alexametrics
25 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Budidaya Jeruk Teknik Moraga Kian Bergeliat

PONTIANAK – Budidaya jeruk siam yang menerapkan teknik Moraga di Kabupaten Sambas Kian bergeliat. Teknik yang ditemukan oleh Ramli, petani asal Desa Gapura, Kecamatan Sambas itu, kian digeluti oleh petani lainnya di kabupaten itu. Komoditas tersebut kini menjadi salah satu sumber penghasilan petani, di samping perkebunan karet.

“Banyak anggota kelompok kami menanam jeruk model Moraga, dan alhamdulillah bisa menutupi dan bahkan memberi kebahagiaan kepada mereka,” ungkap Ramli.

Teknik Moraga sendiri merupakan kependekan dari Modifikasi Ramli Gapura. Sesuai dengan namanya, teknik ini ditemukan oleh Ramli. Teknik ini memungkinkan panen dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dari pada panen buah jeruk pada umumnya. Dengan teknik ini pula, Ramli mengaku jeruk yang dihasilkan sangat baik dan menjadi incaran banyak pemasok jeruk di Sambas.

“Saat ini harga jeruk (Teknik Moraga) Rp12.500 per kilogram untuk buah grade A,” kata dia.

Baca Juga :  Upaya RSUD Soedarso Tingkatkan Pelayanan, Pasien Bisa Reservasi Online Sejak Juli

Harga tersebut, tentu lebih tinggi dari harga jeruk siam pada umumnya di kabupaten itu, yang hanya Rp5.000 per kilogram. Dengan harga yang cukup tinggi itu, menurut Ramli, kini petani memiliki pendapatan lain selain dari kebun karet. Terlebih pada musim hujan seperti saat ini, komoditas karet menghadapi tantangan, mulai dari kesulitan memanen hingga kualitas karet yang tidak maksimal.

“Beberapa tahun ini kami mencoba keluar dari permasalahan seperti ini musim penghujan ini, dan setelah menanam jeruk, ada hasil sebagai pengganti (penghasilan) di musim hujan,” tutur dia.

Ramli mengatakan, saat ini banyak petani dari desa lain yang melakukan kunjungan ke desanya untuk belajar teknik Moraga yang ia temukan. Kata dia, warga dari berbagai daerah yang berkunjung hampir setiap hari itu, mengharapkan komoditas jeruk menjadi sumber penghasilan lain yang selama ini kebanyakan mereka hanya bergantung pada satu komoditas.

Baca Juga :  Serbuan Vaksinasi, Anak Muda Pun Antusias

“Sekarang petani belajar ke tempat kita, mereka menganggap kita bisa keluar dari masalah-masalah petani pada umumnya, yang hanya mengunggulkan satu komoditas untuk menghidupi keluarga,” tutur dia.

Tak sekadar belajar, lanjut dia, kini pesanan bibit jeruk juga mulai berdatangan. Bulan depan saja, sudah ada belasan orang yang memesan bibit jeruk siam miliknya sebanyak 2000 buah, yang merupakan petani asal Kecamatan Tebas, Salatiga, Teluk Keramat, Sambas, Semparuk, Pemangkat, dan Selakau

Di desanya kini, tambah dia, yang semula hanya ada sekitar 18 hektare luasan tanaman jeruk, sekarang sudah mendekati 70 hektare. Meluasnya lahan jeruk di desanya itu, tak lain karena hasil yang diberikan sangat menjanjikan. Terlebih dalam mengembangkan komoditas ini, para petani saling bahu membahu dan bersatu dalam wadah Kelompok Tani Buluh Serumpun. (sti)

PONTIANAK – Budidaya jeruk siam yang menerapkan teknik Moraga di Kabupaten Sambas Kian bergeliat. Teknik yang ditemukan oleh Ramli, petani asal Desa Gapura, Kecamatan Sambas itu, kian digeluti oleh petani lainnya di kabupaten itu. Komoditas tersebut kini menjadi salah satu sumber penghasilan petani, di samping perkebunan karet.

“Banyak anggota kelompok kami menanam jeruk model Moraga, dan alhamdulillah bisa menutupi dan bahkan memberi kebahagiaan kepada mereka,” ungkap Ramli.

Teknik Moraga sendiri merupakan kependekan dari Modifikasi Ramli Gapura. Sesuai dengan namanya, teknik ini ditemukan oleh Ramli. Teknik ini memungkinkan panen dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dari pada panen buah jeruk pada umumnya. Dengan teknik ini pula, Ramli mengaku jeruk yang dihasilkan sangat baik dan menjadi incaran banyak pemasok jeruk di Sambas.

“Saat ini harga jeruk (Teknik Moraga) Rp12.500 per kilogram untuk buah grade A,” kata dia.

Baca Juga :  PKM Jurusan Teknik Mesin Polnep di Ponpes Darul Musabbihin

Harga tersebut, tentu lebih tinggi dari harga jeruk siam pada umumnya di kabupaten itu, yang hanya Rp5.000 per kilogram. Dengan harga yang cukup tinggi itu, menurut Ramli, kini petani memiliki pendapatan lain selain dari kebun karet. Terlebih pada musim hujan seperti saat ini, komoditas karet menghadapi tantangan, mulai dari kesulitan memanen hingga kualitas karet yang tidak maksimal.

“Beberapa tahun ini kami mencoba keluar dari permasalahan seperti ini musim penghujan ini, dan setelah menanam jeruk, ada hasil sebagai pengganti (penghasilan) di musim hujan,” tutur dia.

Ramli mengatakan, saat ini banyak petani dari desa lain yang melakukan kunjungan ke desanya untuk belajar teknik Moraga yang ia temukan. Kata dia, warga dari berbagai daerah yang berkunjung hampir setiap hari itu, mengharapkan komoditas jeruk menjadi sumber penghasilan lain yang selama ini kebanyakan mereka hanya bergantung pada satu komoditas.

Baca Juga :  Banyak Warkop Langgar Aturan, Mulai dari Prokes Hingga Batas Waktu Operasi

“Sekarang petani belajar ke tempat kita, mereka menganggap kita bisa keluar dari masalah-masalah petani pada umumnya, yang hanya mengunggulkan satu komoditas untuk menghidupi keluarga,” tutur dia.

Tak sekadar belajar, lanjut dia, kini pesanan bibit jeruk juga mulai berdatangan. Bulan depan saja, sudah ada belasan orang yang memesan bibit jeruk siam miliknya sebanyak 2000 buah, yang merupakan petani asal Kecamatan Tebas, Salatiga, Teluk Keramat, Sambas, Semparuk, Pemangkat, dan Selakau

Di desanya kini, tambah dia, yang semula hanya ada sekitar 18 hektare luasan tanaman jeruk, sekarang sudah mendekati 70 hektare. Meluasnya lahan jeruk di desanya itu, tak lain karena hasil yang diberikan sangat menjanjikan. Terlebih dalam mengembangkan komoditas ini, para petani saling bahu membahu dan bersatu dalam wadah Kelompok Tani Buluh Serumpun. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/