alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 9, 2022

Upaya Stabilkan Harga, Pemprov Datangkan 12 Ton Cabai Rawit

PONTIANAK – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) kembali mendatangkan cabai rawit jenis Cakra dari Tuban, Jawa Timur sebagai upaya menjaga stabilitas harga. Kali ini ada sebanyak 12 ton cabai rawit yang diterima secara simbolis oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji, Minggu (14/6) pagi.

Pengadaan cabai rawit ke daerah ini didukung penuh oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Subsidi yang diberikan berupa biaya angkut yang didanai lewat APBN.

Untuk distribusinya di Kalbar bakal dilakukan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan bekerjasama dengan Perusda Aneka Usaha Kalbar. Cabai rawit ini kemudian akan disebar ke pasar-pasar yang ada. “Untuk kebutuhan kita di sini (Kalbar) antara 1.500 ton per bulan, sedangkan produksi kita antara 300 sampai 400 ton,” ungkap Gubernur Kalbar Sutarmidji.

Dengan kondisi tersebut, harga cabai di seluruh daerah se-Kalbar selalu berfluktuatif.  Akibatnya cabai selalu menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. “Cabai selalu menjadi penyumbang inflasi kalau pakai sistem quadran dia (cabai) selalu di quadran pertama padahal kita harus jadikan ke quadran keempat,” ujarnya.

Tak hanya cabai, komoditas lain seperti bawang merah menurutnya juga kerap menjadi penyumbang inflansi bagi Kalbar. Pemerintah terus berupaya agar produksi bawang merah lokal ditingkatkan. Seperti di Kota Pontianak Midji mencontohkan, untuk satu hektare lahan mampu memproduksi sekitar 17,5 ton bawang merah basah. Setelah melalui proses dan siap dilempar ke pasaran hanya tersisa 7,5 ton saja. “Jadi belum ekonomis tapi bisa ditinggkatkan 20 ton per hektare ke atas itu akan ekonomis kami akan coba terus,” katanya.

Baca Juga :  Sambut Positif Rencana Belajar Tatap Muka

Ia meminta Perusda Aneka Usaha bisa memasok cabai yang telah didatangkan ke pasar-pasar yang ada di Kalbar. Badan usaha milik Pemprov Kalbar ini akan terus bekerjasama dengan distributor dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Dari pada Perusda usahanya yang selama ini hanya kecil saja bagus dia melakukan hal-hal seperti ini untuk membantu pemerintah daerah menstabilkan harga pangan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Muhammad Munsif menambahkan, cabai rawit yang didatangkan akan dijual ke masyarakat dengan harga maksimal Rp25 ribu per kilogram. “Iya untuk hari pertama (Rp25 ribu per kilogram). Untuk hari kedua, tiga dan seterusnya, karena ada susut maksimal Rp30 ribu (per kilogram,” ungkapnya.  Harga cabai rawit di pasaran Kalbar menurutnya memang selalu berfluktuatif dan itu terus terjadi. Karena memang kondisinya, antara pasokan lokal dengan kebutuhan tidak mencukupi atau tidak seimbang. Munsif menyebut dalam satu bulan konsumsi cabai rawit merah rata-rata mencapai 1.450 ton, sementara produksi lokal rata-rata saat ini hanya kurang dari 300 ton. “Jadi begitu pasokan dari Pulau Jawa kosong atau telat, maka otomatis harga naik kembali,” terangnya.

Ia mencontohkan pada Sabtu minggu lalu saat pasokan cabai rawit dari Pulau Jawa kosong karena masih dalam perjalanan, harga per kilogram di pasaran tembus sebesar Rp40 ribu. “Jumat sebelumnya harga di Flamboyan capai titik terendah di Rp33 ribu (per kilogram). Hari ini, begitu cabai Jawa masuk, harga otomatis akan terus terkoreksi bisa turun drastis atau bertahap, sampai pasokan habis terjual,” katanya.

Baca Juga :  Satu Lagi Pekerja Positif Covid-19

Pihaknya memberikan apresiasi dan terima kasih kepada BKP, Kementan RI melalui Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan karena telah mendukung Pemprov Kalbar dalam bentuk memberikan subsidi angkutan dalam upaya memasok cabai dari sentra produksi yang surplus di Pulau Jawa ke willayah Kalbar.

Kebijakan ini menurutnya sangat efektif karena memiliki dampak yang baik bagi kedua belah pihak. Pertama menolong pemasaran dan mencegah jatuhnya harga cabai di Tuban, Jatim yang tengah kelebihan produksi. Kedua membantu pasokan cabai di Kalbar yang produksi lokalnya tidak mencukupi. Dan yang ketiga membantu daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota dalam upaya stabilisasi harga akibat defisit ketersediaan cabai rawit.

Ia berharap kebijakan pusat melalui dukungan distribusi dalam rangka mewujudkan stabilisai pasokan dan harga ini bisa diikuti atau direplikasi oleh Pemprov dan pemerintah kabupaten/kota lainnya. Yakni dengan dukungan APBD masing-masing khususnya untuk penyediaan subsidi angkutan antar kabupaten/kota atau antar kecamatan/desa di satu daerah tertentu.

Dengan adanya kebijakan tersebut maka akan terjadi win win solution. Yakni masyarakat konsumen terpenuhi kebutuhan pangannya dgengan cukup dan harga terjangkau. Sementara petani/produsen yang over produksi terhindar dari resiko rugi karena produksinya yang berlebih. “Jadi bisa dipasarkan lebih luas ke daerah lain yang tengah defisit pangan jenis komoditas tersebut,” pungkasnya. (bar)

PONTIANAK – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) kembali mendatangkan cabai rawit jenis Cakra dari Tuban, Jawa Timur sebagai upaya menjaga stabilitas harga. Kali ini ada sebanyak 12 ton cabai rawit yang diterima secara simbolis oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji, Minggu (14/6) pagi.

Pengadaan cabai rawit ke daerah ini didukung penuh oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Subsidi yang diberikan berupa biaya angkut yang didanai lewat APBN.

Untuk distribusinya di Kalbar bakal dilakukan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan bekerjasama dengan Perusda Aneka Usaha Kalbar. Cabai rawit ini kemudian akan disebar ke pasar-pasar yang ada. “Untuk kebutuhan kita di sini (Kalbar) antara 1.500 ton per bulan, sedangkan produksi kita antara 300 sampai 400 ton,” ungkap Gubernur Kalbar Sutarmidji.

Dengan kondisi tersebut, harga cabai di seluruh daerah se-Kalbar selalu berfluktuatif.  Akibatnya cabai selalu menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. “Cabai selalu menjadi penyumbang inflasi kalau pakai sistem quadran dia (cabai) selalu di quadran pertama padahal kita harus jadikan ke quadran keempat,” ujarnya.

Tak hanya cabai, komoditas lain seperti bawang merah menurutnya juga kerap menjadi penyumbang inflansi bagi Kalbar. Pemerintah terus berupaya agar produksi bawang merah lokal ditingkatkan. Seperti di Kota Pontianak Midji mencontohkan, untuk satu hektare lahan mampu memproduksi sekitar 17,5 ton bawang merah basah. Setelah melalui proses dan siap dilempar ke pasaran hanya tersisa 7,5 ton saja. “Jadi belum ekonomis tapi bisa ditinggkatkan 20 ton per hektare ke atas itu akan ekonomis kami akan coba terus,” katanya.

Baca Juga :  Rantai Distribusi Terpanjang Bawang dan Cabai

Ia meminta Perusda Aneka Usaha bisa memasok cabai yang telah didatangkan ke pasar-pasar yang ada di Kalbar. Badan usaha milik Pemprov Kalbar ini akan terus bekerjasama dengan distributor dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Dari pada Perusda usahanya yang selama ini hanya kecil saja bagus dia melakukan hal-hal seperti ini untuk membantu pemerintah daerah menstabilkan harga pangan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Muhammad Munsif menambahkan, cabai rawit yang didatangkan akan dijual ke masyarakat dengan harga maksimal Rp25 ribu per kilogram. “Iya untuk hari pertama (Rp25 ribu per kilogram). Untuk hari kedua, tiga dan seterusnya, karena ada susut maksimal Rp30 ribu (per kilogram,” ungkapnya.  Harga cabai rawit di pasaran Kalbar menurutnya memang selalu berfluktuatif dan itu terus terjadi. Karena memang kondisinya, antara pasokan lokal dengan kebutuhan tidak mencukupi atau tidak seimbang. Munsif menyebut dalam satu bulan konsumsi cabai rawit merah rata-rata mencapai 1.450 ton, sementara produksi lokal rata-rata saat ini hanya kurang dari 300 ton. “Jadi begitu pasokan dari Pulau Jawa kosong atau telat, maka otomatis harga naik kembali,” terangnya.

Ia mencontohkan pada Sabtu minggu lalu saat pasokan cabai rawit dari Pulau Jawa kosong karena masih dalam perjalanan, harga per kilogram di pasaran tembus sebesar Rp40 ribu. “Jumat sebelumnya harga di Flamboyan capai titik terendah di Rp33 ribu (per kilogram). Hari ini, begitu cabai Jawa masuk, harga otomatis akan terus terkoreksi bisa turun drastis atau bertahap, sampai pasokan habis terjual,” katanya.

Baca Juga :  Pertamina Berikan Bantuan Paket Sembako kepada Pemprov Kalbar

Pihaknya memberikan apresiasi dan terima kasih kepada BKP, Kementan RI melalui Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan karena telah mendukung Pemprov Kalbar dalam bentuk memberikan subsidi angkutan dalam upaya memasok cabai dari sentra produksi yang surplus di Pulau Jawa ke willayah Kalbar.

Kebijakan ini menurutnya sangat efektif karena memiliki dampak yang baik bagi kedua belah pihak. Pertama menolong pemasaran dan mencegah jatuhnya harga cabai di Tuban, Jatim yang tengah kelebihan produksi. Kedua membantu pasokan cabai di Kalbar yang produksi lokalnya tidak mencukupi. Dan yang ketiga membantu daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota dalam upaya stabilisasi harga akibat defisit ketersediaan cabai rawit.

Ia berharap kebijakan pusat melalui dukungan distribusi dalam rangka mewujudkan stabilisai pasokan dan harga ini bisa diikuti atau direplikasi oleh Pemprov dan pemerintah kabupaten/kota lainnya. Yakni dengan dukungan APBD masing-masing khususnya untuk penyediaan subsidi angkutan antar kabupaten/kota atau antar kecamatan/desa di satu daerah tertentu.

Dengan adanya kebijakan tersebut maka akan terjadi win win solution. Yakni masyarakat konsumen terpenuhi kebutuhan pangannya dgengan cukup dan harga terjangkau. Sementara petani/produsen yang over produksi terhindar dari resiko rugi karena produksinya yang berlebih. “Jadi bisa dipasarkan lebih luas ke daerah lain yang tengah defisit pangan jenis komoditas tersebut,” pungkasnya. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/