alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Menilik Lebih Dekat Operasi Bedah Jantung di Kalbar

Daftar Tunggu Satu Tahun, Datangkan Ahli Dari Jakarta

Rumah Sakit Swasta St Antonius kembali mendatangkan dua dokter bedah jantung dari Jakarta. Februari lalu, operasi bedah jantung pertama di Kalbar sukses dilaksanakan. Kali ini operasi bedah jantung kembali dilakukan. Ada tiga pasien yang ditangani untuk kasus Patent ductus arteriosus (PDA), yakni dua balita dan satu dewasa.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

Antrean untuk operasi bedah jantung kian lama. Setidaknya pasien membutuhkan waktu lebih kurang satu tahun lamanya. Demikian dr. David Hutagaol, Sp.BTKV, FIHA mengawali cerita saat ditemui di RS St Antonius.

Menurut dia, baru ada sekitar 150-an dokter bedah jantung se-Indonesia. Sementara rumah sakit yang bisa melakukan operasi bedah jantung tidak banyak. “Tidak hanya tenaga medisnya saja, tetapi juga fasilitas. Di Kalimantan yang sudah jadi centre bedah jantung itu baru di Samarinda. Di Jawa sih banyak ya. Di Sulawesi baru Makasar sama Manado, kemudian di Bali juga ada,” kata dia, Sabtu (14/9).

David mengatakan, penyakit jantung dibagi dua ada yang dewasa dan anak. Kelainan anatomi atau kelainan bentuk di dalam jantungnya atau kelainan jantung bawaan umumnya dialami anak-anak. Penangannya bergantung kondisi masing-masing pasien, dan kelainan yang dialami. “Kongenital (kelainan bawaan) di Indonesia banyak sekali kasusnya. Banyak kiriman pasien dari daerah bisa sampai 1 tahun antre, dengan kita bisa mengerjakan seperti ini di daerah pasien tidak menunggu lama untuk mendapatkan tindakan,” ucap dia mengapreasiasi RS St Antonius.

Di Kalbar, lanjut dia, baru RS St Antonius yang melakukan pembedahan jantung. Ini operasi kali kedua, setelah sukses melakukan operasi pada Februari lalu. Operasi perdana kasusnya lebih berat, sebab pasien sudah sangat ketergantungan dengan ventilator dengan usia saat itu masih tujuh bulan.
Ditemani Dr. Dhama Shinta Susanti, Sp.BTKV(K) yang sudah siap dengan pakaian hijaunya, kedua dokter ini pun masuk ke ruangan operasi. Di bantu satu tenaga medis lainnya, keduanya melakukan tindakan operasi pasien yang berusia satu tahun. Di bawah sinar lampu operasi yang terang, keduanya melakukan koreksi pada jantung pasien untuk melakukan penutupan PDA.

Baca Juga :  Meriahkan HUT RI Dokter dan Paramedis Klinik Hewan Purnama Kenakan Pakaian Adat

Gejala PDA tergantung pada ukuran ductus arteriosus yang terbuka. PDA dengan bukaan kecil kadang tidak menimbulkan gejala apa pun, bahkan sampai dewasa. Sedangkan PDA dengan terbuka lebar dapat menyebabkan gagal jantung pada bayi, tidak lama setelah bayi lahir.

David menjelaskan, Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kelainan bawaan jantung, di mana pembuluh darah sementara bernama duktus arteriosus yang tidak menutup setelah bayi lahir. Duktus arteriosus merupakan penghubung antara aorta dan arteri pulmonari. Menurutnya, pembuluh darah yang keluar dari jantung itu ada dua. Satu yang ke seluruh tubuh satu yang ke paru-paru. Keduanya, kata dia tidak saling berhubungan.

“Yang PDA ini menghubungkan aorta ini ke pulmonari, sehingga darah yang dipompa harusnya ke seluruh tubuh dipompa juga ke paru-paru, sehingga paru-paru kebanjiran. Lama-lama parunya jadi berat kerjanya,” ungkap dia.

Layaknya orang tenggelam, kata David, akan berusaha untuk bernafas dengan baik. Jika tidak ditolong bisa mati tenggelam. “Sama ini, ini kalau paru-paru kebanjiran, lama-lama kerja paru tidak baik, nah, kalau paru-paru masih cukup oke, tidak ada peningkatan tekanan, biasanya operasi lebih enak,” ujar dia.

Baca Juga :  Midji Targetkan Akhir Tahun Vaksinasi di Kalbar Capai 50 Persen

Dr Dhama Shinta Susanti menambahkan, jika ada tekanan tinggi di paru-paru maka pendekatan yang dilakukan akan sedikit berbeda. Untuk kali ini, kata dia tekanan di paru-paru pasien lebih stabil.

Sedangan untuk penanganan kasus PDA yang terjadi pada pasien anak-anak atau pun dewasa secara umum sama. Hanya saja, kata dia tingkat kerumitan pasien dewasa sedikit agak lebih rumit. Semakin dewasa usia pasien, saluran PDA semakin rapuh, rentan terjadi pengapuran. Sedangkan pada usia anak-anak pembuluh darahnya elastis. “Pengikatannya lebih hati-hati, untuk penatalaksanaan lainnya sama,” jelas dia.

Pada orang dewasa, saat melakukan penutupan, rawan terjadi pecah, bisa perdarahan hebat, bahkan bisa sebabkan kematian. Sedangkan untuk proses pemulihan, bergantung kondisi pasien dan perawatan pasca operasi. Sebab itu, kata dia pendekatan di kamar ICU sedikit lebih berbeda dari pasien penyakit lainnya, untuk mengontrol kondisi jantung, tekanan paru-paru, kebutuhan cairan hingga pencegahan infeksi dengan baik.

Dr. Petrus Hasibuan, Wakil Direktur RS St Antonius Bagian Pelayanan Medic RS St Antonius, mengatakan pihaknya mendatangkan dokter dari Jakarta untuk membantu penyembuhan pasien secara cepat. Pihaknya juga berharap, penanganan ini bisa berkelanjutan. Lebih banyak pasien yang ditangani, kata dia akan semakin mengefisiensi biaya yang dikeluarkan. “Kami harap ini bisa berkelanjutan. Begitu ada pasien dengan spesifik seperti ini, bisa cepat dilakukan penanganan. Tidak usah jauh-jauh. Di sini saja,” pungkasnya. (*)

Daftar Tunggu Satu Tahun, Datangkan Ahli Dari Jakarta

Rumah Sakit Swasta St Antonius kembali mendatangkan dua dokter bedah jantung dari Jakarta. Februari lalu, operasi bedah jantung pertama di Kalbar sukses dilaksanakan. Kali ini operasi bedah jantung kembali dilakukan. Ada tiga pasien yang ditangani untuk kasus Patent ductus arteriosus (PDA), yakni dua balita dan satu dewasa.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

Antrean untuk operasi bedah jantung kian lama. Setidaknya pasien membutuhkan waktu lebih kurang satu tahun lamanya. Demikian dr. David Hutagaol, Sp.BTKV, FIHA mengawali cerita saat ditemui di RS St Antonius.

Menurut dia, baru ada sekitar 150-an dokter bedah jantung se-Indonesia. Sementara rumah sakit yang bisa melakukan operasi bedah jantung tidak banyak. “Tidak hanya tenaga medisnya saja, tetapi juga fasilitas. Di Kalimantan yang sudah jadi centre bedah jantung itu baru di Samarinda. Di Jawa sih banyak ya. Di Sulawesi baru Makasar sama Manado, kemudian di Bali juga ada,” kata dia, Sabtu (14/9).

David mengatakan, penyakit jantung dibagi dua ada yang dewasa dan anak. Kelainan anatomi atau kelainan bentuk di dalam jantungnya atau kelainan jantung bawaan umumnya dialami anak-anak. Penangannya bergantung kondisi masing-masing pasien, dan kelainan yang dialami. “Kongenital (kelainan bawaan) di Indonesia banyak sekali kasusnya. Banyak kiriman pasien dari daerah bisa sampai 1 tahun antre, dengan kita bisa mengerjakan seperti ini di daerah pasien tidak menunggu lama untuk mendapatkan tindakan,” ucap dia mengapreasiasi RS St Antonius.

Di Kalbar, lanjut dia, baru RS St Antonius yang melakukan pembedahan jantung. Ini operasi kali kedua, setelah sukses melakukan operasi pada Februari lalu. Operasi perdana kasusnya lebih berat, sebab pasien sudah sangat ketergantungan dengan ventilator dengan usia saat itu masih tujuh bulan.
Ditemani Dr. Dhama Shinta Susanti, Sp.BTKV(K) yang sudah siap dengan pakaian hijaunya, kedua dokter ini pun masuk ke ruangan operasi. Di bantu satu tenaga medis lainnya, keduanya melakukan tindakan operasi pasien yang berusia satu tahun. Di bawah sinar lampu operasi yang terang, keduanya melakukan koreksi pada jantung pasien untuk melakukan penutupan PDA.

Baca Juga :  Turunkan Stunting, BKB, PKB Dibekali Peningkatan Kapasitas Pelaksana Program

Gejala PDA tergantung pada ukuran ductus arteriosus yang terbuka. PDA dengan bukaan kecil kadang tidak menimbulkan gejala apa pun, bahkan sampai dewasa. Sedangkan PDA dengan terbuka lebar dapat menyebabkan gagal jantung pada bayi, tidak lama setelah bayi lahir.

David menjelaskan, Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kelainan bawaan jantung, di mana pembuluh darah sementara bernama duktus arteriosus yang tidak menutup setelah bayi lahir. Duktus arteriosus merupakan penghubung antara aorta dan arteri pulmonari. Menurutnya, pembuluh darah yang keluar dari jantung itu ada dua. Satu yang ke seluruh tubuh satu yang ke paru-paru. Keduanya, kata dia tidak saling berhubungan.

“Yang PDA ini menghubungkan aorta ini ke pulmonari, sehingga darah yang dipompa harusnya ke seluruh tubuh dipompa juga ke paru-paru, sehingga paru-paru kebanjiran. Lama-lama parunya jadi berat kerjanya,” ungkap dia.

Layaknya orang tenggelam, kata David, akan berusaha untuk bernafas dengan baik. Jika tidak ditolong bisa mati tenggelam. “Sama ini, ini kalau paru-paru kebanjiran, lama-lama kerja paru tidak baik, nah, kalau paru-paru masih cukup oke, tidak ada peningkatan tekanan, biasanya operasi lebih enak,” ujar dia.

Baca Juga :  Wali Kota Pontianak Puji Peran Perempuan dalam Percepatan Vaksinasi

Dr Dhama Shinta Susanti menambahkan, jika ada tekanan tinggi di paru-paru maka pendekatan yang dilakukan akan sedikit berbeda. Untuk kali ini, kata dia tekanan di paru-paru pasien lebih stabil.

Sedangan untuk penanganan kasus PDA yang terjadi pada pasien anak-anak atau pun dewasa secara umum sama. Hanya saja, kata dia tingkat kerumitan pasien dewasa sedikit agak lebih rumit. Semakin dewasa usia pasien, saluran PDA semakin rapuh, rentan terjadi pengapuran. Sedangkan pada usia anak-anak pembuluh darahnya elastis. “Pengikatannya lebih hati-hati, untuk penatalaksanaan lainnya sama,” jelas dia.

Pada orang dewasa, saat melakukan penutupan, rawan terjadi pecah, bisa perdarahan hebat, bahkan bisa sebabkan kematian. Sedangkan untuk proses pemulihan, bergantung kondisi pasien dan perawatan pasca operasi. Sebab itu, kata dia pendekatan di kamar ICU sedikit lebih berbeda dari pasien penyakit lainnya, untuk mengontrol kondisi jantung, tekanan paru-paru, kebutuhan cairan hingga pencegahan infeksi dengan baik.

Dr. Petrus Hasibuan, Wakil Direktur RS St Antonius Bagian Pelayanan Medic RS St Antonius, mengatakan pihaknya mendatangkan dokter dari Jakarta untuk membantu penyembuhan pasien secara cepat. Pihaknya juga berharap, penanganan ini bisa berkelanjutan. Lebih banyak pasien yang ditangani, kata dia akan semakin mengefisiensi biaya yang dikeluarkan. “Kami harap ini bisa berkelanjutan. Begitu ada pasien dengan spesifik seperti ini, bisa cepat dilakukan penanganan. Tidak usah jauh-jauh. Di sini saja,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/