alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, May 20, 2022

Banjir Hantam Sejumlah Daerah

PONTIANAK – Hujan ekstrem yang melanda Kalimantan Barat memicu banjir di sejumlah daerah di Kalimantan Barat. Beberapa wilayah yang tercatat dilanda banjir, seperti Kapuas Hulu, Sintang, Kayong Utara, Ketapang, Landak hingga Pontianak.

Di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak misalnya, banjir merendam sejumlah desa, Rabu (14/7) pagi. Ketinggian air semakin meningkat pada siang hari, sebanyak 26 warga terpaksa diungsikan ke Posko Pengungsian yang telah disiapkan.

Banjir terjadi akibat hujan yang melanda wilayah tersebut sejak Selasa (13/7) sore. Sungai tak lagi mampu menampung volume air hujan yang terus turun akhirnya meluap. Merendam sejumlah desa yang berada di sekitarnya. Material yang ikut terbawa derasnya sungai pun membuat satu jembatan di Desa Salatiga rusak.

Di Desa Mandor, ketinggian air di permukiman warga sekitar 60 – 200 cm dan di jalan raya Pontianak – Ngabang ketinggian air antara 30 – 80 cm. Ratusan warga terdampak yakni Dusun Mandor sebanyak 199 Rumah /KK, Dusun Kopiang sebanyak 14 rumah/KK, Dusun liansipi berjumlah 5 Rumah/KK. Sedangkan jumlah warga yang telah mengungsi sebanyak 25 orang.

 

Sementara di Desa Ngarak, banjir merendam pemukiman warga setinggi 30 – 80 cm dan dijalan raya Pontianak – Ngabang antara 30- 60 Cm, sedangkan jumlah rumah yang sudah terendam yakni, Dusun Ngarak sebanyak 43 Rumah /KK, Dusun Pak daceng berjumlah 57 rumah/KK dan Dusun pangkalan durian berjumlah 51 Rumah/KK.

Sementara Desa Kayutanam banjir merendam 30 rumah/KK warga di Dusun Kayutanam. Selanjutnya Desa Salatiga, tiga dusun terendam yakni Dusun Salatiga sebanyak 210 Rumah/KK, Dusun Singkong dalam berjumlah 84 rumah/KK, Dusun Sukaramai berjumlah 3 Rumah/KK. Satu buah jembatan yang menghubungkan Pontianak – Ngabang juga dilaporkan rusak parah.

Banjir juga melanda Desa Bebatung dengan ketinggian air di pemukiman warga sekitar 30 – 60 cm dan dijalan raya Pontianak – Ngabang antara 15 – 25 Cm. Sedangkan jumlah rumah yang sudah terendam, yakni Dusun Bebatung sebanyak 23 Rumah/KK dan Dusun Semangkiling berjumlah 5 rumah/KK.

Camat Mandor Arjudin mengatakan, sejumlah desa yang terendam yakni Desa Mandor, Kayutanam, Ngarak, Bebatung, Salatiga dan Selutung. Air mulai naik pada Rabu (14/7) dini hari.

Baca Juga :  Wali Kota Imbau Masyarakat Jangan Panik, Jaga Kebersihan Dan Hindari Tempat Ramai

“Kami dirikan posko banjir di Kantor Desa Mandor. Ada warga yang di evakuasi. Lansia, warga yang sedang sakit, warga yang baru saja melahirkan, ibu hamil dan anak-anak. Di sana juga ada dapur umum untuk warga terdampak,” kata Arjudin di Mandor saat dihubungi Pontianak Post, Rabu (14/7).

Ia mengatakan, hingga Rabu (14/7) air telah surut di beberapa desa. Sementara lainnya air masih bertahan. “Tidak ada korban jiwa. Air pun sudah mulai surut,” katanya.

Sementara itu, Kapolsek Mandor, Iptu Hengky Gunawan mengatakan pihaknya telah menurunkan personel sejak pagi untuk membantu warga evakuasi. Banjir juga merendam kantor Polsek Mandor beserta asrama personel. “Ada 25 jiwa yang diungsikan ke Kantor Desa Mandor,” jelas Kapolsek Mandor Iptu Hengki Gunawan di Mandor saat dihubungi Pontianak Post.

Ia menjelaskan, ketinggian air hingga siang terus meningkat. banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi dan luapan sungai.  Dirinya juga sudah memerintahkan anggota untuk plotting di titik-titik banjir. “Beberapa lansia sudah kita evakuasi ke Kantor Desa Mandor, cuaca masih mendung, air diperkirakan masih akan naik terus,” sambungnya.

Selain Landak, banjir juga merendam sejumlah wilayah di Ketapang. Tak hanya permukiman penduduk, air juga merendam sejumlah jalan raya. Bahkan, ruas Jalan Ketapang-Kendawangan terputus akibat banjir.

Banjir merendam sejumlah titik di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Matan Hilir Utara, Jelai Hulu, Tumbang Titi dan Kecamatan Sandai. Belum dapat dipastikan jumlah rumah yang terdampak banjir.

Selain merendam permukiman warga, banjir juga merendam beberapa titik di ruas Jalan Ketapang-Kendawangan. Bahkan, salah satu jembatan di ruas jalan tersebut, tepatnya di kawasan Padang 12, terputus. Akibatnya, kendaraan, khususnya kendaraan roda empat tidak bisa melintas.

Jembatan tersebut ambles karena pondasi digerus air. Ambruknya jembatan itu juga menyebabkan satu unit truk mengalami kerusakan yang cukup parah. Alhasil, kendaraan dari dan menuju Kota Ketapang sempat tidak dapat melintas. Namun, pihak kecamatan berkoordinasi dengan pihak terkait, kerusakan jembatan langsung ditimbun agar kendaraan bisa melintas.

Baca Juga :  Banjir Tetap Terapkan Prokes Ketat, Selalu Waspadai Virus Covid-19

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengatakan berdasarkan informasi sementara yang diperoleh pihaknya, daerah yang terdampak banjir adalah Kecamatan Matan Hilir Selatan, Matan Hilir Utara, Tumbang Titi, Sandai dan Kecamatan Jelai Hulu.

Pihaknya juga masih belum bisa memastikan apa-apa saja yang terdampak akibat hujan deras sejak Selasa (13/7). “Tim kami baru akan turun ke lapangan untuk melakukan pendataan di lapangan. Yang jelas, di Kecamatan Matan Hilir Selatan ada satu jembatan yang putus akibat banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Nanang Buchori, mengatakan hujan lebat hingga hujan kategori ekstrem terjadi di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat pada 13-14 Juli 2021. Berdasarkan data pengamatan 24 jam di delapan Stasiun Pengamatan BMKG Provinsi Kalimantan Barat, menunjukkan hujan kategori ekstrem terjadi Sambas, Mempawah dan Kubu Raya.

Hujan kategori sangat lebat terjadi di Kota Pontianak. Sedangkan hujan lebat terjadi di Melawi, Sintang, dan Ketapang. Sementara hujan sedang terjadi di Kapuas Hulu. “Genangan yang terjadi di wilayah Pesisir Barat Kalbar, yaitu di Sambas, Bengkayang, Singkawang, Mempawah, Pontianak, Kubu Raya, Kayong Utara dan Ketapang, selain dipicu oleh adanya hujan lebat hingga ekstrem, juga dipicu oleh pasang air laut maksimum pada saat yang bersamaan,” katanya.

Berdasarkan data water level yang diamati di Muara Sungai Kapuas oleh Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak menunjukkan adanya peningkatan tinggi muka air pada 13 Juli 2021 mulai pukul 20.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Puncak pasang terjadi pada 13 Juli 2021 pukul 23.00 WIB setinggi 268 centimeter. Pasang maksimum beberapa hari sebelumnya adalah 245 centimeter.

“Hari ini (kemarin; red) masih terjadi hujan di sebagian wilayah Kalbar dengan intensitas ringan hingga lebat. Wilayah yang diprakirakan masih terjadi hujan lebat terdapat di Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu,” ungkapnya.

Diprakirakan pada 15-20 Juli 2021 cuaca di wilayah Kalbar dominan berawan, tidak hujan dan panas. “Pada periode ini perlu diwaspadai potensi mudahnya terjadi kebakaran hutan dan lahan,” imbaunya. (mif/afi/dan)

PONTIANAK – Hujan ekstrem yang melanda Kalimantan Barat memicu banjir di sejumlah daerah di Kalimantan Barat. Beberapa wilayah yang tercatat dilanda banjir, seperti Kapuas Hulu, Sintang, Kayong Utara, Ketapang, Landak hingga Pontianak.

Di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak misalnya, banjir merendam sejumlah desa, Rabu (14/7) pagi. Ketinggian air semakin meningkat pada siang hari, sebanyak 26 warga terpaksa diungsikan ke Posko Pengungsian yang telah disiapkan.

Banjir terjadi akibat hujan yang melanda wilayah tersebut sejak Selasa (13/7) sore. Sungai tak lagi mampu menampung volume air hujan yang terus turun akhirnya meluap. Merendam sejumlah desa yang berada di sekitarnya. Material yang ikut terbawa derasnya sungai pun membuat satu jembatan di Desa Salatiga rusak.

Di Desa Mandor, ketinggian air di permukiman warga sekitar 60 – 200 cm dan di jalan raya Pontianak – Ngabang ketinggian air antara 30 – 80 cm. Ratusan warga terdampak yakni Dusun Mandor sebanyak 199 Rumah /KK, Dusun Kopiang sebanyak 14 rumah/KK, Dusun liansipi berjumlah 5 Rumah/KK. Sedangkan jumlah warga yang telah mengungsi sebanyak 25 orang.

 

Sementara di Desa Ngarak, banjir merendam pemukiman warga setinggi 30 – 80 cm dan dijalan raya Pontianak – Ngabang antara 30- 60 Cm, sedangkan jumlah rumah yang sudah terendam yakni, Dusun Ngarak sebanyak 43 Rumah /KK, Dusun Pak daceng berjumlah 57 rumah/KK dan Dusun pangkalan durian berjumlah 51 Rumah/KK.

Sementara Desa Kayutanam banjir merendam 30 rumah/KK warga di Dusun Kayutanam. Selanjutnya Desa Salatiga, tiga dusun terendam yakni Dusun Salatiga sebanyak 210 Rumah/KK, Dusun Singkong dalam berjumlah 84 rumah/KK, Dusun Sukaramai berjumlah 3 Rumah/KK. Satu buah jembatan yang menghubungkan Pontianak – Ngabang juga dilaporkan rusak parah.

Banjir juga melanda Desa Bebatung dengan ketinggian air di pemukiman warga sekitar 30 – 60 cm dan dijalan raya Pontianak – Ngabang antara 15 – 25 Cm. Sedangkan jumlah rumah yang sudah terendam, yakni Dusun Bebatung sebanyak 23 Rumah/KK dan Dusun Semangkiling berjumlah 5 rumah/KK.

Camat Mandor Arjudin mengatakan, sejumlah desa yang terendam yakni Desa Mandor, Kayutanam, Ngarak, Bebatung, Salatiga dan Selutung. Air mulai naik pada Rabu (14/7) dini hari.

Baca Juga :  Curah Hujan Tinggi, Ketungau Hilir Banjir Lagi

“Kami dirikan posko banjir di Kantor Desa Mandor. Ada warga yang di evakuasi. Lansia, warga yang sedang sakit, warga yang baru saja melahirkan, ibu hamil dan anak-anak. Di sana juga ada dapur umum untuk warga terdampak,” kata Arjudin di Mandor saat dihubungi Pontianak Post, Rabu (14/7).

Ia mengatakan, hingga Rabu (14/7) air telah surut di beberapa desa. Sementara lainnya air masih bertahan. “Tidak ada korban jiwa. Air pun sudah mulai surut,” katanya.

Sementara itu, Kapolsek Mandor, Iptu Hengky Gunawan mengatakan pihaknya telah menurunkan personel sejak pagi untuk membantu warga evakuasi. Banjir juga merendam kantor Polsek Mandor beserta asrama personel. “Ada 25 jiwa yang diungsikan ke Kantor Desa Mandor,” jelas Kapolsek Mandor Iptu Hengki Gunawan di Mandor saat dihubungi Pontianak Post.

Ia menjelaskan, ketinggian air hingga siang terus meningkat. banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi dan luapan sungai.  Dirinya juga sudah memerintahkan anggota untuk plotting di titik-titik banjir. “Beberapa lansia sudah kita evakuasi ke Kantor Desa Mandor, cuaca masih mendung, air diperkirakan masih akan naik terus,” sambungnya.

Selain Landak, banjir juga merendam sejumlah wilayah di Ketapang. Tak hanya permukiman penduduk, air juga merendam sejumlah jalan raya. Bahkan, ruas Jalan Ketapang-Kendawangan terputus akibat banjir.

Banjir merendam sejumlah titik di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Matan Hilir Utara, Jelai Hulu, Tumbang Titi dan Kecamatan Sandai. Belum dapat dipastikan jumlah rumah yang terdampak banjir.

Selain merendam permukiman warga, banjir juga merendam beberapa titik di ruas Jalan Ketapang-Kendawangan. Bahkan, salah satu jembatan di ruas jalan tersebut, tepatnya di kawasan Padang 12, terputus. Akibatnya, kendaraan, khususnya kendaraan roda empat tidak bisa melintas.

Jembatan tersebut ambles karena pondasi digerus air. Ambruknya jembatan itu juga menyebabkan satu unit truk mengalami kerusakan yang cukup parah. Alhasil, kendaraan dari dan menuju Kota Ketapang sempat tidak dapat melintas. Namun, pihak kecamatan berkoordinasi dengan pihak terkait, kerusakan jembatan langsung ditimbun agar kendaraan bisa melintas.

Baca Juga :  Tewas Gantung Diri di Pohon Karet

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengatakan berdasarkan informasi sementara yang diperoleh pihaknya, daerah yang terdampak banjir adalah Kecamatan Matan Hilir Selatan, Matan Hilir Utara, Tumbang Titi, Sandai dan Kecamatan Jelai Hulu.

Pihaknya juga masih belum bisa memastikan apa-apa saja yang terdampak akibat hujan deras sejak Selasa (13/7). “Tim kami baru akan turun ke lapangan untuk melakukan pendataan di lapangan. Yang jelas, di Kecamatan Matan Hilir Selatan ada satu jembatan yang putus akibat banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Nanang Buchori, mengatakan hujan lebat hingga hujan kategori ekstrem terjadi di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat pada 13-14 Juli 2021. Berdasarkan data pengamatan 24 jam di delapan Stasiun Pengamatan BMKG Provinsi Kalimantan Barat, menunjukkan hujan kategori ekstrem terjadi Sambas, Mempawah dan Kubu Raya.

Hujan kategori sangat lebat terjadi di Kota Pontianak. Sedangkan hujan lebat terjadi di Melawi, Sintang, dan Ketapang. Sementara hujan sedang terjadi di Kapuas Hulu. “Genangan yang terjadi di wilayah Pesisir Barat Kalbar, yaitu di Sambas, Bengkayang, Singkawang, Mempawah, Pontianak, Kubu Raya, Kayong Utara dan Ketapang, selain dipicu oleh adanya hujan lebat hingga ekstrem, juga dipicu oleh pasang air laut maksimum pada saat yang bersamaan,” katanya.

Berdasarkan data water level yang diamati di Muara Sungai Kapuas oleh Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak menunjukkan adanya peningkatan tinggi muka air pada 13 Juli 2021 mulai pukul 20.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Puncak pasang terjadi pada 13 Juli 2021 pukul 23.00 WIB setinggi 268 centimeter. Pasang maksimum beberapa hari sebelumnya adalah 245 centimeter.

“Hari ini (kemarin; red) masih terjadi hujan di sebagian wilayah Kalbar dengan intensitas ringan hingga lebat. Wilayah yang diprakirakan masih terjadi hujan lebat terdapat di Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu,” ungkapnya.

Diprakirakan pada 15-20 Juli 2021 cuaca di wilayah Kalbar dominan berawan, tidak hujan dan panas. “Pada periode ini perlu diwaspadai potensi mudahnya terjadi kebakaran hutan dan lahan,” imbaunya. (mif/afi/dan)

Most Read

Artikel Terbaru

/