alexametrics
25.6 C
Pontianak
Thursday, May 19, 2022

164 Orang Anak Terlibat Dalam Pusaran Prostitusi Sepanjang 2021

Praktik prostitusi online kian massif terjadi di Kota Pontianak. Pelakunya tidak saja didominasi oleh orang dewasa, tetapi juga melibatkan anak-anak di bawah umur. Berikut laporan wartawan Pontianak Post, Arief Nugroho.

____

BEBERAPA hari lalu Kepolisian Daerah Kalimantan Barat membongkar sindikat prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur di Kota Pontianak. Dari kasus itu, polisi menetapkan sembilan orang sebagai tersangka. Satu di antaranya adalah ES. Polisi juga telah menyita barang bukti berupa telepon genggam, uang tunai yang diduga hasil transaksi, dan sejumlah alat kontrasepsi (kondom).

Dengan mengenakan baju tahanan berwarna biru, ES dan delapan tersangka lain hanya bisa tertunduk saat digiring polisi. Mereka ditangkap di empat hotel yang berbeda. ES sendiri diamankan bersama 23 orang lainnya berada di salah satu hotel di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak. Dari 23 orang itu, tujuh di antaranya adalah anak di bawah umur.

Polisi mencurigai ES sebagai muncikari atas lima orang korban. Dua di antaranya anak di bawah umur.  Kepada polisi, ia mengaku sudah menjalankan praktik esek-esek ini sejak setahun lalu. Modusnya dengan menawarkan lima orang korban tersebut melalui media sosial atau aplikasi MiChat kepada laki-laki hidung belang.

Ia memasang tarif antara Rp300 ribu hingga Rp600 ribu, sekali kencan. Dari besaran tarif itu, ES, mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 100 ribu hingga Rp. 200 ribu, tergantung kesepakatan.

Praktik prostitusi online menggunakan jejaring media sosial saat ini sedang populer di Kota Pontianak. Untuk menjalankan bisnisnya itu, para pelaku menyewa kamar hotel. Mulai dari hotel kelas melati hingga hotel berbintang. Bukan hanya untuk satu atau dua malam saja, tetapi mereka bisa menyewa kamar hotel dengan hitungan minggu bahkan bulan.

Data Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar sepanjang tahun 2020 hingga 2021 mencatat setidaknya ada 164 orang anak di bawah umur yang terlibat prostitusi tersebut.  Mirisnya, sebagian dari mereka adalah anak-anak usia pelajar, baik Sekolah Menengah Pertama (SMP), ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Tidak sedikit pula yang berstatus tidak bersekolah atau putus sekolah.

Baca Juga :  Klaim Rumah Sakit Covid-19 Capai Rp 12 Triliun

“Kami sudah mencatat by name, by address dan by school,” kata Alik R Rosyad, Ketua Divisi Data Informasi dan Hubungan Antar Lembaga KPPAD Kalbar, kemarin. Menurutnya, dari 164 anak terlibat, tidak semuanya sebagai korban. Ada juga sebagai saksi dan pelaku.

“Bahkan ada sebagian dari mereka yang sudah melakukan kegiatan ini lebih dari satu kali. Dua, tiga, empat atau lebih dari itu,” lanjutnya.

Alik menyebutkan, praktik prostitusi yang melibatkan anak-anak tersebut terbagi menjadi dua tipe atau golongan. Tipe pertama adalah anak-anak dengan orientasi having fun atau suka-suka. Tipe ini biasanya berkelompok. Hasil atau fee yang diperoleh biasanya digunakan untuk bersenang-senang, seperti makan, minum, atau  memperpanjang sewa hotel.

“Tipe ini biasanya tarifnya murah. Antara Rp300 ribu hingga Rp.600 ribu,” katanya.

Sedangkan tipe kedua adalah profit oriented (bertujuan benar-benar mencari uang/bisnis). Tipe ini biasanya bekerja sendiri-sendiri. Ada juga yang melalui muncikari. Untuk tarif, mereka menawarkan dengan harga yang lebih mahal, antara Rp.700 ribu hingga Rp1,5 juta sekali kencan.  “Kelasnya juga berbeda dengan tipe pertama,” katanya.

Lantas apa yang melatarbelangi anak-anak ini terlibat dalam pusaran prostitusi?

Berdasarkan data yang dihimpun KPPAD, kata Alik, ada beberapa faktor, di antaranya adalah faktor pendidikan dan ekonomi. Tapi tidak menutup kemungkinan adanya faktor lingkungan atau pergaulan.

“Ada banyak faktor. Tapi memang tidak bisa pungkiri mereka berasal dari berbagai latar belakang, baik pendidikan, ekonomi, dan lingkungan,” kata Alik. Ada beberapa dari mereka berasal dari pendidikan yang rendah. Keluarga yang broken home sehingga kurang perhatian. Tetapi ada juga yang berasal dari keluarga berada.

Apakah di kota-kota lain tidak ada prostitusi serupa? Menurut Alik, praktik seperti ini jamak dan terjadi di kota-kota besar lain di Indonesia.  Hanya saja, mungkin di kota-kota lain penegakan hukumnya tidak seperti di Kota Pontianak.

“Memang, di satu sisi dengan terungkapnya fakta-fakta ini agak kurang nyaman, tapi di sisi lain, ini merupakan kebaikan. Artinya instansi terkait seperti pemerintah, aparat penegak hukumnya berjalan dengan baik. Terutama langkah-langkah preventif dan juga penanganannya,” klaim Alik.

Baca Juga :  Temuan Prostitusi Anak Bawah Umur

Hal yang menjadi kendala, kata Alik, para pengguna jasa prostitusi itu masih jarang tersentuh. Padahal dalam kasus seperti ini ada dua kemungkinan pelanggaran hukumnya  yakni human trafficking dan persetubuhan. Namun, hingga saat ini pasal yang dikenakan kepada pelaku lebih pada human trafficking. “Kalaupun ada masih sangat jarang, menggunakan pasal persetubuhan,” terangnya.

Untuk itu, pihaknya mendorong agar aparat penegak hukum juga menerapkan pasal persetubuhan terhadap para orang dewasa yang menggunakan jasa prostitusi, terutama anak-anak di bawah umur.

“Kami Komisi Perlindungan Anak (KPA) lebih mendorong ke sana. Kalau banyak orang dewasa yang terjerat tentu akan mengurangi kasus. Ini perlu kesepahaman semua pihak” harapnya. Lantas bagaimana dengan hotel yang digunakan sebagai tempat praktik prostitusi?

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar, Yuliardi Qamal mengatakan, pihaknya tidak akan membiarkan tempat usahanya menjadi praktik prostitusi. Namun demikian, kata Qamal, hotel atau penginapan yang berfungsi sebagai tempat untuk beristirahat, kerap disalahgunakan.

“Saya selaku Ketua PHRI Kalbar tidak bosan-bosannya mengimbau kepada anggota saya, untuk lebih ketat menjaga kemungkinan prostitusi anak di bawah umur ini. Mulai dari meneliti secara saksama identitas tamu yang menginap, dan selalu melakukan razia internal serta selalu proaktif  untuk melaporkan ke instansi terkait,” ujar Qamal dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Namun, kata Qamal, jika masih ada yang melanggar, sanksi dapat diberikan, baik berupa peringatan maupun administratif.  “Jika memang masih ada yang nakal, silakan untuk memberi sanksi. Kami tidak akan melindungi anggota yang nakal seperti itu,” tegasnya.

“Yang pasti, kami para pengusaha yang bergerak di bidang jasa perhotelan, tidak hanya memikirkan keuntungan saja.  Tapi kami juga sebagai masyarakat umum. Orangtua yang mempunyai anak, juga merasa bertanggung jawab dan peduli dengan maraknya kasus prostitusi anak di bawah umur ini,” sambungnya. (*)

Praktik prostitusi online kian massif terjadi di Kota Pontianak. Pelakunya tidak saja didominasi oleh orang dewasa, tetapi juga melibatkan anak-anak di bawah umur. Berikut laporan wartawan Pontianak Post, Arief Nugroho.

____

BEBERAPA hari lalu Kepolisian Daerah Kalimantan Barat membongkar sindikat prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur di Kota Pontianak. Dari kasus itu, polisi menetapkan sembilan orang sebagai tersangka. Satu di antaranya adalah ES. Polisi juga telah menyita barang bukti berupa telepon genggam, uang tunai yang diduga hasil transaksi, dan sejumlah alat kontrasepsi (kondom).

Dengan mengenakan baju tahanan berwarna biru, ES dan delapan tersangka lain hanya bisa tertunduk saat digiring polisi. Mereka ditangkap di empat hotel yang berbeda. ES sendiri diamankan bersama 23 orang lainnya berada di salah satu hotel di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak. Dari 23 orang itu, tujuh di antaranya adalah anak di bawah umur.

Polisi mencurigai ES sebagai muncikari atas lima orang korban. Dua di antaranya anak di bawah umur.  Kepada polisi, ia mengaku sudah menjalankan praktik esek-esek ini sejak setahun lalu. Modusnya dengan menawarkan lima orang korban tersebut melalui media sosial atau aplikasi MiChat kepada laki-laki hidung belang.

Ia memasang tarif antara Rp300 ribu hingga Rp600 ribu, sekali kencan. Dari besaran tarif itu, ES, mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 100 ribu hingga Rp. 200 ribu, tergantung kesepakatan.

Praktik prostitusi online menggunakan jejaring media sosial saat ini sedang populer di Kota Pontianak. Untuk menjalankan bisnisnya itu, para pelaku menyewa kamar hotel. Mulai dari hotel kelas melati hingga hotel berbintang. Bukan hanya untuk satu atau dua malam saja, tetapi mereka bisa menyewa kamar hotel dengan hitungan minggu bahkan bulan.

Data Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar sepanjang tahun 2020 hingga 2021 mencatat setidaknya ada 164 orang anak di bawah umur yang terlibat prostitusi tersebut.  Mirisnya, sebagian dari mereka adalah anak-anak usia pelajar, baik Sekolah Menengah Pertama (SMP), ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Tidak sedikit pula yang berstatus tidak bersekolah atau putus sekolah.

Baca Juga :  Kodim 1207/BS Bentuk Satgas Desa Tangkal Covid-19

“Kami sudah mencatat by name, by address dan by school,” kata Alik R Rosyad, Ketua Divisi Data Informasi dan Hubungan Antar Lembaga KPPAD Kalbar, kemarin. Menurutnya, dari 164 anak terlibat, tidak semuanya sebagai korban. Ada juga sebagai saksi dan pelaku.

“Bahkan ada sebagian dari mereka yang sudah melakukan kegiatan ini lebih dari satu kali. Dua, tiga, empat atau lebih dari itu,” lanjutnya.

Alik menyebutkan, praktik prostitusi yang melibatkan anak-anak tersebut terbagi menjadi dua tipe atau golongan. Tipe pertama adalah anak-anak dengan orientasi having fun atau suka-suka. Tipe ini biasanya berkelompok. Hasil atau fee yang diperoleh biasanya digunakan untuk bersenang-senang, seperti makan, minum, atau  memperpanjang sewa hotel.

“Tipe ini biasanya tarifnya murah. Antara Rp300 ribu hingga Rp.600 ribu,” katanya.

Sedangkan tipe kedua adalah profit oriented (bertujuan benar-benar mencari uang/bisnis). Tipe ini biasanya bekerja sendiri-sendiri. Ada juga yang melalui muncikari. Untuk tarif, mereka menawarkan dengan harga yang lebih mahal, antara Rp.700 ribu hingga Rp1,5 juta sekali kencan.  “Kelasnya juga berbeda dengan tipe pertama,” katanya.

Lantas apa yang melatarbelangi anak-anak ini terlibat dalam pusaran prostitusi?

Berdasarkan data yang dihimpun KPPAD, kata Alik, ada beberapa faktor, di antaranya adalah faktor pendidikan dan ekonomi. Tapi tidak menutup kemungkinan adanya faktor lingkungan atau pergaulan.

“Ada banyak faktor. Tapi memang tidak bisa pungkiri mereka berasal dari berbagai latar belakang, baik pendidikan, ekonomi, dan lingkungan,” kata Alik. Ada beberapa dari mereka berasal dari pendidikan yang rendah. Keluarga yang broken home sehingga kurang perhatian. Tetapi ada juga yang berasal dari keluarga berada.

Apakah di kota-kota lain tidak ada prostitusi serupa? Menurut Alik, praktik seperti ini jamak dan terjadi di kota-kota besar lain di Indonesia.  Hanya saja, mungkin di kota-kota lain penegakan hukumnya tidak seperti di Kota Pontianak.

“Memang, di satu sisi dengan terungkapnya fakta-fakta ini agak kurang nyaman, tapi di sisi lain, ini merupakan kebaikan. Artinya instansi terkait seperti pemerintah, aparat penegak hukumnya berjalan dengan baik. Terutama langkah-langkah preventif dan juga penanganannya,” klaim Alik.

Baca Juga :  Usut Tuntas

Hal yang menjadi kendala, kata Alik, para pengguna jasa prostitusi itu masih jarang tersentuh. Padahal dalam kasus seperti ini ada dua kemungkinan pelanggaran hukumnya  yakni human trafficking dan persetubuhan. Namun, hingga saat ini pasal yang dikenakan kepada pelaku lebih pada human trafficking. “Kalaupun ada masih sangat jarang, menggunakan pasal persetubuhan,” terangnya.

Untuk itu, pihaknya mendorong agar aparat penegak hukum juga menerapkan pasal persetubuhan terhadap para orang dewasa yang menggunakan jasa prostitusi, terutama anak-anak di bawah umur.

“Kami Komisi Perlindungan Anak (KPA) lebih mendorong ke sana. Kalau banyak orang dewasa yang terjerat tentu akan mengurangi kasus. Ini perlu kesepahaman semua pihak” harapnya. Lantas bagaimana dengan hotel yang digunakan sebagai tempat praktik prostitusi?

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar, Yuliardi Qamal mengatakan, pihaknya tidak akan membiarkan tempat usahanya menjadi praktik prostitusi. Namun demikian, kata Qamal, hotel atau penginapan yang berfungsi sebagai tempat untuk beristirahat, kerap disalahgunakan.

“Saya selaku Ketua PHRI Kalbar tidak bosan-bosannya mengimbau kepada anggota saya, untuk lebih ketat menjaga kemungkinan prostitusi anak di bawah umur ini. Mulai dari meneliti secara saksama identitas tamu yang menginap, dan selalu melakukan razia internal serta selalu proaktif  untuk melaporkan ke instansi terkait,” ujar Qamal dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Namun, kata Qamal, jika masih ada yang melanggar, sanksi dapat diberikan, baik berupa peringatan maupun administratif.  “Jika memang masih ada yang nakal, silakan untuk memberi sanksi. Kami tidak akan melindungi anggota yang nakal seperti itu,” tegasnya.

“Yang pasti, kami para pengusaha yang bergerak di bidang jasa perhotelan, tidak hanya memikirkan keuntungan saja.  Tapi kami juga sebagai masyarakat umum. Orangtua yang mempunyai anak, juga merasa bertanggung jawab dan peduli dengan maraknya kasus prostitusi anak di bawah umur ini,” sambungnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/