alexametrics
27.8 C
Pontianak
Thursday, August 18, 2022

Tak Ada lagi Sahut-sahutan Dentuman Meriam

Ramadan dan Lebaran Tahun Ini tanpa Meriam Karbit

Ada yang berbeda dari biasanya, saat dentuman meriam karbit tak terdengar di Ramadan kali ini. Sahut-sahutan meriam karbit antara hulu dan hilir biasanya begitu menghiasi pada bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

RIESALA ANVAR, Pontianak

BERBEDA dari tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kali ini tidak ada hiruk pikuk dentuman meriam karbit yang biasa hadir di saat menjelang lebaran. Terutama bagi warga yang berada di tepian Sungai Kapuas.

Ada yang berbeda ketika Ramadan tanpa meriam karbit. Sejak awal memasuki bulan puasa, tidak ada kegiatan mempersiapkan meriam seperti biasanya.

Decki, salah satu pengurus meriam Al-Falah Jalan Tanjung Harapan, Kecamatan Pontianak Timur, mengatakan proses perakitan meriam biasanya sudah dijalankan dari awal Ramadan. Dari mulai pembentukan panitia hingga perakitan meriam dilakukan mereka full selama Ramadan.

“Mulanya dari pembentukan panitia, menjalankan proposal, hingga gotong royong perakitan meriam dan masih banyak lagi yang dilakukan,” ucap dia.

Baca Juga :  COVID-19 Belum Berakhir, TP PKK Provinsi Kalbar Kembali Salurkan Sembako

Namun ia mengungkapkan tahun ini begitu terasa ada yang berbeda. Biasanya, diakui dia, ketika sudah mendekati lebaran pasti terdengar suara sahut-sahutan meriam. “Tidak dipungkiri suara sahut-sahutan meriam antara seberang sana dengan seberang sini menjadi pertanda bahwa lebaran sudah akan datang,” terangnya.

Meskipun demikian, Decki menilai keputusan pemerintah untuk tidak menghadirkan festival meriam karbit di tahun ini sangat tepat. Dengan masih banyaknya kasus Covid-19 di Kota Pontianak, dia sependapat bahwa kegiatan keramaian tidak perlu untuk diselenggarakan terlebih dahulu.

“Pemerintah juga fokus untuk menanggulangi Covid-19, jadi kegiatan keramaian cukup untuk ditunda dahulu. Mungkin bisa digelar kembali di tahun depan,” imbuhnya.

Sebelumnya, keputusan Pemerintah Kota Pontianak untuk meniadakan festival meriam karbit karena saat ini sedang dilanda wabah Covid-19. Namun akan dihadirkan kembali di tahun depan.

“Dengan pertimbangan yang ada, maka tahun ini festival meriam karbit tidak digelar,” kata Wali Kota Edi Rusdi Kamtono, pekan lalu. Menurutnya, salah satu upaya untuk memerangi wabah virus korona ini ialah dengan menerapkan pembatasan fisik. Ini juga yang menjadi alasan mereka terpaksa tidak menggelar festival meriam karbit, untuk meminimalisir terjadinya kerumunan orang.

Baca Juga :  ASN Dilarang Tambah Libur

“Siapa yang bisa menjamin masyarakat tak berbondong-bondong menyaksikan secara langsung jika festival itu digelar?” kata Edi.

Ia pun mengingatkan bahwa festival meriam karbit bukan satu-satunya event khas Kota Pontianak yang batal digelar akibat pandemi. Festival lain yang batal digelar sebut dia seperti festival titik kulminasi.

Edi sendiri tak dapat menyembunyikan kesedihannya lantaran membayangkan tradisi meriam karbit menjelang Idulfitri tidak digelar. Sedari kecil dia menjadi saksi bagaimana rutinitas tahunan yang tak hilang di kalangan masyarakat Kota Pontianak ketika akan menyambut lebaran. Dentuman suara meriam yang menggelegar hingga subuh merupakan sesuatu yang selalu dirindukannya. (*)

Ramadan dan Lebaran Tahun Ini tanpa Meriam Karbit

Ada yang berbeda dari biasanya, saat dentuman meriam karbit tak terdengar di Ramadan kali ini. Sahut-sahutan meriam karbit antara hulu dan hilir biasanya begitu menghiasi pada bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

RIESALA ANVAR, Pontianak

BERBEDA dari tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kali ini tidak ada hiruk pikuk dentuman meriam karbit yang biasa hadir di saat menjelang lebaran. Terutama bagi warga yang berada di tepian Sungai Kapuas.

Ada yang berbeda ketika Ramadan tanpa meriam karbit. Sejak awal memasuki bulan puasa, tidak ada kegiatan mempersiapkan meriam seperti biasanya.

Decki, salah satu pengurus meriam Al-Falah Jalan Tanjung Harapan, Kecamatan Pontianak Timur, mengatakan proses perakitan meriam biasanya sudah dijalankan dari awal Ramadan. Dari mulai pembentukan panitia hingga perakitan meriam dilakukan mereka full selama Ramadan.

“Mulanya dari pembentukan panitia, menjalankan proposal, hingga gotong royong perakitan meriam dan masih banyak lagi yang dilakukan,” ucap dia.

Baca Juga :  Tenny; Pencegahan Covid-19, Stok Alkon Jangan Kosong

Namun ia mengungkapkan tahun ini begitu terasa ada yang berbeda. Biasanya, diakui dia, ketika sudah mendekati lebaran pasti terdengar suara sahut-sahutan meriam. “Tidak dipungkiri suara sahut-sahutan meriam antara seberang sana dengan seberang sini menjadi pertanda bahwa lebaran sudah akan datang,” terangnya.

Meskipun demikian, Decki menilai keputusan pemerintah untuk tidak menghadirkan festival meriam karbit di tahun ini sangat tepat. Dengan masih banyaknya kasus Covid-19 di Kota Pontianak, dia sependapat bahwa kegiatan keramaian tidak perlu untuk diselenggarakan terlebih dahulu.

“Pemerintah juga fokus untuk menanggulangi Covid-19, jadi kegiatan keramaian cukup untuk ditunda dahulu. Mungkin bisa digelar kembali di tahun depan,” imbuhnya.

Sebelumnya, keputusan Pemerintah Kota Pontianak untuk meniadakan festival meriam karbit karena saat ini sedang dilanda wabah Covid-19. Namun akan dihadirkan kembali di tahun depan.

“Dengan pertimbangan yang ada, maka tahun ini festival meriam karbit tidak digelar,” kata Wali Kota Edi Rusdi Kamtono, pekan lalu. Menurutnya, salah satu upaya untuk memerangi wabah virus korona ini ialah dengan menerapkan pembatasan fisik. Ini juga yang menjadi alasan mereka terpaksa tidak menggelar festival meriam karbit, untuk meminimalisir terjadinya kerumunan orang.

Baca Juga :  Idul Adha 1441 Hijriah, Tak Ada Larangan Mudik

“Siapa yang bisa menjamin masyarakat tak berbondong-bondong menyaksikan secara langsung jika festival itu digelar?” kata Edi.

Ia pun mengingatkan bahwa festival meriam karbit bukan satu-satunya event khas Kota Pontianak yang batal digelar akibat pandemi. Festival lain yang batal digelar sebut dia seperti festival titik kulminasi.

Edi sendiri tak dapat menyembunyikan kesedihannya lantaran membayangkan tradisi meriam karbit menjelang Idulfitri tidak digelar. Sedari kecil dia menjadi saksi bagaimana rutinitas tahunan yang tak hilang di kalangan masyarakat Kota Pontianak ketika akan menyambut lebaran. Dentuman suara meriam yang menggelegar hingga subuh merupakan sesuatu yang selalu dirindukannya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/