alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

Rentan Kejahatan di Medsos, Perempuan Butuh Strategi Aman

PONTIANAK – Kemudahan yang didapat dari canggihnya alat komunikasi yang digunakan lantas menimbulkan sejumlah tanda tanya bagi sebagian orang, aman kah berinternet dengan banyaknya informasi salah, keliru yang berunsur berita bohong atau hoaks?

Bagi kaum perempuan ini pastinya menjadi pemikiran tersendiri dan problema yang kerap terjadi, dilihat dari banyaknya jumlah kaum hawa yang aktif berselancar di dunia maya yang ikut menjadi korban.

Hal ini yang menjadi ulasan utama dalam workshop daring “Cara Aman Perempuan Bermedia Sosial” yang digagas PPMN yang menggandeng Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) pada Senin, 18 Mei 2020.
Menghadirkan Edo Sinaga, Founder HCC Borneo Kalimantan Barat, sebagai narasumber. Edo pun banyak mengupas persoalan kemananan pengguna internet yang mudah diretas jika tidak lihai dalam menjaga informasi diri.

Perempuan, kata Edo, banyak menjadi korban peretasan informasi diri hingga pelecehan yang berujung kejahatan virtual yang susah terlacak. Berbagai data menujukkan bahwa perempuan sangat terlibat aktif dalam pencarian informasi di internet.

Baca Juga :  Arisan Bodong Jerat Belasan Warga

“Banyak kasus yang korbannya perempuan, sebut saja pelecehan secara daring dengan mengirim foto yang berbau porno. Banyak pendekatan dengan modus yang ujung-ujungnya memperdaya. Ini yang harus kita waspadai, ” kata Edo.
Modus halus dengan gaya online yang marak membuat banyak perempuan kurang ‘ngeh’ untuk lebih berhati-hati, terutama dengan warga online yang baru dikenal.

Dengan mudah data kita diperoleh, tidak mustahil hal lainnya juga bisa diperoleh. Modusnya halus, jika kita kurang mengerti situasi yang kita hadapi saat berselancar, maka kemungkinan kita bisa menjadi korbannya, ” papar Edo.

Saat berselencar, umumnya pengguna tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil atau yang dianggap ribet, seperti rutin mengganti pasword, tidak sensitif saat mengunduh aplikasi yang membawa virus hingga tidak jeli saat tanpa sadar masuk dalam sistem malware yang berbahaya.
“Jaga kerahasiaan pin dan password pada ponsel dan laptop. Seringkali, ponsel sendiri seperti badan intelejen yang mudah disusupi dan diretas. Jangan pernah buat email atau pasword tanggal lahir sendiri atau pasangan, ” terangnya.

Baca Juga :  Kepemimpinan Perempuan adalah Kepemimpinan Berorientasi Pemberdayaan

Bagaimana cara aman berselencar? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, selain masalah pasword tadi. Jika merasa sibuk di medsos, sebaiknya tidak menggunakan satu akun. Disarankan memiliki akun pribadi dan akun publik.
“Cek dan atur ulang dalam melakukan pengaturan privasi. Menggunakan pasword yang kuat. Biasanya kalau password dengan jumlah 13 angka atau huruf lebih mudah disusupi. Lalu menyalakan verifikasi login, ” beber Edo.
Edo juga menyarankan agar tidak sembarangan menggunakan aplikasi pihak ketiga. Hindari berbagi lokasi, terkecuali untuk personal branding.

“Berhati-hati dengan URL yang di pendekkan, terkadang ketika memendekkan URL banyak malware yang masuk ke kita, ” tutup Edo. (sya)

PONTIANAK – Kemudahan yang didapat dari canggihnya alat komunikasi yang digunakan lantas menimbulkan sejumlah tanda tanya bagi sebagian orang, aman kah berinternet dengan banyaknya informasi salah, keliru yang berunsur berita bohong atau hoaks?

Bagi kaum perempuan ini pastinya menjadi pemikiran tersendiri dan problema yang kerap terjadi, dilihat dari banyaknya jumlah kaum hawa yang aktif berselancar di dunia maya yang ikut menjadi korban.

Hal ini yang menjadi ulasan utama dalam workshop daring “Cara Aman Perempuan Bermedia Sosial” yang digagas PPMN yang menggandeng Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) pada Senin, 18 Mei 2020.
Menghadirkan Edo Sinaga, Founder HCC Borneo Kalimantan Barat, sebagai narasumber. Edo pun banyak mengupas persoalan kemananan pengguna internet yang mudah diretas jika tidak lihai dalam menjaga informasi diri.

Perempuan, kata Edo, banyak menjadi korban peretasan informasi diri hingga pelecehan yang berujung kejahatan virtual yang susah terlacak. Berbagai data menujukkan bahwa perempuan sangat terlibat aktif dalam pencarian informasi di internet.

Baca Juga :  Pagelaran Seni Budaya Virtual RRI Pontianak Pengobat Rindu

“Banyak kasus yang korbannya perempuan, sebut saja pelecehan secara daring dengan mengirim foto yang berbau porno. Banyak pendekatan dengan modus yang ujung-ujungnya memperdaya. Ini yang harus kita waspadai, ” kata Edo.
Modus halus dengan gaya online yang marak membuat banyak perempuan kurang ‘ngeh’ untuk lebih berhati-hati, terutama dengan warga online yang baru dikenal.

Dengan mudah data kita diperoleh, tidak mustahil hal lainnya juga bisa diperoleh. Modusnya halus, jika kita kurang mengerti situasi yang kita hadapi saat berselancar, maka kemungkinan kita bisa menjadi korbannya, ” papar Edo.

Saat berselencar, umumnya pengguna tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil atau yang dianggap ribet, seperti rutin mengganti pasword, tidak sensitif saat mengunduh aplikasi yang membawa virus hingga tidak jeli saat tanpa sadar masuk dalam sistem malware yang berbahaya.
“Jaga kerahasiaan pin dan password pada ponsel dan laptop. Seringkali, ponsel sendiri seperti badan intelejen yang mudah disusupi dan diretas. Jangan pernah buat email atau pasword tanggal lahir sendiri atau pasangan, ” terangnya.

Baca Juga :  Kepemimpinan Perempuan adalah Kepemimpinan Berorientasi Pemberdayaan

Bagaimana cara aman berselencar? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, selain masalah pasword tadi. Jika merasa sibuk di medsos, sebaiknya tidak menggunakan satu akun. Disarankan memiliki akun pribadi dan akun publik.
“Cek dan atur ulang dalam melakukan pengaturan privasi. Menggunakan pasword yang kuat. Biasanya kalau password dengan jumlah 13 angka atau huruf lebih mudah disusupi. Lalu menyalakan verifikasi login, ” beber Edo.
Edo juga menyarankan agar tidak sembarangan menggunakan aplikasi pihak ketiga. Hindari berbagi lokasi, terkecuali untuk personal branding.

“Berhati-hati dengan URL yang di pendekkan, terkadang ketika memendekkan URL banyak malware yang masuk ke kita, ” tutup Edo. (sya)

Most Read

Artikel Terbaru

/