alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Seratus Ton Rotan Gagal Nyeberang ke Malaysia

PONTIANAK – Direktorat Kepolisian Perairan Polda Kalbar mengamankan KLM Abna Jaya yang mengangkut 100 ton rotan di perairan Natai Kuini, Kecamatan Kendawangan, Ketapang, Jumat (9/4). Ratusan ton rotan tersebut rencananya akan diselundupkan ke Malaysia  sekitar pukul 03.30 WIB.

Direktur Kepolisian Perairan Polda Kalbar Kombes Pol Benyamin Sapta menjelaskan, penangkapan tersebut dilakukan setelah mendapatkan informasi adanya kapal yang memuat rotan berlayar di perairan Natai Kuini, Kendawangan. Setelah dilakukan pemeriksaan, KLM Abna Jaya tersebut ternyata menggunakan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang dipalsukan.

“Awalnya kami mendapat informasi ada pergerakan kapal yang membawa muatan rotan yang diduga akan diselundupkan ke Malaysia melalui perairan Kalbar. Berdasarkan informasi itu, kami lakukan pendalaman dan penyelidikan. Ternyata betul, dan setelah dicek dokumennya palsu,” kata Benyamin Sapta dalam keterangan persnya.

Selanjutnya, kata Benyamin, pihaknya akan berkoordinasi dengan Syahbandar. Di mana SPB yang ada, tidak teregistrasi. Benyamin melanjutkan, rotan sebanyak 100 ton yang dikemas dalam ribuan bundel ini berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sebelum dikirim ke Malaysia, rotan ilegal tersebut dikumpulkan terlebih dahulu di dalam gudang.

“Barang-barang ini semuanya berasal dari Kalteng dan Kalsel. Barito Selatan, Sampit, Katingan, dan Banjarmasin itu sendiri. Mereka kumpulin, lalu dimasukkan gudang. Setelah banyak baru diangkut. Pada saat loading, sambil melihat perkembangan di Malaysia dan perariran kita mereka membuat dokumen-dokumen itu tadi,” tukasnya.

Baca Juga :  DPC Peradi Pontianak Gelar Pendidikan Advokat ke-18

Benyamin menuturkan, pihaknya telah menetapkan dua orang tersangka atas kejadian ini. Keduanya ialah HR (52), warga Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dan H (32), warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

“Sementara ini ada dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Yang pertama tersangka H, berperan mengumpulkan rotan, atas perintah HR. Ada juga yang membuat dokumen palsu,” tuturnya.

Pelaku kejadian ini akan dijerat dengan pasal 112 ayat 1 Jo pasal 51 ayat 1 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Pelaku juga akan dijerat dengan pasal 264 KUHP sub pasal 266 KUHP lebih sub pasal 263 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 7 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.

Adapun barang bukti yang diamankan, yakni KLM Abna Jaya berikut dengan muatan rotan sebanyak 100 ton, 8 paspor awak kapal, dan 12 buah stempel. Barang bukti lain yang turut diamankan ialah Surat Persetujuan Berlayar (SPB) tujuan Malaysia dan Lampung yang diduga dipalsukan, satu lembar kertas berisi coretan tanda tangan dan dua buah telepon genggam.

“Atas penangkapan ini, kami mengimbau kepada masyarakat agar melapor jika melihat ada aktivitas ilegal maupun yang mencurigakan agar bisa diproses hukum,” tandasnya.

Sebelumnya, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat bersama Tim Direktorat Penindakan dan Penyidikan Kantor Pusat dan Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun (PSO TBK) menggagalkan penyelundupan ekspor hasil sumber daya alam berupa rotan batangan sebanyak 100 ton ke Malaysia.

Baca Juga :  Hulu dan Hilir Industri Rotan Lesu

Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Hubungan Masyarakat Bea Cukai Kalbagbar, Ferdinan Ginting mengatakan, pengungkapan aksi penyelundupan rotan tersebut melalui kegiatan patroli Jaring Operasi Sriwijaya tahun 2021.

Rotan tersebut dimuat pada kapal KLM. Buana Utama saat melintas di perairan Tanjung Datu, Kalimantan Barat pada Minggu (21/3) sekitar pukul 01.30 WIB.

“Kami melakukan penegahan terhadap KLM Buana Utama. Dalam pemeriksaan, terdapat rotan yang tidak ada dalam dalam daftar muatan kapal (manifest),” kata Ferdinan Ginting, kemarin.

Rotan batangan sebanyak kurang lebih 100 ton tersebut dikemas dalam ribuan bundle.

“Berdasarkan pemeriksaan, rotan ini berasal dari perairan Sampit, Kalimantan Tengah, dan rencananya akan diekspor ke Sarikei, Malaysia,” bebernya.

Selain menyita barang bukti ratusan ton rotan, pihaknya juga memeriksa tujuh orang yang terdiri dari seorang Nahkoda dan enam anak buah kapal (ABK).

Dikatakan Ferdinan, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia tentang Barang Dilarang Ekspor, rotan dalam bentuk utuh (mentah/segar/dicuci/dikikis buku-bukunya), rotan setengah jadi, hati rotan, kulit rotan, dan rotan yang tidak dalam bentuk utuh merupakan barang di bidang kehutanan yang dilarang ekspornya.

Sanksi hukum atas pelaku tindak pidana tersebut diatur dalam pasal 102A huruf (a) dan/atau Pasal 102A huruf (e) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan. (arf)

 

PONTIANAK – Direktorat Kepolisian Perairan Polda Kalbar mengamankan KLM Abna Jaya yang mengangkut 100 ton rotan di perairan Natai Kuini, Kecamatan Kendawangan, Ketapang, Jumat (9/4). Ratusan ton rotan tersebut rencananya akan diselundupkan ke Malaysia  sekitar pukul 03.30 WIB.

Direktur Kepolisian Perairan Polda Kalbar Kombes Pol Benyamin Sapta menjelaskan, penangkapan tersebut dilakukan setelah mendapatkan informasi adanya kapal yang memuat rotan berlayar di perairan Natai Kuini, Kendawangan. Setelah dilakukan pemeriksaan, KLM Abna Jaya tersebut ternyata menggunakan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang dipalsukan.

“Awalnya kami mendapat informasi ada pergerakan kapal yang membawa muatan rotan yang diduga akan diselundupkan ke Malaysia melalui perairan Kalbar. Berdasarkan informasi itu, kami lakukan pendalaman dan penyelidikan. Ternyata betul, dan setelah dicek dokumennya palsu,” kata Benyamin Sapta dalam keterangan persnya.

Selanjutnya, kata Benyamin, pihaknya akan berkoordinasi dengan Syahbandar. Di mana SPB yang ada, tidak teregistrasi. Benyamin melanjutkan, rotan sebanyak 100 ton yang dikemas dalam ribuan bundel ini berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sebelum dikirim ke Malaysia, rotan ilegal tersebut dikumpulkan terlebih dahulu di dalam gudang.

“Barang-barang ini semuanya berasal dari Kalteng dan Kalsel. Barito Selatan, Sampit, Katingan, dan Banjarmasin itu sendiri. Mereka kumpulin, lalu dimasukkan gudang. Setelah banyak baru diangkut. Pada saat loading, sambil melihat perkembangan di Malaysia dan perariran kita mereka membuat dokumen-dokumen itu tadi,” tukasnya.

Baca Juga :  Berharap Aturan Ekspor Rotan Dilonggarkan

Benyamin menuturkan, pihaknya telah menetapkan dua orang tersangka atas kejadian ini. Keduanya ialah HR (52), warga Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dan H (32), warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

“Sementara ini ada dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Yang pertama tersangka H, berperan mengumpulkan rotan, atas perintah HR. Ada juga yang membuat dokumen palsu,” tuturnya.

Pelaku kejadian ini akan dijerat dengan pasal 112 ayat 1 Jo pasal 51 ayat 1 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Pelaku juga akan dijerat dengan pasal 264 KUHP sub pasal 266 KUHP lebih sub pasal 263 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 7 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.

Adapun barang bukti yang diamankan, yakni KLM Abna Jaya berikut dengan muatan rotan sebanyak 100 ton, 8 paspor awak kapal, dan 12 buah stempel. Barang bukti lain yang turut diamankan ialah Surat Persetujuan Berlayar (SPB) tujuan Malaysia dan Lampung yang diduga dipalsukan, satu lembar kertas berisi coretan tanda tangan dan dua buah telepon genggam.

“Atas penangkapan ini, kami mengimbau kepada masyarakat agar melapor jika melihat ada aktivitas ilegal maupun yang mencurigakan agar bisa diproses hukum,” tandasnya.

Sebelumnya, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Barat bersama Tim Direktorat Penindakan dan Penyidikan Kantor Pusat dan Pangkalan Sarana Operasi Tanjung Balai Karimun (PSO TBK) menggagalkan penyelundupan ekspor hasil sumber daya alam berupa rotan batangan sebanyak 100 ton ke Malaysia.

Baca Juga :  Pontianak Turun ke PPKM Level Tiga, Lelong Kembali Ramai Diserbu

Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Hubungan Masyarakat Bea Cukai Kalbagbar, Ferdinan Ginting mengatakan, pengungkapan aksi penyelundupan rotan tersebut melalui kegiatan patroli Jaring Operasi Sriwijaya tahun 2021.

Rotan tersebut dimuat pada kapal KLM. Buana Utama saat melintas di perairan Tanjung Datu, Kalimantan Barat pada Minggu (21/3) sekitar pukul 01.30 WIB.

“Kami melakukan penegahan terhadap KLM Buana Utama. Dalam pemeriksaan, terdapat rotan yang tidak ada dalam dalam daftar muatan kapal (manifest),” kata Ferdinan Ginting, kemarin.

Rotan batangan sebanyak kurang lebih 100 ton tersebut dikemas dalam ribuan bundle.

“Berdasarkan pemeriksaan, rotan ini berasal dari perairan Sampit, Kalimantan Tengah, dan rencananya akan diekspor ke Sarikei, Malaysia,” bebernya.

Selain menyita barang bukti ratusan ton rotan, pihaknya juga memeriksa tujuh orang yang terdiri dari seorang Nahkoda dan enam anak buah kapal (ABK).

Dikatakan Ferdinan, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia tentang Barang Dilarang Ekspor, rotan dalam bentuk utuh (mentah/segar/dicuci/dikikis buku-bukunya), rotan setengah jadi, hati rotan, kulit rotan, dan rotan yang tidak dalam bentuk utuh merupakan barang di bidang kehutanan yang dilarang ekspornya.

Sanksi hukum atas pelaku tindak pidana tersebut diatur dalam pasal 102A huruf (a) dan/atau Pasal 102A huruf (e) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Kepabeanan. (arf)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/