alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Kejaksaan Lakukan Restorative Justice

Fasilitasi Perdamaian Kasus KDRT

PONTIANAK – Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat memfasilitasi upaya perdamaian kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) antara tersangka Albertus Jani anak Okarius Odung dan Nita, yang tak lain adalah istri tersangka.

Upaya perdamaian kasus KDRT ini diawali dengan rapat pemaparan permohonan persetujuan penghentian penuntutan, yang dihadiri oleh Kajati Kalbar Masyhudi, Aspidum Kejati Kalbar Yulius Sigit K. bersama Koordinator Pidum Milono dan Kasi Oharda Aan bersama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung RI dan Direktur Oharda Pada Jampidum Kejaksaan Agung RI secara virtual.

Berdasarkan Surat Perintah Kepala Kejaksaan Negeri Sekadau tanggal 09 Februari 2022 telah dilakukan proses perdamaian, para pihak sepakat dilakukan perdamaian Tanpa Syarat.

Tersangka dan korban menyetujui upaya perdamaian yang ditawarkan Penuntut Umum dan sepakat untuk melaksanakan proses perdamaian pada 14 Februari 2022 bertempat di Kantor Kejaksaan Negeri Sekadau.

Kasus ini berawal pada hari Rabu tanggal 09 Januari 2022 sekira pukul 06.00 wib bertempat di sebuah rumah di Dusun Tapang Sambas, Desa Tapang Semadak Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Tersangka Albertus Jani melakukan kekerasan kepada korban Nita yang merupakan istri tersangka, dengan cara bermula saat korban Nita membangunkan tersangka yang tengah tertidur didalam kamar, kemudian karena tersangka tidak mau bangun dan tidak beranjak dari tempat tidurnya, korban Nita lalu marah kepada tersangka.

Baca Juga :  Menanti KM. Dorolonda Singgahi Kijing

Kemudian tersangka yang tidak terima karena dimarahi oleh Korban, selanjutnya balik memarahi kepada Korban namun tidak ditanggapi.

Sehingga terjadi cekcok mulut lalu tersangka mencekik leher Korban dengan menggunakan kedua tangannya namun berhasil dilepas oleh korban Nita selanjutnya tersangka menendang menggunakan kaki sebelah kanan ke arah badan Korban.

Perbuatan tersangka diancam dengan Pasal Pasal 44 Ayat(1) Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Atas perkara tersebut kemudian oleh Jaksa Ratna Khatulistiwi dan Hendrik Fayol, sebagai fasilitator Kejari Sekadau memediasi untuk dilakukan perdamaian, kedua belah pihak yaitu tersangka Albertus Jani dan korban Nita menandatangani berita acara perdamaian dan tersangka meminta maaf kepada korban dan korban pun memaafkan perbuatannya.

Baca Juga :  Masker Merah Putih, Momentum Yang Pas Saat HUT RI

Dalam kesempatan tersebut, Kajati Kalbar Masyhudi menyampaikan,  perkara KDRT yang berujung ribut ini merupakan perkara yang sederhana.

Sesuai petunjuk pimpinan diharapkan dapat menyelesaikan perkara dengan penekanan hukum menggunakan hati Nurani dan tentunya dilihat tujuan hukum itu sendiri dari asas kemanfaatannya, keadilan yang menyentuh masyarakat sehingga tidak menimbulkan stigma negative dan tidak membuat masalah rumah tangga ini semakin runyam.

Dengan demikian sampai dengan bulan Februari 2022 ini Kejati Kalbar telah berhasil melaksanakan Restorative Justice sebanyak tiga perkara diantaranya perkara tindak pidana Percobaan Pencurian dari Kejari Mempawah, kemudian perkara tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga dari Kejari Sekadau.

“Dan kami akan terus mengupayakan pekara-perkara yang memenuhi syarat agar dapat diselesaikan secara Restorative Justice untuk kedepannya,” pungkasnya. (arf)

Fasilitasi Perdamaian Kasus KDRT

PONTIANAK – Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat memfasilitasi upaya perdamaian kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) antara tersangka Albertus Jani anak Okarius Odung dan Nita, yang tak lain adalah istri tersangka.

Upaya perdamaian kasus KDRT ini diawali dengan rapat pemaparan permohonan persetujuan penghentian penuntutan, yang dihadiri oleh Kajati Kalbar Masyhudi, Aspidum Kejati Kalbar Yulius Sigit K. bersama Koordinator Pidum Milono dan Kasi Oharda Aan bersama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung RI dan Direktur Oharda Pada Jampidum Kejaksaan Agung RI secara virtual.

Berdasarkan Surat Perintah Kepala Kejaksaan Negeri Sekadau tanggal 09 Februari 2022 telah dilakukan proses perdamaian, para pihak sepakat dilakukan perdamaian Tanpa Syarat.

Tersangka dan korban menyetujui upaya perdamaian yang ditawarkan Penuntut Umum dan sepakat untuk melaksanakan proses perdamaian pada 14 Februari 2022 bertempat di Kantor Kejaksaan Negeri Sekadau.

Kasus ini berawal pada hari Rabu tanggal 09 Januari 2022 sekira pukul 06.00 wib bertempat di sebuah rumah di Dusun Tapang Sambas, Desa Tapang Semadak Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Tersangka Albertus Jani melakukan kekerasan kepada korban Nita yang merupakan istri tersangka, dengan cara bermula saat korban Nita membangunkan tersangka yang tengah tertidur didalam kamar, kemudian karena tersangka tidak mau bangun dan tidak beranjak dari tempat tidurnya, korban Nita lalu marah kepada tersangka.

Baca Juga :  Menanti KM. Dorolonda Singgahi Kijing

Kemudian tersangka yang tidak terima karena dimarahi oleh Korban, selanjutnya balik memarahi kepada Korban namun tidak ditanggapi.

Sehingga terjadi cekcok mulut lalu tersangka mencekik leher Korban dengan menggunakan kedua tangannya namun berhasil dilepas oleh korban Nita selanjutnya tersangka menendang menggunakan kaki sebelah kanan ke arah badan Korban.

Perbuatan tersangka diancam dengan Pasal Pasal 44 Ayat(1) Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Atas perkara tersebut kemudian oleh Jaksa Ratna Khatulistiwi dan Hendrik Fayol, sebagai fasilitator Kejari Sekadau memediasi untuk dilakukan perdamaian, kedua belah pihak yaitu tersangka Albertus Jani dan korban Nita menandatangani berita acara perdamaian dan tersangka meminta maaf kepada korban dan korban pun memaafkan perbuatannya.

Baca Juga :  Aliansi Mahasiswa Seruduk Dewan Kalbar

Dalam kesempatan tersebut, Kajati Kalbar Masyhudi menyampaikan,  perkara KDRT yang berujung ribut ini merupakan perkara yang sederhana.

Sesuai petunjuk pimpinan diharapkan dapat menyelesaikan perkara dengan penekanan hukum menggunakan hati Nurani dan tentunya dilihat tujuan hukum itu sendiri dari asas kemanfaatannya, keadilan yang menyentuh masyarakat sehingga tidak menimbulkan stigma negative dan tidak membuat masalah rumah tangga ini semakin runyam.

Dengan demikian sampai dengan bulan Februari 2022 ini Kejati Kalbar telah berhasil melaksanakan Restorative Justice sebanyak tiga perkara diantaranya perkara tindak pidana Percobaan Pencurian dari Kejari Mempawah, kemudian perkara tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga dari Kejari Sekadau.

“Dan kami akan terus mengupayakan pekara-perkara yang memenuhi syarat agar dapat diselesaikan secara Restorative Justice untuk kedepannya,” pungkasnya. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/