alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Warga Waswas Air Kembali Naik

Banjir Besar Landa Desa Pancaroba dan Teluk Bakung

PONTIANAK – Banjir besar kembali menggenangi rumah warga di sepanjang Jalan Trans Kalimantan, mulai dari Desa Pancaroba hingga Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya. Banjir ini sudah terjadi sejak empat hari lalu. Kondisi kemarin, Senin (16/12) merupakan yang terparah dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Ketinggian banjir di dalam rumah bisa sampai 60 cm. Meski demikian warga masih tetap bertahan dan tidak mengungsi. “Kami tetap di rumah dan belum ada rencana untuk mengungsi,” kata Darwis saat ditemui di lokasi banjir.

Rumah Darwis sebenarnya berbentuk rumah panggung. Namun, rumah pria itu tetap terendam air lantaran berada di dataran yang lebih rendah dari rumah yang lain. Hal ini juga yang menyebabkan genangan air di rumahnya lebih dalam dibandingkan rumah-rumah warga yang lain.

Darwis tinggal bersama dua anak dan istrinya. Kedua anaknya tidak sekolah lantaran tempat anak-anaknya belajar itu juga kebanjiran. Darwis pun tidak bekerja selama sepekan terakhir karena tempat kerjanya juga terendam.

“Bagaimana mau kerja dalam kondisi banjir seperti sekarang. Saya sehari-harinya menoreh getah di hutan. Dalam kondisi seperti sekarang karet pun terendam,” tutur pria berusia 49 tahun itu.

Menurut Darwis, banjir kali ini lebih parah dari sebelumnya. Apalagi di malam sebelumnya, kawasan sekitar diguyur hujan deras. Kondisi itu juga yang ikut menyebabkan debit air naik sehingga menggenangi isi rumah masyarakat.

Darwis berharap pemerintah segera memberikan bantuan. Utamanya bantuan sembako. Hingga siang kemarin, bantuan dari pemerintah belum diterima para korban banjir.

Iyut, istri Darwis bercerita, selama banjir mereka terpaksa membuat panggung atau para-para di dalam rumah. Masyarakat sekitar menyebutnya ‘Karangkong’. Tempat itulah yang dimanfaatkan untuk tidur. Meski demikian, mereka tetap khawatir sewaktu-waktu ketinggian air semakin bertambah. “Waswas juga. Takutnya pas tidur air malah semakin naik,” kata wanita berusia 40 tahun itu.

Selain rumah warga, banjir juga merendam Jalan Trans Kalimantan. Ketinggian air bisa mencapai satu meter. Kondisi itu terjadi di Kampung Banga, Desa Teluk Bakung.

Sejumlah warga berinisiatif memberikan petunjuk jalan untuk membantu kendaraan yang melintas. Walaupun begitu, pengemudi tetap harus ekstra hati-hati. Pasalnya ada beberapa ruas jalan yang berlubang.

Banjir yang menggenangi jalan itu mulai dari kilometer 37 hingga 41. Terhitung ada lima titik banjir paling dalam yakni antara kilometer 38 dan 39. Kondisi tersebut juga menyebabkan kendaraan yang melintas harus bergantian. Banjir semakin parah karena hujan deras pada malam sebelumnya. Banyak kendaraan roda dua yang memaksa melintas mogok di tengah jalan, lantaran ketinggian air mencapai satu meter.

Baca Juga :  Pemkab Luncurkan Siskeudes Online

Jaka, warga Desa Pancaroba (52) berharap instansi terkait dapat turun tangan menyikapi bencana ini. Ia juga mengakui banjir tahun ini lebih parah dari tahun lalu. Hal ini tampak pada genangan air yang masuk ke dalam rumah. Tahun lalu, kata Jaka, ketinggian air dalam rumahnya hanya setengah meter. Sementara sekarang, ketinggian air mencapai sekitar  satu meter.

Menurutnya, bantuan yang sangat diharapkan masyarakat setempat saat ini adalah sembako. Bantuan itu sangat perlu karena warga tidak bisa bekerja akibat banjir. “Masyarakat tak bisa noreh karena banjir seperti sekarang,” ungkapnya.

Warga lainnya, Yulianus (54), berharap pemerintah bisa melakukan normalisasi parit atau sungai. Ia berpendapat, banjir ini terjadi tak lepas dari derasnya hujan dan meluapnya air sungai.  “Kalau memang ada anggarannya, tolonglah lebarkan sungai kami agar daerah kami tak tergenang sepanjang tahun,” pintanya.

Ia menjelaskan genangan air yang merendam rumah warga di kawasan Pancaroba ini merupakan luapan dari Sungai Benua dan Sungai Lonce. Saat hujan, debit air bertambah dan di saat yang bersamaan sungai tak mampu lagi menampung sehingga terjadi banjir.

“Tempat kami terendam banjir karena sungai yang menampung air terlalu kecil. Agar tak menjadi langganan banjir, kami minta normalisasi sungai,” kata pria yang sehari-hari menoreh karet ini.

Kepala Dusun Teluk Lais, Desa Teluk Bakung, Silpianus mengatakan ada sekitar 130 rumah di Teluk Lais yang terendam. Ketingian air di dalam rumah mencapai sekitar 50 cm. “Di dalam rumah belum ada yang sampai satu meter,” katanya.

Menurutnya, banjir yang terjadi di Teluk Lais ini terhitung sejak enam hari lalu. Ada tiga hari di mana kondisi banjir dinilai cukup parah. “Hari ini (kemarin-red) puncak dari banjir beberapa hari sebelumnya,” kata dia.

Ia menambahkan, sehari sebelumnya kondisi banjir belum begitu parah. Bahkan kendaraan roda dua masih bisa melintas. “Karena hujan deras turun, lalu makin parah. Motor tak bisa lewat. Ada maksa dan kendaraannya pun mogok,” tambahnya.

Menyikapi hal ini, dirinya sudah melapor ke pemerintah desa, BPBD dan dinas sosial. Selain itu, laporan tentang kondisi masyarakat korban banjir juga disampaikan ke kepolisian. “Sudah dilaporkan semua, dikirimkan foto rumah yang terendam air,” katanya.

Baca Juga :  95 Persen Ruang Terbuka Tertanam Pohon Pada 2022

Dalam pelaporan itu, ia juga mengajukan permohonan bantuan ke dinas terkait. Ia berharap bantuan utama berupa bahan pokok dapat segera disalurkan. “Bantuan yang diberikan jangan tanggung-tanggung. Masyarakat di sini hingga ke Pancaroba, mata pencahariannya menoreh getah. Dengan kondisi kayak gini masyarakat pun tak bisa turun noreh,” jelasnya.

Di satu sisi, Silpianus merasa prihatin karena warganya sedang tertimpa musibah banjir. Namun di sisi lain, ia tetap bersyukur. Soalnya, masa panen nanas telah tiba. Dengan demikian, sebagian masyarakat punya alternatif penghasilan selain dari menoreh karet. “Itu pun tak semua masyarakat panen nanas. Makanya kami berharap bantuan utama seperti beras bisa segera diberikan ke masyarakat,” harapnya.

 

Berkah Banjir

Sementara itu, banjir yang merendam ruas jalan Trans Kalimantan memberikan keuntungan bagi sebagian warga. Mereka menawarkan jasa angkutan bagi pengendara sepeda motor yang tidak mau nekat melintasi jalan yang terendam air.

“Baru hari ini mulai, karena kondisi jalan yang direndam air hari ini lebih parah dari kemarin,” kata Jubaidi (42).

Jasa angkutan sepeda motor itu menggunakan truk atau pikap. Jika menggunakan truk, sekali angkut bisa memuat empat hingga lima sepeda motor. “Kalau motor besar hanya empat tetapi kalau motor biasa bisa lima unit,” ceritanya.

Mereka tidak menekankan biaya yang harus dibayar pemilik sepeda motor. Mereka sifatnya hanya ingin menawarkan jasa untuk membantu. “Mau dikasih Rp50 ribu atau Rp30 ribu pun kami terima,” sebutnya.

 Siaga Batingsor

Intensitas hujan yang tinggi di wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) membuat beberapa daerah rentan mengalami banjir, puting beliung dan tanah longsor (batingsor).  Sementara ini bencana batingsor yang terjadi di beberapa daerah masih dalam status siaga darurat. Artinya bencana tersebut belum mencapai status tanggap darurat.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Lumano, Senin (16/12) sore. “Sementara masih ditangani kabupaten/kota. Provinsi biasa hanya bantu logistik sepanjang masih tersedia,” ungkapnya.

Menurut laporan yang ia terima dari masing-masing kepala BPBD se-Kalbar, bencana batingsor sudah terjadi di beberapa daerah. Di Kota Pontianak, banjir terjadi beberapa hari lalu. Selain itu, bencana serupa juga terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu, Bengkayang, Sanggau, Melawi, Landak, Sambas dan juga Kota Singkawang.

“Hanya untuk (data) kecamatan dan desa yang terdampak sebaiknya langsung kontak dengan kalak (kepala kantor BPBD) kabupaten/kota,” katanya singkat.(bar/mse)

 

Banjir Besar Landa Desa Pancaroba dan Teluk Bakung

PONTIANAK – Banjir besar kembali menggenangi rumah warga di sepanjang Jalan Trans Kalimantan, mulai dari Desa Pancaroba hingga Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya. Banjir ini sudah terjadi sejak empat hari lalu. Kondisi kemarin, Senin (16/12) merupakan yang terparah dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Ketinggian banjir di dalam rumah bisa sampai 60 cm. Meski demikian warga masih tetap bertahan dan tidak mengungsi. “Kami tetap di rumah dan belum ada rencana untuk mengungsi,” kata Darwis saat ditemui di lokasi banjir.

Rumah Darwis sebenarnya berbentuk rumah panggung. Namun, rumah pria itu tetap terendam air lantaran berada di dataran yang lebih rendah dari rumah yang lain. Hal ini juga yang menyebabkan genangan air di rumahnya lebih dalam dibandingkan rumah-rumah warga yang lain.

Darwis tinggal bersama dua anak dan istrinya. Kedua anaknya tidak sekolah lantaran tempat anak-anaknya belajar itu juga kebanjiran. Darwis pun tidak bekerja selama sepekan terakhir karena tempat kerjanya juga terendam.

“Bagaimana mau kerja dalam kondisi banjir seperti sekarang. Saya sehari-harinya menoreh getah di hutan. Dalam kondisi seperti sekarang karet pun terendam,” tutur pria berusia 49 tahun itu.

Menurut Darwis, banjir kali ini lebih parah dari sebelumnya. Apalagi di malam sebelumnya, kawasan sekitar diguyur hujan deras. Kondisi itu juga yang ikut menyebabkan debit air naik sehingga menggenangi isi rumah masyarakat.

Darwis berharap pemerintah segera memberikan bantuan. Utamanya bantuan sembako. Hingga siang kemarin, bantuan dari pemerintah belum diterima para korban banjir.

Iyut, istri Darwis bercerita, selama banjir mereka terpaksa membuat panggung atau para-para di dalam rumah. Masyarakat sekitar menyebutnya ‘Karangkong’. Tempat itulah yang dimanfaatkan untuk tidur. Meski demikian, mereka tetap khawatir sewaktu-waktu ketinggian air semakin bertambah. “Waswas juga. Takutnya pas tidur air malah semakin naik,” kata wanita berusia 40 tahun itu.

Selain rumah warga, banjir juga merendam Jalan Trans Kalimantan. Ketinggian air bisa mencapai satu meter. Kondisi itu terjadi di Kampung Banga, Desa Teluk Bakung.

Sejumlah warga berinisiatif memberikan petunjuk jalan untuk membantu kendaraan yang melintas. Walaupun begitu, pengemudi tetap harus ekstra hati-hati. Pasalnya ada beberapa ruas jalan yang berlubang.

Banjir yang menggenangi jalan itu mulai dari kilometer 37 hingga 41. Terhitung ada lima titik banjir paling dalam yakni antara kilometer 38 dan 39. Kondisi tersebut juga menyebabkan kendaraan yang melintas harus bergantian. Banjir semakin parah karena hujan deras pada malam sebelumnya. Banyak kendaraan roda dua yang memaksa melintas mogok di tengah jalan, lantaran ketinggian air mencapai satu meter.

Baca Juga :  Akui Potensi Penambahan Kasus Covid-19

Jaka, warga Desa Pancaroba (52) berharap instansi terkait dapat turun tangan menyikapi bencana ini. Ia juga mengakui banjir tahun ini lebih parah dari tahun lalu. Hal ini tampak pada genangan air yang masuk ke dalam rumah. Tahun lalu, kata Jaka, ketinggian air dalam rumahnya hanya setengah meter. Sementara sekarang, ketinggian air mencapai sekitar  satu meter.

Menurutnya, bantuan yang sangat diharapkan masyarakat setempat saat ini adalah sembako. Bantuan itu sangat perlu karena warga tidak bisa bekerja akibat banjir. “Masyarakat tak bisa noreh karena banjir seperti sekarang,” ungkapnya.

Warga lainnya, Yulianus (54), berharap pemerintah bisa melakukan normalisasi parit atau sungai. Ia berpendapat, banjir ini terjadi tak lepas dari derasnya hujan dan meluapnya air sungai.  “Kalau memang ada anggarannya, tolonglah lebarkan sungai kami agar daerah kami tak tergenang sepanjang tahun,” pintanya.

Ia menjelaskan genangan air yang merendam rumah warga di kawasan Pancaroba ini merupakan luapan dari Sungai Benua dan Sungai Lonce. Saat hujan, debit air bertambah dan di saat yang bersamaan sungai tak mampu lagi menampung sehingga terjadi banjir.

“Tempat kami terendam banjir karena sungai yang menampung air terlalu kecil. Agar tak menjadi langganan banjir, kami minta normalisasi sungai,” kata pria yang sehari-hari menoreh karet ini.

Kepala Dusun Teluk Lais, Desa Teluk Bakung, Silpianus mengatakan ada sekitar 130 rumah di Teluk Lais yang terendam. Ketingian air di dalam rumah mencapai sekitar 50 cm. “Di dalam rumah belum ada yang sampai satu meter,” katanya.

Menurutnya, banjir yang terjadi di Teluk Lais ini terhitung sejak enam hari lalu. Ada tiga hari di mana kondisi banjir dinilai cukup parah. “Hari ini (kemarin-red) puncak dari banjir beberapa hari sebelumnya,” kata dia.

Ia menambahkan, sehari sebelumnya kondisi banjir belum begitu parah. Bahkan kendaraan roda dua masih bisa melintas. “Karena hujan deras turun, lalu makin parah. Motor tak bisa lewat. Ada maksa dan kendaraannya pun mogok,” tambahnya.

Menyikapi hal ini, dirinya sudah melapor ke pemerintah desa, BPBD dan dinas sosial. Selain itu, laporan tentang kondisi masyarakat korban banjir juga disampaikan ke kepolisian. “Sudah dilaporkan semua, dikirimkan foto rumah yang terendam air,” katanya.

Baca Juga :  Pemkab Luncurkan Siskeudes Online

Dalam pelaporan itu, ia juga mengajukan permohonan bantuan ke dinas terkait. Ia berharap bantuan utama berupa bahan pokok dapat segera disalurkan. “Bantuan yang diberikan jangan tanggung-tanggung. Masyarakat di sini hingga ke Pancaroba, mata pencahariannya menoreh getah. Dengan kondisi kayak gini masyarakat pun tak bisa turun noreh,” jelasnya.

Di satu sisi, Silpianus merasa prihatin karena warganya sedang tertimpa musibah banjir. Namun di sisi lain, ia tetap bersyukur. Soalnya, masa panen nanas telah tiba. Dengan demikian, sebagian masyarakat punya alternatif penghasilan selain dari menoreh karet. “Itu pun tak semua masyarakat panen nanas. Makanya kami berharap bantuan utama seperti beras bisa segera diberikan ke masyarakat,” harapnya.

 

Berkah Banjir

Sementara itu, banjir yang merendam ruas jalan Trans Kalimantan memberikan keuntungan bagi sebagian warga. Mereka menawarkan jasa angkutan bagi pengendara sepeda motor yang tidak mau nekat melintasi jalan yang terendam air.

“Baru hari ini mulai, karena kondisi jalan yang direndam air hari ini lebih parah dari kemarin,” kata Jubaidi (42).

Jasa angkutan sepeda motor itu menggunakan truk atau pikap. Jika menggunakan truk, sekali angkut bisa memuat empat hingga lima sepeda motor. “Kalau motor besar hanya empat tetapi kalau motor biasa bisa lima unit,” ceritanya.

Mereka tidak menekankan biaya yang harus dibayar pemilik sepeda motor. Mereka sifatnya hanya ingin menawarkan jasa untuk membantu. “Mau dikasih Rp50 ribu atau Rp30 ribu pun kami terima,” sebutnya.

 Siaga Batingsor

Intensitas hujan yang tinggi di wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) membuat beberapa daerah rentan mengalami banjir, puting beliung dan tanah longsor (batingsor).  Sementara ini bencana batingsor yang terjadi di beberapa daerah masih dalam status siaga darurat. Artinya bencana tersebut belum mencapai status tanggap darurat.

Demikian diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Lumano, Senin (16/12) sore. “Sementara masih ditangani kabupaten/kota. Provinsi biasa hanya bantu logistik sepanjang masih tersedia,” ungkapnya.

Menurut laporan yang ia terima dari masing-masing kepala BPBD se-Kalbar, bencana batingsor sudah terjadi di beberapa daerah. Di Kota Pontianak, banjir terjadi beberapa hari lalu. Selain itu, bencana serupa juga terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu, Bengkayang, Sanggau, Melawi, Landak, Sambas dan juga Kota Singkawang.

“Hanya untuk (data) kecamatan dan desa yang terdampak sebaiknya langsung kontak dengan kalak (kepala kantor BPBD) kabupaten/kota,” katanya singkat.(bar/mse)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/