan tumbuhan, atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA),” pungkasnya. (sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/