alexametrics
31 C
Pontianak
Saturday, June 25, 2022

Kisah Willi Garap Pertanian Hidroponik Apung; Siasati Biaya, Manfaatkan Styrofoam sebagai Media Tanam

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan, bercocok tanam dengan metode hidroponik bisa ditiru. Metode tanam ini bisa dilakukan di lahan yang sempit dan terbatas. Selain itupun bisa mengusir rasa bosan di masa pandemi.

RAMSES TOBING, Pontianak

Wili satu di antara petani hidroponik di Kota Pontianak. Jika ditanya bercocok tanam maka bukan hal yang baru bagi pria berusia 35 tahun itu. Dulunya ia petani tetapi secara konvensional. Bercocok tanam di tanah. Sekarang ia sudah beralih ke metode hidroponik.

“Orangtua saya dulu petani dan saya juga ikut bertani. Sampai di tahun 2018 saya mulai menerapkan metode hidroponik untuk bercocok tanam,” kata Wili saat ditemui salah satu deplot miliknya Jalan Khatulistiwa, Gang Pelita, Kecamatan Pontianak Utara.

Bagi wili bercocok tanam dengan metode hidroponik lebih mudah dibandingkan secara konvensional. Meskipun dari sisi modal lebih besar. Namun ia menganggap itu setara lantaran hasil yang didapatkan juga lebih besar.

Selain itu bercocok tanam dengan metode ini bisa mengatur kondisi cuaca. Kemudian nutrisi yang diberikan pun sesuai kebutuhan dari tanaman.

Lalu perbandingannya hasil panen lebih cepat dan bisa kondisikan hama yang ada, dengan menghasilkan sayuran yang tidak mengandung residu pestisida. “Jadi lebih bersih dan sehat dalam jangka panjang,” kata Wili.

Baca Juga :  Promo Super Dahsyat PLN Disambut Antusias

Bagi Wili tak sulit menerapkan metode tanam seperti ini. Selain tinggal menyesuaikan dengan teknologi yang ada, ia juga memiliki pengalaman saat jadi petani konvensional. “Tapi perkara modal usaha masih jadi kendala utama. Namun secara teknis, tergantung dari sistem tanam yang digunakan,” jelas Wili.

Hidroponik sendiri merupakan cara tanam dengan memanfaatkan media air sebagai bahan dasar. Media tanam ini bisa dikatakan cukup bersih karena tidak memerlukan tanah sama sekali.

Biasanya petani hidroponik memanfaatkan pipa untuk dijadikan wadah bercocok tanam. Beda dengan yang dilakukan Wili. Ia memanfaatkan styrofoam untuk dijadikan media tanam. Namanya hidroponik apung. Bahan lain yang dibutuhkan itu terpal. Kemudian ada kayu bulat atau cerucuk dan plastik untuk dijadikan pelindung agar tidak terkena hujan dan panas secara langsung.

Media tanam itu dibuat seperti kolam yang dilapisi terpal. Untuk ketinggiannya tergantung pilihan. Bisa menjadikan tanah sebagai dasar namun tetap dilapisi terpal. Bisa juga dibuatkan lebih tinggi sehingga tidak harus duduk saat memasukkan benih hingga saat panen.

Bahan lainnya yang disiapkan nampan plastik dan busa. Kedua bahan ini digunakan secara tempat menyemai tanaman sebelum dipindahkan ke meja tanam.

Wili menyebutkan ada 34 meja tanam yang dimilikinya. Dari jumlah itu keseluruhannya ada 11.000 lubang tanam. Sebagian besar yang ditanam adalah sayur oriental. Seperti selada, sawit keriting, pakcoy, sawi thailand, kangkung dan bayam. “Sayuran oriental yang banyak dicari sehingga menjadi pilihan untuk ditanam,” kata Wili.

Baca Juga :  Pemkab Sambas Mangkir Bayar Utang dalam Proyek Sarana Air di Teluk Keramat

Untuk pasarnya pun tidak sulit. Wili setiap hari mengantar hasil panennya ke pasar-pasar tradisional dan modern. “Sekali antar bisa 150 pack,” kata Wili. Harganya pun beragam. Tergantung jenis sayuran. Sebagai contoh satu pack selada harganya berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.

Kemudian untuk masa tanam kurang lebih satu bulan. Lima hari untuk penyemaian dan sisanya berasal di meja tanam. Ketika dipindahkan ke meja tanam diatur masa panen. Cara ini dilakukan agar panen sayuran hidroponik bisa dilakukan setiap hari.

Lalu bagaimana dimasa pandemi? Menurut Wili permintaan sayuran hidroponik cukup meningkat. Ia pun memberikan pelayanan ekstra baik pemesanan online dan offline serta pengantaran. “Pemesanan direkap H-1 sebelum pengantaran,” kata Wili.

Kebutuhan sayur mayur dimasa pandemi pun diyakini bisa terpenuhi. Sebab dengan metode ini panen bisa dilakukan setiap hari. “Saya panen setiap malam, jadi kondisi sayur masih segar, dan siap menerima orderan online. Pengantaran di lakukan dari pukul delapan pagi menyesuaikan dengan kerja pasar modern hingga selesai,” pungkasnya. (*)

 

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan, bercocok tanam dengan metode hidroponik bisa ditiru. Metode tanam ini bisa dilakukan di lahan yang sempit dan terbatas. Selain itupun bisa mengusir rasa bosan di masa pandemi.

RAMSES TOBING, Pontianak

Wili satu di antara petani hidroponik di Kota Pontianak. Jika ditanya bercocok tanam maka bukan hal yang baru bagi pria berusia 35 tahun itu. Dulunya ia petani tetapi secara konvensional. Bercocok tanam di tanah. Sekarang ia sudah beralih ke metode hidroponik.

“Orangtua saya dulu petani dan saya juga ikut bertani. Sampai di tahun 2018 saya mulai menerapkan metode hidroponik untuk bercocok tanam,” kata Wili saat ditemui salah satu deplot miliknya Jalan Khatulistiwa, Gang Pelita, Kecamatan Pontianak Utara.

Bagi wili bercocok tanam dengan metode hidroponik lebih mudah dibandingkan secara konvensional. Meskipun dari sisi modal lebih besar. Namun ia menganggap itu setara lantaran hasil yang didapatkan juga lebih besar.

Selain itu bercocok tanam dengan metode ini bisa mengatur kondisi cuaca. Kemudian nutrisi yang diberikan pun sesuai kebutuhan dari tanaman.

Lalu perbandingannya hasil panen lebih cepat dan bisa kondisikan hama yang ada, dengan menghasilkan sayuran yang tidak mengandung residu pestisida. “Jadi lebih bersih dan sehat dalam jangka panjang,” kata Wili.

Baca Juga :  Pemkab Sambas Mangkir Bayar Utang dalam Proyek Sarana Air di Teluk Keramat

Bagi Wili tak sulit menerapkan metode tanam seperti ini. Selain tinggal menyesuaikan dengan teknologi yang ada, ia juga memiliki pengalaman saat jadi petani konvensional. “Tapi perkara modal usaha masih jadi kendala utama. Namun secara teknis, tergantung dari sistem tanam yang digunakan,” jelas Wili.

Hidroponik sendiri merupakan cara tanam dengan memanfaatkan media air sebagai bahan dasar. Media tanam ini bisa dikatakan cukup bersih karena tidak memerlukan tanah sama sekali.

Biasanya petani hidroponik memanfaatkan pipa untuk dijadikan wadah bercocok tanam. Beda dengan yang dilakukan Wili. Ia memanfaatkan styrofoam untuk dijadikan media tanam. Namanya hidroponik apung. Bahan lain yang dibutuhkan itu terpal. Kemudian ada kayu bulat atau cerucuk dan plastik untuk dijadikan pelindung agar tidak terkena hujan dan panas secara langsung.

Media tanam itu dibuat seperti kolam yang dilapisi terpal. Untuk ketinggiannya tergantung pilihan. Bisa menjadikan tanah sebagai dasar namun tetap dilapisi terpal. Bisa juga dibuatkan lebih tinggi sehingga tidak harus duduk saat memasukkan benih hingga saat panen.

Bahan lainnya yang disiapkan nampan plastik dan busa. Kedua bahan ini digunakan secara tempat menyemai tanaman sebelum dipindahkan ke meja tanam.

Wili menyebutkan ada 34 meja tanam yang dimilikinya. Dari jumlah itu keseluruhannya ada 11.000 lubang tanam. Sebagian besar yang ditanam adalah sayur oriental. Seperti selada, sawit keriting, pakcoy, sawi thailand, kangkung dan bayam. “Sayuran oriental yang banyak dicari sehingga menjadi pilihan untuk ditanam,” kata Wili.

Baca Juga :  Menjadi Guru di Rumah Sendiri

Untuk pasarnya pun tidak sulit. Wili setiap hari mengantar hasil panennya ke pasar-pasar tradisional dan modern. “Sekali antar bisa 150 pack,” kata Wili. Harganya pun beragam. Tergantung jenis sayuran. Sebagai contoh satu pack selada harganya berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.

Kemudian untuk masa tanam kurang lebih satu bulan. Lima hari untuk penyemaian dan sisanya berasal di meja tanam. Ketika dipindahkan ke meja tanam diatur masa panen. Cara ini dilakukan agar panen sayuran hidroponik bisa dilakukan setiap hari.

Lalu bagaimana dimasa pandemi? Menurut Wili permintaan sayuran hidroponik cukup meningkat. Ia pun memberikan pelayanan ekstra baik pemesanan online dan offline serta pengantaran. “Pemesanan direkap H-1 sebelum pengantaran,” kata Wili.

Kebutuhan sayur mayur dimasa pandemi pun diyakini bisa terpenuhi. Sebab dengan metode ini panen bisa dilakukan setiap hari. “Saya panen setiap malam, jadi kondisi sayur masih segar, dan siap menerima orderan online. Pengantaran di lakukan dari pukul delapan pagi menyesuaikan dengan kerja pasar modern hingga selesai,” pungkasnya. (*)

 

Most Read

Aklamasi, PPP Usung Baiduri-Agus

Wabup Imbau Waspada Banjir

Warga Mulai Nikmati Jalan Baru

Artikel Terbaru

/