alexametrics
31.7 C
Pontianak
Saturday, May 21, 2022

Belum Semua Sekolah Miliki Wastafel Representatif

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan dari seluruh sekolah masih terdapat 50 persen belum memiliki wastafel (keran cuci tangan) representatif. Agar pesan membiasakan cuci tangan pada pelajar mengakar, inventarisir tempat cuci tangan tiap sekolah dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pontianak.

“Menjaga kebersihan cuci tangan pakai sabun harus dibiasakan sejak dini. Makanya momentum hari cuci tangan sedunia ini sasarannya di Sekolah Dasar. Kami ingin pembiasaan cuci tangan pakai sabun dilakukan sedari kecil,” ungkap Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ketika menghadiri kegiatan bulan bhakti gotong royong masyarakat, pencanangan hari kesatuan gerak PKK KB kes, Hari Keluarga Nasional dan kampanye cuci tangan pakai sabun sedunia 2019, di SD 29 Pontianak Kota, Senin (18/11).

Agar kebiasaan cuci tangan pakai sabun bisa mengakar pada semua pelajar di Kota Pontianak. Sudah jadi kewajiban Dinas Pendidikan untuk menyediakan tempat cuci tangan dan perlengkapannya disetiap sekolah. Apabila kebiasaan bersih sudah tertanam pada tiap pelajar. Kemanapun mereka berada pasti pasti terbiasa cuci tangan menggunakan sabun.

Baca Juga :  Kasir Swalayan Ditodong Pisau 

Namun pandangan Edi, jumlah tempat cuci tangan yang representatif di sekolah-sekolah Pontianak belum merata. “Ada wastafel yang bagus dan ada juga jelek, dan harus ditingkatkan. Jika dipersentasekan 50 banding 50,” ujarnya. Pihak sekolah diminta dia ke depan melakukan perbaikan tempat cuci tangan buat pelajar. Minimal ada dua keran cuci tangan. Namun jika jumlah pelajarnya banyak, harusnya bisa dibangun lebih dari dua unit itu.

Di 2020 Edi juga akan mengganggarkan buat pembangunan sarana prasarana sekolah. Itu termasuk buat pembangunan tempat cuci tangan. “Termasuk perbaikan MCK di sekolah-sekolah. Ini saya minta Diknas menyisirnya,” katanya.

Ketua DPRD Pontianak Satarudin mengatakan, di 2019, anggaran buat Dinas Pendidikan, utamanya buat perbaikan bangunan sekolah sudah dialokasikan. “Dari alokasi itu, tentu ada buat pengerjaan keran cuci tangan bagi siswa,” ungkapnya.  Sebelum pengajuan anggaran, diminta dia, kepala sekolah jeli melihat kebutuhan urgen di sekolah. Jika masih belum terdapat tempat cuci tangan di sekolah, artinya pihak sekolah belum jeli. “Inikan hal dasar. Harusnya diakomodir,” katanya. Tahun 2020, diminta dia, persoalan kurangnya tempatcuci tangan bisa diselesaikan. Dengan demikian upaya pembiasaan anak mencuci tangan menggunakan sabun bisa mengakar pada diri anak.(iza)

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan dari seluruh sekolah masih terdapat 50 persen belum memiliki wastafel (keran cuci tangan) representatif. Agar pesan membiasakan cuci tangan pada pelajar mengakar, inventarisir tempat cuci tangan tiap sekolah dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pontianak.

“Menjaga kebersihan cuci tangan pakai sabun harus dibiasakan sejak dini. Makanya momentum hari cuci tangan sedunia ini sasarannya di Sekolah Dasar. Kami ingin pembiasaan cuci tangan pakai sabun dilakukan sedari kecil,” ungkap Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ketika menghadiri kegiatan bulan bhakti gotong royong masyarakat, pencanangan hari kesatuan gerak PKK KB kes, Hari Keluarga Nasional dan kampanye cuci tangan pakai sabun sedunia 2019, di SD 29 Pontianak Kota, Senin (18/11).

Agar kebiasaan cuci tangan pakai sabun bisa mengakar pada semua pelajar di Kota Pontianak. Sudah jadi kewajiban Dinas Pendidikan untuk menyediakan tempat cuci tangan dan perlengkapannya disetiap sekolah. Apabila kebiasaan bersih sudah tertanam pada tiap pelajar. Kemanapun mereka berada pasti pasti terbiasa cuci tangan menggunakan sabun.

Baca Juga :  Siswa Sudah Rindu Sekolah

Namun pandangan Edi, jumlah tempat cuci tangan yang representatif di sekolah-sekolah Pontianak belum merata. “Ada wastafel yang bagus dan ada juga jelek, dan harus ditingkatkan. Jika dipersentasekan 50 banding 50,” ujarnya. Pihak sekolah diminta dia ke depan melakukan perbaikan tempat cuci tangan buat pelajar. Minimal ada dua keran cuci tangan. Namun jika jumlah pelajarnya banyak, harusnya bisa dibangun lebih dari dua unit itu.

Di 2020 Edi juga akan mengganggarkan buat pembangunan sarana prasarana sekolah. Itu termasuk buat pembangunan tempat cuci tangan. “Termasuk perbaikan MCK di sekolah-sekolah. Ini saya minta Diknas menyisirnya,” katanya.

Ketua DPRD Pontianak Satarudin mengatakan, di 2019, anggaran buat Dinas Pendidikan, utamanya buat perbaikan bangunan sekolah sudah dialokasikan. “Dari alokasi itu, tentu ada buat pengerjaan keran cuci tangan bagi siswa,” ungkapnya.  Sebelum pengajuan anggaran, diminta dia, kepala sekolah jeli melihat kebutuhan urgen di sekolah. Jika masih belum terdapat tempat cuci tangan di sekolah, artinya pihak sekolah belum jeli. “Inikan hal dasar. Harusnya diakomodir,” katanya. Tahun 2020, diminta dia, persoalan kurangnya tempatcuci tangan bisa diselesaikan. Dengan demikian upaya pembiasaan anak mencuci tangan menggunakan sabun bisa mengakar pada diri anak.(iza)

Most Read

Artikel Terbaru

/