alexametrics
25 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Kurva Covid di Kalbar Landai

Angka Kematian Rendah, Jauh di Bawah Rata-rata

PONTIANAK – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Muhammad Asroruddin menilai laju penyebaran Covid-19 di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat cenderung lambat. Kesimpulan ini diambil bila membandingkan data orang positif dan tingkat kematian pada wabah serupa di negara-negara lain.

Terlebih bila melihat total populasi masyarakat Indonesia yang sangat besar jumlahnya. Hal ini diungkapkannya dalam seminar online tentang Covid-19, kemarin. “Secara gambaran kasar, perkembangan kasus Covid-19 di Kalbar cenderung lambat, dan sebagian besar adalah OTG, sehingga kurva tampak landai. Tetapi, perlu evaluasi lebih Ianjut karena masa pandemi diperkirakan masih berlangsung lama. Selain itu, pertambahan pasien di rumah sakit juga relatif lambat. Diperkirakan karena rilis hasil terkonfirmasi dan sembuh juga lama,” ujar dokter yang juga mantan pasien Covid-19 itu.

Berdasarkan data per Sabtu (16/5), ada 4,6 juta penderita Covid-19 di seluruh dunia dengan angka kematian 300-an juta jiwa. Sedangkan di Indonesia ada 17.025 kasus dengan kematian 1.089 jiwa. Adapun di Kalimantan Barat, selama dua bulan ini temuan kasus mencapai 132 orang. Tiga di antaranya meninggal. Bila melihat tingkat kekritisan dan kematian penderita Covid-19 di dunia, maka angka di Kalbar jauh di bawah rata-rata.

Tingkat fatalitas Covid-19 di berbagai wilayah dunia ini kerap membingungkan para ahli. Lantas apa penyebab tingkat perbedaan tingkat kematian akibat virus ini? Dosen FMIPA Untan, Risa Noviani menyebut, jenis dan tipe virus memainkan peranan penting. Selain itu pendekatan kebijakan negara, iklim, kualitas dan kuantitas rumah sakit dan kepatuhan masyarakat memainkan peranan penting.

“Ada perbedaan strain virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 yang berkembang di sejumlah negara. Selain itu strategi pengujian dan kebijakan Covid-19 lintas negara juga sangat menentukan data yang ada. Tingkat kematian juga ditentukan kualitas dan akses ke perawatan Kesehatan. Sain faktor-faktor demografis seperti prevalensi lansia dalam suatu populasi, serta faktor sosial ekonomi masyarakat,” papar dia.

Baca Juga :  Atasi Keterbatasan Jaringan Internet dengan Mengajar Door-to-Door

Guru Besar Kimia Untan, Prof Dr Thamrin Usman menyebut Indonesia, lebih-lebih Kalbar yang dilintasi garis Khatulistiwa tergolong beruntung. Pasalnya sumber penguat imun (immune booster) sangat melimpah di alam. Sebagai contoh matahari yang menyengat sepanjang hari adalah sumber vitamin D yang menjadi modal untuk imunitas. Sinar matahari di Khatulistiwa juga memiliki sinar UV-B yang kuat yang bisa membunuh virus lebih cepat di luar inang, sehingga memperlambat penyebaran.

Begitu juga dengan vitamin C yang banyak ditemukan pada buah-buahan. Begitu juga tumbuhan lain yang punya propolis, curcuma dan zinc untuk antibodi. Bahkan sebagai tumbuhan obat dan antivirus juga bertebaran di Kalbar. Dia mencontohkan daun purik atau kratom yang diprediksi bisa menyembuhkan Covid-19.

Dia menjelaskan, senyawa mitragini (7 Hidromitragini atau 7HMG) telah berhasil diisolasi dari kratom, dan memiliki aktivitas antimalaria. Senyawa 7HMG memiliki kemiripan gugus fungsional dengan senyawa Hidroklorokuin. Adapun senyawa terakhir ini merupakan obat antimalaria yang digunakan semua negara untuk menyembuhkan pasien Covid-19. “Maka mitragini dari kratom pun diprediksi bisa menyembuhkan Covid-19,” jelas Thamrin.

Thamrin juga menyebut Virgin Coconut Oil atau minyak kelapa murni telah terbukti menyembuhkan Covid-19. “VCO mengandung senyawa aktif asam laurat dan monolaurin (sebagai derivatnya) yang memiliki aktivitas antivirus dengan cara menghambat tahap pematangan terakhir dalam siklus replikasi virus. Selain iti menyebabkan disintegrasi terhadap membran virus; Mencegah penyatuan protein virus ke sel membran induk. VCO juga dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh. Kandungan asam lemak Omega tiganya juga dapat membantu memperbaiki kualitas metabolisme,” papar dia.

Baca Juga :  AM.Nasir: Kejayaan PPP Kalbar Harus Kembali

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Kamtono mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk memutus penyebaran Covid-19. Misalnya pembatasan operasional warung kopi, penutupan Jalan Gajah Mada, penerapan jam malam, meliburkan sekolah, melarang ibadah massal, dan aktivitas yang mengundang keramaian lainnya. Pemkot juga terus mensosialisasikan physical distancing, kebiasaan mencuci tangan dan menggunakan masker bagi masyarakat.

Kendati demikian Asroruddin melihat pola penanganan Covid-19 dan kedisiplinan masyarakat, sesungguhnya Indonesia, termasuk Kalbar dan Pontianak memiliki tantangan yang amat tinggi. Apalagi apabila melihat belum ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir.

Asro menilai Gugus Tugas harus sering koordinasi lintas sektoral. Begitu juga masalah pada alat diagnostik. Terjadi keterlambatan pemeriksaan konfirmasi dengan PCR sehingga banyak kasus belum terkonfirmasi untuk yang reaktif, PDP, dan sembuh. “Akibatnya terjadi keterlambatan tracing,” kata dia.

Masalah lain adalah sulitnya mengungkap kasus pada sebagian penderita. Contohnya ada pejabat publik yang tidak bersedia didatangi petugas dan di-tracing. Penderita dari pejabat publik dan tokoh masyarakat juga enggan untuk mendeklarasikan diri. Padahal bila dilakukan akan menjadi sosialisasi yang efektif bagi masyarakat.

Di tingkat masyarakat tantangan juga sangat besar. Asro menilai pemakaian masker massal masih belum ideal atau belum mencapai 95 persen dari total populasi. Begitu juga kebiasaan mencuci tangan dengan sabun yang masih minim. “Bahkan tempat umum belum sepenuhnya menerapkan social distancing. Begitu juga tingkat mobilitas masyarakat masih tinggi, terutama di luar jam malam,” pungkasnya. (ars)

Angka Kematian Rendah, Jauh di Bawah Rata-rata

PONTIANAK – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Muhammad Asroruddin menilai laju penyebaran Covid-19 di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat cenderung lambat. Kesimpulan ini diambil bila membandingkan data orang positif dan tingkat kematian pada wabah serupa di negara-negara lain.

Terlebih bila melihat total populasi masyarakat Indonesia yang sangat besar jumlahnya. Hal ini diungkapkannya dalam seminar online tentang Covid-19, kemarin. “Secara gambaran kasar, perkembangan kasus Covid-19 di Kalbar cenderung lambat, dan sebagian besar adalah OTG, sehingga kurva tampak landai. Tetapi, perlu evaluasi lebih Ianjut karena masa pandemi diperkirakan masih berlangsung lama. Selain itu, pertambahan pasien di rumah sakit juga relatif lambat. Diperkirakan karena rilis hasil terkonfirmasi dan sembuh juga lama,” ujar dokter yang juga mantan pasien Covid-19 itu.

Berdasarkan data per Sabtu (16/5), ada 4,6 juta penderita Covid-19 di seluruh dunia dengan angka kematian 300-an juta jiwa. Sedangkan di Indonesia ada 17.025 kasus dengan kematian 1.089 jiwa. Adapun di Kalimantan Barat, selama dua bulan ini temuan kasus mencapai 132 orang. Tiga di antaranya meninggal. Bila melihat tingkat kekritisan dan kematian penderita Covid-19 di dunia, maka angka di Kalbar jauh di bawah rata-rata.

Tingkat fatalitas Covid-19 di berbagai wilayah dunia ini kerap membingungkan para ahli. Lantas apa penyebab tingkat perbedaan tingkat kematian akibat virus ini? Dosen FMIPA Untan, Risa Noviani menyebut, jenis dan tipe virus memainkan peranan penting. Selain itu pendekatan kebijakan negara, iklim, kualitas dan kuantitas rumah sakit dan kepatuhan masyarakat memainkan peranan penting.

“Ada perbedaan strain virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 yang berkembang di sejumlah negara. Selain itu strategi pengujian dan kebijakan Covid-19 lintas negara juga sangat menentukan data yang ada. Tingkat kematian juga ditentukan kualitas dan akses ke perawatan Kesehatan. Sain faktor-faktor demografis seperti prevalensi lansia dalam suatu populasi, serta faktor sosial ekonomi masyarakat,” papar dia.

Baca Juga :  Pandemi Covid-19 Terkendali dan Ekonomi Indonesia Tumbuh Jadi Bukti Keseriusan Kebijakan Program Pemerintah

Guru Besar Kimia Untan, Prof Dr Thamrin Usman menyebut Indonesia, lebih-lebih Kalbar yang dilintasi garis Khatulistiwa tergolong beruntung. Pasalnya sumber penguat imun (immune booster) sangat melimpah di alam. Sebagai contoh matahari yang menyengat sepanjang hari adalah sumber vitamin D yang menjadi modal untuk imunitas. Sinar matahari di Khatulistiwa juga memiliki sinar UV-B yang kuat yang bisa membunuh virus lebih cepat di luar inang, sehingga memperlambat penyebaran.

Begitu juga dengan vitamin C yang banyak ditemukan pada buah-buahan. Begitu juga tumbuhan lain yang punya propolis, curcuma dan zinc untuk antibodi. Bahkan sebagai tumbuhan obat dan antivirus juga bertebaran di Kalbar. Dia mencontohkan daun purik atau kratom yang diprediksi bisa menyembuhkan Covid-19.

Dia menjelaskan, senyawa mitragini (7 Hidromitragini atau 7HMG) telah berhasil diisolasi dari kratom, dan memiliki aktivitas antimalaria. Senyawa 7HMG memiliki kemiripan gugus fungsional dengan senyawa Hidroklorokuin. Adapun senyawa terakhir ini merupakan obat antimalaria yang digunakan semua negara untuk menyembuhkan pasien Covid-19. “Maka mitragini dari kratom pun diprediksi bisa menyembuhkan Covid-19,” jelas Thamrin.

Thamrin juga menyebut Virgin Coconut Oil atau minyak kelapa murni telah terbukti menyembuhkan Covid-19. “VCO mengandung senyawa aktif asam laurat dan monolaurin (sebagai derivatnya) yang memiliki aktivitas antivirus dengan cara menghambat tahap pematangan terakhir dalam siklus replikasi virus. Selain iti menyebabkan disintegrasi terhadap membran virus; Mencegah penyatuan protein virus ke sel membran induk. VCO juga dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh. Kandungan asam lemak Omega tiganya juga dapat membantu memperbaiki kualitas metabolisme,” papar dia.

Baca Juga :  Nama Kijing Sudah Tepat sebagai Pelabuhan Internasional

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Kamtono mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk memutus penyebaran Covid-19. Misalnya pembatasan operasional warung kopi, penutupan Jalan Gajah Mada, penerapan jam malam, meliburkan sekolah, melarang ibadah massal, dan aktivitas yang mengundang keramaian lainnya. Pemkot juga terus mensosialisasikan physical distancing, kebiasaan mencuci tangan dan menggunakan masker bagi masyarakat.

Kendati demikian Asroruddin melihat pola penanganan Covid-19 dan kedisiplinan masyarakat, sesungguhnya Indonesia, termasuk Kalbar dan Pontianak memiliki tantangan yang amat tinggi. Apalagi apabila melihat belum ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir.

Asro menilai Gugus Tugas harus sering koordinasi lintas sektoral. Begitu juga masalah pada alat diagnostik. Terjadi keterlambatan pemeriksaan konfirmasi dengan PCR sehingga banyak kasus belum terkonfirmasi untuk yang reaktif, PDP, dan sembuh. “Akibatnya terjadi keterlambatan tracing,” kata dia.

Masalah lain adalah sulitnya mengungkap kasus pada sebagian penderita. Contohnya ada pejabat publik yang tidak bersedia didatangi petugas dan di-tracing. Penderita dari pejabat publik dan tokoh masyarakat juga enggan untuk mendeklarasikan diri. Padahal bila dilakukan akan menjadi sosialisasi yang efektif bagi masyarakat.

Di tingkat masyarakat tantangan juga sangat besar. Asro menilai pemakaian masker massal masih belum ideal atau belum mencapai 95 persen dari total populasi. Begitu juga kebiasaan mencuci tangan dengan sabun yang masih minim. “Bahkan tempat umum belum sepenuhnya menerapkan social distancing. Begitu juga tingkat mobilitas masyarakat masih tinggi, terutama di luar jam malam,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/