alexametrics
30.6 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

WALHI Kecam Pernyataan Wiranto

“Saat pernyataan tersebut disampaikan, masyarakat peladang di daerah justru telah memasuki musim menanam padi atau menugal,” – Anton P. Widjaya, Direktur WALHI Kalbar

PONTIANAK – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Barat mengecam pernyataan Menkopolhukam Wiranto yang menuduh peladang sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pernyataan tersebut mereka nilai sebagai bentuk pembelaan kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit dan HTI pembakar lahan.

Mereka menyayangkan pernyataan tersebut lantaran disampaikan pada saat pemerintah dan aparat penegak hukum, tengah berupaya melakukan langkah penegakan hukum kepada sejumlah perusahaan pembakar hutan dan lahan di Kalbar. “Pernyataan Wiranto jelas kontradiktif dengan langkah penegakan hukum terhadap perusahaan pembakar hutan dan lahan yang saat ini sedang berproses,” geram Anton P. Widjaya, direktur WALHI Kalimantan Barat, kemarin.

Pada sisi lain, saat pernyataan tersebut dinilai dia aneh lantaran disampaikan ketika masyarakat peladang di daerah justru telah memasuki musim menanam padi atau menugal. “Bahkan ada di antara lahan ladang masyarakat yang telah ditumbuhi padi maupun jenis tanaman ladang lainnya,” kata dia.

Menurut Anton, pernyataan Wiranto seharusnya tidak menyesatkan. Diingatkan dia bahwa apa yang telah disampaikan perlu dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas, khususnya kepada kaum tani yang mempraktikkan kearifan lokalnya sebagaimana juga dilindungi undang-undang. Tuduhan sepihak kepada peladang sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan, ditegaskan dia, tidak tepat, sehingga harus dihentikan. “Apa yang disampaikan Beliau, kami nilai justru menegaskan keberpihakan Wiranto melalui institusi yang dipimpinnya kepada korporasi dan para penjahat lingkungan, serta mengerdilkan inisiatif negara menegakkan hukum lingkungan kepada perusahaan pembakar hutan dan lahan,” tambah Anton.

Baca Juga :  Takbir Berkumandang Tetapi Dengan Prokes Ketat.

Menjadikan pihak perusahaan sebagai bapak asuh para peladang dalam mengolah lahan pertanian, untuk mengalihkan praktik berladang dengan cara bakar, dinilai dia sebagai bentuk kegagalan negara. Negara, menurut dia, gagal mengakui dan menghormati kearifan lokal masyarakat adat, dalam budidaya pertanian asli yang merupakan praktik pertanian turun temurun yang digeluti komunitas-komunitas masyarakat adat.

Office manager Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih, R Giring juga menanggapi pernyataan Wiranto. “Pemahaman yang keliru tentang hakikat perladangan di Kalimantan dan di tanah air pada umumnya mesti segera diakhiri. Jika terus berlanjut, maka mungkin sekali kesalahpahaman tersebut bisa memicu konfli-konflik yang tidak perlu. Lalu, apa lagi yang berkontribusi terhadap kesalahpahaman itu?” ungkapnya.

Baca Juga :  Cegah Karhutla, PT PAL Bentuk  Masyarakat  Peduli  Api

Salah paham seperti ini, menurut dia, juga dikontribusikan oleh minimmya ruang diskusi atau dialog tentang praktik berladang yang berkearifan lokal ini. Diakui dia, hanya segelintir orang yang tertarik dengan tema yang jelas-jelas bukan tema komersial ini. Dia berpandangan bahwa bagi sebagian orang, pembahasan ini identik dengan tema tradisional, sehingga bertolak belakang dengan tema kemajuan-kemajuan dan modernisasi. “Sementara sedikit orang yang mau dan peduli mendiskusikan tema ini, publikasi tentang perladangan berkearifan lokal pun sangat sedikit,” kata dia menyayangkan.

Dia menjelaskan bahwa berladang sesuai kearifan lokal telah dijamin oleh Undang-UNdang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang tersebut menurut dia, telah memberikan pengecualian terhadap pembukaan lahan dengan cara dibakar maksimal 2 hektare, sebagaimana penjelasan pasal 69 (ayat 2). Pasal tersebut, menurut dia, telah menyatakan bahwa kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas maksimal 2 hektre perkepala keluarga, untuk ditanami jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegahan penjalaran api ke wilayah sekelilingnya. (iza)

“Saat pernyataan tersebut disampaikan, masyarakat peladang di daerah justru telah memasuki musim menanam padi atau menugal,” – Anton P. Widjaya, Direktur WALHI Kalbar

PONTIANAK – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Barat mengecam pernyataan Menkopolhukam Wiranto yang menuduh peladang sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pernyataan tersebut mereka nilai sebagai bentuk pembelaan kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit dan HTI pembakar lahan.

Mereka menyayangkan pernyataan tersebut lantaran disampaikan pada saat pemerintah dan aparat penegak hukum, tengah berupaya melakukan langkah penegakan hukum kepada sejumlah perusahaan pembakar hutan dan lahan di Kalbar. “Pernyataan Wiranto jelas kontradiktif dengan langkah penegakan hukum terhadap perusahaan pembakar hutan dan lahan yang saat ini sedang berproses,” geram Anton P. Widjaya, direktur WALHI Kalimantan Barat, kemarin.

Pada sisi lain, saat pernyataan tersebut dinilai dia aneh lantaran disampaikan ketika masyarakat peladang di daerah justru telah memasuki musim menanam padi atau menugal. “Bahkan ada di antara lahan ladang masyarakat yang telah ditumbuhi padi maupun jenis tanaman ladang lainnya,” kata dia.

Menurut Anton, pernyataan Wiranto seharusnya tidak menyesatkan. Diingatkan dia bahwa apa yang telah disampaikan perlu dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas, khususnya kepada kaum tani yang mempraktikkan kearifan lokalnya sebagaimana juga dilindungi undang-undang. Tuduhan sepihak kepada peladang sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan, ditegaskan dia, tidak tepat, sehingga harus dihentikan. “Apa yang disampaikan Beliau, kami nilai justru menegaskan keberpihakan Wiranto melalui institusi yang dipimpinnya kepada korporasi dan para penjahat lingkungan, serta mengerdilkan inisiatif negara menegakkan hukum lingkungan kepada perusahaan pembakar hutan dan lahan,” tambah Anton.

Baca Juga :  Janji Bangun Kembali SDN 19 Telayar

Menjadikan pihak perusahaan sebagai bapak asuh para peladang dalam mengolah lahan pertanian, untuk mengalihkan praktik berladang dengan cara bakar, dinilai dia sebagai bentuk kegagalan negara. Negara, menurut dia, gagal mengakui dan menghormati kearifan lokal masyarakat adat, dalam budidaya pertanian asli yang merupakan praktik pertanian turun temurun yang digeluti komunitas-komunitas masyarakat adat.

Office manager Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih, R Giring juga menanggapi pernyataan Wiranto. “Pemahaman yang keliru tentang hakikat perladangan di Kalimantan dan di tanah air pada umumnya mesti segera diakhiri. Jika terus berlanjut, maka mungkin sekali kesalahpahaman tersebut bisa memicu konfli-konflik yang tidak perlu. Lalu, apa lagi yang berkontribusi terhadap kesalahpahaman itu?” ungkapnya.

Baca Juga :  Kayong Utara Tetapkan Status Siaga Karhutla

Salah paham seperti ini, menurut dia, juga dikontribusikan oleh minimmya ruang diskusi atau dialog tentang praktik berladang yang berkearifan lokal ini. Diakui dia, hanya segelintir orang yang tertarik dengan tema yang jelas-jelas bukan tema komersial ini. Dia berpandangan bahwa bagi sebagian orang, pembahasan ini identik dengan tema tradisional, sehingga bertolak belakang dengan tema kemajuan-kemajuan dan modernisasi. “Sementara sedikit orang yang mau dan peduli mendiskusikan tema ini, publikasi tentang perladangan berkearifan lokal pun sangat sedikit,” kata dia menyayangkan.

Dia menjelaskan bahwa berladang sesuai kearifan lokal telah dijamin oleh Undang-UNdang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang tersebut menurut dia, telah memberikan pengecualian terhadap pembukaan lahan dengan cara dibakar maksimal 2 hektare, sebagaimana penjelasan pasal 69 (ayat 2). Pasal tersebut, menurut dia, telah menyatakan bahwa kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas maksimal 2 hektre perkepala keluarga, untuk ditanami jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegahan penjalaran api ke wilayah sekelilingnya. (iza)

Most Read

Midji : Masyarakat Jangan Panik

Jangan Ada Keramaian

Liburannya Penggemar Kecanggihan

Artikel Terbaru

/