alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Perpustakaan adalah Jantungnya Sekolah

Setiap 18 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Perpustakaan Sekolah Internasional. Perpustakaan sekolah dianggap sebagai bagian penting untuk menambah  ilmu dan wawasan peserta didik, selain yang di dapat dari ruang kelas.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

DI era digital seperti sekarang ini, perpustakaan sekolah juga menyesuaikan dengan kebutuhan. Mendekatkan buku dengan siswa menjadi salah satu cara yang dilakukan SMA N 1 Pontianak untuk meningkatkan budaya literasi peserta didik.

Ema Susanti, wakil Kepala Sarana dan Prasarana SMA N 1 Pontianak mengatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan perpustakaan digital. “Dalam waktu dekat, rencananya kami akan membeli  satu server khusus untuk perpustakaan. Kalau nanti sudah di digitalkan perpustakaan tidak lagi terkendala dengan server,” katanya. Dia juga menambahkan akan menyiapkan perangkat pendukung lainnya. Saat ini, menurut dia, sudah ada e-book sebanyak 29 judul mata pelajaran, sehingga masih terbatas.

Tahun lalu, SMA N 1 Pontianak masuk 15 finalis dalam lomba perpustakaan secara nasional. Hal ini memotivasi mereka untuk semakin memperbaiki kualitas perpustakaan. “Alhamdulillah salah satu perpustakaan sekolah yang sudah terakreditasi di Kalbar hanya SMAN 1, pertama akreditasi sekitar dua tahun lalu,” jelasnya.

MEMBACA KOLEKSI BUKU: Siswa SMA Negeri 1 Pontianak sedang membaca salah satu koleksi buku di perpustakaan sekolah mereka. MARSITA RIANDINI/PONTIANAK POST

Perpustakaan ini, menurut dia, menjadi jantung bagi siswa dan seluruh warga sekolah. Menurutnya, dari perpustakaan inilah memberikan banyak informasi. Pembiasaan gerakan literasi di sekolah ini juga telah dilaksanakan mereka sejak empat tahun lalu. Bahkan mereka menyediakan 40 pojok baca, baik di luar kelas maupun di dalam kelas.

Baca Juga :  Revisi RTRW Kawasan Hutan di Pemukiman Warga

Pojok baca yang ada di kelas, diyakini dia, juga melatih para siswa untuk merawat buku-buku. Setiap hari, buku itu mereka yang rapikan dan menyusun kembali usai dibaca. Pihak sekolah juga bekerja sama dengan kemitraan dalam menyediakan pojok baca.

Selain  ribuan koleksi buku, pihak pengelola juga mendesain ruang baca menjadi ruang yang menyenangkan untuk para pemustaka menyelami bahan bacaan. Selain buku pengetahuan umum, cerita fiksi menjadi daya tarik para pemustaka yang masih remaja ini. Disusul dengan penikmat  referensi yang hanya bisa dibaca di tempat.

“Di sini juga digunakan untuk ruang belajar. Sesekali, ruang belajar dilakukan di perpustakaan. Bagi siswa yang sedang ikut lomba, karya ilmiah dan sebagainya juga memanfaatkan perpustakaan untuk bimbingan, berdiskusi, dan mencari literatur yang dibutuhkan,” pungkasnya.

Buku Fisik Masih Diminati

Perpustakaan sekolah dapat menjadi alternatif untuk belajar yang lebih menguntungkan dibandingkan hanya belajar di rumah dan di kelas. Nur Asmah, pengelola Perpustakaan MAN 2 Pontianak mengatakan, meski buku juga sudah merambah ke era digital, tetapi  kunjungan siswa ke perpustakaan cukup ramai. Ada ratusan bahkan mencapai ribuan kunjungan, menurut dia, setiap bulannya.

Baca Juga :  Prokes Ujian SBMPTN Berjalan Baik

“Itu sebelum pandemi. Perpustakaan masih diminati siswa,” katanya.

Beragam literatur yang dicari. Ada yang hanya baca, banyak juga yang dipinjam siswa dari ribuan koleksi yang ada. Ada kalanya, siswa juga belajar di perpustakaan. Segala materi bahan ajar maupun untuk keperluan studi lainnya, tersedia lebih banyak tersedia dibanding di kelas.

Jelang malam minggu, koleksi novel juga diburu. Menurut Asmah, ini menunjukkan minat baca siswa itu beragam. Termasuk saat mempersiapkan lomba, maka koleksi literatur untuk OSN dan KSM yang dicari.

Perubahan kurikulum ikut berpengaruh terhadap koleksi buku di perpustakaan sekolah.  Penyiangan, kata dia, mengeluaran sejumlah koleksi dari perpustakaan karena dianggap tidak relevan lagi, terlalu banyak jumlah eksemplarnya, sudah ada edisi baru, atau koleksi itu termasuk terbitan yang dilarang. Koleksi ini dapat ditukarkan dengan koleksi perpustakaan lainnya, dihadiahkan, atau dihancurkan untuk pembuatan kertas lagi. “Penyiangan dilakukan kalau buku rusak, dimakan rayap, atau perubahan kurikulum seperti sekarang ini. Kami baru saja melakukan penyiangan,” ungkap dia.

Asmah juga melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah lain untuk mendistribusikan buku-buku layak pakai dari hasil proses penyiangan. Terutama ke sekolah-sekolah swasta yang membutuhkan. (*)

Setiap 18 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Perpustakaan Sekolah Internasional. Perpustakaan sekolah dianggap sebagai bagian penting untuk menambah  ilmu dan wawasan peserta didik, selain yang di dapat dari ruang kelas.

MARSITA RIANDINI, Pontianak

DI era digital seperti sekarang ini, perpustakaan sekolah juga menyesuaikan dengan kebutuhan. Mendekatkan buku dengan siswa menjadi salah satu cara yang dilakukan SMA N 1 Pontianak untuk meningkatkan budaya literasi peserta didik.

Ema Susanti, wakil Kepala Sarana dan Prasarana SMA N 1 Pontianak mengatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan perpustakaan digital. “Dalam waktu dekat, rencananya kami akan membeli  satu server khusus untuk perpustakaan. Kalau nanti sudah di digitalkan perpustakaan tidak lagi terkendala dengan server,” katanya. Dia juga menambahkan akan menyiapkan perangkat pendukung lainnya. Saat ini, menurut dia, sudah ada e-book sebanyak 29 judul mata pelajaran, sehingga masih terbatas.

Tahun lalu, SMA N 1 Pontianak masuk 15 finalis dalam lomba perpustakaan secara nasional. Hal ini memotivasi mereka untuk semakin memperbaiki kualitas perpustakaan. “Alhamdulillah salah satu perpustakaan sekolah yang sudah terakreditasi di Kalbar hanya SMAN 1, pertama akreditasi sekitar dua tahun lalu,” jelasnya.

MEMBACA KOLEKSI BUKU: Siswa SMA Negeri 1 Pontianak sedang membaca salah satu koleksi buku di perpustakaan sekolah mereka. MARSITA RIANDINI/PONTIANAK POST

Perpustakaan ini, menurut dia, menjadi jantung bagi siswa dan seluruh warga sekolah. Menurutnya, dari perpustakaan inilah memberikan banyak informasi. Pembiasaan gerakan literasi di sekolah ini juga telah dilaksanakan mereka sejak empat tahun lalu. Bahkan mereka menyediakan 40 pojok baca, baik di luar kelas maupun di dalam kelas.

Baca Juga :  Anak Muda Harus Maksimalkan Perpustakaan

Pojok baca yang ada di kelas, diyakini dia, juga melatih para siswa untuk merawat buku-buku. Setiap hari, buku itu mereka yang rapikan dan menyusun kembali usai dibaca. Pihak sekolah juga bekerja sama dengan kemitraan dalam menyediakan pojok baca.

Selain  ribuan koleksi buku, pihak pengelola juga mendesain ruang baca menjadi ruang yang menyenangkan untuk para pemustaka menyelami bahan bacaan. Selain buku pengetahuan umum, cerita fiksi menjadi daya tarik para pemustaka yang masih remaja ini. Disusul dengan penikmat  referensi yang hanya bisa dibaca di tempat.

“Di sini juga digunakan untuk ruang belajar. Sesekali, ruang belajar dilakukan di perpustakaan. Bagi siswa yang sedang ikut lomba, karya ilmiah dan sebagainya juga memanfaatkan perpustakaan untuk bimbingan, berdiskusi, dan mencari literatur yang dibutuhkan,” pungkasnya.

Buku Fisik Masih Diminati

Perpustakaan sekolah dapat menjadi alternatif untuk belajar yang lebih menguntungkan dibandingkan hanya belajar di rumah dan di kelas. Nur Asmah, pengelola Perpustakaan MAN 2 Pontianak mengatakan, meski buku juga sudah merambah ke era digital, tetapi  kunjungan siswa ke perpustakaan cukup ramai. Ada ratusan bahkan mencapai ribuan kunjungan, menurut dia, setiap bulannya.

Baca Juga :  Revisi RTRW Kawasan Hutan di Pemukiman Warga

“Itu sebelum pandemi. Perpustakaan masih diminati siswa,” katanya.

Beragam literatur yang dicari. Ada yang hanya baca, banyak juga yang dipinjam siswa dari ribuan koleksi yang ada. Ada kalanya, siswa juga belajar di perpustakaan. Segala materi bahan ajar maupun untuk keperluan studi lainnya, tersedia lebih banyak tersedia dibanding di kelas.

Jelang malam minggu, koleksi novel juga diburu. Menurut Asmah, ini menunjukkan minat baca siswa itu beragam. Termasuk saat mempersiapkan lomba, maka koleksi literatur untuk OSN dan KSM yang dicari.

Perubahan kurikulum ikut berpengaruh terhadap koleksi buku di perpustakaan sekolah.  Penyiangan, kata dia, mengeluaran sejumlah koleksi dari perpustakaan karena dianggap tidak relevan lagi, terlalu banyak jumlah eksemplarnya, sudah ada edisi baru, atau koleksi itu termasuk terbitan yang dilarang. Koleksi ini dapat ditukarkan dengan koleksi perpustakaan lainnya, dihadiahkan, atau dihancurkan untuk pembuatan kertas lagi. “Penyiangan dilakukan kalau buku rusak, dimakan rayap, atau perubahan kurikulum seperti sekarang ini. Kami baru saja melakukan penyiangan,” ungkap dia.

Asmah juga melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah lain untuk mendistribusikan buku-buku layak pakai dari hasil proses penyiangan. Terutama ke sekolah-sekolah swasta yang membutuhkan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/