alexametrics
24 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya

PONTIANAK – Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan membuka Lomba Inovasi Saprahan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-248 Kota Pontianak, Kamis (17/10). Dengan kegiatan ini ia berharap masyarakat Kalbar khususnya Kota Pontianak semakin mengenal adat istiadat dan budaya daerah untuk turut melestarikannya.

Menurut Norsan, Indonesia dikenal sebagai negara seribu pulau, dan sebagai konsekuensinya negara ini sangat kaya dengan keanekaragaman. Mulai dari berbagai suku bangsa termasuk tradisi dan budaya. Seperti saprahan di kota Pontianak.

“Yang tentu saja di dalamnya terkandung nilai-nilai etik dan moral, serta norma-norma yang mengedepankan pelestarian budaya bangsa,” katanya.

Nilai-nilai tersebut lanjut dia menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat. Kemudian menjadi pedoman dalam berperilaku dan berinteraksi dengan alam. Termasuk memberi landasan yang kuat bagi pengelolaan pelestarian budaya, selaras dan harmoni.

Baca Juga :  Temui Keluarga Korban, Sampaikan Belasungkawa

Kearifan lokal merupakan modal sosial dalam perspektif pembangunan yang berwawasan lingkungan yang diolah, dikaji dan ditempatkan pada posisi strategis untuk dikembangkan. Sehingga dapat menuju pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan ke arah yang lebih baik.

Dijelaskannya, tradisi saprahan merupakan manifestasi kegotongroyongan. Hidup saling menjaga keberagaman dan semua dipandang sama. Saprahan merupakan jamuan makan yang melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya bukan hanya yang hadir untuk menikmati tapi juga yang menyiapkan sajian tertentu.

Makan saprahan bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi dan ukhuwah, hubungan baik antar manusia. Dengan semangat gotong-royong yang sangat kental tanpa membedakan latar belakang seseorang.

“Apakah dia itu unsur pejabat, tokoh maupun orang yang dituakan. Tradisi makan saprahan ini memiliki makna duduk sama rendah berdiri sama tinggi yang terkesan sangat kental dengan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial,” ujarnya.

Baca Juga :  Si 'Penumpang Pesawat' Sempat Terlacak di Pontianak Timur, Namun Berhasil Kabur

Dari tradisi dan budaya yang ada di masyarakat ini dapat menciptakan kearifan lokal yang jika dikembangkan atau dikemas dengan baik dapat dijual sebagai wisata budaya. Dengan demikian tradisi saprahan juga dapat menjadi kekuatan untuk memajukan daerah.

“Budaya daerah ini harus dilestarikan agar dapat bertahan dan menjadi kebanggaan daerah,” pesannya.(bar/r)

PONTIANAK – Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan membuka Lomba Inovasi Saprahan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-248 Kota Pontianak, Kamis (17/10). Dengan kegiatan ini ia berharap masyarakat Kalbar khususnya Kota Pontianak semakin mengenal adat istiadat dan budaya daerah untuk turut melestarikannya.

Menurut Norsan, Indonesia dikenal sebagai negara seribu pulau, dan sebagai konsekuensinya negara ini sangat kaya dengan keanekaragaman. Mulai dari berbagai suku bangsa termasuk tradisi dan budaya. Seperti saprahan di kota Pontianak.

“Yang tentu saja di dalamnya terkandung nilai-nilai etik dan moral, serta norma-norma yang mengedepankan pelestarian budaya bangsa,” katanya.

Nilai-nilai tersebut lanjut dia menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat. Kemudian menjadi pedoman dalam berperilaku dan berinteraksi dengan alam. Termasuk memberi landasan yang kuat bagi pengelolaan pelestarian budaya, selaras dan harmoni.

Baca Juga :  Melayu Food Court, Sajikan Empat Variasi Saprahan Nasi

Kearifan lokal merupakan modal sosial dalam perspektif pembangunan yang berwawasan lingkungan yang diolah, dikaji dan ditempatkan pada posisi strategis untuk dikembangkan. Sehingga dapat menuju pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan ke arah yang lebih baik.

Dijelaskannya, tradisi saprahan merupakan manifestasi kegotongroyongan. Hidup saling menjaga keberagaman dan semua dipandang sama. Saprahan merupakan jamuan makan yang melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya bukan hanya yang hadir untuk menikmati tapi juga yang menyiapkan sajian tertentu.

Makan saprahan bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi dan ukhuwah, hubungan baik antar manusia. Dengan semangat gotong-royong yang sangat kental tanpa membedakan latar belakang seseorang.

“Apakah dia itu unsur pejabat, tokoh maupun orang yang dituakan. Tradisi makan saprahan ini memiliki makna duduk sama rendah berdiri sama tinggi yang terkesan sangat kental dengan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial,” ujarnya.

Baca Juga :  Kenalkan Budaya Pontianak Mulai dari Lingkup Kecil

Dari tradisi dan budaya yang ada di masyarakat ini dapat menciptakan kearifan lokal yang jika dikembangkan atau dikemas dengan baik dapat dijual sebagai wisata budaya. Dengan demikian tradisi saprahan juga dapat menjadi kekuatan untuk memajukan daerah.

“Budaya daerah ini harus dilestarikan agar dapat bertahan dan menjadi kebanggaan daerah,” pesannya.(bar/r)

Most Read

Artikel Terbaru

/