alexametrics
28.9 C
Pontianak
Wednesday, May 25, 2022

Maknai Kemerdekaan dengan Penanganan Covid-19 dan Pembangunan

Pemprov Kalbar menggelar upacara bendera dalam rangka peringatan HUT-76 RI secara terbatas di Halaman Kantor DPRD Kalbar, Selasa (17/8) pagi. Gubernur Kalbar Sutarmidji selaku inspektur upacara menyampaikan beberapa hal mulai dari penanganan Covid-19, hingga pembangunan di provinsi ini. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

MESKI dilaksanakan secara terbatas di tengah pandemi Covid-19, upacara peringatan HUT ke-76 Republik Indonesia (RS) di Kalimantan Barat (Kalbar) tetap berjalan penuh makna. Upacara cukup dihadiri masing-masing pimpinan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan protokol kesehatan yang ketat.

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan momentum kemerdekaan tahun ini harus tetap diisi dengan berbagai hal. Terutama dalam rangka penanganan masalah Covid-19 yang sampai saat ini masih terjadi. Khusus di Kalbar, ia bersyukur karena akhir-akhir ini tingkat keterisian tempat tidur (BOR) perawatan pasien Covid-19 sudah di angka 32 persen.

Walaupun demikian, Midji, sapaan karibnya, tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Di beberapa daerah dari hasil laporan laboratorium RT-PCR, Senin (16/8) malam menurutnya mulai ada kenaikan kasus.

“Saya harap ini menjadi perhatian betul, momentum penurunan (kasus) ini jangan kita lengah, karena sembilan daerah varian delta sudah pernah masuk, tapi alhamdulillah semuanya sembuh,” katanya usai upacara pengibaran bendera merah putih.

Inti dari penanggulangan Covid-19 dikatakan dia ada pada penanganan yang cepat. Karena saat ini mutasi virus atau virus varian baru sudah sulit untuk dibendung. Meski Satgas Covid-19 Kalbar juga sudah cukup ketat menjaga mobilitas masyarakat, terutama yang berasal dari luar Kalbar.

Baca Juga :  Ayo Biasakan Memakai Masker

“Karena ada dua varian lain yang gejalanya sudah ada di Kalbar. Kita kan tidak tahu yang dari luar negeri (membawa virus), kalau PMI pasti terpantau, kalau yang lain. Lalu Pemangkat yang terbuka dengan Kepulauan Riau. Makanya saya cepat ambil tindakan kapal penumpang (dari luar Kalbar) distop dulu. Karena dia pakai antigen,” paparnya.

Selain penanganan Covid-19, orang nomor satu di Kalbar itu juga menyampaikan soal perkembangan pembangunan. Dimana masih ada dua tahun APBD lagi di masa kepemimpinannya bersama Wagub Ria Norsan.

“Masalah kita (Pemprov) sebetulnya apa yang direncanakan bisa terealisasi. Hanya masalahnya di awal sudah berhadapan pada defisit anggaran, sebelum saya masuk itu mencapai Rp691 miliar. Kemudian dihadapkan dengan Covid-19, ini sudah dua tahun,” ujarnya.

Dengan adanya recofusing anggaran dan lain sebagainya, menurutnya membuat beberapa pembangunan infrastruktur yang awalnya bisa selesai lebih cepat akhirnya harus tertunda. Ia akan terus berupaya agar penggunaan anggaran ke depan bisa efisien dan efektif.

“Saya yakin itu bisa. Dua tahun (sisa) anggaran saya dengan Pak Wagub, Insyallah sebagian besar, walaupun mungkin ada pengurangan atau kurang targetnya. Tapi insyallah akan dikerjakan,” ucapnya.

Baca Juga :  Ritual Sembahyang Kubur di Bukit Seliung

Fokus ke depan tetap pada pembangunan infrastruktur Rumah Sakit, sekolah, jalan drainase dan air bersih. Untuk pembangunan jalan disebutkan dia seperti ruas jalan mulai dari Rasau Jaya hingga Sukadana dan Siduk. Kemudian peningkatan jalan Matau, Air Upas hingga Manis Mata. “Tapi belum bisa selesai (sekaligus), karena itu tadi, anggarannya digunakan pertama defisit, kedua untuk Covid-19,” jelasnya.

Selain infrastruktur pembangunan di bidang pendidikan juga penting dalam rangka peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam hal ini ia menilai perlu peran aktif pemerintah kabupaten/kota. Karena apa pun yang dibuat oleh Pemprov tidak akan berhasil jika daerah tidak ikut memperhatikan.

“Contoh Kayong (KKU) itu belum 63 IPM-nya. Bagimana kita (Kalbar) mau kejar 70. Sedangkan presiden kemarin target nasional 73, kita baru 67-68. Masalahnya daerah-daerah masih ada yang 62-63,” ungkapnya.

Daerah yang IPM-nya sudah cukup baik dikatakan Midji baru Kota Pontianak dan Singkawang. Pontianak IPM-nya sudah di angka 79, sementara Singkawang 72. “Yang lain belum, semua di bawah nasional. Ini yang berat di kita (Pemprov). Sehingga daerah harus paham variabel dari IPM itu,” pungkasnya.**

Pemprov Kalbar menggelar upacara bendera dalam rangka peringatan HUT-76 RI secara terbatas di Halaman Kantor DPRD Kalbar, Selasa (17/8) pagi. Gubernur Kalbar Sutarmidji selaku inspektur upacara menyampaikan beberapa hal mulai dari penanganan Covid-19, hingga pembangunan di provinsi ini. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

MESKI dilaksanakan secara terbatas di tengah pandemi Covid-19, upacara peringatan HUT ke-76 Republik Indonesia (RS) di Kalimantan Barat (Kalbar) tetap berjalan penuh makna. Upacara cukup dihadiri masing-masing pimpinan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan protokol kesehatan yang ketat.

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan momentum kemerdekaan tahun ini harus tetap diisi dengan berbagai hal. Terutama dalam rangka penanganan masalah Covid-19 yang sampai saat ini masih terjadi. Khusus di Kalbar, ia bersyukur karena akhir-akhir ini tingkat keterisian tempat tidur (BOR) perawatan pasien Covid-19 sudah di angka 32 persen.

Walaupun demikian, Midji, sapaan karibnya, tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Di beberapa daerah dari hasil laporan laboratorium RT-PCR, Senin (16/8) malam menurutnya mulai ada kenaikan kasus.

“Saya harap ini menjadi perhatian betul, momentum penurunan (kasus) ini jangan kita lengah, karena sembilan daerah varian delta sudah pernah masuk, tapi alhamdulillah semuanya sembuh,” katanya usai upacara pengibaran bendera merah putih.

Inti dari penanggulangan Covid-19 dikatakan dia ada pada penanganan yang cepat. Karena saat ini mutasi virus atau virus varian baru sudah sulit untuk dibendung. Meski Satgas Covid-19 Kalbar juga sudah cukup ketat menjaga mobilitas masyarakat, terutama yang berasal dari luar Kalbar.

Baca Juga :  Syarif Mahmud Protes Pembangunan Trotoar Bikin Macet

“Karena ada dua varian lain yang gejalanya sudah ada di Kalbar. Kita kan tidak tahu yang dari luar negeri (membawa virus), kalau PMI pasti terpantau, kalau yang lain. Lalu Pemangkat yang terbuka dengan Kepulauan Riau. Makanya saya cepat ambil tindakan kapal penumpang (dari luar Kalbar) distop dulu. Karena dia pakai antigen,” paparnya.

Selain penanganan Covid-19, orang nomor satu di Kalbar itu juga menyampaikan soal perkembangan pembangunan. Dimana masih ada dua tahun APBD lagi di masa kepemimpinannya bersama Wagub Ria Norsan.

“Masalah kita (Pemprov) sebetulnya apa yang direncanakan bisa terealisasi. Hanya masalahnya di awal sudah berhadapan pada defisit anggaran, sebelum saya masuk itu mencapai Rp691 miliar. Kemudian dihadapkan dengan Covid-19, ini sudah dua tahun,” ujarnya.

Dengan adanya recofusing anggaran dan lain sebagainya, menurutnya membuat beberapa pembangunan infrastruktur yang awalnya bisa selesai lebih cepat akhirnya harus tertunda. Ia akan terus berupaya agar penggunaan anggaran ke depan bisa efisien dan efektif.

“Saya yakin itu bisa. Dua tahun (sisa) anggaran saya dengan Pak Wagub, Insyallah sebagian besar, walaupun mungkin ada pengurangan atau kurang targetnya. Tapi insyallah akan dikerjakan,” ucapnya.

Baca Juga :  Hasil Rapid Test Negatif

Fokus ke depan tetap pada pembangunan infrastruktur Rumah Sakit, sekolah, jalan drainase dan air bersih. Untuk pembangunan jalan disebutkan dia seperti ruas jalan mulai dari Rasau Jaya hingga Sukadana dan Siduk. Kemudian peningkatan jalan Matau, Air Upas hingga Manis Mata. “Tapi belum bisa selesai (sekaligus), karena itu tadi, anggarannya digunakan pertama defisit, kedua untuk Covid-19,” jelasnya.

Selain infrastruktur pembangunan di bidang pendidikan juga penting dalam rangka peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam hal ini ia menilai perlu peran aktif pemerintah kabupaten/kota. Karena apa pun yang dibuat oleh Pemprov tidak akan berhasil jika daerah tidak ikut memperhatikan.

“Contoh Kayong (KKU) itu belum 63 IPM-nya. Bagimana kita (Kalbar) mau kejar 70. Sedangkan presiden kemarin target nasional 73, kita baru 67-68. Masalahnya daerah-daerah masih ada yang 62-63,” ungkapnya.

Daerah yang IPM-nya sudah cukup baik dikatakan Midji baru Kota Pontianak dan Singkawang. Pontianak IPM-nya sudah di angka 79, sementara Singkawang 72. “Yang lain belum, semua di bawah nasional. Ini yang berat di kita (Pemprov). Sehingga daerah harus paham variabel dari IPM itu,” pungkasnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/