alexametrics
30 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Geliat Bisnis Sayuran Organik di Masa Pandemi Covid

Petani Kewalahan Penuhi Permintaan yang Naik Dua Kali Lipat

Pandemi Covid-19 membuat banyak orang sadar pentingnya menjaga kesehatan. Selain dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan, konsumsi makanan sehat juga menjadi tren baru. Permintaan terhadap sayuran organik meningkat. Hal ini menjadi berkah untuk para petani hidroponik di Kota Pontianak.

ARISTONO, Pontianak

WILLY Low, salah seorang petani organik Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara adalah salah satu yang ketiban rezeki. Ia mengaku kewalahan dalam memenuhi permintaan konsumen. “Permintaannya dua kali lipat dari sebelum pandemi. Kami sampai kewalahan. Maklum lahan milik kami tidak terlalu besar. Sedangkan pertanian hidroponik di Pontianak saat ini belum terlalu banyak sehingga para pemain lama kebanjiran order. Bisa puluhan hingga ratusan pack terjual sehari,” ujar pria berusia 35 tahun ini.

Baca Juga :  Serahkan 12 Ambulans ke Kejati, Midji Minta Jaksa Ungkap Dugaan Penyimpangan

Memiliki brand Lowes Hydrofarm, dia memasok produksinya ke pasar-pasar modern di Pontianak dan sekitarnya. Selain itu ada juga konsumen yang langsung datang ke tempatnya. Berbagai jenis sayuran ditanam di lahan seluas 20 x 13 meter miliknya. Di antaranya samhong, pakcoy, sawi putih, kailan, kangkung, sawi manis, caisim, bayam, selada, kale, dan mint. Jumlahnya ada 200 lubang hidproponik.

Memulai usaha sejak setahun lalu, dia tak menyangka minat orang untuk mengkonsumsi sayuran organik kini begitu besar. Dalam sebulan dia bisa menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah. Penghasilannya kini jauh lebih besar dibandingkan saat dia menjadi driver taksi online setahun lampau. Bahkan kini dia sudah mempekerjakan karyawan.

Dia memaparkan, hidroponik merupakan salah satu sistem tanam yang menggunakan media air yang tata cara tanamnya hampir sama seperti sistem tanam konvensional. Hidroponik adalah sistem pertanian modern memanfaatkan lahan perkotaan yang sudah semakin sempit. Maka, sistem pertanian pengerjaannya lebih mudah dibanding konvensional yang tidak perlu mengolah tanah sampai menjadi tanah yang subur, sehingga layak tanam.

Baca Juga :  Sutarmidji Ucapkan Belasungkawa Meninggalnya Kamaruddin Sjam

“Kita hanya perlu memanfaatkan lahan sempit untuk hasil maksimal dan tidak perlu biaya yang mahal,” ucapnya. Barang-barang bekas yang ada di sekitar bisa dimanfaatkan jika hanya untuk skala hobi. Berbeda dengan skala industri yang tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. “Tapi modalnya sesuai dengan hasil diproduksi kan,” kata Willy Low yang tiada henti menyiangi tanamannya.

Willy bilang, sistem hidroponik juga bisa menghasilkan ketahanan pangan untuk pangan sendiri. Dan hasilnya sudah pasti aman dan sehat karena tidak menggunakan pestisida jadi tidak ada residu. (zan/ars)

Petani Kewalahan Penuhi Permintaan yang Naik Dua Kali Lipat

Pandemi Covid-19 membuat banyak orang sadar pentingnya menjaga kesehatan. Selain dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan, konsumsi makanan sehat juga menjadi tren baru. Permintaan terhadap sayuran organik meningkat. Hal ini menjadi berkah untuk para petani hidroponik di Kota Pontianak.

ARISTONO, Pontianak

WILLY Low, salah seorang petani organik Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara adalah salah satu yang ketiban rezeki. Ia mengaku kewalahan dalam memenuhi permintaan konsumen. “Permintaannya dua kali lipat dari sebelum pandemi. Kami sampai kewalahan. Maklum lahan milik kami tidak terlalu besar. Sedangkan pertanian hidroponik di Pontianak saat ini belum terlalu banyak sehingga para pemain lama kebanjiran order. Bisa puluhan hingga ratusan pack terjual sehari,” ujar pria berusia 35 tahun ini.

Baca Juga :  Sokong Ekonomi di Tengah Pandemi, Azmi Ubah Barang Bekas Jadi Bernilai Seni

Memiliki brand Lowes Hydrofarm, dia memasok produksinya ke pasar-pasar modern di Pontianak dan sekitarnya. Selain itu ada juga konsumen yang langsung datang ke tempatnya. Berbagai jenis sayuran ditanam di lahan seluas 20 x 13 meter miliknya. Di antaranya samhong, pakcoy, sawi putih, kailan, kangkung, sawi manis, caisim, bayam, selada, kale, dan mint. Jumlahnya ada 200 lubang hidproponik.

Memulai usaha sejak setahun lalu, dia tak menyangka minat orang untuk mengkonsumsi sayuran organik kini begitu besar. Dalam sebulan dia bisa menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah. Penghasilannya kini jauh lebih besar dibandingkan saat dia menjadi driver taksi online setahun lampau. Bahkan kini dia sudah mempekerjakan karyawan.

Dia memaparkan, hidroponik merupakan salah satu sistem tanam yang menggunakan media air yang tata cara tanamnya hampir sama seperti sistem tanam konvensional. Hidroponik adalah sistem pertanian modern memanfaatkan lahan perkotaan yang sudah semakin sempit. Maka, sistem pertanian pengerjaannya lebih mudah dibanding konvensional yang tidak perlu mengolah tanah sampai menjadi tanah yang subur, sehingga layak tanam.

Baca Juga :  Pimpinan Dewan Jemput SK; Sah Kebing cs Pimpin DPRD Kalbar 

“Kita hanya perlu memanfaatkan lahan sempit untuk hasil maksimal dan tidak perlu biaya yang mahal,” ucapnya. Barang-barang bekas yang ada di sekitar bisa dimanfaatkan jika hanya untuk skala hobi. Berbeda dengan skala industri yang tentu membutuhkan biaya tidak sedikit. “Tapi modalnya sesuai dengan hasil diproduksi kan,” kata Willy Low yang tiada henti menyiangi tanamannya.

Willy bilang, sistem hidroponik juga bisa menghasilkan ketahanan pangan untuk pangan sendiri. Dan hasilnya sudah pasti aman dan sehat karena tidak menggunakan pestisida jadi tidak ada residu. (zan/ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/