alexametrics
32.8 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Kesaksian Warga Kalbar Dua Pekan Dikarantina di Natuna

Tak Boleh Membuka Medsos hingga Beberapa Kali Didemo Warga

Empat dari 238 WNI yang dipulangkan dari Wuhan, China adalah warga Kalbar. Mereka adalah Syarifah Nurus Soffia Perwira Putri (Pontianak), Abdul Basith (Pontianak), Sumiyati (Singkawang), dan Wahyu (Sintang). Keempatnya sudah kembali ke rumahnya masing-masing setelah 14 hari dikarantina di Natuna. Bagaimana kisahnya?

Kepada Pontianak Post, Syarifah Nurus Soffira Perwira Putri, salah seorang warga Kalbar yang turut dipulangkan dari Natuna menceritakan bagaimana perjuangannya pulang dari Wuhan, China pasca virus corona merebak di provinsi itu. Perempuan yang biasa disapa Soffi itu mengatakan, dirinya bersama ratusan mahasiswa lainnya bisa pulang berkat kerjasama antara mahasiswa Indonesia yang bersekolah di China dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang ada di Tiongkok.
“Kesulitan untuk pulang sih tidak ada, hanya saja yang sedikit repot mengurus surat izin keluar, karena harus lewat rangkaian yang panjang,” jelasnya saat dijumpai di rumahnya, di Jalan Tanjung Raya II, Pontianak Timur.

Mahasiswi Kedokteran semester 6 di Hubei University of Science and Technology China tersebut menceritakan sedikit kondisi Wuhan sebelum dirinya pulang ke Indonesia. Menurutnya, kondisi Wuhan tampak sepi dan minim aktivitas, mengingat adanya perintah dari pemerintah China untuk warga di sekitar Wuhan agar mengurangi aktivitas di luar rumah.

Dia pun menjelaskan bahwa selama perjalanan dari asrama ke bandara di Wuhan, ia bersama rombongan mahasiswa yang pulang lainnya harus melewati rangkaian yang panjang. Setidaknya ada 5 sampai 6 kali dilakukan pemeriksaan sepanjang perjalanan untuk memastikan semua yang pulang dalam keadaan benar-benar sehat, terutama dari demam tinggi.

“Sepanjang perjalanan setiap ada pos-pos tertentu harus cek kesehatan, terutama suhu badan. Jadi di China sebelum terbang ke Indonesia, mungkin ada lima sampai enam kali cek thermo,” katanya.
Sesampainya di Indonesia, ia diturunkan terlebih dahulu di Batam, baru kemudian diterbangkan lagi menuju Natuna untuk melakukan karantina guna memastikan bahwa kesemua WNI tersebut dalam keadaan sehat dan bebas dari virus corona. Di sana, sambungnya, rombongan disambut oleh berbagai pihak, seperti anggota TNI dan Polri, Kemenkes, KBRI, dan Kemenlu.

Baca Juga :  Delapan WNI Disekap di Malaysia

Selama karantina, lanjutnya, berbagai pola hidup sehat juga disiplin diterapkan kepada seluruh WNI yang baru saja pulang dari negeri tirai bambu tersebut. Beberapa aktivitas yang dilakukan seperti wajib bangun pagi, membersihkan tenda, membersihkan lingkungan sekitar, menyediakan dan merapikan tempat makan, senam, sarapan, serta melakukan cek kesehatan dengan melakukan termo dua kali sehari pagi dan malam yang dilakukan rutin selama 14 hari proses karantina.

“Baru sampai Natuna sudah dikasih tahu tidak boleh liat media sosial dan diminta untuk tenang dan tidak takut. Warga di sana memang beberapa kali ada melakukan demo, namun seiring berjalannya waktu mereka sangat welcome dan bahkan ketika mau pulang mereka menyempatkan datang untuk menyampaikan salam hangat sebagai tanda perpisahan,” terangnya.

Soffi juga menjelaskan bahwa saat ini perkuliahan tetap dilakukan meskipun ia sudah berada di rumahnya (Pontianak). Proses belajar mengajar dilakukan secara online menggunakan aplikasi we chat. Tentunya dilakukan dengan cara menyesuaikan waktu masing-masing mahasiswa. Mengingat saat ini teman sekelasnya juga banyak yang pulang ke negara asal masing-masing di berbagai penjuru dunia.
“Yang pasti ngikuti waktu negara China, dan biasanya kuliah online ini dilakukan di waktu pagi dan malam hari (waktu Indonesia),” ujarnya.

Dia pun mengaku belum tahu sampai kapan kondisi ini akan berlangsung. Namun yang pasti pihak universitas sudah berpesan kepada seluruh mahasiswanya agar kembali ke China apabila situasi sudah kondusif.

Baca Juga :  Bikin Tato di Perut Bagian Kiri sebagai Pengingat

“Yang terpenting sampainya di rumah warga juga bertanya bagaimana kondisinya dan yang jelas mereka juga khawatir. Bahkan dari teman-teman juga banyak yang ngajak pergi karena rindu setelah lama tak bertemu. Dan itu jelas jadi dorongan psikologi sekaligus menghilangkan tekanan bagi saya sendiri,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ibunda Soffi, Titik Harjito seakan tak bisa menutup rasa senangnya ketika mengetahui anaknya sudah pulang dan dinyatakan negatif dari virus corona setelah melalui proses karantina. Ia pun mengaku sangat bersyukur bahwa putri bungsunya tersebut pulang dalam keadaan sehat dan selamat.

“Saya juga ingin berterima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak terkait yang turut membantu, sehingga anak saya (Soffi) bisa pulang dalam keadaan sehat,” ujarnya.

Kepada Pontianak Post, dia mengaku sudah mendengar merebaknya isu virus corona ditempat anaknya mengenyam pendidikan. Dia pun mengaku tak merasa khawatir dengan kondisi putrinya, karena setiap hari ia selalu melakukan komunikasi dengan media sosial untuk memastikan kondisi putrinya tetap sehat.

“Cemas sih tidak, karena kita tahu disana pihak KBRI terus memantau anak saya (Soffi). Jadi tidak terlalu cemas dan khawatir. Yang jelas kita di sini selalu memanjatkan doa kepada Allah agar anak saya diberikan kesehatan,” katanya.

Sementara itu, ketua RT setempat, Budi mengungkapkan sudah mendengar kabar terkait karantina yang dilalui oleh Syarifah. Ia pun menuturkan bahwa seluruh warga setempat juga melakukan pemantauan terhadap kondisi Syarifah selama karantina.

“Awalnya memang cemas karena tahu sekolahnya di Wuhan sampai akhirnya tahu kalau Soffi di evakuasi dan dikarantina. Namun alhamdulillah hasilnya negatif dan warga juga sudah paham akan hal ini jadi tidak ada warga yang cemas apalagi khawatir terhadap anak ini,” tutupnya. (Sig)

Tak Boleh Membuka Medsos hingga Beberapa Kali Didemo Warga

Empat dari 238 WNI yang dipulangkan dari Wuhan, China adalah warga Kalbar. Mereka adalah Syarifah Nurus Soffia Perwira Putri (Pontianak), Abdul Basith (Pontianak), Sumiyati (Singkawang), dan Wahyu (Sintang). Keempatnya sudah kembali ke rumahnya masing-masing setelah 14 hari dikarantina di Natuna. Bagaimana kisahnya?

Kepada Pontianak Post, Syarifah Nurus Soffira Perwira Putri, salah seorang warga Kalbar yang turut dipulangkan dari Natuna menceritakan bagaimana perjuangannya pulang dari Wuhan, China pasca virus corona merebak di provinsi itu. Perempuan yang biasa disapa Soffi itu mengatakan, dirinya bersama ratusan mahasiswa lainnya bisa pulang berkat kerjasama antara mahasiswa Indonesia yang bersekolah di China dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang ada di Tiongkok.
“Kesulitan untuk pulang sih tidak ada, hanya saja yang sedikit repot mengurus surat izin keluar, karena harus lewat rangkaian yang panjang,” jelasnya saat dijumpai di rumahnya, di Jalan Tanjung Raya II, Pontianak Timur.

Mahasiswi Kedokteran semester 6 di Hubei University of Science and Technology China tersebut menceritakan sedikit kondisi Wuhan sebelum dirinya pulang ke Indonesia. Menurutnya, kondisi Wuhan tampak sepi dan minim aktivitas, mengingat adanya perintah dari pemerintah China untuk warga di sekitar Wuhan agar mengurangi aktivitas di luar rumah.

Dia pun menjelaskan bahwa selama perjalanan dari asrama ke bandara di Wuhan, ia bersama rombongan mahasiswa yang pulang lainnya harus melewati rangkaian yang panjang. Setidaknya ada 5 sampai 6 kali dilakukan pemeriksaan sepanjang perjalanan untuk memastikan semua yang pulang dalam keadaan benar-benar sehat, terutama dari demam tinggi.

“Sepanjang perjalanan setiap ada pos-pos tertentu harus cek kesehatan, terutama suhu badan. Jadi di China sebelum terbang ke Indonesia, mungkin ada lima sampai enam kali cek thermo,” katanya.
Sesampainya di Indonesia, ia diturunkan terlebih dahulu di Batam, baru kemudian diterbangkan lagi menuju Natuna untuk melakukan karantina guna memastikan bahwa kesemua WNI tersebut dalam keadaan sehat dan bebas dari virus corona. Di sana, sambungnya, rombongan disambut oleh berbagai pihak, seperti anggota TNI dan Polri, Kemenkes, KBRI, dan Kemenlu.

Baca Juga :  Sanggau Tak Perlu Panik Corona

Selama karantina, lanjutnya, berbagai pola hidup sehat juga disiplin diterapkan kepada seluruh WNI yang baru saja pulang dari negeri tirai bambu tersebut. Beberapa aktivitas yang dilakukan seperti wajib bangun pagi, membersihkan tenda, membersihkan lingkungan sekitar, menyediakan dan merapikan tempat makan, senam, sarapan, serta melakukan cek kesehatan dengan melakukan termo dua kali sehari pagi dan malam yang dilakukan rutin selama 14 hari proses karantina.

“Baru sampai Natuna sudah dikasih tahu tidak boleh liat media sosial dan diminta untuk tenang dan tidak takut. Warga di sana memang beberapa kali ada melakukan demo, namun seiring berjalannya waktu mereka sangat welcome dan bahkan ketika mau pulang mereka menyempatkan datang untuk menyampaikan salam hangat sebagai tanda perpisahan,” terangnya.

Soffi juga menjelaskan bahwa saat ini perkuliahan tetap dilakukan meskipun ia sudah berada di rumahnya (Pontianak). Proses belajar mengajar dilakukan secara online menggunakan aplikasi we chat. Tentunya dilakukan dengan cara menyesuaikan waktu masing-masing mahasiswa. Mengingat saat ini teman sekelasnya juga banyak yang pulang ke negara asal masing-masing di berbagai penjuru dunia.
“Yang pasti ngikuti waktu negara China, dan biasanya kuliah online ini dilakukan di waktu pagi dan malam hari (waktu Indonesia),” ujarnya.

Dia pun mengaku belum tahu sampai kapan kondisi ini akan berlangsung. Namun yang pasti pihak universitas sudah berpesan kepada seluruh mahasiswanya agar kembali ke China apabila situasi sudah kondusif.

Baca Juga :  Pemulangan WNI 1 Februari  

“Yang terpenting sampainya di rumah warga juga bertanya bagaimana kondisinya dan yang jelas mereka juga khawatir. Bahkan dari teman-teman juga banyak yang ngajak pergi karena rindu setelah lama tak bertemu. Dan itu jelas jadi dorongan psikologi sekaligus menghilangkan tekanan bagi saya sendiri,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ibunda Soffi, Titik Harjito seakan tak bisa menutup rasa senangnya ketika mengetahui anaknya sudah pulang dan dinyatakan negatif dari virus corona setelah melalui proses karantina. Ia pun mengaku sangat bersyukur bahwa putri bungsunya tersebut pulang dalam keadaan sehat dan selamat.

“Saya juga ingin berterima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak terkait yang turut membantu, sehingga anak saya (Soffi) bisa pulang dalam keadaan sehat,” ujarnya.

Kepada Pontianak Post, dia mengaku sudah mendengar merebaknya isu virus corona ditempat anaknya mengenyam pendidikan. Dia pun mengaku tak merasa khawatir dengan kondisi putrinya, karena setiap hari ia selalu melakukan komunikasi dengan media sosial untuk memastikan kondisi putrinya tetap sehat.

“Cemas sih tidak, karena kita tahu disana pihak KBRI terus memantau anak saya (Soffi). Jadi tidak terlalu cemas dan khawatir. Yang jelas kita di sini selalu memanjatkan doa kepada Allah agar anak saya diberikan kesehatan,” katanya.

Sementara itu, ketua RT setempat, Budi mengungkapkan sudah mendengar kabar terkait karantina yang dilalui oleh Syarifah. Ia pun menuturkan bahwa seluruh warga setempat juga melakukan pemantauan terhadap kondisi Syarifah selama karantina.

“Awalnya memang cemas karena tahu sekolahnya di Wuhan sampai akhirnya tahu kalau Soffi di evakuasi dan dikarantina. Namun alhamdulillah hasilnya negatif dan warga juga sudah paham akan hal ini jadi tidak ada warga yang cemas apalagi khawatir terhadap anak ini,” tutupnya. (Sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/