alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 8, 2022

Mantan Suami Hadirkan Sertifikat Tanah Bukti Kuatkan Harta Bersama

PONTIANAK – Pengadilan Agama (Pontianak) kembali menggelar sidang perkara harta bersama antara Elyawati dengan tergugat mantan suaminya, Ikhsan. Senin (19/4).

Sidang dengan agenda pembuktian itu, mewajibkan bagi kedua pihak yang bersengketa untuk menghadirkan bukti-bukti atas klaim harta bersama dan harta warisan oleh masing-masing pihak.

Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim ketua, Tamimudari, tergugat yang diwakili oleh tim kuasa hukumnya menunjukan bukti sertifikat yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Pontianak untuk dua bidang tanah yang menjadi objek sengketa adalah harta warisan.

Dalam persidangan, Ikhsan, mengaku, jika hamparan tanah kosong di Jalan Ampera tersebut, didapatnya dari pemiik pertama, yakni Haruna.

“Haruna ini sepupu. Kakeknya menyerahkan tanah kepadanya, darinya baru ke saya,” kata Ishak.

Ishak menuturkan, karena waktu itu usainya masih dibawah umur, sehingga kuasa kepemilikan belum dilakukan. Setelah dewasa, barulah dilakukan kesepakatan dengan membuat surat kuasa jual beli di notaris.

Baca Juga :  Didakwa Bikin Buku Tanah Palsu, Pengacara Sebut Klien Korban Kriminalisasi

“Dari kuasa jual ini saya diberikan hak untuk menjual kepada siapapun termasuk kepada diri sendiri,” ucapnya.

Sementara pihak Elyawati, yang diwakili oleh tim kuasa hukumnya, menyerahkan beberapa bukti yang menunjukan jika dua bidang tanah masing-masing seluas 8099 meter persegi dan 5812 meter persegi di Jalan Ampare, Kelurahan Sui Jawi, Kecamatan Pontianak Kota itu merupakan harta bersama.

Kuasa hukum Elyawati, Akbar Firmansyah, mengatakan, bukti sertifikat tanah yang disampaikan tergugat pada persidangan kali ini, memang bukti pada objek yang disengketakan dengan nomor sertifikat 06557 dan 08386.

Dia menerangkan, di dalam dua sertifikat yang dihadirkan tergugat, sangat jelas sekali membuktikan bahwa sertifikat tanah terdaftar pada 2012. Yang mana saat itu antara kliennya dan tergugat masih berstatus suami istri.

“Di dalam SHM itu juga jelas tercatat akta jual beli antara Haruna kepada Ikhsan. Jadi terbukti peralihan haknya jual beli bukan warisan,” kata Akbar.

Baca Juga :  Menyusuri Sejarah Seabad Penerbitan Pers di Kalbar

Menurut Akbar, bukti yang dihadirkan di persidangan oleh tergugat bukanlah bukti sepenuhnya. Di mana akta jual beli antara Haruna kepada Ikhsan tidak disampaikan.

Sehingga, lanjut Akbar, berdasarkan aturan, apabila tergugat membenarkan gugatan dengan adanya kualifikasi dengan syarat dan tergugat membenarkan objek yang disengketakan nyata, maka terugagat dibebankan untuk membeberkan bukti.

“Kami juga sudah beberkan bukti, berupa SPT yang dikeluarkan BPN Kota Pontianak, bahwa dua objek tanah tersebut adalah tanah Ishak. Silakan bantah dengan bukti-bukti,” ucapnya.

Akbar menyatakan, jika melihat peralihan hak kepemilikan tanah dilakukan oleh tergugat dimasa masih berstatus sebagai duami Elyawati, maka dua objek tanah di Jalan Ampera itu jelas harta bersama bukan warisan.

“Bukti-bukti yang dihadirkan oleh tergugat membuktikan, bahwa objek tanah yang disengketakan, adalah tanah yang didapat dari jual beli,” pungkasnya. (adg)

PONTIANAK – Pengadilan Agama (Pontianak) kembali menggelar sidang perkara harta bersama antara Elyawati dengan tergugat mantan suaminya, Ikhsan. Senin (19/4).

Sidang dengan agenda pembuktian itu, mewajibkan bagi kedua pihak yang bersengketa untuk menghadirkan bukti-bukti atas klaim harta bersama dan harta warisan oleh masing-masing pihak.

Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim ketua, Tamimudari, tergugat yang diwakili oleh tim kuasa hukumnya menunjukan bukti sertifikat yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Pontianak untuk dua bidang tanah yang menjadi objek sengketa adalah harta warisan.

Dalam persidangan, Ikhsan, mengaku, jika hamparan tanah kosong di Jalan Ampera tersebut, didapatnya dari pemiik pertama, yakni Haruna.

“Haruna ini sepupu. Kakeknya menyerahkan tanah kepadanya, darinya baru ke saya,” kata Ishak.

Ishak menuturkan, karena waktu itu usainya masih dibawah umur, sehingga kuasa kepemilikan belum dilakukan. Setelah dewasa, barulah dilakukan kesepakatan dengan membuat surat kuasa jual beli di notaris.

Baca Juga :  Gagalkan Penyelundupan, 27 Warga Indonesia Ditahan di Sarawak

“Dari kuasa jual ini saya diberikan hak untuk menjual kepada siapapun termasuk kepada diri sendiri,” ucapnya.

Sementara pihak Elyawati, yang diwakili oleh tim kuasa hukumnya, menyerahkan beberapa bukti yang menunjukan jika dua bidang tanah masing-masing seluas 8099 meter persegi dan 5812 meter persegi di Jalan Ampare, Kelurahan Sui Jawi, Kecamatan Pontianak Kota itu merupakan harta bersama.

Kuasa hukum Elyawati, Akbar Firmansyah, mengatakan, bukti sertifikat tanah yang disampaikan tergugat pada persidangan kali ini, memang bukti pada objek yang disengketakan dengan nomor sertifikat 06557 dan 08386.

Dia menerangkan, di dalam dua sertifikat yang dihadirkan tergugat, sangat jelas sekali membuktikan bahwa sertifikat tanah terdaftar pada 2012. Yang mana saat itu antara kliennya dan tergugat masih berstatus suami istri.

“Di dalam SHM itu juga jelas tercatat akta jual beli antara Haruna kepada Ikhsan. Jadi terbukti peralihan haknya jual beli bukan warisan,” kata Akbar.

Baca Juga :  Gidot Jalani Sidang Perdana

Menurut Akbar, bukti yang dihadirkan di persidangan oleh tergugat bukanlah bukti sepenuhnya. Di mana akta jual beli antara Haruna kepada Ikhsan tidak disampaikan.

Sehingga, lanjut Akbar, berdasarkan aturan, apabila tergugat membenarkan gugatan dengan adanya kualifikasi dengan syarat dan tergugat membenarkan objek yang disengketakan nyata, maka terugagat dibebankan untuk membeberkan bukti.

“Kami juga sudah beberkan bukti, berupa SPT yang dikeluarkan BPN Kota Pontianak, bahwa dua objek tanah tersebut adalah tanah Ishak. Silakan bantah dengan bukti-bukti,” ucapnya.

Akbar menyatakan, jika melihat peralihan hak kepemilikan tanah dilakukan oleh tergugat dimasa masih berstatus sebagai duami Elyawati, maka dua objek tanah di Jalan Ampera itu jelas harta bersama bukan warisan.

“Bukti-bukti yang dihadirkan oleh tergugat membuktikan, bahwa objek tanah yang disengketakan, adalah tanah yang didapat dari jual beli,” pungkasnya. (adg)

Most Read

Siap Promosikan Singkawang ke Dunia

Daya Beli Singkawang Lebih Baik

Musim Pengering Jangan Bakar Lahan

Artikel Terbaru

/