alexametrics
32.8 C
Pontianak
Monday, July 4, 2022

Mengenal Betet Ekor Panjang

Oleh Adityo Nugroho*

BELAKANGAN ini beredar kabar di media massa mengenai penangkapan seseorang bernama Jumardi (31), warga asal Kabupaten Sambas yang menjual Satwa dilindungi di akun facebook yakni Betet Ekor Panjang (Psittacula longicauda). Sontak kejadian ini menjadi pembicaraan di kalangan publik, berkaitan dengan tindakan Jumardi yang menurut pengakuannya tidak mengetahui kalau satwa yang dijualnya adalah satwa yang dilindungi undang-undang. Terlebih lagi, masyarakat juga menyayangkan tindakan para penegak hukum yang seolah-olah tanpa belas kasihan menangkap Jumardi yang menjual satwa tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ia merupakan satu-satunya tulang punggung di keluarga.

Tetapi, dalam pembahasan kali ini kita tidak membahas atas kasus yang menimpa saudara Jumardi, melainkan objek dari satwa yang dijualnya yakni betet ekor panjang atau dalam nama ilmiahnya (Psittacula longicauda). Betet ekor panjang memiliki nama-nama yang berbeda di setiap tempat, di daerah Sambas orang mengenalnya dengan sebutan burung bayan.

Mengutip dari Majalah Parrot Indonesia (2020), betet ekor panjang memiliki nama internasional Long-Tailed Parakeet dan di Malaysia disebut dengan parkit pipi merah malaka, parkit pipi merah malaya, parkit pipi merah muda atau bayan nuri. Burung ini merupakan salah satu dari 85 jenis burung yang berparuh bengkok di Indonesia.

Deskripsi

Mengutip dari www.beautyofbirds.com (2011). Betet ekor panjang(Psittacula longicauda)dewasa dideskripsikan memiliki panjang rata-rata 16,5 inci (40 hingga 42 cm), dengan panjang sayap sekitar 142 – 155 mm dan panjang ekor sekitar 154 – 270 mm. Individu dewasa pada  jantan dan betina memiliki perbedaan dalam hal warna dan corak. Individu jantan dewasa pada bulu umumnya berwarna hijau.

Tenggorokan, dada, dan perut berwarna kuning kehijauan; dan bagian lore (daerah antara mata dan paruh di sisi kepala burung) berwarna hitam kebiruan. Mahkota berwarna hijau tua, dan sisi kepala serta tengkuk berwarna merah mawar. Ada garis hitam di pipi. Punggung atas berwarna abu-abu kebiruan berwarna kekuningan. Punggung bawah berwarna biru pucat. Sayap bagian bawah berwarna kekuningan. Penutup ekor atas dan bawah serta paha berwarna hijau pucat. Bulu ekor tengah berwarna biru dengan ujung pucat dan bulu luar berwarna hijau.

Baca Juga :  Polisi Sita 15 Ekor Burung Kasturi 

Paruh atas berwarna merah dan paruh bawah berwarna hitam kecoklatan. Irisnya berwarna kuning keputihan, dan kakinya berwarna abu-abu.Jantan muda memiliki semburat kebiruan di punggung bawah dan beberapa jantan muda mungkin memiliki semburat kemerahan di paruh atas.Sedangkan pada individu betina dewasa, memiliki tengkuk berwarna hijau.

Garis di pipinya berwarna hijau tua, dan pipi bagian atas berwarna oranye-merah kusam. Bulu ekornya jauh lebih pendek, dan rahang atas dan bawah berwarna hitam kecoklatan. Individu yang masih muda berkepala hijau diselingi dengan warna oranye-merah. Bulu ekornya lebih pendek, dan paruh atas dan bawah berwarna coklat. Burung yang belum dewasa mencapai tahap dewasa saat berusia sekitar 30 bulan (2 tahun 6 bulan).

Pakan dan Habitat

Mengutip dari www.parrots.org (2021), Betet Ekor Panjang memakan buah-buahan, biji-bijian dan beberapa jenis sayuran seperti pisang, jeruk, pepaya beserta bijinya, wortel, jagung, seledri, buncis. Habitat dari Burung Betet Ekor Panjang yakni dapat ditemukan pada dataran hingga ketingggian 300m dpl (984 kaki), terutama hutan dataran rendah, hutan bakau, hutan rawa, hutan hujan, perkebunan kelapa sawit dan kebun kelapa. Biasanya dapat ditemukan juga di taman dan kebun, serta area budidaya.

Perilaku Sosial dan Musim Kawin

Berdasarkan www.parrots.org (2021), burung ini ditemukan secara berkelompok dalam jumlah ribuan. Pengamatan tersebut dilaporkan di wilayah Kepulauan Andaman dan di Kalimantan, terutama selama musim kawin. Betet ekor panjang biasanya memanjat pada pepohonan pada ranting yang tinggi, kemudian bergerak cepat dari pohon ke pohon.

Kadang terlihat samar-samar diantara pepohonan, tetapi suara dari Betet ekor panjang membuat perhatian orang untuk mencarinya. Perilaku makansatwa ini yakni setelah matahari terbit hingga sore hari. Musim kawin Betet Ekor Panjang dimulai dari bulan Februari hingga Juli, dan membuat sarang pada cabang pohon-pohon yang sudah mati dan beberapa di pohon yang masih hidup. Rata-rata menghasilkan telur 2-3 butir dengan ukuran 30,6 x 24,7 mm. (www.beautyofbirds.com, 2011).

Baca Juga :  Praperadilan Jumardi Ditolak

Ancaman Kelestarian

Mengutip dari portal www.iucnredlist.org (2021), Betet Ekor Panjang masuk kedalam kategori terancam/ Vulnerable (VU), dengan tren populasi yang cenderung menurun. Hal ini disebabkan karena hilangnya hutan di dataran rendah yang sangat cepat dengan berbagai faktor, termasuk peningkatan penebangan dan konversi lahan, yang disengaja maupun tidak termasuk yang berada di dalam kawasan lindung, ditambah kebakaran hutan.

Sepanjang jangkauannya, spesies ini ditemukan di antara lahan pertanian dan rawa-rawa serta hutan dataran rendah yang tersisa. Hal ini menjadikannya sasaran empuk bagi masyarakat lokal yang mungkin berburu spesies tersebut baik untuk diperdagangkan maupun sebagai spesies hama (M. Iqbal in litt. 2016). Spesies ini terkadang ditemukan di pasar lokal atau dijual secara online (Iqbal 2015).

Hal tersebut menjadikan spesies ini menjadi perburuan dan penangkapan (A.M. Mane pada litt. 2018). Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat dibuat kesimpulan bahwa Betet Ekor Panjang adalah satwa yang endemik/ hanya ditemui pada suatu wilayah tertentu. Selain itu, satwa ini berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya selama musim kawin. Tetapi, karena terjadi perubahan habitat di alam maka burung ini masuk ke wilayah pertanian/ perkebunan masyarakat sehingga banyak menganggap satwa ini sebagai hama dan terancam kehidupannya.

Dampaknya yaitu terjadi penangkapan dan perburuan lalu diperjualbelikan atau istilahnya perdagangan satwa. Atas hal tersebut, penulis mengajak kepada masyarakat luas untuk sama-sama menjaga kelestarian alam dan hidup berdampingan dengan satwa apa saja, apalagi satwa yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yang akan ada sanksi tentunya.

Tentu akan lebih indah jika melihat satwa tersebut ada di alam bebas, jadikan itu sebagai warisan yang akan kita titipkan kepada anak cucu kelak, bukan hanya sekedar cerita saja kedepan. Selain itu, harapan penulis jangan ada lagi kasus lagi seperti yang dialami saudara Jumardi karena dalih ketidaktahhuan atau minim informasi sehingga mengalami kasus hukum. Mari sebagai masyarakat kita sering mencari informasi dimana saja apalagi yang menyangkut lingkungan tempat dimana kita tinggal. (*)

*Penulis merupakan pemerhati satwa dan penggiat konservasi.

Oleh Adityo Nugroho*

BELAKANGAN ini beredar kabar di media massa mengenai penangkapan seseorang bernama Jumardi (31), warga asal Kabupaten Sambas yang menjual Satwa dilindungi di akun facebook yakni Betet Ekor Panjang (Psittacula longicauda). Sontak kejadian ini menjadi pembicaraan di kalangan publik, berkaitan dengan tindakan Jumardi yang menurut pengakuannya tidak mengetahui kalau satwa yang dijualnya adalah satwa yang dilindungi undang-undang. Terlebih lagi, masyarakat juga menyayangkan tindakan para penegak hukum yang seolah-olah tanpa belas kasihan menangkap Jumardi yang menjual satwa tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ia merupakan satu-satunya tulang punggung di keluarga.

Tetapi, dalam pembahasan kali ini kita tidak membahas atas kasus yang menimpa saudara Jumardi, melainkan objek dari satwa yang dijualnya yakni betet ekor panjang atau dalam nama ilmiahnya (Psittacula longicauda). Betet ekor panjang memiliki nama-nama yang berbeda di setiap tempat, di daerah Sambas orang mengenalnya dengan sebutan burung bayan.

Mengutip dari Majalah Parrot Indonesia (2020), betet ekor panjang memiliki nama internasional Long-Tailed Parakeet dan di Malaysia disebut dengan parkit pipi merah malaka, parkit pipi merah malaya, parkit pipi merah muda atau bayan nuri. Burung ini merupakan salah satu dari 85 jenis burung yang berparuh bengkok di Indonesia.

Deskripsi

Mengutip dari www.beautyofbirds.com (2011). Betet ekor panjang(Psittacula longicauda)dewasa dideskripsikan memiliki panjang rata-rata 16,5 inci (40 hingga 42 cm), dengan panjang sayap sekitar 142 – 155 mm dan panjang ekor sekitar 154 – 270 mm. Individu dewasa pada  jantan dan betina memiliki perbedaan dalam hal warna dan corak. Individu jantan dewasa pada bulu umumnya berwarna hijau.

Tenggorokan, dada, dan perut berwarna kuning kehijauan; dan bagian lore (daerah antara mata dan paruh di sisi kepala burung) berwarna hitam kebiruan. Mahkota berwarna hijau tua, dan sisi kepala serta tengkuk berwarna merah mawar. Ada garis hitam di pipi. Punggung atas berwarna abu-abu kebiruan berwarna kekuningan. Punggung bawah berwarna biru pucat. Sayap bagian bawah berwarna kekuningan. Penutup ekor atas dan bawah serta paha berwarna hijau pucat. Bulu ekor tengah berwarna biru dengan ujung pucat dan bulu luar berwarna hijau.

Baca Juga :  Vaksinasi Covid-19 Juara Dua di Asia

Paruh atas berwarna merah dan paruh bawah berwarna hitam kecoklatan. Irisnya berwarna kuning keputihan, dan kakinya berwarna abu-abu.Jantan muda memiliki semburat kebiruan di punggung bawah dan beberapa jantan muda mungkin memiliki semburat kemerahan di paruh atas.Sedangkan pada individu betina dewasa, memiliki tengkuk berwarna hijau.

Garis di pipinya berwarna hijau tua, dan pipi bagian atas berwarna oranye-merah kusam. Bulu ekornya jauh lebih pendek, dan rahang atas dan bawah berwarna hitam kecoklatan. Individu yang masih muda berkepala hijau diselingi dengan warna oranye-merah. Bulu ekornya lebih pendek, dan paruh atas dan bawah berwarna coklat. Burung yang belum dewasa mencapai tahap dewasa saat berusia sekitar 30 bulan (2 tahun 6 bulan).

Pakan dan Habitat

Mengutip dari www.parrots.org (2021), Betet Ekor Panjang memakan buah-buahan, biji-bijian dan beberapa jenis sayuran seperti pisang, jeruk, pepaya beserta bijinya, wortel, jagung, seledri, buncis. Habitat dari Burung Betet Ekor Panjang yakni dapat ditemukan pada dataran hingga ketingggian 300m dpl (984 kaki), terutama hutan dataran rendah, hutan bakau, hutan rawa, hutan hujan, perkebunan kelapa sawit dan kebun kelapa. Biasanya dapat ditemukan juga di taman dan kebun, serta area budidaya.

Perilaku Sosial dan Musim Kawin

Berdasarkan www.parrots.org (2021), burung ini ditemukan secara berkelompok dalam jumlah ribuan. Pengamatan tersebut dilaporkan di wilayah Kepulauan Andaman dan di Kalimantan, terutama selama musim kawin. Betet ekor panjang biasanya memanjat pada pepohonan pada ranting yang tinggi, kemudian bergerak cepat dari pohon ke pohon.

Kadang terlihat samar-samar diantara pepohonan, tetapi suara dari Betet ekor panjang membuat perhatian orang untuk mencarinya. Perilaku makansatwa ini yakni setelah matahari terbit hingga sore hari. Musim kawin Betet Ekor Panjang dimulai dari bulan Februari hingga Juli, dan membuat sarang pada cabang pohon-pohon yang sudah mati dan beberapa di pohon yang masih hidup. Rata-rata menghasilkan telur 2-3 butir dengan ukuran 30,6 x 24,7 mm. (www.beautyofbirds.com, 2011).

Baca Juga :  Pengurus Al-Ikhlas Santuni Puluhan Anak Yatim

Ancaman Kelestarian

Mengutip dari portal www.iucnredlist.org (2021), Betet Ekor Panjang masuk kedalam kategori terancam/ Vulnerable (VU), dengan tren populasi yang cenderung menurun. Hal ini disebabkan karena hilangnya hutan di dataran rendah yang sangat cepat dengan berbagai faktor, termasuk peningkatan penebangan dan konversi lahan, yang disengaja maupun tidak termasuk yang berada di dalam kawasan lindung, ditambah kebakaran hutan.

Sepanjang jangkauannya, spesies ini ditemukan di antara lahan pertanian dan rawa-rawa serta hutan dataran rendah yang tersisa. Hal ini menjadikannya sasaran empuk bagi masyarakat lokal yang mungkin berburu spesies tersebut baik untuk diperdagangkan maupun sebagai spesies hama (M. Iqbal in litt. 2016). Spesies ini terkadang ditemukan di pasar lokal atau dijual secara online (Iqbal 2015).

Hal tersebut menjadikan spesies ini menjadi perburuan dan penangkapan (A.M. Mane pada litt. 2018). Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat dibuat kesimpulan bahwa Betet Ekor Panjang adalah satwa yang endemik/ hanya ditemui pada suatu wilayah tertentu. Selain itu, satwa ini berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya selama musim kawin. Tetapi, karena terjadi perubahan habitat di alam maka burung ini masuk ke wilayah pertanian/ perkebunan masyarakat sehingga banyak menganggap satwa ini sebagai hama dan terancam kehidupannya.

Dampaknya yaitu terjadi penangkapan dan perburuan lalu diperjualbelikan atau istilahnya perdagangan satwa. Atas hal tersebut, penulis mengajak kepada masyarakat luas untuk sama-sama menjaga kelestarian alam dan hidup berdampingan dengan satwa apa saja, apalagi satwa yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yang akan ada sanksi tentunya.

Tentu akan lebih indah jika melihat satwa tersebut ada di alam bebas, jadikan itu sebagai warisan yang akan kita titipkan kepada anak cucu kelak, bukan hanya sekedar cerita saja kedepan. Selain itu, harapan penulis jangan ada lagi kasus lagi seperti yang dialami saudara Jumardi karena dalih ketidaktahhuan atau minim informasi sehingga mengalami kasus hukum. Mari sebagai masyarakat kita sering mencari informasi dimana saja apalagi yang menyangkut lingkungan tempat dimana kita tinggal. (*)

*Penulis merupakan pemerhati satwa dan penggiat konservasi.

Most Read

Artikel Terbaru

/