alexametrics
29 C
Pontianak
Saturday, July 2, 2022

Enam Tanki Siluman Diamankan

Memuat 5.200 Liter Solar Bersubsidi

PONTIANAK – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalbar mengungkap kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi yang kerap digunakan untuk dijual kembali dengan cara eceran. Modus dalam praktik illegal BBM ini dilakukan di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Melawi, Kalimantan Barat.

Direktur Reskrimsus Polda Kalbar, Kombes Pol Mahyudi Nazriansyah mengatakan, pengungkapan kasus ini berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar. Ia juga mengungkapkan, praktik illegal terkait pengalokasian BBM subsidi ini dilakukan antara pihak SPBU dan para penampung minyak yang notabene masyarakat sekitar dengan tujuan untuk dijual kembali (eceran) dengan harga lebih tinggi.

Petugas menyita tak kurang dari 5.200 liter BBM jenis solar. Selain itu, pihaknya juga mengamanan enam unit kendaraan tanki yang telah dimodifikasi sehingga ukurannya menjadi lebih besar atau lebih dikenal dengan istilah tanki siluman.

Baca Juga :  SPBU PT UKM Ditera Ulang

“Jadi pada Kamis (16/1) lalu, berangkat dari laporan masyarakat, Tim Subdit 4 Ditreskrimsus melakukan penggagalan praktik illegal BBM di salah satu SPBU di Kabupaten Melawi. Hasilnya, tim menemukan enam kendaraan yang saat itu tengah mengantre di jalur BBM jenis solar bersubsidi dan juga memuat drum berbahan plastik sebagai wadah lain menyimpan BBM tersebut,” paparnya, Minggu (19/1).

Mahyudi melanjutkan, di saat bersamaan pihaknya langsung melakukan pemeriksaan terhadap para penampung dan juga pihak SPBU. Hasil pemeriksaan awal yang dilakukan, pihak SPBU diketahui menjual BBM bersubsidi tersebut kepada penampung seharga Rp5.700 perliter. Angka tersebut lebih tinggi Rp550 jika disandingkan dengan harga yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp5.150 perliter.

“Yang kita tangkap dari pemeriksaan awal, pihak SPBU menjual solar dengan harga lebih tinggi kepada pengecer, dari harga yang ditetapkan pemerintah. Mereka (pihak SPBU) mengambil keuntungan sebesar Rp550 dari tiap liter solar yang dijual kepada pengecer,” jelasnya.

Baca Juga :  Tiga Hari Potong Rambut Gratis

“Setelah itu, pengecer menjual solar tersebut dengan harga yang bervariatif melalui kios-kios yang mereka miliki di wilayah Kabupaten Melawi,” sambungnya.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya telah menetapkan enam pemilik kendaraan tanki siluman yang masing-masing berinisial AS, JA, AM, SW, I, dan ED telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Selain itu, timnya juga turut mengamankan barang bukti berupa kurang lebih 5.200 liter BBM jenis solar. Sementara untuk pihak SPBU, sampai saat ini pihak yang berwenang yakni manajer masih dalam pemeriksaan untuk mengetahui keterlibatannya dalam kasus ini.

“Yang pasti sampai sekarang, kasus ini masih dilakukan pendalaman dan pengembangan,” tuturnya.

Sementara untuk para pelaku, lanjutnya terancam dikenakan dengan Pasal 55 Undang-undang RI Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi, dengan ancaman hukuman enam tahun kurungan penjara. (sig)

Memuat 5.200 Liter Solar Bersubsidi

PONTIANAK – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalbar mengungkap kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi yang kerap digunakan untuk dijual kembali dengan cara eceran. Modus dalam praktik illegal BBM ini dilakukan di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Melawi, Kalimantan Barat.

Direktur Reskrimsus Polda Kalbar, Kombes Pol Mahyudi Nazriansyah mengatakan, pengungkapan kasus ini berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar. Ia juga mengungkapkan, praktik illegal terkait pengalokasian BBM subsidi ini dilakukan antara pihak SPBU dan para penampung minyak yang notabene masyarakat sekitar dengan tujuan untuk dijual kembali (eceran) dengan harga lebih tinggi.

Petugas menyita tak kurang dari 5.200 liter BBM jenis solar. Selain itu, pihaknya juga mengamanan enam unit kendaraan tanki yang telah dimodifikasi sehingga ukurannya menjadi lebih besar atau lebih dikenal dengan istilah tanki siluman.

Baca Juga :  Desember SPBU Pontianak Wajib Non Tunai

“Jadi pada Kamis (16/1) lalu, berangkat dari laporan masyarakat, Tim Subdit 4 Ditreskrimsus melakukan penggagalan praktik illegal BBM di salah satu SPBU di Kabupaten Melawi. Hasilnya, tim menemukan enam kendaraan yang saat itu tengah mengantre di jalur BBM jenis solar bersubsidi dan juga memuat drum berbahan plastik sebagai wadah lain menyimpan BBM tersebut,” paparnya, Minggu (19/1).

Mahyudi melanjutkan, di saat bersamaan pihaknya langsung melakukan pemeriksaan terhadap para penampung dan juga pihak SPBU. Hasil pemeriksaan awal yang dilakukan, pihak SPBU diketahui menjual BBM bersubsidi tersebut kepada penampung seharga Rp5.700 perliter. Angka tersebut lebih tinggi Rp550 jika disandingkan dengan harga yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp5.150 perliter.

“Yang kita tangkap dari pemeriksaan awal, pihak SPBU menjual solar dengan harga lebih tinggi kepada pengecer, dari harga yang ditetapkan pemerintah. Mereka (pihak SPBU) mengambil keuntungan sebesar Rp550 dari tiap liter solar yang dijual kepada pengecer,” jelasnya.

Baca Juga :  Sediakan Dua Jenis Pembayaran Non Tunai

“Setelah itu, pengecer menjual solar tersebut dengan harga yang bervariatif melalui kios-kios yang mereka miliki di wilayah Kabupaten Melawi,” sambungnya.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya telah menetapkan enam pemilik kendaraan tanki siluman yang masing-masing berinisial AS, JA, AM, SW, I, dan ED telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Selain itu, timnya juga turut mengamankan barang bukti berupa kurang lebih 5.200 liter BBM jenis solar. Sementara untuk pihak SPBU, sampai saat ini pihak yang berwenang yakni manajer masih dalam pemeriksaan untuk mengetahui keterlibatannya dalam kasus ini.

“Yang pasti sampai sekarang, kasus ini masih dilakukan pendalaman dan pengembangan,” tuturnya.

Sementara untuk para pelaku, lanjutnya terancam dikenakan dengan Pasal 55 Undang-undang RI Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi, dengan ancaman hukuman enam tahun kurungan penjara. (sig)

Most Read

Artikel Terbaru

/