alexametrics
31 C
Pontianak
Thursday, June 30, 2022

Dibangun 1900-an, Bukti Banyak Warga Depresi di Zaman Penjajahan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) bakal mengusulkan bangunan Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Sungai Bangkong menjadi cagar budaya. Seperti apa sejarah bangunan yang dulunya dikenal dengan sebutan Roemah Sakit Gila dan sudah berdiri lebih dari 100 tahun tersebut?

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Di zaman kolonial Belanda, sekitar awal tahun 1900-an, masyarakat di Kalimantan Barat banyak yang mengalami depresi akibat penjajahan. Dari situlah asal muasal didirikannya Rumah Sakit Jiwa Pontianakatau yang sekarang dikenal dengan nama RSJD Sungai Bangkong.  “Jadi memang diperuntukkan menampung masyarakat keterbelakangan mental. Saat itu depresi berat melanda Kalbar,” ungkap Peminat Kajian Sejarah dan Budaya Kalbar Syafaruddin Usman saat ditanya soal sejarah bangunan tersebut, Kamis (18/2).

Menurutnya Rumah Sakit (RS) tersebutdibangun di kawasan Sungai Bangkong, yang kala itu lokasinya berada di luar Tanah Seribuatau di luar Kota Pontianak sekarang. Karena hitungannya saat itu berada di luar kota, RS yang kini beralamat di Jalan Alianyang No.1 itu dianggap sebagai bangunan terpencil. Kawasannya dipagari oleh hutan rimbun dan rawa-rawa.

Lokasinya termasuk dalam wilayah Sekip Darat dan dikenal sebagai Kampung Sungai Bangkong.Beberapatenagamedisnyasaat ituberasal dari Batavia dan Surabaya. Mereka adalah para alumni Schooltot Opleidingvan Indische Artsen(STOVIA)dan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Dua sekolah kedokteran yang ada di Indonesia ketika itu.

Hingga masa pendudukan Jepang, dokter pribumi yang bertugas di RS tersebut salah satunya adalah dr. RM Ismael. Dokter pribumi itu kemudian ikut menjadi korban dalam peristiwa pembantaian sadis oleh Jepang pada tahun 1944.   “Ikut jadi korban kebengisan militer Jepang. Sayangnya nama dr. Ismael tidak diabadikan untuk nama rumah sakit ini sebagaimana nama dr.Rubini di Mempawah, dr. Agusdjam di Ketapang atau dr. Soedarso di Pontianak dan lain-lainnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  KPP Pontianak Barat Imbau WP Ikut PPS

Bangunan fisik RSJD Sungai Bangkong pada zaman kolonial Belanda dikenal sebagai Roemah Sakit Gila. Dibangun sekitar tahun 1911dan diperkirakan lebih dulu dibangun sebelumcagar budaya Kantor Pos dan Telegraf,serta Sekolah Rakjat di Jalan Tamar. Bangunannya juga sudah mengalami beberapa kali renovasi. Pada masadr. Soedarso hinggadr. RM Notosoenariomenjabatsebagai Kepala Inspeksi Kesehatan Keresidenan dan kemudianmenjadiProvinsiKalbartahun 1958-1960, saat itulah dimulai renovasi bangunan. Secara singkat sejalan juga dengan semakin mekarnya daerah Kota Pontianak, membuat keberadaan RS tersebut yang awalnya di pinggiran kota menjadi berada di dalam kota seperti sekarang ini.

Karena keaslian bangunannya yang masih cukup terjaga hingga saat ini dan sejarahnya yang cukup panjang, Pemprov Kalbar berencana mengusulkan bangunan tersebut sebagai salah satu cagar budaya.

Direktur RSJDSungai Bangkong Batara Sianipar mengungkapkan, dilihat dari sejarah dan berdasarkan surat yang pihaknya miliki,RStersebut sudah ada sejak 1939. Yang ia tahu RS tersebut dibangun oleh salah seorang pengusaha di Pontianak. Namun demikian ia belum bisa menjelaskan lebih detail mengenai sejarah bangunan tersebut.

Baca Juga :  Tak Ada lagi Sahut-sahutan Dentuman Meriam

Untuk mengusulkannya sebagai cagar budaya, pihaknya bakal melibatkan sejarawan untuk membuat kajian. Prosesnya sedang berlangsung, termasuk menyipakan berbagai hal untuk pengusulannya.  “Pengusulan ini tentu tidak semudah yang kamibayangkan. Banyakyang harus kami persiapkan dan banyak melibatkan Pemprov Kalbar.Kami lakukan pengkajian dulu dan  konsultasi,” terangnya.

Batara belum bisa memberikan keterangan lebih jauh sebab prosesnya masih sangat dini. Yang pasti menurutnya bangunan tersebut akan diusulkan sebagai cagar budaya.Keaslian bangunan tersebut sebisa mungkin dipertahankan dan dilakukan pemeliharaan serta perawatan rutin.

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar Sugeng Hariadi menambahkan, bangunan RS tersebut memang baru mau akan diusulkan menjadi cagar budaya. “Dari tim penialain akan datang apakah layak atau tidak. Tim arkeolog yang dari Kaltim, tapi kalau lihat dari story usia di atas 50 tahun dan keguaannya masih berfungsi sampai sekarang, bisa diakui sebagai cagar budaya,” katanya.

Hanya saja lanjut dia bangunannya perlu direvitalisasi atau direnovasi sesuai dengan bentuk aslinya. Atau bisa saja hanya sebagaian yang bakal dikembalikan ke bentuk semula. Pada intinya Pemprov Kalbar sedang menunggu rekomendasi dari hasil survei oleh tim. “Arahan Pak Gubernur jadi cagar budaya, lalu kalau memang ditetapkan (sebagai cagar budaya) fungsi rumah sakit tetap berfungsi, sebagaimana adanya tidak ada perubahan fungsinya,” pungkasnya.**

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) bakal mengusulkan bangunan Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Sungai Bangkong menjadi cagar budaya. Seperti apa sejarah bangunan yang dulunya dikenal dengan sebutan Roemah Sakit Gila dan sudah berdiri lebih dari 100 tahun tersebut?

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Di zaman kolonial Belanda, sekitar awal tahun 1900-an, masyarakat di Kalimantan Barat banyak yang mengalami depresi akibat penjajahan. Dari situlah asal muasal didirikannya Rumah Sakit Jiwa Pontianakatau yang sekarang dikenal dengan nama RSJD Sungai Bangkong.  “Jadi memang diperuntukkan menampung masyarakat keterbelakangan mental. Saat itu depresi berat melanda Kalbar,” ungkap Peminat Kajian Sejarah dan Budaya Kalbar Syafaruddin Usman saat ditanya soal sejarah bangunan tersebut, Kamis (18/2).

Menurutnya Rumah Sakit (RS) tersebutdibangun di kawasan Sungai Bangkong, yang kala itu lokasinya berada di luar Tanah Seribuatau di luar Kota Pontianak sekarang. Karena hitungannya saat itu berada di luar kota, RS yang kini beralamat di Jalan Alianyang No.1 itu dianggap sebagai bangunan terpencil. Kawasannya dipagari oleh hutan rimbun dan rawa-rawa.

Lokasinya termasuk dalam wilayah Sekip Darat dan dikenal sebagai Kampung Sungai Bangkong.Beberapatenagamedisnyasaat ituberasal dari Batavia dan Surabaya. Mereka adalah para alumni Schooltot Opleidingvan Indische Artsen(STOVIA)dan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Dua sekolah kedokteran yang ada di Indonesia ketika itu.

Hingga masa pendudukan Jepang, dokter pribumi yang bertugas di RS tersebut salah satunya adalah dr. RM Ismael. Dokter pribumi itu kemudian ikut menjadi korban dalam peristiwa pembantaian sadis oleh Jepang pada tahun 1944.   “Ikut jadi korban kebengisan militer Jepang. Sayangnya nama dr. Ismael tidak diabadikan untuk nama rumah sakit ini sebagaimana nama dr.Rubini di Mempawah, dr. Agusdjam di Ketapang atau dr. Soedarso di Pontianak dan lain-lainnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kami Dalam Bahaya, Kasus ISPA Melonjak

Bangunan fisik RSJD Sungai Bangkong pada zaman kolonial Belanda dikenal sebagai Roemah Sakit Gila. Dibangun sekitar tahun 1911dan diperkirakan lebih dulu dibangun sebelumcagar budaya Kantor Pos dan Telegraf,serta Sekolah Rakjat di Jalan Tamar. Bangunannya juga sudah mengalami beberapa kali renovasi. Pada masadr. Soedarso hinggadr. RM Notosoenariomenjabatsebagai Kepala Inspeksi Kesehatan Keresidenan dan kemudianmenjadiProvinsiKalbartahun 1958-1960, saat itulah dimulai renovasi bangunan. Secara singkat sejalan juga dengan semakin mekarnya daerah Kota Pontianak, membuat keberadaan RS tersebut yang awalnya di pinggiran kota menjadi berada di dalam kota seperti sekarang ini.

Karena keaslian bangunannya yang masih cukup terjaga hingga saat ini dan sejarahnya yang cukup panjang, Pemprov Kalbar berencana mengusulkan bangunan tersebut sebagai salah satu cagar budaya.

Direktur RSJDSungai Bangkong Batara Sianipar mengungkapkan, dilihat dari sejarah dan berdasarkan surat yang pihaknya miliki,RStersebut sudah ada sejak 1939. Yang ia tahu RS tersebut dibangun oleh salah seorang pengusaha di Pontianak. Namun demikian ia belum bisa menjelaskan lebih detail mengenai sejarah bangunan tersebut.

Baca Juga :  Kadin Kalbar Dorong Pemprov Buat Regulasi Material Batu

Untuk mengusulkannya sebagai cagar budaya, pihaknya bakal melibatkan sejarawan untuk membuat kajian. Prosesnya sedang berlangsung, termasuk menyipakan berbagai hal untuk pengusulannya.  “Pengusulan ini tentu tidak semudah yang kamibayangkan. Banyakyang harus kami persiapkan dan banyak melibatkan Pemprov Kalbar.Kami lakukan pengkajian dulu dan  konsultasi,” terangnya.

Batara belum bisa memberikan keterangan lebih jauh sebab prosesnya masih sangat dini. Yang pasti menurutnya bangunan tersebut akan diusulkan sebagai cagar budaya.Keaslian bangunan tersebut sebisa mungkin dipertahankan dan dilakukan pemeliharaan serta perawatan rutin.

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar Sugeng Hariadi menambahkan, bangunan RS tersebut memang baru mau akan diusulkan menjadi cagar budaya. “Dari tim penialain akan datang apakah layak atau tidak. Tim arkeolog yang dari Kaltim, tapi kalau lihat dari story usia di atas 50 tahun dan keguaannya masih berfungsi sampai sekarang, bisa diakui sebagai cagar budaya,” katanya.

Hanya saja lanjut dia bangunannya perlu direvitalisasi atau direnovasi sesuai dengan bentuk aslinya. Atau bisa saja hanya sebagaian yang bakal dikembalikan ke bentuk semula. Pada intinya Pemprov Kalbar sedang menunggu rekomendasi dari hasil survei oleh tim. “Arahan Pak Gubernur jadi cagar budaya, lalu kalau memang ditetapkan (sebagai cagar budaya) fungsi rumah sakit tetap berfungsi, sebagaimana adanya tidak ada perubahan fungsinya,” pungkasnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/