alexametrics
23 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Medsos Dari Ujung Negeri, Solusi Lesunya Bisnis Ikan Purba

Pandemi Covid-19 memang hampir membuat semua lini bisnis kewalahan. Mulai bisnis kelas bawah, menengah sampai berimbas kepada bisnis kelas atas. Bisnis dari hulu sampai ke hilir juga ikut berdampak. Tidak terkecuali, bisnis dari wilayah ujung negeri, wilayah Indonesia yang perbatasan langsung dengan Malaysia. Penangkar Ikan Arwana atau Arowana atau Ikan Siluk atau bahasa latinnya dikenal dengan nama Scleropages Formosus dari Desa Nanga Suhaid, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu misalnya, juga ikut terdampak. Para Pebisnisnya merasakan kepayahan. Tak seperti pada hari-hari biasa, sebelum pandemi global mewabah.

“Aduh, jualan satu saja sudah bersyukur. Sekarang para penangkar dan pebisnis seperti kami pada susah. Dapat bertahan saja sudah senang sekali,” kata Rafi seorang pebisnis sekaligus penangkar Ikan Siluk di Nanga Suhaid baru-baru ini.

Jualan Ikan Arowana Rafi dalam Aquarium dan Penangkaran miliknya di Desa Nanga Suhaid, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu.

Menuju lokasi Desa Nanga Suhaid, satu diantara tempat penangkar terkenal dengan nama mitos Ikan Kayangan ini bukan perkara gampang. Jarak tempuhnya dari pusat ibukota Kalbar, Kota Pontianak saja mencapai sekitar 456.9 kilometer atau sekitar 9 jam dan 3 menit perjalanan melalui jalur darat. Desa Nanga Suhaid sendiri merupakan 1 dari 11 desa yang berada di Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Kalbar sendiri diketahui memiliki 14 Kabupaten/Kota. Beberapa Kabupaten berbatasan langsung dengan Negeri Jiran, Malaysia.

Di Kabupaten Kapuas Hulu tercatat memiliki 23 kecamatan, 4 kelurahan, dan 278 desa. Secara demografi jumlah penduduk Kabupaten Kapuas Hulu hingga saat ini hasil data tahun 2019 berjumlah 245.988 jiwa. Sementara secara geografis luas wilayah Kapuas Hulu yakni seluas 29.842 kilo meter persegi. Kecamatan Nanga Suhaid sendiri memang memiliki banyak penangkar sebutan “Ikan Naga” dari Mitologi Tionghoa ini.

Kabupaten Kapuas Hulu sekaligus menjadi kabupaten terujung di Kalbar dan memiliki batas wilayah langsung dengan negara tetangga, Malaysia juga memiliki Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Nanga Badau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Indonesia).

Batasnnya langsung dengan PLBN Lubok Antu, Serawak, Malaysia. Sebagai wilayah perbatasan, Kapuas Hulu memiliki banyak komoditas andalan. Salah satunya tanaman kratom yang diekspor sampai ke Amerika Serikat. Sementara jarak PLBN Nanga Badau ke Desa Nanga Suhaid juga tidak dekat. Jaraknya diperkirakan mencapai sekitar 336,1 kilometer via Jalan Lintas Kalimantan Poros Utara atau sekitar 4 jam dan 41 menit.

Baca Juga :  Cuaca Ekstrim, Kapal Pesiar Asing Terdampar di Muara Sungai Paloh

Mengunjungi rumah Rafi, juga bukan perkara mudah. Biayanya cukup besar melalui jalur cepat jalan darat dari ibukota Kalbar, Kota Pontianak. Bisa juga memakai transportasi air sungai kapuas, sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Kendaraannya juga berupa Kapal Bandong, yang dulu menjadi moda transportasi masyarakat perhuluan Kalbar. Tetapi butuh berhari-hari tentunya, untuk sampai ke Desa Nanga Suhaid.

Rafi menyebutkan bahwa keluarganya sudah turun temurun menjadi pebisnis ikan purba ini. Sebelum Pandemi Covid-19 menglobal, jualannya cukup laris manis. Dia menjajakan atau memasarkannya ke tempat penampung yang berada di Kota Pontianak.

“Sekarang pasar lagi sepi. Luar negeri juga belum mau mengambil banyak. Sementara di Kalbar khususnya, Kabupaten Kapuas Hulu tidak sedikit penangkar sekaligus pebisnis ikan siluk arwana,” ucapnya lagi.

Peliharaan ikan langka Rafi memang beragam. Dulu berbagai jenis pernah dipelihara dan dibesarkannya. Ikan yang disebut Ikan Kayangan mulai dari Arwana Merah atau Super Red (Chili dan Blood Red). Ada juga Golden (Cross Back, Cross Back Golden) Golden Varietas Cross Back alias Arwana Golden, Golden (Ekor Merah, Red Tail Golden) atau Arwana Golden Indonesia pernah ditangkarnya. Ada juga varietas Arwana Hijau, Arwana Banjar Merah Kelas 2 jenis Red Spotted Pearl dan Jardini Arowana Irian.

“Sekarang lagi gandrung membesarkan Silver Arowana atau Osteoglossum Bicirrhosum,” kata dia menjelaskan.

Di tengah lesunya bisnis Ikan Arowana akibat Pandemi Covid-19, Rafi tidak tinggal diam. Bersama adiknya Faris Faruqi yang masih duduk di kelas 2 SMP Negeri 1 Nanga Suhaid, keduanya memarketkan produknya melalui medsos (media sosial). Jejaring Facebook dan Instagram adalah kesukaannya, selain Twitter, Whatsapp dengan Telegram.

Tambak Arwana menjadi salah satu andalan ekonomi keluarga.

“Saya jualan sekarang lewat medsos. Sangat berguna sekali. Ada saja yang pesan. Tetapi kebanyakan anakan untuk dibesarkan. Kuncinya jualan jujur di medsos. Banyak pembeli merekomendasikan ke pembeli lain. Harganya juga, saya tekan dari pasaran. Asal ada untung sedikit, saya lepas. Yang penting dapur orang tua tetap mengepul,” ucap pria muda berperawakan tinggi kurus ini.

Pembeli Ikan Siluk Rafi, tidak hanya berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu sendiri. Ada juga dari kabupaten lain termasuk dari luar Provinsi Kalimantan Barat. Bahkan ada dari luar negeri yang sengaja membidik foto-foto Ikan Arowana yang dipasangnya di medsos. Meski begitu, Rafi terkadang merasa kesulitan jika sudah memasuki daerah Blank Spot (Daerah Tanpa Sinyal Telekomunikasi).

Baca Juga :  Nontunai Cegah Transaksi Bocor

“Pernah ditelpon pembeli dari Jakarta. Saya kebetulan sedang masuk areal tanpa sinyal seharian. Karena nomor saya tidak bisa dihubungi, tahunya pelanggan saya beralih ke pembeli lain akibat nomor hapenya tidak dapat dihubungi. Buntung deh,” katanya menggerutu.

Di Kabupaten Kapuas Hulu daerah Blank Spot tak sedikit. Penyebabnya yakni luasan wilayah sampai lokasi pemukiman penduduk saling berjauhan. Pemkab Kapuas Hulu memang terus berupaya merealisasikan pembangunan tower telekomunikasi pada areal Blank Spot. Sinyal telekomunikasi di daerah ujung Kalbar ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir bahkan pernah menyebutkan Pemkab selalu berkoordinasi dengan Kementerian Kominfo RI dan Pemprov Kalbar dalam meminimalisir areal tanpa sinyal.

Walaupun medsos sudah menjadi keseharian masyarakat, Rafi bersama teman-teman pebisnisya tetap berharap Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu terus ikut campur di tengah lesunya bisnis Ikan Arwana pada masa pandemi Covid-19 ini. Sebelumnya, akhir Juli 2020 Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir pernah menyampaikan bahwa kabupaten dengan sebutan Bumi Uncak Kapuas ini bakalan menggelar kontes arwana pada 2021 mendatang. Kontes kedepan ini diharapkan dapat meningkatkan dan mempromosikan potensi daerah.

“Untuk tahun 2020 ini, kegiatan kontes arwana tidak bisa digelar akibat Pandemi Global Covid-19 ini,” ujarnya.

Bupati AM. Nasir mengatakan ikan arwana berpotensi dijadikan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kapuas Hulu. Selama ini Ikan Siluk selalu dijual ekspor keluar negeri dengan harga tinggi. Sementara daerah tidak mendapatkan apa apa.

“Hal tersebut menjadi perhatian serius kami. Sebab bagaimanapun, ikan arwana sangat membantu perekonomian masyarakat sebagai salah satu alternatif usaha di saat kondisi perekonomian melemah,” kata dia.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, ikan langka ini memang dibudidayakan sebagian masyarakat. Tujuannya selain melestarikan ikan-ikan purbakala tak punah, juga sebagai bahan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat.

Andrian, pengusaha Aquarium di Kapuas Hulu menyebutkan antusiasme masyarakat membudidayakan ikan arwana cukup tinggi. Entah di kolam atau dalam Aquarium. Pemesanan Aquarium mengalami peningkatan pada masa Pandemi Covid-19 ini. Ini disebabkan tingginya peminat arwana lantaran harga jualnya mengalami penurunan seperti sekarang.

“Turunnya harga jual ikan arwana diakibatkan Pandemi Global Covid-19. Kondisi ini dimanfaatkan sebagian warga membeli anakan arwana, dengan harapan apabila kondisi sudah normal harga jual kembali bakalan melonjak drastis,” ucap dia.(den)

Pandemi Covid-19 memang hampir membuat semua lini bisnis kewalahan. Mulai bisnis kelas bawah, menengah sampai berimbas kepada bisnis kelas atas. Bisnis dari hulu sampai ke hilir juga ikut berdampak. Tidak terkecuali, bisnis dari wilayah ujung negeri, wilayah Indonesia yang perbatasan langsung dengan Malaysia. Penangkar Ikan Arwana atau Arowana atau Ikan Siluk atau bahasa latinnya dikenal dengan nama Scleropages Formosus dari Desa Nanga Suhaid, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu misalnya, juga ikut terdampak. Para Pebisnisnya merasakan kepayahan. Tak seperti pada hari-hari biasa, sebelum pandemi global mewabah.

“Aduh, jualan satu saja sudah bersyukur. Sekarang para penangkar dan pebisnis seperti kami pada susah. Dapat bertahan saja sudah senang sekali,” kata Rafi seorang pebisnis sekaligus penangkar Ikan Siluk di Nanga Suhaid baru-baru ini.

Jualan Ikan Arowana Rafi dalam Aquarium dan Penangkaran miliknya di Desa Nanga Suhaid, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu.

Menuju lokasi Desa Nanga Suhaid, satu diantara tempat penangkar terkenal dengan nama mitos Ikan Kayangan ini bukan perkara gampang. Jarak tempuhnya dari pusat ibukota Kalbar, Kota Pontianak saja mencapai sekitar 456.9 kilometer atau sekitar 9 jam dan 3 menit perjalanan melalui jalur darat. Desa Nanga Suhaid sendiri merupakan 1 dari 11 desa yang berada di Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Kalbar sendiri diketahui memiliki 14 Kabupaten/Kota. Beberapa Kabupaten berbatasan langsung dengan Negeri Jiran, Malaysia.

Di Kabupaten Kapuas Hulu tercatat memiliki 23 kecamatan, 4 kelurahan, dan 278 desa. Secara demografi jumlah penduduk Kabupaten Kapuas Hulu hingga saat ini hasil data tahun 2019 berjumlah 245.988 jiwa. Sementara secara geografis luas wilayah Kapuas Hulu yakni seluas 29.842 kilo meter persegi. Kecamatan Nanga Suhaid sendiri memang memiliki banyak penangkar sebutan “Ikan Naga” dari Mitologi Tionghoa ini.

Kabupaten Kapuas Hulu sekaligus menjadi kabupaten terujung di Kalbar dan memiliki batas wilayah langsung dengan negara tetangga, Malaysia juga memiliki Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Nanga Badau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Indonesia).

Batasnnya langsung dengan PLBN Lubok Antu, Serawak, Malaysia. Sebagai wilayah perbatasan, Kapuas Hulu memiliki banyak komoditas andalan. Salah satunya tanaman kratom yang diekspor sampai ke Amerika Serikat. Sementara jarak PLBN Nanga Badau ke Desa Nanga Suhaid juga tidak dekat. Jaraknya diperkirakan mencapai sekitar 336,1 kilometer via Jalan Lintas Kalimantan Poros Utara atau sekitar 4 jam dan 41 menit.

Baca Juga :  Nontunai Cegah Transaksi Bocor

Mengunjungi rumah Rafi, juga bukan perkara mudah. Biayanya cukup besar melalui jalur cepat jalan darat dari ibukota Kalbar, Kota Pontianak. Bisa juga memakai transportasi air sungai kapuas, sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Kendaraannya juga berupa Kapal Bandong, yang dulu menjadi moda transportasi masyarakat perhuluan Kalbar. Tetapi butuh berhari-hari tentunya, untuk sampai ke Desa Nanga Suhaid.

Rafi menyebutkan bahwa keluarganya sudah turun temurun menjadi pebisnis ikan purba ini. Sebelum Pandemi Covid-19 menglobal, jualannya cukup laris manis. Dia menjajakan atau memasarkannya ke tempat penampung yang berada di Kota Pontianak.

“Sekarang pasar lagi sepi. Luar negeri juga belum mau mengambil banyak. Sementara di Kalbar khususnya, Kabupaten Kapuas Hulu tidak sedikit penangkar sekaligus pebisnis ikan siluk arwana,” ucapnya lagi.

Peliharaan ikan langka Rafi memang beragam. Dulu berbagai jenis pernah dipelihara dan dibesarkannya. Ikan yang disebut Ikan Kayangan mulai dari Arwana Merah atau Super Red (Chili dan Blood Red). Ada juga Golden (Cross Back, Cross Back Golden) Golden Varietas Cross Back alias Arwana Golden, Golden (Ekor Merah, Red Tail Golden) atau Arwana Golden Indonesia pernah ditangkarnya. Ada juga varietas Arwana Hijau, Arwana Banjar Merah Kelas 2 jenis Red Spotted Pearl dan Jardini Arowana Irian.

“Sekarang lagi gandrung membesarkan Silver Arowana atau Osteoglossum Bicirrhosum,” kata dia menjelaskan.

Di tengah lesunya bisnis Ikan Arowana akibat Pandemi Covid-19, Rafi tidak tinggal diam. Bersama adiknya Faris Faruqi yang masih duduk di kelas 2 SMP Negeri 1 Nanga Suhaid, keduanya memarketkan produknya melalui medsos (media sosial). Jejaring Facebook dan Instagram adalah kesukaannya, selain Twitter, Whatsapp dengan Telegram.

Tambak Arwana menjadi salah satu andalan ekonomi keluarga.

“Saya jualan sekarang lewat medsos. Sangat berguna sekali. Ada saja yang pesan. Tetapi kebanyakan anakan untuk dibesarkan. Kuncinya jualan jujur di medsos. Banyak pembeli merekomendasikan ke pembeli lain. Harganya juga, saya tekan dari pasaran. Asal ada untung sedikit, saya lepas. Yang penting dapur orang tua tetap mengepul,” ucap pria muda berperawakan tinggi kurus ini.

Pembeli Ikan Siluk Rafi, tidak hanya berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu sendiri. Ada juga dari kabupaten lain termasuk dari luar Provinsi Kalimantan Barat. Bahkan ada dari luar negeri yang sengaja membidik foto-foto Ikan Arowana yang dipasangnya di medsos. Meski begitu, Rafi terkadang merasa kesulitan jika sudah memasuki daerah Blank Spot (Daerah Tanpa Sinyal Telekomunikasi).

Baca Juga :  Cuaca Ekstrim, Kapal Pesiar Asing Terdampar di Muara Sungai Paloh

“Pernah ditelpon pembeli dari Jakarta. Saya kebetulan sedang masuk areal tanpa sinyal seharian. Karena nomor saya tidak bisa dihubungi, tahunya pelanggan saya beralih ke pembeli lain akibat nomor hapenya tidak dapat dihubungi. Buntung deh,” katanya menggerutu.

Di Kabupaten Kapuas Hulu daerah Blank Spot tak sedikit. Penyebabnya yakni luasan wilayah sampai lokasi pemukiman penduduk saling berjauhan. Pemkab Kapuas Hulu memang terus berupaya merealisasikan pembangunan tower telekomunikasi pada areal Blank Spot. Sinyal telekomunikasi di daerah ujung Kalbar ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir bahkan pernah menyebutkan Pemkab selalu berkoordinasi dengan Kementerian Kominfo RI dan Pemprov Kalbar dalam meminimalisir areal tanpa sinyal.

Walaupun medsos sudah menjadi keseharian masyarakat, Rafi bersama teman-teman pebisnisya tetap berharap Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu terus ikut campur di tengah lesunya bisnis Ikan Arwana pada masa pandemi Covid-19 ini. Sebelumnya, akhir Juli 2020 Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir pernah menyampaikan bahwa kabupaten dengan sebutan Bumi Uncak Kapuas ini bakalan menggelar kontes arwana pada 2021 mendatang. Kontes kedepan ini diharapkan dapat meningkatkan dan mempromosikan potensi daerah.

“Untuk tahun 2020 ini, kegiatan kontes arwana tidak bisa digelar akibat Pandemi Global Covid-19 ini,” ujarnya.

Bupati AM. Nasir mengatakan ikan arwana berpotensi dijadikan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kapuas Hulu. Selama ini Ikan Siluk selalu dijual ekspor keluar negeri dengan harga tinggi. Sementara daerah tidak mendapatkan apa apa.

“Hal tersebut menjadi perhatian serius kami. Sebab bagaimanapun, ikan arwana sangat membantu perekonomian masyarakat sebagai salah satu alternatif usaha di saat kondisi perekonomian melemah,” kata dia.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, ikan langka ini memang dibudidayakan sebagian masyarakat. Tujuannya selain melestarikan ikan-ikan purbakala tak punah, juga sebagai bahan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat.

Andrian, pengusaha Aquarium di Kapuas Hulu menyebutkan antusiasme masyarakat membudidayakan ikan arwana cukup tinggi. Entah di kolam atau dalam Aquarium. Pemesanan Aquarium mengalami peningkatan pada masa Pandemi Covid-19 ini. Ini disebabkan tingginya peminat arwana lantaran harga jualnya mengalami penurunan seperti sekarang.

“Turunnya harga jual ikan arwana diakibatkan Pandemi Global Covid-19. Kondisi ini dimanfaatkan sebagian warga membeli anakan arwana, dengan harapan apabila kondisi sudah normal harga jual kembali bakalan melonjak drastis,” ucap dia.(den)

Most Read

Artikel Terbaru

/