alexametrics
33 C
Pontianak
Wednesday, August 10, 2022

DBD Renggut 21 Jiwa

Ketapang Tertinggi, Lima Korban Meninggal Dunia

PONTIANAK – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) merilis data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi selama 2019. Di mana total kasus yang terjadi sebanyak 2.783 dengan korban meninggal dunia sebanyak 21 jiwa.

“Yang terbanyak meninggal itu di Kabupaten Ketapang ada lima kasus, dan jumlah kejadian penyakitnya juga Ketapang yang tinggi ada 707 kasus,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson, Minggu (19/1).

Sementara pada 2020, dari data terakhir yang dihimpun, Januari sampai minggu kedua, sudah ada 45 kasus DBD di Kalbar. Terbanyak masih di Ketapang sebanyak 15 kasus, lalu di Kubu Raya 14 kasus, Pontianak sembilan kasus dan Bengkayang tujuh kasus. “Yang meninggal (2020) mudah-mudahan tidak ada,” harapnya.

Harisson mengatakan, tren peningkatan kasus DBD memang biasanya di musim penghujan. Seperti bulan September, Oktober, November, Desember, Januari dan Februari. “Nah Maret sudah mulai turun lagi dia biasanya, April, Mei sampai September itu turun,” katanya.

Kasus DBD erat kaitannya dengan musim penghujan dikarenakan saat itu banyak genangan air, serta penampungan yang bisa menjadi sarang nyamuk DBD. Penampungan air yang tidak dibersihkan, dikuras dan ditutup sangat rentan menjadi wadah berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

“Pencegahannya dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), masih dengan metode lama, yakni menguras bak-bak air, ditutup, kemudian kalau yang limbah-limbah yang bisa menyebabkan tampungan air itu dikubur atau daur ulang,” paparnya.

Selain itu masyarakat bisa melarutkan abate di tempat penampungan air di rumah masing-masing. Untuk mendapatkannya bisa meminta secara gratis di Puskesmas terdekat. Sementara untuk fogging biasanya dilakukan secara khusus.

Baca Juga :  Aturan Kemenkes seperti Harimau Tanpa Cakar dan Taring

“Fogging khusus itu dilakukan di rumah pengidap demam berdarah, itu diameter 100 meter dari tempat kasus, kita fogging,” terangnya.

Fogging sendiri menurutnya tidak efektif sebagai pencegahan. Metode ini hanya efektif dilakukan saat terjadi kasus dan dalam radius 100 meter dari lokasi. Itu dilakukan agar tidak menjangkiti di luar rumah pengidap. “Jadi yang eefektif itu adalah gerakan pemberantasan sarang nyamuk,” pungkasnya.

Infeksi Virus Dengue

Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Beberapa jenis nyamuk menularkan (atau menyebarkan) virus dengue. Demam dengue juga disebut sebagai “breakbone fever” atau “bonebreak fever” (demam sendi) karena dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang mereka patah.

Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam; sakit kepala; kulit kemerahan yang tampak seperti campak; serta nyeri otot dan persendian. Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang mengancam jiwa. Bentuk pertama adalah demam berdarah, yang menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Bentuk kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.

Terdapat empat jenis virus dengue. Apabila seseorang telah terinfeksi satu jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut seumur hidupnya. Namun, dia hanya akan terlindung dari tiga jenis virus lainnya dalam waktu singkat. Jika kemudian dia terkena satu dari tiga jenis virus tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius.

Baca Juga :  Usai Banjir, DBD Meningkat

Belum ada vaksin yang dapat mencegah seseorang terkena virus dengue tersebut. Terdapat beberapa tindakan pencegahan demam dengue. Orang-orang dapat melindungi diri mereka dari nyamuk dan meminimalkan jumlah gigitan nyamuk. Para ilmuwan juga menganjurkan untuk memperkecil habitat nyamuk dan mengurangi jumlah nyamuk yang ada.

Apabila seseorang terkena demam dengue, biasanya dia dapat pulih hanya dengan meminum cukup cairan, selama penyakitnya tersebut masih ringan atau tidak parah. Jika seseorang mengalami kasus yang lebih parah, dia mungkin memerlukan cairan infus (cairan yang dimasukkan melalui vena, menggunakan jarum dan pipa infus), atau transfusi darah (diberikan darah dari orang lain).

Sejak 1960-an, semakin banyak orang yang terkena demam dengue. Penyakit tersebut mulai menimbulkan masalah di seluruh dunia sejak Perang Dunia Kedua. Penyakit ini umum terjadi di lebih dari 110 negara. Setiap tahun, sekitar 50–100 juta orang terkena demam dengue.

Para ahli sedang mengembangkan obat-obatan untuk menangani virus secara langsung. Masyarakat pun melakukan banyak usaha untuk membasmi nyamuk.

Deskripsi pertama dari demam dengue ditulis pada 1779. Pada awal abad ke-20, para ilmuwan mengetahui bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh virus dengue, dan bahwa virus tersebut ditularkan (atau disebarkan) oleh nyamuk. (bar)

Ketapang Tertinggi, Lima Korban Meninggal Dunia

PONTIANAK – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) merilis data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi selama 2019. Di mana total kasus yang terjadi sebanyak 2.783 dengan korban meninggal dunia sebanyak 21 jiwa.

“Yang terbanyak meninggal itu di Kabupaten Ketapang ada lima kasus, dan jumlah kejadian penyakitnya juga Ketapang yang tinggi ada 707 kasus,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson, Minggu (19/1).

Sementara pada 2020, dari data terakhir yang dihimpun, Januari sampai minggu kedua, sudah ada 45 kasus DBD di Kalbar. Terbanyak masih di Ketapang sebanyak 15 kasus, lalu di Kubu Raya 14 kasus, Pontianak sembilan kasus dan Bengkayang tujuh kasus. “Yang meninggal (2020) mudah-mudahan tidak ada,” harapnya.

Harisson mengatakan, tren peningkatan kasus DBD memang biasanya di musim penghujan. Seperti bulan September, Oktober, November, Desember, Januari dan Februari. “Nah Maret sudah mulai turun lagi dia biasanya, April, Mei sampai September itu turun,” katanya.

Kasus DBD erat kaitannya dengan musim penghujan dikarenakan saat itu banyak genangan air, serta penampungan yang bisa menjadi sarang nyamuk DBD. Penampungan air yang tidak dibersihkan, dikuras dan ditutup sangat rentan menjadi wadah berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

“Pencegahannya dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), masih dengan metode lama, yakni menguras bak-bak air, ditutup, kemudian kalau yang limbah-limbah yang bisa menyebabkan tampungan air itu dikubur atau daur ulang,” paparnya.

Selain itu masyarakat bisa melarutkan abate di tempat penampungan air di rumah masing-masing. Untuk mendapatkannya bisa meminta secara gratis di Puskesmas terdekat. Sementara untuk fogging biasanya dilakukan secara khusus.

Baca Juga :  Ada 42 WNA di Kapuas Hulu, Didominasi Tiongkok

“Fogging khusus itu dilakukan di rumah pengidap demam berdarah, itu diameter 100 meter dari tempat kasus, kita fogging,” terangnya.

Fogging sendiri menurutnya tidak efektif sebagai pencegahan. Metode ini hanya efektif dilakukan saat terjadi kasus dan dalam radius 100 meter dari lokasi. Itu dilakukan agar tidak menjangkiti di luar rumah pengidap. “Jadi yang eefektif itu adalah gerakan pemberantasan sarang nyamuk,” pungkasnya.

Infeksi Virus Dengue

Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Beberapa jenis nyamuk menularkan (atau menyebarkan) virus dengue. Demam dengue juga disebut sebagai “breakbone fever” atau “bonebreak fever” (demam sendi) karena dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang mereka patah.

Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam; sakit kepala; kulit kemerahan yang tampak seperti campak; serta nyeri otot dan persendian. Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang mengancam jiwa. Bentuk pertama adalah demam berdarah, yang menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Bentuk kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.

Terdapat empat jenis virus dengue. Apabila seseorang telah terinfeksi satu jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut seumur hidupnya. Namun, dia hanya akan terlindung dari tiga jenis virus lainnya dalam waktu singkat. Jika kemudian dia terkena satu dari tiga jenis virus tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius.

Baca Juga :  Wagub Dorong UMKM Terapkan Digitalisasi

Belum ada vaksin yang dapat mencegah seseorang terkena virus dengue tersebut. Terdapat beberapa tindakan pencegahan demam dengue. Orang-orang dapat melindungi diri mereka dari nyamuk dan meminimalkan jumlah gigitan nyamuk. Para ilmuwan juga menganjurkan untuk memperkecil habitat nyamuk dan mengurangi jumlah nyamuk yang ada.

Apabila seseorang terkena demam dengue, biasanya dia dapat pulih hanya dengan meminum cukup cairan, selama penyakitnya tersebut masih ringan atau tidak parah. Jika seseorang mengalami kasus yang lebih parah, dia mungkin memerlukan cairan infus (cairan yang dimasukkan melalui vena, menggunakan jarum dan pipa infus), atau transfusi darah (diberikan darah dari orang lain).

Sejak 1960-an, semakin banyak orang yang terkena demam dengue. Penyakit tersebut mulai menimbulkan masalah di seluruh dunia sejak Perang Dunia Kedua. Penyakit ini umum terjadi di lebih dari 110 negara. Setiap tahun, sekitar 50–100 juta orang terkena demam dengue.

Para ahli sedang mengembangkan obat-obatan untuk menangani virus secara langsung. Masyarakat pun melakukan banyak usaha untuk membasmi nyamuk.

Deskripsi pertama dari demam dengue ditulis pada 1779. Pada awal abad ke-20, para ilmuwan mengetahui bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh virus dengue, dan bahwa virus tersebut ditularkan (atau disebarkan) oleh nyamuk. (bar)

Most Read

Artikel Terbaru

/