alexametrics
28 C
Pontianak
Thursday, May 26, 2022

Geliat Perfilman Lokal yang Kian Diminati Publik

Industri perfilman di Kalimantan Barat semakin menemukan titik cerah. Tak sedikit film produksi lokal yang dilirik publik untuk dinikmati. Evi Yulianti, Seniman Kalbar meyakini, industri ini harus semakin didorong agar karya sineas Kalbar semakin disukai penonton.

—-

PEREMPUAN yang akrab disapa Uli ini mengatakan film lokal Kalbar saat ini sangat berkembang pesat. Tidak hanya di kota Pontianak, tapi di kabupaten juga sudah ada movie maker yang menurutnya keren.

Menurut Uli, dunia film kalbar berkembang seiring berkembangnya teknologi dan banyaknya kaum muda yang tertarik di dunia film.

“Banyak sekali anak muda Kalbar yang saat ini memilih jalur pendidikan film. Inilah yang membuat perfilman Kalbar bergerak cepat,” tuturnya.

Karya anak Kalbar, kata Uli, tidak kalah dengan karya anak dari Pulau Jawa, yang selama ini dicap memiliki banyak talenta di film. Hal Ini bisa dibuktikan dengan festival atau lomba di tingkat nasional yang bisa dimenangkan movie maker asal Kalbar.

“Dahulu, jika kita bermain film, biasanya kru atau sutradara itu didatangkan dari luar Kalbar. Namun sekarang, saya melihat, banyak sekali film indie yang diproduksi di Kalbar dan dikerjakan sendiri oleh putra daerah,” paparnya.

Baca Juga :  Spider-Man Balik ke MCU

Uli mengapresiasi  tren penonton film lokal bagus. Menurutnya, anak Kalbar sangat solid buat menonton karya sineasnya sendiri. “Contoh, ada film dari daerah Sambas yang dijual dalam bentuk CD. Dan itu dibeli. Laku keras,” ulasnya.

Menurut Uli, dalam sebuah karya tetap mengalami berbagai tantangan, di antaranya kekurangan dana untuk mengeksplore kemampuan pegiat perfilman lokal ini.

“Di Kalbar sendiri sudah ada film layar lebar yang diproduksi anak-anak Kalbar. Itu membuktikan bahwa sineas Kalbar, bergerak,” paparnya. Saat ini, kata Uli, dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memajukan film Kalbar.

“Kita bisa mengeksplore daerah kita sebagai setting sebuah film, yang artinya secara tidak langsung menjadi promosi wisata buat Kalbar. Nah di sini kerja sama dengan pemerintah masih kurang terjalin. Walaupun ada karya-karya teman-teman sineas yang mengeksplore keindahan Kalbar,” ulasnya.

Tantangan lain namun membanggakan menurut Uli, banyak sineas Kalbar yang berkarya di tengah keterbatasan alat. Dia yakin, ilmu dan ide mereka tiada batas.”Kita masih kebentur dengan dana. Orang masih sedikit mau menginvestasikan duitnya di film. Sedangkan buat produksi sebuah film yang melibatkan begitu banyak orang, memerlukan dana yang besar,” jelasnya.

Baca Juga :  Marvel Cinematic Universe tanpa Spider-Man

Tantangan lain dalam dunia perfilman lokal ini, lanjut Uli, pemain watak masih kurang. Sulit sekali menemukan pemain yang sesuai kebutuhan peran. Uli pun mengalami tantangan itu. Setiap film berkesan baginya, karena berbeda penggarapan.

“Saya pernah berperan sebagai Leha di Sukep the Movie. Ini film layar lebar pertama saya untuk garapan lokal. Sebelumnya saya pernah terlibat di film layar lebar nasional bersama Dedy Mizwar,” ujar dia. Wanita yang juga pernah terlibat di film ‘Kurang 2 Ons’ itu mengatakan, film ini sempat terpilih menjadi salah satu film pilihan di kompetisi film KPK nasional.

“Salah satu film yang berkesan, saat saya berperan menjadi istri dukun di film Shaman. Kita syuting di daerah Kubu Raya dan ada kisah mistis yang dialami seluruh kru. Cukup berkesan, karena saya ketakutan saat syuting. Kebetulan genre filmnya juga horor,”pungkasnya menceritakan pengalaman bermain film. (mrd)

Industri perfilman di Kalimantan Barat semakin menemukan titik cerah. Tak sedikit film produksi lokal yang dilirik publik untuk dinikmati. Evi Yulianti, Seniman Kalbar meyakini, industri ini harus semakin didorong agar karya sineas Kalbar semakin disukai penonton.

—-

PEREMPUAN yang akrab disapa Uli ini mengatakan film lokal Kalbar saat ini sangat berkembang pesat. Tidak hanya di kota Pontianak, tapi di kabupaten juga sudah ada movie maker yang menurutnya keren.

Menurut Uli, dunia film kalbar berkembang seiring berkembangnya teknologi dan banyaknya kaum muda yang tertarik di dunia film.

“Banyak sekali anak muda Kalbar yang saat ini memilih jalur pendidikan film. Inilah yang membuat perfilman Kalbar bergerak cepat,” tuturnya.

Karya anak Kalbar, kata Uli, tidak kalah dengan karya anak dari Pulau Jawa, yang selama ini dicap memiliki banyak talenta di film. Hal Ini bisa dibuktikan dengan festival atau lomba di tingkat nasional yang bisa dimenangkan movie maker asal Kalbar.

“Dahulu, jika kita bermain film, biasanya kru atau sutradara itu didatangkan dari luar Kalbar. Namun sekarang, saya melihat, banyak sekali film indie yang diproduksi di Kalbar dan dikerjakan sendiri oleh putra daerah,” paparnya.

Baca Juga :  Marvel Cinematic Universe tanpa Spider-Man

Uli mengapresiasi  tren penonton film lokal bagus. Menurutnya, anak Kalbar sangat solid buat menonton karya sineasnya sendiri. “Contoh, ada film dari daerah Sambas yang dijual dalam bentuk CD. Dan itu dibeli. Laku keras,” ulasnya.

Menurut Uli, dalam sebuah karya tetap mengalami berbagai tantangan, di antaranya kekurangan dana untuk mengeksplore kemampuan pegiat perfilman lokal ini.

“Di Kalbar sendiri sudah ada film layar lebar yang diproduksi anak-anak Kalbar. Itu membuktikan bahwa sineas Kalbar, bergerak,” paparnya. Saat ini, kata Uli, dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memajukan film Kalbar.

“Kita bisa mengeksplore daerah kita sebagai setting sebuah film, yang artinya secara tidak langsung menjadi promosi wisata buat Kalbar. Nah di sini kerja sama dengan pemerintah masih kurang terjalin. Walaupun ada karya-karya teman-teman sineas yang mengeksplore keindahan Kalbar,” ulasnya.

Tantangan lain namun membanggakan menurut Uli, banyak sineas Kalbar yang berkarya di tengah keterbatasan alat. Dia yakin, ilmu dan ide mereka tiada batas.”Kita masih kebentur dengan dana. Orang masih sedikit mau menginvestasikan duitnya di film. Sedangkan buat produksi sebuah film yang melibatkan begitu banyak orang, memerlukan dana yang besar,” jelasnya.

Baca Juga :  Gundala Lampaui Ekspektasi

Tantangan lain dalam dunia perfilman lokal ini, lanjut Uli, pemain watak masih kurang. Sulit sekali menemukan pemain yang sesuai kebutuhan peran. Uli pun mengalami tantangan itu. Setiap film berkesan baginya, karena berbeda penggarapan.

“Saya pernah berperan sebagai Leha di Sukep the Movie. Ini film layar lebar pertama saya untuk garapan lokal. Sebelumnya saya pernah terlibat di film layar lebar nasional bersama Dedy Mizwar,” ujar dia. Wanita yang juga pernah terlibat di film ‘Kurang 2 Ons’ itu mengatakan, film ini sempat terpilih menjadi salah satu film pilihan di kompetisi film KPK nasional.

“Salah satu film yang berkesan, saat saya berperan menjadi istri dukun di film Shaman. Kita syuting di daerah Kubu Raya dan ada kisah mistis yang dialami seluruh kru. Cukup berkesan, karena saya ketakutan saat syuting. Kebetulan genre filmnya juga horor,”pungkasnya menceritakan pengalaman bermain film. (mrd)

Most Read

Artikel Terbaru

/