alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Resusitasi Neonatus; Tingkatkan Kemampuan Penanganan Bayi Baru Lahir

RSUD dr. Soedarso dan ARSADA Gelar Pelatihan untuk Bidan dan Perawat

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso bekerjasama dengan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSDA) Wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) dan disponsori oleh Nestle, menggelar pelatihan Resusitasi Neonatus Terintegrasi selama dua hari, 18-19 Mei 2022. Kegiatan yang diikuti sebanyak 35 bidan dan perawat dari seluruh Rumah Sakit (RS) di Kalbar itu, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam penanganan bayi yang baru lahir.

Ketua ARSADA Wilayah Kalbar Yuliastuti Saripawan berharap dengan kegiatan pelatihan ini kapasitas peserta dalam penanganan Resusitasi Neonatus Terintegrasi menjadi lebih baik. Mengingat saat ini Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi. Ia menyebutkan berdasarkan Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, AKB yaitu 24 per 1.000 kelahiran hidup.

UJIAN: Dr. Nevita, Sp. A, MSc saat ujian OSCE resusitasi neonatus terintegrasi.

Dimana masalah neonatal merupakan penyebab utama kematian bayi. Kematian neonatal memegang porsi yang besar yaitu 58 persen kematian bayi terjadi pada periode neonatal. Berdasarkan SDKI 2017, angka kematian neonatal yaitu 15 per 1.000 kelahiran hidup.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRD Kalbar Ajak Masyarakat Vaksin Gratis

“Penyebab utama kematian neonatal yaitu prematuritas, asfiksia, bayi berat lahir rendah (BBLR) dan infeksi,” ungkapnya usai membuka pelatihan yang digelar di Hotel Ibis Pontianak.

PRAKTIK: Dr. Dina Frida, Sp.A saat praktik airway dan breathing pada bayi asfeksia.

Namun, menurut Saripawan kasus kegawatdaruratan yang perlu perhatian dan merupakan penyebab kematian neonital adalah asfiksia. Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas atau mengalami kegagalan secara spontan dan teratur segera setelah lahir atau beberapa saat setelah lahir, umumnya 10 menit setelah lahir. Namun kasus asfiksia sebenarnya merupakan kasus yang dapat dicegah dan ditangani.

“Jadi kami memfasilitasi pelatihan, sehingga harapannya bidan-bidan di daerah punya kemampuan dalam hal Resusitasi Neonatus Terintegrasi terhadap bayi, jadi yang diharapkan itu,” katanya.

RESUSITASI: Dr. M. Budi. N, Sp.A, M.Kes dan dr. Reggy Harahap Baringin, Sp.A saat praktik resusitasi pada bayi.

Adapun narasumber dalam pelatihan gawat darurat meternal ini disebutkan dia, adalah Dokter Spesialis Anak dari RSUD dr. Soedarso dan TOT Gadar Matneo dari Dinas Kesehatan Kalbar. Para peserta yang sudah mengikuti pelatihan dan lulus ujian juga diberikan sertifikat pelatihan yang mendapatkan Satuan Kredit Profesi (SKP) dari PPNI 3 SKP dan IBI 2 SKp. Sedangkan untuk pengajar akan mendapatkan SKP dari IDI.

Baca Juga :  Cegah Terjangkit Covid-19, Penderita Diabetes Bisa Lakukan 6 Cara Ini

“Jadi harapan kami ke depan program ini bisa berjalan terus menerus, setiap tahunnya,” harapnya.

PANTAU: Dr. James L Alvin Sinaga, Sp.A, DAA memantau pelaksanaan ujian OSCE resusitasi neonatus terintegrasi.

Selaku Direktur RSUD dr. Soedarso Saripawan juga memandang kegiatan ini merupakan hal yang sangat baik. Karena dalam memberikan pelatihan dokter dari RS kebanggaan Kalbar itu dapat berbagai ilmu kepada bidan dan perawat yang ada di daerah. Apalagi saat ini RSUD dr. Soedarso telah menjadi RS rujukan tertinggi dan rumah sakit pendidikan di Kalbar yang bertipe atau kelas A.

“Ini menunjukkan peran RSUD dr. Soedarso sebagai pusat rujukan di Kalbar, jadi sebelum bayi dikirim (dirujuk), di daerah sudah ditangani dengan baik, sehingga tidak terjadi istilahnya sampai di sini sudah parah, itu yang kami harapkan,” tutupnya.**

RSUD dr. Soedarso dan ARSADA Gelar Pelatihan untuk Bidan dan Perawat

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso bekerjasama dengan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSDA) Wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) dan disponsori oleh Nestle, menggelar pelatihan Resusitasi Neonatus Terintegrasi selama dua hari, 18-19 Mei 2022. Kegiatan yang diikuti sebanyak 35 bidan dan perawat dari seluruh Rumah Sakit (RS) di Kalbar itu, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dalam penanganan bayi yang baru lahir.

Ketua ARSADA Wilayah Kalbar Yuliastuti Saripawan berharap dengan kegiatan pelatihan ini kapasitas peserta dalam penanganan Resusitasi Neonatus Terintegrasi menjadi lebih baik. Mengingat saat ini Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi. Ia menyebutkan berdasarkan Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, AKB yaitu 24 per 1.000 kelahiran hidup.

UJIAN: Dr. Nevita, Sp. A, MSc saat ujian OSCE resusitasi neonatus terintegrasi.

Dimana masalah neonatal merupakan penyebab utama kematian bayi. Kematian neonatal memegang porsi yang besar yaitu 58 persen kematian bayi terjadi pada periode neonatal. Berdasarkan SDKI 2017, angka kematian neonatal yaitu 15 per 1.000 kelahiran hidup.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRD Kalbar Ajak Masyarakat Vaksin Gratis

“Penyebab utama kematian neonatal yaitu prematuritas, asfiksia, bayi berat lahir rendah (BBLR) dan infeksi,” ungkapnya usai membuka pelatihan yang digelar di Hotel Ibis Pontianak.

PRAKTIK: Dr. Dina Frida, Sp.A saat praktik airway dan breathing pada bayi asfeksia.

Namun, menurut Saripawan kasus kegawatdaruratan yang perlu perhatian dan merupakan penyebab kematian neonital adalah asfiksia. Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas atau mengalami kegagalan secara spontan dan teratur segera setelah lahir atau beberapa saat setelah lahir, umumnya 10 menit setelah lahir. Namun kasus asfiksia sebenarnya merupakan kasus yang dapat dicegah dan ditangani.

“Jadi kami memfasilitasi pelatihan, sehingga harapannya bidan-bidan di daerah punya kemampuan dalam hal Resusitasi Neonatus Terintegrasi terhadap bayi, jadi yang diharapkan itu,” katanya.

RESUSITASI: Dr. M. Budi. N, Sp.A, M.Kes dan dr. Reggy Harahap Baringin, Sp.A saat praktik resusitasi pada bayi.

Adapun narasumber dalam pelatihan gawat darurat meternal ini disebutkan dia, adalah Dokter Spesialis Anak dari RSUD dr. Soedarso dan TOT Gadar Matneo dari Dinas Kesehatan Kalbar. Para peserta yang sudah mengikuti pelatihan dan lulus ujian juga diberikan sertifikat pelatihan yang mendapatkan Satuan Kredit Profesi (SKP) dari PPNI 3 SKP dan IBI 2 SKp. Sedangkan untuk pengajar akan mendapatkan SKP dari IDI.

Baca Juga :  Ini Alasan Mengapa Sarapan Pagi Tak Boleh Dilewatkan?

“Jadi harapan kami ke depan program ini bisa berjalan terus menerus, setiap tahunnya,” harapnya.

PANTAU: Dr. James L Alvin Sinaga, Sp.A, DAA memantau pelaksanaan ujian OSCE resusitasi neonatus terintegrasi.

Selaku Direktur RSUD dr. Soedarso Saripawan juga memandang kegiatan ini merupakan hal yang sangat baik. Karena dalam memberikan pelatihan dokter dari RS kebanggaan Kalbar itu dapat berbagai ilmu kepada bidan dan perawat yang ada di daerah. Apalagi saat ini RSUD dr. Soedarso telah menjadi RS rujukan tertinggi dan rumah sakit pendidikan di Kalbar yang bertipe atau kelas A.

“Ini menunjukkan peran RSUD dr. Soedarso sebagai pusat rujukan di Kalbar, jadi sebelum bayi dikirim (dirujuk), di daerah sudah ditangani dengan baik, sehingga tidak terjadi istilahnya sampai di sini sudah parah, itu yang kami harapkan,” tutupnya.**

Most Read

Dikirim ke Untan, Pulang Ngabdi

Kembali Terima Paket Bantuan Dari Presiden

2.316 Peserta Ikut Test SKD

Gelar Lomba MTQ dan Azan Daring

Artikel Terbaru

/