alexametrics
32 C
Pontianak
Thursday, August 11, 2022

Gagalkan Penyelundupan Satwa Liar yang Dilindungi

PONTIANAK – Pangkalan Utama TNI AL XII Pontianak mengamankan KM Bahari 11 yang diduga hendak menyelundupkan satwa dilindungi pada Rabu (15/1) sekitar pukul 09.55. penangkapan dilakukan setelah ada laporan yang masuk atas aktivitas kapal tersebut saat melintasi alur Sungai Kapuas.

“Petugas bergerak menggunakan KAL Lemukutan dan menghentikan perjalanan KM Bahari 11 untuk diperiksa,” kata Komandan Lantamal XII Pontianak, Laksma TNI Agus Hariadi.

Hasil pemeriksaan, pihaknya menemukan puluhan hewan dilindungi hendak diselundupkan dari Jakarta menuju Pontianak. Seluruh satwa lindung dan 14 anak buah kapal dibawa ke dermaga Lantamal XII untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Satwa meliputi burung kakaktua jambul kuning berjumlah tujuh ekor, kakak tua jambul merah ada empat ekor, burung nuri hijau 1 ekor, burung nuri hitam kecil 4 ekor, kanguru papua 1 ekor, ular sanca kuning 11 ekor, ular bewarna biru 8 ekor, kadal lidah hijau 27 ekor, anak kura-kura 13 ekor, serta anjing jenis cihuahua dan husky masing-masing 1 ekor,” paparnya.

Baca Juga :  Penyelundupan 350 Ekor Burung Kacer Digagalkan

Dia mengungkapkan perbuatan ini melanggar Pasal 21 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Hal tersebut, juga melanggar UU Nomor 21 tahun 2019 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan.

“Penangkapan ini masih didalami dan kemudian akan diserahkan kepada penyidik yang berwenang menangani masalah ini,” jelasnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta menyatakan bahwa penyelundupan satwa dilindungi ini menjadi yang pertama tahun 2020.

Dia menuturkan, jika melihat karakteristik satwa-satwa yang berhasilkan diselamatkan tersebut, bisa diprediksi bahwa sebagian besar dari satwa-satwa tersebut merupakan hewan yang endemik dari wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, sampai papua. Di sisi lain, sambungnya, jika dilihat dari perilaku hewan-hewan tersebut tampak rata-rata sudah jinak dan seperti bukan hewan liar pada umumnya.

Baca Juga :  Polisi Limpahkan Mobil Mewah Ilegal Asal Malaysia

“Jika dilihat hewan-hewan ini sudah jinak, bisa dilihat ketika hewan ini dikerumuni banyak orang semuanya tetap tenang seakan sudah biasa dengan kondisi seperti itu. Meski begitu kita tetap perlu pengecekan kembali, terutama untuk mengetahui kesehatan satwa-satwa ini,” jelasnya.

Untuk tahap awal, dia mengatakan satwa-satwa tersebut akan diantarkan kepada BKSDA Kalbar. Kemudian akan dipantau kesiapan satwa-satwa tersebut dilepas liarkan ke habitatnya.

“Teruntuk pelaku penyelundupan hewan lindung ini, proses hukum akan tetap berproses di Balai Penegakan Hukum, Kementerian Lingkungan Hidup,” pungkasnya. (sig)

PONTIANAK – Pangkalan Utama TNI AL XII Pontianak mengamankan KM Bahari 11 yang diduga hendak menyelundupkan satwa dilindungi pada Rabu (15/1) sekitar pukul 09.55. penangkapan dilakukan setelah ada laporan yang masuk atas aktivitas kapal tersebut saat melintasi alur Sungai Kapuas.

“Petugas bergerak menggunakan KAL Lemukutan dan menghentikan perjalanan KM Bahari 11 untuk diperiksa,” kata Komandan Lantamal XII Pontianak, Laksma TNI Agus Hariadi.

Hasil pemeriksaan, pihaknya menemukan puluhan hewan dilindungi hendak diselundupkan dari Jakarta menuju Pontianak. Seluruh satwa lindung dan 14 anak buah kapal dibawa ke dermaga Lantamal XII untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Satwa meliputi burung kakaktua jambul kuning berjumlah tujuh ekor, kakak tua jambul merah ada empat ekor, burung nuri hijau 1 ekor, burung nuri hitam kecil 4 ekor, kanguru papua 1 ekor, ular sanca kuning 11 ekor, ular bewarna biru 8 ekor, kadal lidah hijau 27 ekor, anak kura-kura 13 ekor, serta anjing jenis cihuahua dan husky masing-masing 1 ekor,” paparnya.

Baca Juga :  Refleksi Perayaan Waisak di Tengah Pandemi

Dia mengungkapkan perbuatan ini melanggar Pasal 21 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Hal tersebut, juga melanggar UU Nomor 21 tahun 2019 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan.

“Penangkapan ini masih didalami dan kemudian akan diserahkan kepada penyidik yang berwenang menangani masalah ini,” jelasnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta menyatakan bahwa penyelundupan satwa dilindungi ini menjadi yang pertama tahun 2020.

Dia menuturkan, jika melihat karakteristik satwa-satwa yang berhasilkan diselamatkan tersebut, bisa diprediksi bahwa sebagian besar dari satwa-satwa tersebut merupakan hewan yang endemik dari wilayah timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, sampai papua. Di sisi lain, sambungnya, jika dilihat dari perilaku hewan-hewan tersebut tampak rata-rata sudah jinak dan seperti bukan hewan liar pada umumnya.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Pontianak Mulai Turun

“Jika dilihat hewan-hewan ini sudah jinak, bisa dilihat ketika hewan ini dikerumuni banyak orang semuanya tetap tenang seakan sudah biasa dengan kondisi seperti itu. Meski begitu kita tetap perlu pengecekan kembali, terutama untuk mengetahui kesehatan satwa-satwa ini,” jelasnya.

Untuk tahap awal, dia mengatakan satwa-satwa tersebut akan diantarkan kepada BKSDA Kalbar. Kemudian akan dipantau kesiapan satwa-satwa tersebut dilepas liarkan ke habitatnya.

“Teruntuk pelaku penyelundupan hewan lindung ini, proses hukum akan tetap berproses di Balai Penegakan Hukum, Kementerian Lingkungan Hidup,” pungkasnya. (sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/