alexametrics
32 C
Pontianak
Friday, July 1, 2022

Berharap pada Nuklir dan Panel Surya

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat H. Sutarmidji, S.H., M.Hum., menjadi narasumber pada Kegiatan Focus Group Discussion dengan tema “Ketahanan Energi Nasional Dalam Mendukung Industrialisasi Pulau Kalimantan”. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua DPD Republik Indonesia Ir. H. AA La Nyalla M. Mattalitti.

Dalam Forum ini, Gubernur Kalbar mengungkapkan dalam kurun satu tahun, Kalbar telah mengekspor 26 juta ton bauksit. Bauksit merupakan bahan baku untuk alumina ataupun alumunium, tetapi di dalam bauksit tersebut ada yang dinamakan tanah jarang. Tanah jarang ini digunakan untuk bahan baku komponen utama dari baterai, mobil listrik, dan lainnya.

“Untuk mengolah bauksit menjadi alumina, dibutuhkan energi dengan harga kurang lebih tujuh sen dollar. Kalau sampai dibeli harganya 15 sen dollar, itu tidak akan ekonomis dan tidak akan bisa bersaing,” ungkapnya di Aula IAIN Pontianak, Senin (14/6).

Dia juga mengungkapkan tidak hanya bauksit, Kalbar juga memiliki uranium termasuk yang terbaik setelah Provinsi NTT. Provinsi Kalbar memiliki sumber energi yang besar dan murah untuk mengolah sumber daya alam yang ada di Kalbar.

“Kalbar tidak hanya bauksit, tetapi kita (Kalbar)memiliki uranium yang cadangannya cukup besar,” ucapnya. H. Sutarmidji berharap, energi seperti nuklir dan panel surya bisa menjadi pilihan dan digunakan sebagai bentuk pertumbuhan energi di Kalbar.

Baca Juga :  Pengerjaan Waterfront Parit Besar-Sultan Muhammad Dimulai

“Mudah-mudahan nuklir dan panel surya menjadi pilihan dan segera direalisasikan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan Kalbar,” harapnya. Tanpa sumber energi yang terjamin, industri apapun dinilai sulit untuk bersaing karena hampir tidak ada yang tidak menggunakan energi termasuk industri rumah tangga.

Dia juga berharap, Kalbar dapat mengolah sumber daya alam menjadi bahan setengah jadi dan tidak hanya mengekspor bahan mentah saja maka Kalbar dapat menyumbangkan PDRB terbesar di Pulau Kalimantan.

“Kalau kita mempunyai energi yang baik dan mengolah sumber daya alam kita menjadi bahan setengah jadi dan tidak diekspor bahan mentah semua, maka Kalbar bisa menyumbang PDRB terbesar di Pulau Kalimantan,” tutup H. Sutarmidji.

Di tempat yang sama, Ketua DPD dalam sambutannya mengatakan energi memegang peranan yang sangat penting bagi kemajuan perekonomian. Berbagai hasil pembangunan menjadi tidak optimal tanpa ketersediaan energi yang mencukupi.

“Saat ini cadangan bahan bakar minyak Indonesia rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam  negeri selama 20 hari. Tentunya ini sangat rawan bagi sebuah ketahanan energi,” katanya.

Dia menyampaikan struktur Indonesia masih lemah karena mengandalkan Komoditas sumber daya alam, padahal kekayaan yang sesungguhnya bagi sebuah bangsa adalah terletak pada kualitas sumber daya manusia. “Dengan demikian, jika Kalbar ingin maju, maka mari kita desain kemajuan itu dengan mengandalkan kualitas sumber daya manusia,” ucap La Nyalla.

Baca Juga :  PLTN Bukan Solusi

Saat ini di Indonesia beroperasi beberapa kontraktor minyak asing. Para kontraktor asing tersebut menguasai sekitar 65 persen, atau 329 blok migas. Sementara perusahaan nasional hanya menguasai 24,27 persen, dan selebihnya adalah patungan antara perusahaan asing dan nasional.

“Para kontraktor asing hanya wajib menyetor 25 persen dari hasil produksi mereka untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini jelas merugikan Indonesia sebagai pemilik cadangan migas. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ketahanan energi Indonesia sangat rentan,” jelasnya.

La Nyalla menginginkan adanya terobosan bagi Kalbar yang dikenal sebagai provinsi yang merupakan pusat industri nasional, lumbung pangan, pusat riset dan pendidikan, serta memiliki kekayaan sumber daya alam yang tinggi.

“Saya ingin ada terobosan Provinsi Kalbar untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan secara berkelanjutan. Saya mendukung penggunaan sumber daya energi dalam skala besar termasuk energi nuklir,” harapnya.

Kegiatan ini juga turut dihadiri Peneliti Utama BATAN, Prof. Yohannes Sardjono, Anggota DPD Kalbar Sukiryanto, S.Ag., Rektor IAIN Pontianak Dr. H. Syarif, S.Ag., MA, serta Forkopimda Kalbar. (bar)

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat H. Sutarmidji, S.H., M.Hum., menjadi narasumber pada Kegiatan Focus Group Discussion dengan tema “Ketahanan Energi Nasional Dalam Mendukung Industrialisasi Pulau Kalimantan”. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua DPD Republik Indonesia Ir. H. AA La Nyalla M. Mattalitti.

Dalam Forum ini, Gubernur Kalbar mengungkapkan dalam kurun satu tahun, Kalbar telah mengekspor 26 juta ton bauksit. Bauksit merupakan bahan baku untuk alumina ataupun alumunium, tetapi di dalam bauksit tersebut ada yang dinamakan tanah jarang. Tanah jarang ini digunakan untuk bahan baku komponen utama dari baterai, mobil listrik, dan lainnya.

“Untuk mengolah bauksit menjadi alumina, dibutuhkan energi dengan harga kurang lebih tujuh sen dollar. Kalau sampai dibeli harganya 15 sen dollar, itu tidak akan ekonomis dan tidak akan bisa bersaing,” ungkapnya di Aula IAIN Pontianak, Senin (14/6).

Dia juga mengungkapkan tidak hanya bauksit, Kalbar juga memiliki uranium termasuk yang terbaik setelah Provinsi NTT. Provinsi Kalbar memiliki sumber energi yang besar dan murah untuk mengolah sumber daya alam yang ada di Kalbar.

“Kalbar tidak hanya bauksit, tetapi kita (Kalbar)memiliki uranium yang cadangannya cukup besar,” ucapnya. H. Sutarmidji berharap, energi seperti nuklir dan panel surya bisa menjadi pilihan dan digunakan sebagai bentuk pertumbuhan energi di Kalbar.

Baca Juga :  Ketua Demokrat Pontianak Ajak Jurnalis Ikut Lomba Fotografi dan Menulis

“Mudah-mudahan nuklir dan panel surya menjadi pilihan dan segera direalisasikan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan Kalbar,” harapnya. Tanpa sumber energi yang terjamin, industri apapun dinilai sulit untuk bersaing karena hampir tidak ada yang tidak menggunakan energi termasuk industri rumah tangga.

Dia juga berharap, Kalbar dapat mengolah sumber daya alam menjadi bahan setengah jadi dan tidak hanya mengekspor bahan mentah saja maka Kalbar dapat menyumbangkan PDRB terbesar di Pulau Kalimantan.

“Kalau kita mempunyai energi yang baik dan mengolah sumber daya alam kita menjadi bahan setengah jadi dan tidak diekspor bahan mentah semua, maka Kalbar bisa menyumbang PDRB terbesar di Pulau Kalimantan,” tutup H. Sutarmidji.

Di tempat yang sama, Ketua DPD dalam sambutannya mengatakan energi memegang peranan yang sangat penting bagi kemajuan perekonomian. Berbagai hasil pembangunan menjadi tidak optimal tanpa ketersediaan energi yang mencukupi.

“Saat ini cadangan bahan bakar minyak Indonesia rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam  negeri selama 20 hari. Tentunya ini sangat rawan bagi sebuah ketahanan energi,” katanya.

Dia menyampaikan struktur Indonesia masih lemah karena mengandalkan Komoditas sumber daya alam, padahal kekayaan yang sesungguhnya bagi sebuah bangsa adalah terletak pada kualitas sumber daya manusia. “Dengan demikian, jika Kalbar ingin maju, maka mari kita desain kemajuan itu dengan mengandalkan kualitas sumber daya manusia,” ucap La Nyalla.

Baca Juga :  PLTN Bukan Solusi

Saat ini di Indonesia beroperasi beberapa kontraktor minyak asing. Para kontraktor asing tersebut menguasai sekitar 65 persen, atau 329 blok migas. Sementara perusahaan nasional hanya menguasai 24,27 persen, dan selebihnya adalah patungan antara perusahaan asing dan nasional.

“Para kontraktor asing hanya wajib menyetor 25 persen dari hasil produksi mereka untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini jelas merugikan Indonesia sebagai pemilik cadangan migas. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ketahanan energi Indonesia sangat rentan,” jelasnya.

La Nyalla menginginkan adanya terobosan bagi Kalbar yang dikenal sebagai provinsi yang merupakan pusat industri nasional, lumbung pangan, pusat riset dan pendidikan, serta memiliki kekayaan sumber daya alam yang tinggi.

“Saya ingin ada terobosan Provinsi Kalbar untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan secara berkelanjutan. Saya mendukung penggunaan sumber daya energi dalam skala besar termasuk energi nuklir,” harapnya.

Kegiatan ini juga turut dihadiri Peneliti Utama BATAN, Prof. Yohannes Sardjono, Anggota DPD Kalbar Sukiryanto, S.Ag., Rektor IAIN Pontianak Dr. H. Syarif, S.Ag., MA, serta Forkopimda Kalbar. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/