alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 9, 2022

Kerusakan Lahan Gambut jadi Perhatian Publik

Akademisi: BRG Mestinya Diperkuat

PONTIANAK – Gusti Anshari, Ketua Prodi Magister Ilmu Lingkungan, Untan mengatakan keberadaan lembaga atau badan yang fokus restorasi gambut mesti diperkuat. Sebelum adanya Badan Restorasi Gambut, hampir dikatakan gambut itu tidak mendapatkan perhatian. Idealnya, kata dia, BRG perlu dilanjutkan.

Saat BRG dibentuk, isu-isu kerusakan gambut jadi perhatian publik. Kegiatan-kegiatan restorasi banyak dilakukan. Selain itu juga ada kewajiban bagi perusahaan melakukan restorasi, penataan air dan sebagainya.

Seharusnya, kata dia, kalau pun BRG diganti atau ditiadakan, maka program-program restorasi gambut harus tetap ada. Penanganan lahan gambut harus tetap mendapatkan perhatian besar.

Jika dihilangkan, lanjut dia dikhawatirkan isu restorasi gambut menjadi hilang. Orang menjadi tidak peduli. “Jadi Apatis, ya sudahlah biarkan saja rusak,” ungkapnya.

Maka perlu ada fokus penanganan. Bagaimana lahan gambut ini tetap terawat. Misalnya manajemen airnya dibuat sesuai kondisi. Masyarakat dilibatkan dalam pemberdayaan lahan gambut. Terpenting juga menanam tanaman yang memang cocok dilahan gambut.

Gusti mengatakan, gambut merupakan bagian kekayaan alam Indonesia. Terluas di Asia Tenggara untuk gambut tropisnya. Diperkirakan ada 14 juta hektare gambut se-Indonesia. Di Kalbar sekitar 1,6 hingga 1,7 juta hektare.

Badan Restorasi Gambut dibentuk tahun 2016 dengan ruang lingkup kerja tujuh provinsi. Salah satunya di Kalbar. “Kenapa Kalbar masuk, karena pasti prioritas karena banyak lahan gambut rusak atau mengalami degradasi karena beragam faktor. Sehingga perlu dipulihkan,” jelasnya.

Baca Juga :  BRG Gandeng Muhammadiyah Selamatkan Gambut

Gusti mengatakan, Kalbar punya lahan gambut yang unik dari Hulu Kapuas, Putusibau hingga Hilir. Kubu Raya banyak, Mempawah, Ketapang juga. Sungai Pawan itu juga banyak, Sungai Sambas,” ungkapnya.

Menariknya, kata dia, gambut di Kalbar itu asal usulnya hutan. Banyak makhluk hidup. Baik pohon maupun hewan-hewan. Jika ini hilang, maka tidak punya kesempatan untuk mempelajarinya karena punah.

Banyak pula ikan-ikan yang bertahan hidup di sekitar lahan gambut. Seperti di Danau Sentarum, Kapuas Hulu. Sumber penghasilan warga di sana, kata Gusti salah satunya perikanan air tawar. Ikan arwana dan ikan ulang uli juga mampu bertahan hidup. Keanekaragaman hayati ini yang perlu dipelihara. Ini tidak bisa dibandingkan dengan tempat lain.

Dari segi ilmu lingkungan, lahan gambut menyimpan elemen karbon, unsur C organik yang besar. “Kita tahu sekarang kan ada isu pemanasan global. Itu kan banyaknya emisi gas karbondioksida. Gambut ini menyimpan karbon dalam jangka panjang. Karena umur gambut di Hulu Kapuas bisa 30 ribu tahun bahkan lebih. Kalau di hilir mungkin lima ribu, empat ribu dan ada juga ratusan tahunan tergantung dia masih bisa tumbuh,” paparnya.

Jika lahan-lahan ini terbakar atau rusak karena terdegradasi, maka akan mengalami pembusukan. Proses pembusukannya melepaskan karbodioksida. Sehingga untuk di Indonesia ini bisa jadi sumber pelepas karbon, jika tidak dikendalikan.

Baca Juga :  Festival Meriam Karbit 2019; Terbuka bagi Pelajar SMA/Sederajat

Ini akan berimbas dalam membangun peradaban manusia. Jika iklim rusak, maka semua manusia di permukaan bumi ikut merasakannya. Sering terbakar, banjir bahkan bisa alami krisis pangan dan sebagainya.

“Kemudian gambut itu kan bahan organik. Didalam bahan organik bisa tersimpan informasi-informasi yang terjadi di alam. Misalnya dalam bentuk serbuk sari tumbuh-tumbuhan. Orang bisa meneliti kembali dari macam macam jenis serbuk sari. Membangun kembali rekonstruksi lapisan serbuk sari itu, dulunya vegetasinya apa. Jenis-jenis tumbuhannya apa, hutannya seperti apa,” timpalnya.

Ilmu pengetahuan juga dapat mengetahui umur hutan gambut ini misalnya sudah 30 ribu tahun, atau 20 ribun tahun dengan lapisan itu. “Sehingga orang bisa menggambarkan dulu hutannya seperti ini,” jelasnya.

Banyak lagi, kata Gusti manfaat dari hutan gambut ini, terutama dalam ilmu pengetahuan. Termasuk diantaranya mengetahui permukaan air laut dulu dan sekarang. Itu sebabnya, perlu memikirkan keberlanjutan masa depan. Meningkatkan kepedulian lingkungan untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Bahkan, kata dia, bisa menjadi investasi jangka panjang. Saat ini ada namanya pasar karbon. Jika negara mampu menjaganya dengan baik, maka ini bisa menjadi penghasilan yang bisa saja menjanjikan. “Kemungkinan-kemungkinan ini bisa dipertimbangkan dan dimanfaatkan,”pungkasnya. (mrd)

Akademisi: BRG Mestinya Diperkuat

PONTIANAK – Gusti Anshari, Ketua Prodi Magister Ilmu Lingkungan, Untan mengatakan keberadaan lembaga atau badan yang fokus restorasi gambut mesti diperkuat. Sebelum adanya Badan Restorasi Gambut, hampir dikatakan gambut itu tidak mendapatkan perhatian. Idealnya, kata dia, BRG perlu dilanjutkan.

Saat BRG dibentuk, isu-isu kerusakan gambut jadi perhatian publik. Kegiatan-kegiatan restorasi banyak dilakukan. Selain itu juga ada kewajiban bagi perusahaan melakukan restorasi, penataan air dan sebagainya.

Seharusnya, kata dia, kalau pun BRG diganti atau ditiadakan, maka program-program restorasi gambut harus tetap ada. Penanganan lahan gambut harus tetap mendapatkan perhatian besar.

Jika dihilangkan, lanjut dia dikhawatirkan isu restorasi gambut menjadi hilang. Orang menjadi tidak peduli. “Jadi Apatis, ya sudahlah biarkan saja rusak,” ungkapnya.

Maka perlu ada fokus penanganan. Bagaimana lahan gambut ini tetap terawat. Misalnya manajemen airnya dibuat sesuai kondisi. Masyarakat dilibatkan dalam pemberdayaan lahan gambut. Terpenting juga menanam tanaman yang memang cocok dilahan gambut.

Gusti mengatakan, gambut merupakan bagian kekayaan alam Indonesia. Terluas di Asia Tenggara untuk gambut tropisnya. Diperkirakan ada 14 juta hektare gambut se-Indonesia. Di Kalbar sekitar 1,6 hingga 1,7 juta hektare.

Badan Restorasi Gambut dibentuk tahun 2016 dengan ruang lingkup kerja tujuh provinsi. Salah satunya di Kalbar. “Kenapa Kalbar masuk, karena pasti prioritas karena banyak lahan gambut rusak atau mengalami degradasi karena beragam faktor. Sehingga perlu dipulihkan,” jelasnya.

Baca Juga :  BRG Gandeng Muhammadiyah Selamatkan Gambut

Gusti mengatakan, Kalbar punya lahan gambut yang unik dari Hulu Kapuas, Putusibau hingga Hilir. Kubu Raya banyak, Mempawah, Ketapang juga. Sungai Pawan itu juga banyak, Sungai Sambas,” ungkapnya.

Menariknya, kata dia, gambut di Kalbar itu asal usulnya hutan. Banyak makhluk hidup. Baik pohon maupun hewan-hewan. Jika ini hilang, maka tidak punya kesempatan untuk mempelajarinya karena punah.

Banyak pula ikan-ikan yang bertahan hidup di sekitar lahan gambut. Seperti di Danau Sentarum, Kapuas Hulu. Sumber penghasilan warga di sana, kata Gusti salah satunya perikanan air tawar. Ikan arwana dan ikan ulang uli juga mampu bertahan hidup. Keanekaragaman hayati ini yang perlu dipelihara. Ini tidak bisa dibandingkan dengan tempat lain.

Dari segi ilmu lingkungan, lahan gambut menyimpan elemen karbon, unsur C organik yang besar. “Kita tahu sekarang kan ada isu pemanasan global. Itu kan banyaknya emisi gas karbondioksida. Gambut ini menyimpan karbon dalam jangka panjang. Karena umur gambut di Hulu Kapuas bisa 30 ribu tahun bahkan lebih. Kalau di hilir mungkin lima ribu, empat ribu dan ada juga ratusan tahunan tergantung dia masih bisa tumbuh,” paparnya.

Jika lahan-lahan ini terbakar atau rusak karena terdegradasi, maka akan mengalami pembusukan. Proses pembusukannya melepaskan karbodioksida. Sehingga untuk di Indonesia ini bisa jadi sumber pelepas karbon, jika tidak dikendalikan.

Baca Juga :  Empat Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Ini akan berimbas dalam membangun peradaban manusia. Jika iklim rusak, maka semua manusia di permukaan bumi ikut merasakannya. Sering terbakar, banjir bahkan bisa alami krisis pangan dan sebagainya.

“Kemudian gambut itu kan bahan organik. Didalam bahan organik bisa tersimpan informasi-informasi yang terjadi di alam. Misalnya dalam bentuk serbuk sari tumbuh-tumbuhan. Orang bisa meneliti kembali dari macam macam jenis serbuk sari. Membangun kembali rekonstruksi lapisan serbuk sari itu, dulunya vegetasinya apa. Jenis-jenis tumbuhannya apa, hutannya seperti apa,” timpalnya.

Ilmu pengetahuan juga dapat mengetahui umur hutan gambut ini misalnya sudah 30 ribu tahun, atau 20 ribun tahun dengan lapisan itu. “Sehingga orang bisa menggambarkan dulu hutannya seperti ini,” jelasnya.

Banyak lagi, kata Gusti manfaat dari hutan gambut ini, terutama dalam ilmu pengetahuan. Termasuk diantaranya mengetahui permukaan air laut dulu dan sekarang. Itu sebabnya, perlu memikirkan keberlanjutan masa depan. Meningkatkan kepedulian lingkungan untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Bahkan, kata dia, bisa menjadi investasi jangka panjang. Saat ini ada namanya pasar karbon. Jika negara mampu menjaganya dengan baik, maka ini bisa menjadi penghasilan yang bisa saja menjanjikan. “Kemungkinan-kemungkinan ini bisa dipertimbangkan dan dimanfaatkan,”pungkasnya. (mrd)

Most Read

Jaringan Kabel Listrik Resahkan Warga

Sri Mulyani Bakal Awasi LPI

Amankan 200 Belian

Artikel Terbaru

/