alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Berkenalan dengan Komunitas Love Borneo

Sejarah Hari Buku Nasional

Hari Buku Nasional (Harbuknas) diperingati setiap tanggal 17 Mei. Peringatan ini sekaligus memperingati peresmian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980. Peringatannya disahkan sejak tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar.

Harbuknas merupakan sebuah perayaan untuk memperingati pentingnya budaya membaca. Hadirnya momen tersebut juga sebagai pemacu agar minat baca masyarakat Indonesia meningkat. Penetapan Harbuknas juga bukan tanpa alasan, di mana saat itu minat baca di Indonesia tergolong masih rendah, sekitar 18 ribu judul buku pertahunnya.

Sementara berdasarkan survei dari Unesco tahun 2011, menunjukkan indeks tingkat membaca di Indonesia hanya 0,001 persen. Ini sama halnya seperti dari 1.000 orang, hanya ada 1 yang punya keinginan untuk membaca buku.

Berbagi hingga Pelosok Negeri

Beragam cara untuk berperan membangun negeri. Salah satunya melalui literasi. Demi mencerdaskan anak negeri. Langkah ini pula yang komunitas Love Borneo pilih. Berbagi manfaat membaca hingga pelosok negeri.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

UCAPAN selamat Hari Buku Nasional (Harbuknas) yang jatuh setiap 17 Mei ramai di lini massa. Sebagai kampanye menumbuhkan minat baca, Komunitas Love Borneo ikut berperan didalamnya. Mereka mendirikan rumah baca, untuk anak-anak di daerah.

Ada 17 rumah baca (aktif) yang didirikan Raynaldo Ginting dan kawan-kawannya tersebut. Rumah baca yang dimaksud tersebar di beberapa daerah di Kalbar. Ada yang dikunjungi setiap pekan, ada juga yang setiap bulan. Jarak jauh tak menjadi persoalan. Ditaklukkan dengan rasa kepedulian.

Baca Juga :  2.500 Lampion Hiasi Wajah Kota

Love Borneo memilih rumah baca untuk menyebarkan virus literasi. Membaca memiliki manfaat besar bagi kemajuan. Mereka berharap, anak-anak yang tinggal jauh dari perkotaan, tetap bisa mengakses bahan bacaan. Kelak mampu membawa perubahan untuk masa depan.

Love borneo merasakan dampak positifnya. Anak-anak di desa yang mereka kunjungi mendapatkan motivasi. Semangat sekolah lebih tinggi. Minat baca juga bertambah. Mungkin, kata Raynaldo, anak-anak ini mendapatkan semangat dari beragam cerita teman-teman Love Borneo yang berasal dari berbagai profesi.

“Setiap anak-anak itu sebetulnya anak kita. Anak-anak itu perlu dapat kesempatan dapat hidup yang lebih baik. Termasuk anak-anak di pedalaman. Sama seperti mereka itu perlu mandi, makan dan istirahat, begitu juga mereka yang khusus di pedalaman perlu membaca menulis dan bercerita,” jelasnya. Dia menambahkan sangat baik kalau semua pihak bisa mengambil bagian dan tanggung jawab untuk anak-anak di daerah.

Membangun minat baca di daerah diakui dia tidak mudah. Komunitas yang pada 2019 menerima penghargaan Apresiasi Satu Indonesia Award dari Astra Indonesia ini mesti punya cara khusus, agar  anak-anak tidak hanya antusias saat kali pertama mereka datang.

Baca Juga :  Lulusan SMK Menganggur

Ada sukarelawan di lokasi rumah baca yang siap untuk membuat tempat itu tetap aktif. Mereka terus menjalin komunikasi agar rumah baca yang didirikan menjadi tempat yang menyenangkan. Selain itu, berkolaborasi dengan banyak pihak, untuk pengadaan buku-buku yang akan dikirim ke rumah baca.

Rumah baca ini menghadirkan bahan bacaan yang ramah anak,  seperti komik, buku tentang alam, dan buku-buku lain sesuai usia anak yang bisa mereka baca dan pahami sendiri. Secara rutin, buku itu ditukar dengan buku lain agar anak memiliki referensi bacaan baru. Kadang diisi dengan aktivitas belajar sambil bermain. Anak-anak diajak membuat karya yang menyenangkan. Sesekali memotivasi anak-anak menuliskan harapan mereka di masa depan.

Raynaldo mengatakan target utama dari komunitas ini menciptakan anak-anak di daerah gemar membaca. Jika gemar membaca, maka dia yakin anak-anak menjadi cerdas dan pintar. Dia optimistis, kehadiran rumah baca bisa mendongkrak kemampuan membaca anak-anak yang masih rendah. Bahkan ada anak kelas enam SD yang seharusnya sudah lancar membaca, diakui dia, masih terbata-bata. Di lain sisi, kata dia, anak-anak ini dihadapkan pada tantangan kurangnya guru, intensitas membaca di sekolah kurang, serta minimnya bahan bacaan yang mereka miliki. “Target lebih besarnya, anak-anak di daerah punya kesempatan besar dalam berkarya dan berkontribusi,” pungkasnya. (*)

Sejarah Hari Buku Nasional

Hari Buku Nasional (Harbuknas) diperingati setiap tanggal 17 Mei. Peringatan ini sekaligus memperingati peresmian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980. Peringatannya disahkan sejak tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fadjar.

Harbuknas merupakan sebuah perayaan untuk memperingati pentingnya budaya membaca. Hadirnya momen tersebut juga sebagai pemacu agar minat baca masyarakat Indonesia meningkat. Penetapan Harbuknas juga bukan tanpa alasan, di mana saat itu minat baca di Indonesia tergolong masih rendah, sekitar 18 ribu judul buku pertahunnya.

Sementara berdasarkan survei dari Unesco tahun 2011, menunjukkan indeks tingkat membaca di Indonesia hanya 0,001 persen. Ini sama halnya seperti dari 1.000 orang, hanya ada 1 yang punya keinginan untuk membaca buku.

Berbagi hingga Pelosok Negeri

Beragam cara untuk berperan membangun negeri. Salah satunya melalui literasi. Demi mencerdaskan anak negeri. Langkah ini pula yang komunitas Love Borneo pilih. Berbagi manfaat membaca hingga pelosok negeri.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

UCAPAN selamat Hari Buku Nasional (Harbuknas) yang jatuh setiap 17 Mei ramai di lini massa. Sebagai kampanye menumbuhkan minat baca, Komunitas Love Borneo ikut berperan didalamnya. Mereka mendirikan rumah baca, untuk anak-anak di daerah.

Ada 17 rumah baca (aktif) yang didirikan Raynaldo Ginting dan kawan-kawannya tersebut. Rumah baca yang dimaksud tersebar di beberapa daerah di Kalbar. Ada yang dikunjungi setiap pekan, ada juga yang setiap bulan. Jarak jauh tak menjadi persoalan. Ditaklukkan dengan rasa kepedulian.

Baca Juga :  Cahaya Dari Ujung Kampung

Love Borneo memilih rumah baca untuk menyebarkan virus literasi. Membaca memiliki manfaat besar bagi kemajuan. Mereka berharap, anak-anak yang tinggal jauh dari perkotaan, tetap bisa mengakses bahan bacaan. Kelak mampu membawa perubahan untuk masa depan.

Love borneo merasakan dampak positifnya. Anak-anak di desa yang mereka kunjungi mendapatkan motivasi. Semangat sekolah lebih tinggi. Minat baca juga bertambah. Mungkin, kata Raynaldo, anak-anak ini mendapatkan semangat dari beragam cerita teman-teman Love Borneo yang berasal dari berbagai profesi.

“Setiap anak-anak itu sebetulnya anak kita. Anak-anak itu perlu dapat kesempatan dapat hidup yang lebih baik. Termasuk anak-anak di pedalaman. Sama seperti mereka itu perlu mandi, makan dan istirahat, begitu juga mereka yang khusus di pedalaman perlu membaca menulis dan bercerita,” jelasnya. Dia menambahkan sangat baik kalau semua pihak bisa mengambil bagian dan tanggung jawab untuk anak-anak di daerah.

Membangun minat baca di daerah diakui dia tidak mudah. Komunitas yang pada 2019 menerima penghargaan Apresiasi Satu Indonesia Award dari Astra Indonesia ini mesti punya cara khusus, agar  anak-anak tidak hanya antusias saat kali pertama mereka datang.

Baca Juga :  Lulusan SMK Menganggur

Ada sukarelawan di lokasi rumah baca yang siap untuk membuat tempat itu tetap aktif. Mereka terus menjalin komunikasi agar rumah baca yang didirikan menjadi tempat yang menyenangkan. Selain itu, berkolaborasi dengan banyak pihak, untuk pengadaan buku-buku yang akan dikirim ke rumah baca.

Rumah baca ini menghadirkan bahan bacaan yang ramah anak,  seperti komik, buku tentang alam, dan buku-buku lain sesuai usia anak yang bisa mereka baca dan pahami sendiri. Secara rutin, buku itu ditukar dengan buku lain agar anak memiliki referensi bacaan baru. Kadang diisi dengan aktivitas belajar sambil bermain. Anak-anak diajak membuat karya yang menyenangkan. Sesekali memotivasi anak-anak menuliskan harapan mereka di masa depan.

Raynaldo mengatakan target utama dari komunitas ini menciptakan anak-anak di daerah gemar membaca. Jika gemar membaca, maka dia yakin anak-anak menjadi cerdas dan pintar. Dia optimistis, kehadiran rumah baca bisa mendongkrak kemampuan membaca anak-anak yang masih rendah. Bahkan ada anak kelas enam SD yang seharusnya sudah lancar membaca, diakui dia, masih terbata-bata. Di lain sisi, kata dia, anak-anak ini dihadapkan pada tantangan kurangnya guru, intensitas membaca di sekolah kurang, serta minimnya bahan bacaan yang mereka miliki. “Target lebih besarnya, anak-anak di daerah punya kesempatan besar dalam berkarya dan berkontribusi,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/