alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, May 29, 2022

Sistem Drainase Buruk, Kota Pontianak Rentan Terbenam

PONTIANAK – Pengamat sejarah, Syafaruddin Daeng Usman mengatakan, terendamnya Kota Pontianak lebih disebabkan karena buruknya sistem drainase. Di mana setiap turun hujan, Kota Pontianak kerap direndam air.

Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum, topografi Kota Pontianak berupa dataran rendah dengan ketinggian 0,8 m sampai dengan 1,5 m di atas permukaan laut dengan kemiringan tanahnya sekitar 2 persen. Kota Pontianak dilintasi oleh Sungai Kapuas. Sekitar 80 persen bagian Kota Pontianak merupakan kawasan rawa yang dipengaruhi oleh pasang surut sungai tersebut.

Syafaruddin Usman menyebutkan, sejak tahun 1989 an, Kota Pontianak memang terbiasa dengan air pasang Sungai Kapuas, tetapi tidak menjadi langganan banjir. “Kota Pontianak memang terbiasa air pasang, namun tak menjadikan kota ini kolam besar,” katanya.

Ia merujuk ketika Mohamad Abdurahman sebagai Sityo, sebutan wali kota sekitar tahun 1944-1945, tak disibukan urusan air pasang. Konon, mereka yang punya kedudukan penting saat ini tak terbiasa dengan masalah banjir. Bukannya banjir tak ada, pernah, namun sebatas banjir di Sungai Kapuas.

Baca Juga :  Polda Awasi Tangki Siluman, Pastikan Kuota BBM Aman

Begitu pula saat Rochana Muthalib memimpin Kota Pontianak di tahun-tahun 1950-an. Wali kota pertama perempuan di Indonesia ini tak disibukkan urusan banjir, karena memang parit dalam kota ditata dengan apik.

Tak juga dengan Walikota HA Muis Amin yang kurang lebih sepuluh tahun menjabat sebagai orang pertama di pemerintahan kota ini. Kondisi ini serupa pula dengan masa pendahulunya Supardhan dan Ahmad Daud Sutan (ADS) Hidayat. Tak tercatat banjir besar menggenang kota yang semula disebut Tanah Seribu ini.

Saat Wali Kota HA Madjid Hasan banjir mulai dikenal di Pontianak. Bukan pasang biasa, namun seisi kota bisa terendam semalaman. Walaupun hujan tak memakan waktu beberapa jam.

Dikatakan Syafaruddin, banjir belakangan ini sama halnya dengan banjir dua puluhan tahun lalu. Parit Pontianak sudah disumbat, selokan sudah ditutup, dan jalur percabangan anak sungai yang dulunya “perahu tongkang” dapat melintas sudah ditimbun.

Jadilah parit tinggal nama dan kenangan. Kini, namanya saja Parit Besar, namun itu tak lebih dari nama lokasi kawasan saja di ibu kota Kalimantan Barat ini.

Baca Juga :  Minta Tuntaskan Kepengurusan

Pada zamannya, Parit Besar adalah primadona laksana kanal yang ada di negeri Belanda. Dapat dilayari kapal kecil, dan aktivitas dagang tradisional di permukaannya pun tak pernah sepi.

Sejumlah parit kini terasa sangat asing bagi anak milenial. Memang tahu namanya, seperti Parit Besar, Parit Tokaya, dan Parit Pangeran, untuk menyebut sedikit dari yang pernah banyak. Tapi, bagaimana rupa dan anekanya parit-parit itu, anak zaman now serasa asing.

Di kawasan Jalan Gajahmada saat ini, tak ditemukan lagi adanya parit. Saat Pontianak dibombardir militer Jepang, 1941, konon di parit Kampung Tepekong, nama Jalan Gajahmada masa itu, menjadi tempat menceburkan diri untuk selamat.

Tak mungkin lagi menemukan orang mandi dan cuci pakaian di parit di wilayah ini. Yang diidentifikasi sekarang, parit tak lebih lebar dari satu meter. Dan itulah yang disebut parit. (arf).

PONTIANAK – Pengamat sejarah, Syafaruddin Daeng Usman mengatakan, terendamnya Kota Pontianak lebih disebabkan karena buruknya sistem drainase. Di mana setiap turun hujan, Kota Pontianak kerap direndam air.

Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum, topografi Kota Pontianak berupa dataran rendah dengan ketinggian 0,8 m sampai dengan 1,5 m di atas permukaan laut dengan kemiringan tanahnya sekitar 2 persen. Kota Pontianak dilintasi oleh Sungai Kapuas. Sekitar 80 persen bagian Kota Pontianak merupakan kawasan rawa yang dipengaruhi oleh pasang surut sungai tersebut.

Syafaruddin Usman menyebutkan, sejak tahun 1989 an, Kota Pontianak memang terbiasa dengan air pasang Sungai Kapuas, tetapi tidak menjadi langganan banjir. “Kota Pontianak memang terbiasa air pasang, namun tak menjadikan kota ini kolam besar,” katanya.

Ia merujuk ketika Mohamad Abdurahman sebagai Sityo, sebutan wali kota sekitar tahun 1944-1945, tak disibukan urusan air pasang. Konon, mereka yang punya kedudukan penting saat ini tak terbiasa dengan masalah banjir. Bukannya banjir tak ada, pernah, namun sebatas banjir di Sungai Kapuas.

Baca Juga :  KAMMI Kalbar Kawal Isu Prostitusi Anak

Begitu pula saat Rochana Muthalib memimpin Kota Pontianak di tahun-tahun 1950-an. Wali kota pertama perempuan di Indonesia ini tak disibukkan urusan banjir, karena memang parit dalam kota ditata dengan apik.

Tak juga dengan Walikota HA Muis Amin yang kurang lebih sepuluh tahun menjabat sebagai orang pertama di pemerintahan kota ini. Kondisi ini serupa pula dengan masa pendahulunya Supardhan dan Ahmad Daud Sutan (ADS) Hidayat. Tak tercatat banjir besar menggenang kota yang semula disebut Tanah Seribu ini.

Saat Wali Kota HA Madjid Hasan banjir mulai dikenal di Pontianak. Bukan pasang biasa, namun seisi kota bisa terendam semalaman. Walaupun hujan tak memakan waktu beberapa jam.

Dikatakan Syafaruddin, banjir belakangan ini sama halnya dengan banjir dua puluhan tahun lalu. Parit Pontianak sudah disumbat, selokan sudah ditutup, dan jalur percabangan anak sungai yang dulunya “perahu tongkang” dapat melintas sudah ditimbun.

Jadilah parit tinggal nama dan kenangan. Kini, namanya saja Parit Besar, namun itu tak lebih dari nama lokasi kawasan saja di ibu kota Kalimantan Barat ini.

Baca Juga :  Bocah 7 Tahun Tenggelam di Parit

Pada zamannya, Parit Besar adalah primadona laksana kanal yang ada di negeri Belanda. Dapat dilayari kapal kecil, dan aktivitas dagang tradisional di permukaannya pun tak pernah sepi.

Sejumlah parit kini terasa sangat asing bagi anak milenial. Memang tahu namanya, seperti Parit Besar, Parit Tokaya, dan Parit Pangeran, untuk menyebut sedikit dari yang pernah banyak. Tapi, bagaimana rupa dan anekanya parit-parit itu, anak zaman now serasa asing.

Di kawasan Jalan Gajahmada saat ini, tak ditemukan lagi adanya parit. Saat Pontianak dibombardir militer Jepang, 1941, konon di parit Kampung Tepekong, nama Jalan Gajahmada masa itu, menjadi tempat menceburkan diri untuk selamat.

Tak mungkin lagi menemukan orang mandi dan cuci pakaian di parit di wilayah ini. Yang diidentifikasi sekarang, parit tak lebih lebar dari satu meter. Dan itulah yang disebut parit. (arf).

Most Read

Artikel Terbaru

/