alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, July 4, 2022

Pedasnya Harga Cabai, Kalbar Harus Ciptakan Lumbungnya

PONTIANAK – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Barat, Suib meminta pedasnya harga cabai di pasar-pasar tradisional Kalbar sejak Januari 2021 kemarin diimbangi dengan strategi pemerintah dan kelompok tani dengan membangkitkan tanaman lokalnya. “Harusnya Kalbar memang sejak dahulu ada lumbung cabai Kalbar. Sehingga tidak selalu terimbas pedasnya harga cabai. Harusnya di beberapa daerah sejak dahulu sudah dipilih sebagai titik tanamnya. Jangan hanya kita mengandalkan pasokan cabai dari luar saja,” ucapnya, Rabu(17/3) di Pontianak.

Sueb menyebutkan penyebab sering mahalnya, harga cabai di pasaran karena memang ketersediaan bumbu dapur dan pelengkap ini tidak selalu standbye di lapak-lapak para pedagang tradisional. Seandainya memang ada, jumlahnya juga terbatas karena pasokan pihak ketiga tidak selalu penuh. Akibatnya berlaku hukum ekonomi antara demand dan supply. “Makanya pola begini harus sudah kita ubah,” ucapnya.

Baca Juga :  Kontingen Peparnas Kalbar Kumpulkan 8 Medali, 4 Medali Emas Dari Cabor Renang

Lumbung cabai di Kalimantan Barat adalah bagaimana membangun kawasan produktif pertanian khusus tingkat lokal. Tak hanyah tanaman cabai saja, tanaman lain yang sering langka pada momen tertentu juga dapat disiasati. Makanya pemerintah melalui dinas teknis dan kelompok tani dapat memikirkannya. “Kami siap seandainya nanti dianggarkan di APBD membantu masyarakat,” ujarnya.

Politisi Hanura Kalbar ini menerangkan bahwa produksi cabai di Kalbar memang tidak ada dalam skala industri. Yang ada hanya tanaman petani mandiri dan kelompok tani dalam jumlah terbatas. Makanya sering kali cabai di pasaran mengalami kelangkaan. Padahal cabai boleh dibilang sebagai tanaman unggulan.

Solusi lainnya adalah antara pemerintah membangun kerjasama dengan petani dari luar Kalbar untuk memenuhi pasokan cabai di Kalbar. Jangan selalu mengandalkan pihak ketiga yang tentunya sudah berhubungan dengan bisnis. Sementara cabai sendiri masuk sebagai tanaman rakyat yang disukai semua komponen masyarakat.

Baca Juga :  Harga Cabai di Kalbar Tembus Rp120 ribu

“Konsepnya adalah kerjasama saja dengan daerah penghasil cabai terbesar. Tentu nantinya dari cabai, pemerintah bisa mengkatrol harga pasar tidak naik terlampau tinggi dari pihak ketiga,” kata dia.

Di sisi lain, kata politisi Hanura dapil Kubu Raya-Mempawah ini, masyarakat bisa saja memanfaatkan perkarangan rumah dengan bertanam cabai secara mandiri. Seperti yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya, yakni bertanam tanaman hias bernilai tinggi. Ini juga selain dapat dimanfaatkan kebutuhan dapur sendiri, juga dapat dijual ke masyarakat.(den)

PONTIANAK – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Barat, Suib meminta pedasnya harga cabai di pasar-pasar tradisional Kalbar sejak Januari 2021 kemarin diimbangi dengan strategi pemerintah dan kelompok tani dengan membangkitkan tanaman lokalnya. “Harusnya Kalbar memang sejak dahulu ada lumbung cabai Kalbar. Sehingga tidak selalu terimbas pedasnya harga cabai. Harusnya di beberapa daerah sejak dahulu sudah dipilih sebagai titik tanamnya. Jangan hanya kita mengandalkan pasokan cabai dari luar saja,” ucapnya, Rabu(17/3) di Pontianak.

Sueb menyebutkan penyebab sering mahalnya, harga cabai di pasaran karena memang ketersediaan bumbu dapur dan pelengkap ini tidak selalu standbye di lapak-lapak para pedagang tradisional. Seandainya memang ada, jumlahnya juga terbatas karena pasokan pihak ketiga tidak selalu penuh. Akibatnya berlaku hukum ekonomi antara demand dan supply. “Makanya pola begini harus sudah kita ubah,” ucapnya.

Baca Juga :  Januari 2020 ASN Pemkot Terima TPP

Lumbung cabai di Kalimantan Barat adalah bagaimana membangun kawasan produktif pertanian khusus tingkat lokal. Tak hanyah tanaman cabai saja, tanaman lain yang sering langka pada momen tertentu juga dapat disiasati. Makanya pemerintah melalui dinas teknis dan kelompok tani dapat memikirkannya. “Kami siap seandainya nanti dianggarkan di APBD membantu masyarakat,” ujarnya.

Politisi Hanura Kalbar ini menerangkan bahwa produksi cabai di Kalbar memang tidak ada dalam skala industri. Yang ada hanya tanaman petani mandiri dan kelompok tani dalam jumlah terbatas. Makanya sering kali cabai di pasaran mengalami kelangkaan. Padahal cabai boleh dibilang sebagai tanaman unggulan.

Solusi lainnya adalah antara pemerintah membangun kerjasama dengan petani dari luar Kalbar untuk memenuhi pasokan cabai di Kalbar. Jangan selalu mengandalkan pihak ketiga yang tentunya sudah berhubungan dengan bisnis. Sementara cabai sendiri masuk sebagai tanaman rakyat yang disukai semua komponen masyarakat.

Baca Juga :  Masker Merah Putih, Momentum Yang Pas Saat HUT RI

“Konsepnya adalah kerjasama saja dengan daerah penghasil cabai terbesar. Tentu nantinya dari cabai, pemerintah bisa mengkatrol harga pasar tidak naik terlampau tinggi dari pihak ketiga,” kata dia.

Di sisi lain, kata politisi Hanura dapil Kubu Raya-Mempawah ini, masyarakat bisa saja memanfaatkan perkarangan rumah dengan bertanam cabai secara mandiri. Seperti yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya, yakni bertanam tanaman hias bernilai tinggi. Ini juga selain dapat dimanfaatkan kebutuhan dapur sendiri, juga dapat dijual ke masyarakat.(den)

Most Read

Artikel Terbaru

/