alexametrics
26.7 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Tolak PLTN Sampai Ke Mentri ESDM RI

PONTIANAK—Tidak hanya suara ribuan mahasiswa berlanjut ke Ketua DPR RI di Jakarta, suara penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berada di Kalimantan Barat juga ikut digaungkan. Kementriaan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI sudah menerima berkas-berkas aspirasi sejumlah aktivis, masyarakat dan Aliansi Kalbar Tolak PLTN di Jakarta.

Pimpinan Sementara dan anggota DPRD Kalbar yang menerima aspirasi aktivis lingkungan dan Aliansi Kalbar Tolak PLTN, di Gedung DPRD Provinsi Kalbar, Kamis (10/10) sudah menyampaikan ke pusat.
”Seusai beraudiensi, maka kami (DPRD Kalbar) pertimbangkan isi tuntutan dan materi merupakan kewenangan pusat. Makanya diteruskan ke Kementriaan ESDM RI di Jakarta,” kata Edy R. Yacob Wakil Ketua DPRD Sementara di Jakarta.

Tony Kurniadi, politisi PAN lulusan Fakultas Teknik Untan bersuara lantang menyikapi nuklir. Menurutnya listrik tenaga nuklir hanya memberi manfaat bagi masyarakat selama 40 tahun saja. Sementara dampak buruknya mengintai paling sedikit 24.000 tahun.

“Tragedi Chernobyl (Ukraina sekarang) dan Fukushima (Jepang) gambaran nyatanya,” ujarnya.

Tony menyebutkan faktor utama penolakan masyarakat terhadap penggunaan nuklir umumnya masalah keselamatan. Jika reaktor sampai terganggu apalagi bocor, dampaknya memang cukup mengerikan.

Baca Juga :  Cornelis Kunjungi Sutarmidji, Bahas Pemekaran Kapuas Raya

Contoh paling ekstrem mungkin tragedi Chernobyl (Ukraina, saat itu masih menjadi bagian Uni Sovyet) pada April 1986. Ketika itu, terjadi ledakan di pembangkit listrik tenaga nuklir dan melepas partikel-partikel radioaktif ke udara. Wilayah Sovyet bagian barat dan sejumlah negara tetangga merasakan dampaknya.

Selain puluhan ribu orang meninggal dunia, warga juga masih menderita akibat berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi genetik. Dampak terhadap manusia, hewan, dan lingkungan akibat tragedi Chernobyl diperkirakan masih akan terjadi sampai 100 tahun mendatang.

Bahkan pemerintah Ukraina menyatakan area tersebut tidak aman dihuni manusia sampai setidaknya 20 ribu tahun lagi.
Tragedi Chernobyl sudah 34 tahun berlalu dan masih terasa dampaknya. Ada lagi tragedi nuklir yang terjadi belum terlalu lama, yaitu di Jepang pada 2011.

Pada Maret 2011, Jepang dilanda tsunami dan gempa bumi yang dahsyat. Tsunami setinggi 15 meter menghempas reaktor nuklir Fukushima dan merusak fasilitas pendingin di tiga reaktornya. Kerusakan ini menyebabkan tiga inti reaktor meleleh dalam tiga hari dan melepaskan partikel-partikel radioaktif.

Sama dengan Chernobyl, tragedi di Fukushima pun memperoleh skala maksimal yaitu tujuh dalam hal bencana nuklir. Perairan di wilayah tersebut tercemar radiasi, yang kemudian menjadi isu dunia. Tidak ada korban jiwa akibat radiasi ini, tetapi lebih dari 100 ribu orang terpaksa dievakuasi dari tempat tinggalnya.

Baca Juga :  Viral Load Rendah, Kemungkinan Menang Perang Tinggi

Bagaimana di Kalbar? Tony berharap jangan dikaji dari nilai besaran proyek atau kemandirian energinya saja. “Kaji dampak paling kentaranya.

Jangan juga sebut, mayoritas masyarakat setuju tanpa mereka tahu apa itu energi nuklir,” ujarnya.

Dia menyebutkan masih banyak energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik Kalbar atau pulau Kalimantan. Kalbar sangat mungkin belum terlalu defisit listrik, karena pemadaman terjadi akibat perawatan, perbaikan mesin tua termasuk alasan klasik tali kawat layangan. ”Nah, apakah Kalbar terlalu butuh dengan PLTN. Ini juga harus didalami Batan dan Pempus,” ucap dia.

Tony meminta energi terbarukan seperti Tenaga Air, Panas Bumi, Biofuel Biomassa, Tenaga Surya, Tenaga Angin, Gelombang Laut, Pasang Surut diperhatikan pemerintah pusat juga. Di Kalbar mana di antara energi paling cocok dibandingkan energi nuklir. “Energi seperti begini yang harusnya dikaji pemerintah,” usulnya.(den)

PONTIANAK—Tidak hanya suara ribuan mahasiswa berlanjut ke Ketua DPR RI di Jakarta, suara penolakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berada di Kalimantan Barat juga ikut digaungkan. Kementriaan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI sudah menerima berkas-berkas aspirasi sejumlah aktivis, masyarakat dan Aliansi Kalbar Tolak PLTN di Jakarta.

Pimpinan Sementara dan anggota DPRD Kalbar yang menerima aspirasi aktivis lingkungan dan Aliansi Kalbar Tolak PLTN, di Gedung DPRD Provinsi Kalbar, Kamis (10/10) sudah menyampaikan ke pusat.
”Seusai beraudiensi, maka kami (DPRD Kalbar) pertimbangkan isi tuntutan dan materi merupakan kewenangan pusat. Makanya diteruskan ke Kementriaan ESDM RI di Jakarta,” kata Edy R. Yacob Wakil Ketua DPRD Sementara di Jakarta.

Tony Kurniadi, politisi PAN lulusan Fakultas Teknik Untan bersuara lantang menyikapi nuklir. Menurutnya listrik tenaga nuklir hanya memberi manfaat bagi masyarakat selama 40 tahun saja. Sementara dampak buruknya mengintai paling sedikit 24.000 tahun.

“Tragedi Chernobyl (Ukraina sekarang) dan Fukushima (Jepang) gambaran nyatanya,” ujarnya.

Tony menyebutkan faktor utama penolakan masyarakat terhadap penggunaan nuklir umumnya masalah keselamatan. Jika reaktor sampai terganggu apalagi bocor, dampaknya memang cukup mengerikan.

Baca Juga :  Komisi II Kritik Mutasi Pejabat dan SILPA 2019

Contoh paling ekstrem mungkin tragedi Chernobyl (Ukraina, saat itu masih menjadi bagian Uni Sovyet) pada April 1986. Ketika itu, terjadi ledakan di pembangkit listrik tenaga nuklir dan melepas partikel-partikel radioaktif ke udara. Wilayah Sovyet bagian barat dan sejumlah negara tetangga merasakan dampaknya.

Selain puluhan ribu orang meninggal dunia, warga juga masih menderita akibat berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi genetik. Dampak terhadap manusia, hewan, dan lingkungan akibat tragedi Chernobyl diperkirakan masih akan terjadi sampai 100 tahun mendatang.

Bahkan pemerintah Ukraina menyatakan area tersebut tidak aman dihuni manusia sampai setidaknya 20 ribu tahun lagi.
Tragedi Chernobyl sudah 34 tahun berlalu dan masih terasa dampaknya. Ada lagi tragedi nuklir yang terjadi belum terlalu lama, yaitu di Jepang pada 2011.

Pada Maret 2011, Jepang dilanda tsunami dan gempa bumi yang dahsyat. Tsunami setinggi 15 meter menghempas reaktor nuklir Fukushima dan merusak fasilitas pendingin di tiga reaktornya. Kerusakan ini menyebabkan tiga inti reaktor meleleh dalam tiga hari dan melepaskan partikel-partikel radioaktif.

Sama dengan Chernobyl, tragedi di Fukushima pun memperoleh skala maksimal yaitu tujuh dalam hal bencana nuklir. Perairan di wilayah tersebut tercemar radiasi, yang kemudian menjadi isu dunia. Tidak ada korban jiwa akibat radiasi ini, tetapi lebih dari 100 ribu orang terpaksa dievakuasi dari tempat tinggalnya.

Baca Juga :  Kesal Lihat Ibu-ibu Antre Gas Melon dan Terus Berulang

Bagaimana di Kalbar? Tony berharap jangan dikaji dari nilai besaran proyek atau kemandirian energinya saja. “Kaji dampak paling kentaranya.

Jangan juga sebut, mayoritas masyarakat setuju tanpa mereka tahu apa itu energi nuklir,” ujarnya.

Dia menyebutkan masih banyak energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik Kalbar atau pulau Kalimantan. Kalbar sangat mungkin belum terlalu defisit listrik, karena pemadaman terjadi akibat perawatan, perbaikan mesin tua termasuk alasan klasik tali kawat layangan. ”Nah, apakah Kalbar terlalu butuh dengan PLTN. Ini juga harus didalami Batan dan Pempus,” ucap dia.

Tony meminta energi terbarukan seperti Tenaga Air, Panas Bumi, Biofuel Biomassa, Tenaga Surya, Tenaga Angin, Gelombang Laut, Pasang Surut diperhatikan pemerintah pusat juga. Di Kalbar mana di antara energi paling cocok dibandingkan energi nuklir. “Energi seperti begini yang harusnya dikaji pemerintah,” usulnya.(den)

Most Read

Artikel Terbaru

/