alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Sylva Tolak Perambahan Arboretum

Rencana Dibangun Gedung Kampus

PONTIANAK –  Mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), menolak rencana pembangunan gedung program studi baru Fakultas Pertanian yang bakal merambah kawasan Arboretum Sylva. Perambahan areal pelestarian plasma nutfah tersebut selain mengancam tumbuhan dan satwa yang ada di sana, juga berpotensi mengurangi ruang terbuka hijau (RTH) yang memiliki manfaat besar bagi warga Kota Pontianak.

“Kami tidak ingin areal ini (Arboretum Sylva, red) berkurang, karena kawasan ini sangat dibutuhkan bukan hanya bagi kami mahasiswa Untan, melainkan warga kota Pontianak pada umumnya,” ungkap Jero Haryono, Ketua BEM Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC Untan, Rabu (17/6).

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki peran penting bagi lingkungan, khususnya di Kota Pontianak. Sebagai salah satu RTH, kawasan ini berfungsi sebagai daerah resapan air, penghasil oksigen, penyerap polusi udara, serta manfaat lingkungan lainnya. Di kawasan ini, lanjut dia, juga terdapat banyak tanaman endemik Kalbar, salah satunya adalah tengkawang.

Dari informasi yang ia dapatkan, rencana pembangunan tersebut, akan memangkas sekitar satu hektare dari 3,2 hektare total luas areal tersebut. Lokasinya, tepat di belakang Fakultas Pertanian Untan. Tepat di lokasi itu pula, kata dia, ada sejumlah pohon endemik yang berdiri. Karena itu, ia amat menyayangkan apabila rencana tersebut direalisasikan.

Penolakan terkait dengan rencana pembangunan prodi baru oleh Fakultas Pertanian yang merambah kawasan Arboretum Sylva tersebut, menurut dia, sudah disampaikan ke Pihak Fakultas Kehutanan. Sejauh ini respon dekan fakultas itu sejalan dengan keinginan mahasiswa dan para alumni. “Kami sudah konsolidasi dengan pihak Fakultas Kehutanan. Dekan kami pun sudah menyampaikan penolakan ini kepada rektor,” pungkas Mahasiswa angkatan 2016 ini.

Baca Juga :  Masyhudi Akan Tindak Tegas Pihak yang Korupsi Dana Covid-19

Darwin, alumni Fakultas Kehutanan Untan, juga menyayangkan rencana perambahan areal pelestarian plasma nutfah tersebut. Menurutnya, jika ada pengurangan luasan area tersebut, akan mengancam tanaman endemik yang tumbuh di sana. Bahkan, kata dia, tumbuhan langka akan hilang.

“Saat ini, di alam bebas sulit ditemui (tanaman langka, red). Karena itu, melalui Arboretum Sylva ini, kita berharap tumbuhan langka bisa kembangkan dan diperbanyak di sini,” harap Darwin.

Baginya, kawasan itu bukan hanya penting mahasiswa, alumni, maupun civitas akademika Untan, yang difungsikan sebagai tempat untuk belajar, melainkan juga menjadi bagian penting untuk warga Kota Pontianak. Termasuk hewan-hewan yang menggantungkan hidup di daerah itu. “Kawasan ini juga menjadi tempat bagi burung-burung bermigrasi,” tutur dia.

Saat ini, tambah dia, dirinya bersama para mahasiswa tengah melakukan kajian tentang dampak ekologi yang dihasilkan apabila rencana perambahan hutan di area tersebut dilakukan.

Sementara itu, Ikatan Alumni Kehutanan telah mengajukan pernyataan terbuka terkait wacana pembangunan prodi baru Fakultas Pertanian yang melewati batas-batas Kawasan Arboretum Sylva Untan. Mereka membuat sebuah petisi di laman change.org, dan menyatakan  sikap tegas menolak pengurangan luas kawasan pelestarian plasma nutfah tersebut. Hingga pukul 18.40, sebanyak 1.570 orang yang telah menandatangani petisi tersebut.

Sementara itu, aktivis lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar, Hendrikus Adam, menilai niat untuk mengurangi hutan yang merupakan RTH dalam wilayah Kota Pontianak sangat disayangkan. Terlebih, saat ini warga dunia sedang menghadapi risiko ancaman dari perubahan iklim akibat pemanasan global yang salah satunya karena deforestasi. “Tentu saja rencana tersebut kita sayangkan, karena pihak kampus yang seharusnya mempertahankan dan menjadi pelopor keberadaan kawasan hijau yang selama ini menjadi tempat belajar banyak pihak dengan keanekaragaman jenis tumbuhan dan penghasil oksigen justru berniat sebaliknya,” tutur Kepala Divisi Kajian dan Kampanye Walhi Kalbar ini.

Baca Juga :  Massa Minta Tes Usap Digratiskan

Karenanya, tambah dia, sebaiknya keinginan untuk mengurangi luasan wilayah Arboretum Sylva Untan yang telah ditetapkan sebagai RTH tersebut, dapat dihentikan. Menurutnya, perlu ada ruang dialog yang mengedepankan kepentingan bersama untuk menemukan solusi dan meninjau ulang rencana tersebut, dengan tidak malah memaksakan kehendak yang justru mengancam keberadaan RTH kota Pontianak.

“Jadi rencana pihak kampus untuk mengurangi kawasan Arboretum bukan hanya bertentangan dengan keinginan keluarga besar Ikatan Alumni Kehutanan yang disampaikan melalui petisi menolak pengurangan luas kawasan Arboretum, tapi juga berhadapan dengan publik (warga) dan pemerintah kota Pontianak,” jelas dia.

Adanya keinginan untuk mengurangi luasan Arboretum Sylva yang merupakan RTH tersebut, tambah dia  mengisyaratkan perlunya evaluasi serius dan perlunya membuka informasi atas luasan hutan dalam wilayah kota Pontianak sebagaimana diamanatkan Undang-undang dan aturan  yang ada minimal 30 persen dari luas wilayah.

Pontianak Post mencoba mengonfirmasi hal ini kepada Rektor Untan, Garuda Wiko, namun hingga berita ini ditulis, respon yang diharapkan tak kunjung datang. Begitu pula dengan Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Gusti Hardiansyah, saat dimintai tanggapannya, tidak merespon pesan yang kami kirim lewat pesan singkat. (sti)

Rencana Dibangun Gedung Kampus

PONTIANAK –  Mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan), menolak rencana pembangunan gedung program studi baru Fakultas Pertanian yang bakal merambah kawasan Arboretum Sylva. Perambahan areal pelestarian plasma nutfah tersebut selain mengancam tumbuhan dan satwa yang ada di sana, juga berpotensi mengurangi ruang terbuka hijau (RTH) yang memiliki manfaat besar bagi warga Kota Pontianak.

“Kami tidak ingin areal ini (Arboretum Sylva, red) berkurang, karena kawasan ini sangat dibutuhkan bukan hanya bagi kami mahasiswa Untan, melainkan warga kota Pontianak pada umumnya,” ungkap Jero Haryono, Ketua BEM Fakultas Kehutanan Sylva Indonesia PC Untan, Rabu (17/6).

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki peran penting bagi lingkungan, khususnya di Kota Pontianak. Sebagai salah satu RTH, kawasan ini berfungsi sebagai daerah resapan air, penghasil oksigen, penyerap polusi udara, serta manfaat lingkungan lainnya. Di kawasan ini, lanjut dia, juga terdapat banyak tanaman endemik Kalbar, salah satunya adalah tengkawang.

Dari informasi yang ia dapatkan, rencana pembangunan tersebut, akan memangkas sekitar satu hektare dari 3,2 hektare total luas areal tersebut. Lokasinya, tepat di belakang Fakultas Pertanian Untan. Tepat di lokasi itu pula, kata dia, ada sejumlah pohon endemik yang berdiri. Karena itu, ia amat menyayangkan apabila rencana tersebut direalisasikan.

Penolakan terkait dengan rencana pembangunan prodi baru oleh Fakultas Pertanian yang merambah kawasan Arboretum Sylva tersebut, menurut dia, sudah disampaikan ke Pihak Fakultas Kehutanan. Sejauh ini respon dekan fakultas itu sejalan dengan keinginan mahasiswa dan para alumni. “Kami sudah konsolidasi dengan pihak Fakultas Kehutanan. Dekan kami pun sudah menyampaikan penolakan ini kepada rektor,” pungkas Mahasiswa angkatan 2016 ini.

Baca Juga :  Tetap PTM Meski Masuk Zona Orange

Darwin, alumni Fakultas Kehutanan Untan, juga menyayangkan rencana perambahan areal pelestarian plasma nutfah tersebut. Menurutnya, jika ada pengurangan luasan area tersebut, akan mengancam tanaman endemik yang tumbuh di sana. Bahkan, kata dia, tumbuhan langka akan hilang.

“Saat ini, di alam bebas sulit ditemui (tanaman langka, red). Karena itu, melalui Arboretum Sylva ini, kita berharap tumbuhan langka bisa kembangkan dan diperbanyak di sini,” harap Darwin.

Baginya, kawasan itu bukan hanya penting mahasiswa, alumni, maupun civitas akademika Untan, yang difungsikan sebagai tempat untuk belajar, melainkan juga menjadi bagian penting untuk warga Kota Pontianak. Termasuk hewan-hewan yang menggantungkan hidup di daerah itu. “Kawasan ini juga menjadi tempat bagi burung-burung bermigrasi,” tutur dia.

Saat ini, tambah dia, dirinya bersama para mahasiswa tengah melakukan kajian tentang dampak ekologi yang dihasilkan apabila rencana perambahan hutan di area tersebut dilakukan.

Sementara itu, Ikatan Alumni Kehutanan telah mengajukan pernyataan terbuka terkait wacana pembangunan prodi baru Fakultas Pertanian yang melewati batas-batas Kawasan Arboretum Sylva Untan. Mereka membuat sebuah petisi di laman change.org, dan menyatakan  sikap tegas menolak pengurangan luas kawasan pelestarian plasma nutfah tersebut. Hingga pukul 18.40, sebanyak 1.570 orang yang telah menandatangani petisi tersebut.

Sementara itu, aktivis lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar, Hendrikus Adam, menilai niat untuk mengurangi hutan yang merupakan RTH dalam wilayah Kota Pontianak sangat disayangkan. Terlebih, saat ini warga dunia sedang menghadapi risiko ancaman dari perubahan iklim akibat pemanasan global yang salah satunya karena deforestasi. “Tentu saja rencana tersebut kita sayangkan, karena pihak kampus yang seharusnya mempertahankan dan menjadi pelopor keberadaan kawasan hijau yang selama ini menjadi tempat belajar banyak pihak dengan keanekaragaman jenis tumbuhan dan penghasil oksigen justru berniat sebaliknya,” tutur Kepala Divisi Kajian dan Kampanye Walhi Kalbar ini.

Baca Juga :  Wardah Gelar Bright Day Roadshow di Untan

Karenanya, tambah dia, sebaiknya keinginan untuk mengurangi luasan wilayah Arboretum Sylva Untan yang telah ditetapkan sebagai RTH tersebut, dapat dihentikan. Menurutnya, perlu ada ruang dialog yang mengedepankan kepentingan bersama untuk menemukan solusi dan meninjau ulang rencana tersebut, dengan tidak malah memaksakan kehendak yang justru mengancam keberadaan RTH kota Pontianak.

“Jadi rencana pihak kampus untuk mengurangi kawasan Arboretum bukan hanya bertentangan dengan keinginan keluarga besar Ikatan Alumni Kehutanan yang disampaikan melalui petisi menolak pengurangan luas kawasan Arboretum, tapi juga berhadapan dengan publik (warga) dan pemerintah kota Pontianak,” jelas dia.

Adanya keinginan untuk mengurangi luasan Arboretum Sylva yang merupakan RTH tersebut, tambah dia  mengisyaratkan perlunya evaluasi serius dan perlunya membuka informasi atas luasan hutan dalam wilayah kota Pontianak sebagaimana diamanatkan Undang-undang dan aturan  yang ada minimal 30 persen dari luas wilayah.

Pontianak Post mencoba mengonfirmasi hal ini kepada Rektor Untan, Garuda Wiko, namun hingga berita ini ditulis, respon yang diharapkan tak kunjung datang. Begitu pula dengan Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Gusti Hardiansyah, saat dimintai tanggapannya, tidak merespon pesan yang kami kirim lewat pesan singkat. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/